“Kemampuan yang dimiliki paranormal adalah kemampuan alami. Hanya saja yang bersangkutan memiliki bakat istimewa. Jadi campur tangan Tuhan itu berada pada penganugerahan bakat tersebut. Sementara pada karya dan kerja paranormal adalah karya natural”. (Mgr. Julianus Sunarka SJ)
Dunia paranormal itu seperti dunia abu-abu. Ada tetapi seperti dianggap tidak ada. Dianggap tidak ada tetapi kadang-kadang kita datang menemui dan meminta jasanya. Meminjam istilah budayawan Y.B. Mangunwijaya, masyarakat kita hilir mudik antara Tuhan dan dewa-dewa. Masyarakat hilir mudik antara pengetahuan-pengetahuan yang didasarkan pada ilmu modern dan pandangan-pandangan “paranormal”. Hilir mudik antara rumah praktik dokter dan rumah praktik dukun.
Mgr. Narka dan Lidinya
Meskipun kehidupan paranormal setua peradaban bangsa ini, kenyataannya dunia paranormal masih gelap. Ia seperti hutan belantara yang tidak bisa ditembus oleh masyarakat awam. Rimba itu hanya ditinggali dan dilintasi sesama paranormal.
Hipotesa-hipotesa Mgr. Julianus Sunarka SJ barangkali bisa membantu menerawang dunia paranormal. Ia seorang pastor yang sekaligus Uskup Keuskupan Purwokerto. Mgr. Sunarka sendiri memiliki kemampuan hidran paranormal. Ia bisa mencari titik sumber air bawah tanah, lengkap dengan kedalaman dan debit airnya per jam. Alatnya cukup dengan dua lidi yang diikat di ujung tipisnya.
Seperti umumnya para pastor, Mgr Sunarka menjalani pendidikan modern. Ia belajar sastra, filsafat, teologi bahkan hingga Negeri Belanda. Kelahiran Sleman, 25 Desember 1941 ini juga pernah menjadi dosen Agama-agama Asli Indonesia. Maka, penghayatan “keparanormalan” dirinya didasarkan pada pandangan ilmu pengetahuan modern.
Normal tetapi Tidak Normal
Menurut Mgr. Sunarka, istilah ‘paranormal’ menunjuk pada pengertian ‘sepertinya normal tetapi tidak normal’. Hal ini seturut pengertian paramedis dan parapsikologi. Sepertinya medis, sepertinya psikologi, tetapi bukan medis dan bukan psikologi.
Kemampuan paranormal merupakan bakat. Ia bakat istimewa yang tersimpan sejak yang bersangkutan lahir dari rahim ibu. Bakat itu akan muncul ketika lingkungan dan kondisi memungkinkan untuk muncul atau mengembangkannya.
Mgr. Sunarka misalnya, kotak pandora bakatnya terbuka ketika ia bertemu dengan Ignatius Suharto. Pria yang ia temui tahun 1969 itu tinggal di Solo. Ia seorang yang juga memiliki kemampuan paranormal mencari sumber air.
Permasalahannya, pengetahuan mengenai bakat dan kemampuan paranormal tidak berkembang di tengah masyarakat. Mgr. Sunarka melihat, hal ini terjadi karena mitos tertentu. Karena masalah paranormal diletakkan dalam ranah mitos, ia lantas terjauhkan dari daya-daya kritis ilmu pengetahuan.
Di sisi lain “keistimewaan” kemampuan paranormal membuat sebagian masyarakat terjebak melihatnya sebagai kemampuan ‘supranatural’. Nah, apa pula itu supranatural.
Apabila pohon pisang tahu-tahu berubah menjadi manusia, di situ ada hal istimewa yang bekerja yang berkekuatan supranatural. Kinerja kekuatan tersebut lepas sama sekali dari kodrat natural atau alami pohon pisang. Mestinya pohon pisang itu ya tumbuh, berbunga, lantas berbuah. Ketika buah itu dipetik dengan ditebang, pohon akan mati.
Peristiwa lepas dari kodrat atau adikodrati tersebut, dalam cakrawala iman, dilihat sebagai ada campur tangan Tuhan yang luar biasa. Sebagaimana sering kita dengar orang mengatakan, bila Tuhan berkehendak, segala sesuatu mungkin terjadi. Orang menyebutnya mukjizat.
Nah, dunia paranormal tidak berada dalam area adikodrati tersebut. Dunia paranormal berada dalam area kodrati atau kemampuan manusiawi. Artinya tanpa campur tangan Tuhan secara “luar biasa”. Bila mau dikatakan ada campur tangan Tuhan, maka, campur tangan itu berupa bakat yang dikaruniakan Tuhan. Selepas itu, yang bekerja adalah bakat yang telah dan terus dikembangkan.
