Pater Antoon Aarts, SVD (1913–1993): Dari Prinsenbeek ke Flores – Jejak Panjang Seorang Misionaris
Pendahuluan
Kisah seorang misionaris selalu menyimpan paradoks: di satu sisi adalah kelemahan manusia, di sisi lain ada tekad rohani yang melampaui batas-batas fisik. Pater Antoon Aarts, SVD, lahir di Prinsenbeek, Breda, Belanda, pada 27 September 1913. Sejak kecil ia bercita-cita menjadi imam misionaris, meski tubuhnya rapuh dan jantungnya bermasalah. Namun, ia justru mengabdikan seluruh hidupnya di Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kisahnya adalah kesaksian tentang keberanian, iman, dan keteguhan untuk tetap setia pada panggilan.
Masa Kecil dan Benih Panggilan
Antoon kecil tumbuh di keluarga sederhana yang religius. Ia terpesona oleh sosok imam misionaris yang mengenakan jubah putih. Citra itu membekas dalam imajinasinya: suatu hari, ia ingin menjadi seperti mereka. Pada usia 13 tahun, ia masuk Seminari Uden (1926). Tahun 1933 ia menjalani masa novisiat di Helvoirt, mengikrarkan kaul pertama pada 8 September 1935, kaul kekal pada 1939, dan ditahbiskan imam di Teteringen pada 20 Agustus 1939.
Hari penahbisan itu, ia menulis sederhana dalam buku hariannya: “Tuhan, Engkau tahu hati saya. Jadikanlah saya imam-Mu, apa pun yang terjadi.”
Rintangan Kesehatan dan Tekad Misi
Tahun 1940, ia dijadwalkan berangkat ke Flores. Tetapi dua hal menghalanginya: Perang Dunia II yang meletus, dan kondisi jantungnya yang dianggap tidak layak untuk hidup di daerah tropis. Dokter-dokter di Belanda menasihatinya agar jangan berangkat. Tetapi ia berkata tegas:
“Saya ambil risiko ini. Kalau saya meninggal di Flores, saya tidak akan menyesal, sebab di situlah saya ingin menyerahkan hidup.”
Perang menunda keberangkatan hingga 1946. Ia berangkat bersama adiknya, Pater Alex Aarts, menumpang kapal Kota Agoeng, dan tiba di Flores setelah perjalanan panjang.
Tugas Pertama di Mataloko
Antoon ditempatkan di Paroki Mataloko (1946), sekaligus menjadi Bapa Asrama Vervolgschool. Kehidupan di sana berat. Tahun itu terjadi kelaparan besar. Umat kekurangan pangan, sehingga murid-murid asrama terpaksa dipulangkan.
Namun, Pater Antoon tidak putus asa. Ia mengisi hari-hari dengan mengajar, membimbing rekoleksi, dan berkeliling kampung untuk mengajar katekese. Ia belajar bahasa dan budaya setempat, menyelami kehidupan orang Flores dengan penuh simpati.
Mataloko juga menjadi basis pendidikan guru. Pater Antoon ikut menyaksikan bagaimana OVO (Opleidingsschool voor Volksonderwijzers) berkembang menjadi SGB (Sekolah Guru B). Ia terlibat dalam pengelolaan sekolah, dan mendukung lahirnya generasi pendidik Flores.
Bajawa: Pembangunan dan Pendidikan
Tahun 1947, ia dipindahkan ke Bajawa. Ia menjabat sebagai pastor paroki sekaligus pengelola sekolah (onder-schoolbeheerder). Di Bajawa, karya misinya semakin jelas: ia membangun sekolah-sekolah baru, mendampingi guru, serta memberi perhatian besar pada pendidikan iman.
Pada masa tugasnya, terjadi perkembangan penting: pada 1953 didirikan Biara Karmel di Bajawa. Kehadiran biara kontemplatif ini memperkaya kehidupan rohani umat. Pater Antoon adalah salah satu imam yang mendorong umat untuk menerima para suster dengan penuh hormat.
Namun, kesehatan kembali menurun. Tahun 1956 ia harus cuti ke Belanda. Meski demikian, kerinduannya untuk kembali ke Flores begitu kuat. Tahun 1957 ia kembali dan ditempatkan di Wolowaru.
