Obituari: Selamat Jalan Kristo Embu, Sahabat Kata dan Kebenaran

oleh -1454 Dilihat
banner 468x60

Komunitas pers Nusa Tenggara Timur berduka. Kristo Embu, —wartawan senior sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Timor Ekspres (Timex)—meninggal dunia di Maumere pada Rabu, 28 Agustus 2025. Kepergian pria yang akrab disapa Ito ini bukan sekadar kehilangan bagi dunia jurnalisme, tetapi juga bagi dunia literasi, komunitas sosial, serta lingkar persahabatan yang telah ia rajut sepanjang hidupnya.

Kristo lahir dan besar di Maumere, membawa semangat khas putra daerah yang gigih dan rendah hati. Selepas SMA, ia menempuh pendidikan di Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Meski secara akademis ia bukan berasal dari jurusan komunikasi atau jurnalistik, passion menulis dan keterlibatannya dalam organisasi Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang Santu Fransiskus Xaverius mempertemukannya dengan dunia pers.

Sejak awal 2000-an, ia sudah akrab dengan catatan, liputan dan wawancara. Sebuah foto lawas dari tahun 2005 menunjukkan Kristo muda tengah serius mencatat pernyataan seorang narasumber—sebuah tanda bahwa dunia media sudah menjadi panggilannya bahkan sejak bangku kuliah. Dari aktivitas kemahasiswaan, ia belajar banyak hal: disiplin, kepekaan sosial dan kemampuan membaca realitas dengan kritis. Semua itu kemudian menjadi bekal penting dalam karier jurnalistiknya.

Kristo bergabung dengan Harian Timor Ekspres (grup Jawa Pos) tak lama setelah lulus kuliah. Di redaksi, ia menapaki jalan dari reporter lapangan, penulis berita harian, hingga menjadi salah satu penulis opini yang kerap ditunggu pembaca. Tulisan-tulisannya bukan sekadar informatif, tetapi juga reflektif—mengajak pembaca berpikir lebih dalam.

Salah satu karyanya yang masih dikenang adalah catatan analisis Piala Dunia 2018 berjudul “Perang Bintang Generasi Emas.” Di situ, Kristo tidak hanya melaporkan fakta pertandingan, tetapi juga membedah fenomena sepakbola dengan pendekatan sosial dan historis. Ia menghubungkan dinamika lapangan hijau dengan konteks kebangsaan, bahkan menyinggung peran generasi baru dan bagaimana bangsa belajar dari momentum olahraga. Inilah ciri khasnya: tajam, tetapi tetap populer; kritis, tetapi tetap akrab dengan pembaca awam.

Dedikasinya membuat ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Timex. Dalam posisi ini, Kristo tidak sekadar mengatur arus berita, tetapi juga menjaga marwah jurnalisme. Ia memberi ruang bagi jurnalis muda, mendorong keberanian menulis, sekaligus menekankan pentingnya integritas di tengah tekanan kepentingan politik maupun bisnis.

Di luar meja redaksi, Kristo dikenal sebagai figur yang peduli pada literasi. Ia sering mengutip pemikir-pemikir besar dan menuliskan refleksi di akun media sosialnya. Salah satu unggahannya yang banyak dikenang berbunyi:

“Demokrasi hanya akan berkembang di suatu masyarakat yang para warganya adalah pembaca, adalah individu-individu yang merasa perlu untuk membaca, bukan sekadar pendengar dan gemar berbicara.”
(Daud Joesoef, Bukuku Kakiku, 2004).

Bagi Kristo, membaca bukan sekadar hobi, melainkan syarat untuk membangun masyarakat yang kritis dan demokratis. Ia percaya bahwa literasi adalah pintu untuk melawan apatisme dan kebodohan.

Dari ruang redaksi hingga warung kopi, ia selalu membawa semangat untuk “membaca, menulis, dan berdiskusi.”

Meski sibuk sebagai jurnalis, Kristo adalah seorang suami yang penuh kasih bagi Christin Gaina dan ayah yang bangga kepada putra mereka, Keny. Dalam unggahan-unggahannya, ia tidak segan menuliskan ucapan ulang tahun untuk sang istri atau momen kebersamaan sederhana bersama keluarga. Bagi banyak orang, di balik sosok wartawan kritis, Kristo adalah pribadi yang lembut dan penyayang.

Rekan-rekan mengenangnya sebagai sahabat yang egaliter. Ia bisa tampil dalam forum resmi bersama pejabat, tetapi juga bisa duduk santai di pasar malam Penfui, menikmati makan malam sederhana bersama kawan. Ia ikut kegiatan olahraga, seperti lomba menembak bersama POLDA NTT, atau sekadar selfie sebelum liputan besar seperti kunjungan Presiden Jokowi di Raknamo. Semua itu memperlihatkan bahwa baginya, jurnalisme adalah bagian dari hidup yang menyatu dengan pergaulan sehari-hari.

Kristo tidak hanya hadir di dunia media, tetapi juga di ruang komunitas. Ia aktif dalam Kerukunan Keluarga Besar Maumere (KKBM) Kupang, ikut Musyawarah Besar, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Bagi diaspora Maumere, kehadirannya selalu memberi warna—seseorang yang tidak hanya pandai menulis, tetapi juga setia menjaga ikatan sosial dengan tanah asalnya.

Keterlibatan ini menunjukkan bahwa Kristo memandang jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan panggilan sosial. Ia percaya pada kekuatan kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas.

Kristo Embu meninggalkan istri, seorang anak, keluarga besar, serta jejak panjang dalam dunia jurnalistik NTT. Ia juga meninggalkan generasi jurnalis muda yang pernah ia bimbing, pembaca yang tercerahkan oleh tulisannya, dan komunitas yang selalu ia rangkul dengan hati.

Banyak yang mengenangnya dengan tiga kata: kritis, rendah hati, dan humanis. Ia kritis dalam tulisan, rendah hati dalam pergaulan, dan humanis dalam memandang sesama.

Selamat jalan, Moa Kristo Embu. Dunia pers NTT akan selalu mengenangmu sebagai wartawan yang berdedikasi, intelektual yang berpikiran luas, dan sahabat yang hangat.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.