Menerawang dan Menggerakkan
Mgr. Sunarka menyebut setidaknya ada dua daya yang mencolok dalam dunia paranormal. Pertama daya penginderaan istimewa atau extra sensory perception. Kedua, daya penggerak istimewa atau extra sensory motor activity.
Seorang dengan bakat daya penginderaan istimewa atau clairvoyance atau mata ke tiga bisa menerawang peristiwa masa lalu (recognisi), menerawang peristiwa masa kini (paragnosi), dan peristiwa yang akan datang (proscopy).
Kita sering mendengar ada paranormal atau dukun bisa menebak apa yang kita alami pada masa lalu. Kadang juga ada yang bisa menerawang apa yang akan terjadi di masa depan. Bila ternyata tebakan dan terawangan tersebut benar adanya, dukun atau paranormal tersebut memiliki anugerah kemampuan yang dinamakan recognisi dan atau proscopy tersebut.
Bentuk lain adalah kemampuan berkontak batin dengan orang lain atau telepati. Tanpa menggunakan media-media konvensional, yang bersangkutan bisa berkomunikasi dengan orang lain.
Seorang dengan bakat atau kemampuan daya penggerak istimewa bisa melakukan materialisasi dan dematerialisasi (merubah benda menjadi energi dan merubah energi menjadi benda). Hal konkret dari kinerja tersebut yang dikenal masyarakat kita adalah santet. Orang bisa memasukkan jarum, peniti, kawat dan lain-lain ke dalam tubuh seseorang. Mulanya, benda-benda tersebut di-dematerialisasi. Ketika telah masuk dalam tubuh sasaran, benda-benda tersebut di-materialisasi (lagi).
“Ada orang yang bisa meringankan tubuhnya. Ketika ia duduk, tahu-tahu tubuhnya naik, melayang. Ini terjadi sungguh-sungguh. Ini juga kemampuan dematerialisasi,” papar Mgr. Sunarka.
“Bagi kita, kemampuan materialisasi-dematerialisasi tersebut digunakan untuk menolong orang. Seperti Romo Loogman yang menyembuhkan orang-orang yang kena santet,” ujar Mgr. Sunarka memberi contoh koleganya sesama imam di Purworejo, Jawa Tengah yang membuka praktik penyembuhan. Romo Loogman sendiri sudah meninggal. Aktivitas rumah pengobatannya dilanjutkan oleh anak didik Romo Loogman.
Kemampuan lain dari jenis ke dua ini adalah kemampuan jiwa yang menggerakkan, atau di tengah masyarakat dikenal sebagai tenaga dalam. Tanpa bersentuhan langsung dengan sebuah kursi misalnya, orang berkemampuan ini bisa menggerakkan kursi tersebut. Hal ini dikenal sebagai kemampuan psikokinese dan telekinese.
Adalagi yang disebut poltergeist. Dalam alam bawah sadar, jiwa seseorang yang terguncang, bisa menggerakkan bahkan menghancurkan benda-benda di sekitarnya.
Mgr. Sunarka menyarankan membaca satu buku untuk menerawang lebih jauh mengenai dunia paranormal. Buku tersebut ditulis oleh John J. Heaney. Buku berjudul “Yang Kudus & Yang Gaib – Menyorot Gejala Paranormal” (Kanisius, 2008), diterjemahkan dari “The Sacred & The Psychic: Parapsychology & Christian Theology”, memberi contoh peristiwa poltergeist.
Dalam buku dimana Mgr. Sunarka memberikan pengantar tersebut dicontohkan keberadaan Anne Marie Schaberl dari Bavaria yang membuat kekacauan di tempatnya bekerja. Kehadirannya membuat lampu-lampu meredup dan gambar-gambar di dinding berjatuhan. Bahkan sebuah lemari seberat 400 pon bergeser sampai satu meter tanpa Anne Marie menyentuhnya. Ketika kemudian Anne Marie keluar dari tempat kerja tersebut, kekacauan menghilang.
Para psikolog setempat menilai, Anne Marie menderita frustasi berat dan menyimpan dendam kesumat dalam jiwanya. Energi negatif tersebut terlepas dan merusak apa saja tanpa disadari.
Demikianlah, apabila benda-benda di sekitar kita berpindah tanpa ada orang yang melakukannya, jangan buru-buru memvonis adanya hantu yang bergentayangan. Barangkali di sekitar kita ada orang dengan jiwa berangasan, jiwa yang menyimpan dendam kesumat. Energi negatif yang tersimpan itu meletup dan terlepas tanpa kendali.