Wolowaru dan Paroki Baru Onekore
Di Wolowaru, Pater Antoon bertugas sebagai kapelan (1957–1959). Dua tahun kemudian, ia dipercayakan mendirikan Paroki St. Yosef Onekore, Ende. Ia menjadi pastor pertama paroki tersebut.
Karya besarnya adalah pembangunan gereja megah Onekore, yang kelak menjadi salah satu ikon kota Ende. Ia menggalang umat, pemerintah, dan donatur untuk mewujudkan rumah Tuhan yang indah. Pada 19 Maret 1964, pesta Pesta Perak Imamatnya dirayakan di gereja baru ini.
Bagi umat, Pater Antoon bukan hanya arsitek gedung, tetapi juga arsitek komunitas iman. Ia dekat dengan keluarga-keluarga, menyapa anak-anak, dan mendampingi kaum muda.
Kembali ke Bajawa
Tahun 1964, Pater Antoon dipindahkan kembali ke Bajawa. Masa ini adalah puncak pengabdiannya. Ia dikenal sebagai imam yang disiplin, teratur, dan penuh semangat rohani.
Ia mempersiapkan umat untuk merayakan Pesta Emas Paroki Bajawa (1972) dengan program rekoleksi, doa bersama, dan penguatan iman. Ia juga menulis surat-surat kepada rekan dan keluarga di Belanda, menggambarkan iman umat Bajawa:
“Orang-orang di sini tidak memiliki banyak harta. Tetapi mereka kaya dalam iman. Mereka selalu gotong royong membangun gereja, sekolah, dan membantu tetangga. Saya belajar banyak dari mereka tentang arti Gereja sebagai komunitas.”
Tahun-Tahun Terakhir di Flores
Selama lebih dari tiga dekade, Pater Antoon Aarts hidup bersama umat Flores: di asrama, sekolah, kampung-kampung, paroki, dan altar. Tetapi tubuhnya semakin rapuh. Tahun 1976 ia akhirnya dipulangkan ke Belanda.
Di tanah air, ia menjalani masa tuanya dalam kesederhanaan. Meskipun jauh dari Flores, ia tetap mengikuti kabar misi dan terus berdoa bagi umatnya di Bajawa dan Ende.
Akhir Hidup dan Warisan
Pater Antoon wafat pada tahun 1993. Ia dimakamkan di Belanda, jauh dari Flores yang ia cintai. Tetapi bagi umat Flores, namanya tetap hidup dalam ingatan. Sekolah-sekolah, paroki, dan umat yang pernah didampinginya menyimpan kisah tentang imam Belanda yang berani melawan nasihat dokter demi panggilan misi.
Refleksi: Arti Seorang Misionaris
Kehidupan Pater Antoon Aarts menyingkap wajah misi sebagai:
Kesetiaan panggilan – ia memilih misi meski fisiknya lemah. Ketekunan dalam pendidikan – ia membangun sekolah dan mendidik guru. Kerendahan hati – ia hidup sederhana, dekat dengan umat kecil. Semangat kolektif – ia menghidupi Gereja sebagai komunitas yang bekerja sama membangun iman.
Dalam dirinya, kita melihat paradoks panggilan: seorang yang rapuh justru menjadi tanda kekuatan Allah.
Penutup
Pater Antoon Aarts bukanlah imam terkenal dengan karya spektakuler. Tetapi justru dalam kesederhanaan dan ketekunan sehari-hari, ia meninggalkan jejak mendalam. Ia membangun sekolah, paroki, dan iman umat. Ia hidup sesuai doanya saat ditahbiskan: “Tuhan, jadikanlah saya imam-Mu, apa pun yang terjadi.”
Dan memang, sampai akhir hayat, ia tetap imam dan misionaris sejati.
(Disadur dari buku : Indahnya Kaki Mereka (Telusur Jejak Para Misionaris Belanda) karya P. John Dami Mukese, SVD dan Rm. Eduard Jebarus, Pr.)
Oleh: Vitalis Wolo







