Oleh: Fitrah Lewomuda
Toleransi antarumat beragama bukan hanya tentang saling menghormati perbedaan keyakinan, tetapi juga tentang bagaimana kita menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan Karang Taruna Laskar Ampera Koli Petung yang mayoritas anggotanya 100 persen beragama Islam, tetapi turut melakukan kegiatan pembersihan gereja Katolik di Desa Koli Lanang.
Kegiatan ini menjadi contoh bahwa perbedaan agama bukanlah penghalang untuk membangun persaudaraan dan kebersamaan. Dengan adanya rasa empati, para pemuda menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama tidak harus dibatasi oleh perbedaan keyakinan. Mereka hadir bukan untuk mencampuri urusan agama orang lain, melainkan untuk membantu, menjaga kebersamaan, dan mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, tindakan seperti ini memiliki makna penting. Toleransi tidak cukup hanya diucapkan melalui kata-kata, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Membantu membersihkan rumah ibadah umat lain merupakan salah satu bentuk kepedulian sosial yang menunjukkan bahwa setiap orang dapat bekerja sama demi kebaikan bersama, tanpa harus meninggalkan keyakinan masing-masing.
Kegiatan Karang Taruna Laskar Ampera Koli Petung juga memberikan pesan kepada generasi muda bahwa persaudaraan harus lebih besar daripada perbedaan. Pemuda memiliki peran penting dalam menjaga kerukunan, mencegah prasangka, dan membangun lingkungan yang damai. Semangat gotong royong seperti ini perlu terus dipelihara agar hubungan antarumat beragama tetap harmonis.
Kegiatan Karang Taruna Laskar Ampera Koli Petung ini juga mencerminkan nilai Gemohing yang hidup dalam budaya masyarakat Adonara. Gemohing merupakan semangat kebersamaan, gotong royong, dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat tanpa mengutamakan kepentingan pribadi. Nilai ini mengajarkan bahwa pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan apabila dilakukan bersama-sama. Semangat Gemohing tersebut terlihat ketika para pemuda Karang Taruna Laskar Ampera Koli Petung yang mayoritas anggotanya beragama Islam hadir untuk membantu membersihkan Gereja Katolik di Desa Koli Lanaang.
Kehadiran mereka mendapat respons yang sangat baik dan dukungan dari umat Katolik serta pemimpin Gereja. Salah satu Romo menerima kehadiran para pemuda dengan penuh keterbukaan dan menyambut baik kepedulian mereka dalam menjaga kebersihan rumah ibadah. Bahkan, setelah kegiatan pembersihan selesai, salah satu Romo mengajak seluruh anggota Karang Taruna untuk berfoto bersama sebagai bentuk kebersamaan dan kenangan atas kegiatan tersebut.
Respons ini menunjukkan bahwa tindakan sederhana yang dilandasi ketulusan dapat membangun suasana persaudaraan yang hangat di tengah perbedaan agama. Peristiwa ini sekaligus memperlihatkan bahwa nilai Gemohing tidak hanya penting dalam kehidupan adat masyarakat Adonara, tetapi juga dapat menjadi landasan untuk memperkuat toleransi antarumat beragama. Dengan demikian, semangat Gemohing dan nilai-nilai kemanusiaan dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang rukun, saling menghargai, dan mau bekerja sama demi kebaikan bersama.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Karang Taruna Laskar Ampera Koli Petung mengingatkan kita bahwa nilai kemanusiaan tidak mengenal batas agama. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, rasa empati seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk hadir dan membantu. Sebab, toleransi yang sesungguhnya bukan hanya terlihat dari cara kita menghormati perbedaan, tetapi juga dari kesediaan kita untuk berbuat baik kepada sesama.
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Nusa Cendana