Pesan dari Arwah yang Meninggal
Dalam sebuah seminar paranormal di Malang, pada September 2013 lalu, seorang peserta bertanya tentang kehadiran arwah saudaranya dalam mimpi. Mgr. Sunarka yang menjadi pembicara tunggal menjawab bahwa saudaranya itu minta untuk didoakan.
Dalam kasus yang sedikit berbeda, kadang kita mendengar ada orang mendapat pesan dari seseorang yang ternyata sudah meninggal. Merujuk pada buku John Haney, Mgr. Sunarka memberikan contoh kasus tersebut yang terjadi di Poland, Oregan.
“Suatu hari tanggal 11 Oktober 1907, Rose Satton menerima surat dari putranya bernama James yang bertempat tinggal di Annapolis. Sore hari tanggal 12 Oktober, Rose merasakan sentakan, badan terasa sakit dan berkata bahwa ada sesuatu yang tidak baik atas diri James,” kisah Mgr. Sunarka.
Sehari kemudian Rose merasakan kehadiran James. Akan tetapi, pada hari itu juga, Louise suaminya menelepon dan mengabarkan bahwa James meninggal bunuh diri dengan pistol.
Anehnya, pada saat itu James menampakkan diri pada Rose dan berkata, “Mama, saya tidak pernah bunuh diri.” James mengatakan bahwa ada orang memukul dirinya dengan popor senjata, dan kemudian tiga orang lainnya menginjak-injak sampai jam tangannya pecah, merusak tulang rusuknya dan melukai dahinya.
Pada lain waktu James menampakkan dirinya lagi dan mengatakan bahwa orang bernama Utley yang memimpin semua kejadian pembunuhan itu. Tahun 1909 jenasah James dipindahkan. Dan ternyata apa yang telah diceriterakan oleh Rose tentang peristiwa pembunuhan atas diri James sesuai dengan keadaan jenasah James. James memang tidak mati karena bunuh diri, tetapi dibunuh.
“Kadang kita mendapati kasus postmortal manifestation atau penampakan-penampakan seseorang yang telah meninggal,” kata Mgr. Sunarka.
Dalam hal ini Mgr. Sunarka mengingatkan, kemungkinan yang terjadi bukanlah penampakan dari arwah yang bersangkutan.
“Bisa jadi sebetulnya adalah proses hynotis-paragnostik atau proses clairvoyance,” kata Mgr Sunarka.
Jadi Rose-lah yang saat itu “teranugerahi” kemampuan menerawang peristiwa yang terjadi pada anaknya. Akan tetapi, seakan-akan yang terjadi adalah arwah anaknya yang mendatanginya dan menceritakan apa yang ia alami.
Mensyukuri Anugerah Tuhan
Mgr. Sunarka sangat mendorong agar masyarakat “menurunkan” pandangannya mengenai paranormal. Bila sebelumnya masyarakat memandang paranormal berada dalam ranah supranatural, sebuah ranah dimana Tuhan campur tangan langsung secara ajaib atau mukjizat, hendaknya paranormal dilihat dalam ranah natural atau alami. Kemampuan yang dimiliki paranormal adalah kemampuan alami. Hanya saja yang bersangkutan memiliki bakat istimewa. Jadi campur tangan Tuhan itu berada pada penganugerahan bakat tersebut. Sementara pada karya dan kerja paranormal adalah karya natural.
“Pandangan ini tetap bertahan bahwa seperti segala ciptaan di alam semesta ini berasal dari Allah, demikian juga kekuatan paranormal juga berasal dari Allah,” tegas Mgr. Sunarka.
Dengan cara melihat seperti itu, maka setiap paranormal bertanggung jawab secara pribadi atas “pekerjaannya”. Sebagaimana sebuah bakat, pengembangan dan penggunaan bakat tersebut bergantung pada pemiliknya. Bakat bersifat netral. Ketika bakat tersebut digunakan untuk kepentingan kejahatan, masyarakat lantas menyebutnya yang bersangkutan menggunakan ilmu hitam. Demikian pula sebaliknya. Padahal sebenarnya bakat atau “ilmu” tersebut netral saja.
Meskipun menyadari potensi penyalahgunaan bakat paranormal seperti itu, Mgr. Sunarka menyarankan kepada orang yang merasa memiliki bakat paranormal agar mengembangkannya.
“Kembangkan untuk kemaslahatan umat manusia. Dengan cara itulah kita mensyukuri bakat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita,” katanya.
Oleh: Sutriyono
Tulisan tahun 2014
Pernah dimuat di Majalah INTISARI
Jakarta, 21 Desember 2025









