Bupati Kabupaten Sikka, Juventus Prima Yoris Kago (JPYK), bersama Wakil Bupati Simon Subandi Supriadi (SSSK), adalah dua sosok yang kini memegang mandat kepemimpinan di Nian Tana Sikka. Mereka mewakili wajah baru politik lokal: generasi milenial yang diharapkan mampu menjembatani cita-cita perubahan dengan realitas sosial yang kian kompleks. Dalam banyak hal, JPYK menjadi cermin generasi yang lahir dari semangat juang, idealisme, dan keinginan kuat untuk mengangkat harkat kaum kecil. Namun, seperti pemimpin muda lainnya, perjalanan ini tidak selalu mudah.
Memenangkan hati rakyat dalam kontestasi politik memang penting, tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana janji dan visi kampanye itu diwujudkan menjadi kerja nyata yang berkelanjutan. Dalam konteks inilah, masyarakat Sikka seharusnya tidak membiarkan Bupati dan Wakil Bupati berjalan sendiri. Mereka membutuhkan dukungan moral, sosial, dan intelektual dari seluruh lapisan masyarakat—dari tokoh adat, gereja, pemuda, hingga kelompok masyarakat sipil—agar pembangunan di Sikka tetap berada pada jalur yang berpihak kepada rakyat.
Sebagai generasi milenial, JPYK memiliki kelebihan dalam hal jejaring dan kedekatan dengan teknologi, serta cara pandang yang lebih terbuka terhadap perubahan. Tetapi kepemimpinan tidak hanya soal ide dan visi, melainkan juga tentang kemampuan menavigasi keterbatasan anggaran, birokrasi yang lambat, dan beban utang daerah yang diwariskan dari masa sebelumnya. Dalam kondisi semacam ini, upaya pembenahan memang tidak bisa instan. Setiap langkah perbaikan memerlukan waktu, kesabaran, dan dukungan publik yang konstruktif.
Kita bisa melihat beberapa langkah positif yang telah dijalankan, seperti penyerahan SK CPNS dan PPPK sebagai bentuk penguatan sumber daya manusia di lingkup pemerintahan, serta dorongan terhadap transparansi dan keterbukaan informasi publik melalui Dinas Kominfo. Langkah-langkah ini menunjukkan arah yang benar, namun tentu belum cukup. Pekerjaan besar masih menanti, terutama dalam peningkatan layanan publik, pemerataan pembangunan infrastruktur, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Dalam hal ini, partisipasi masyarakat menjadi sangat penting. Demokrasi lokal tidak berhenti pada bilik suara. Ia berlanjut dalam bentuk keterlibatan aktif warga—memberi masukan berbasis data, mengawasi pelaksanaan program, dan menciptakan suasana yang sehat bagi pemerintah untuk bekerja dengan tenang dan transparan. Kritik yang membangun dan informasi yang akurat jauh lebih berguna daripada cemooh di ruang publik yang hanya menambah polusi sosial.
Kita tahu bahwa membangun Sikka di tengah keterbatasan fiskal bukan hal mudah. Efisiensi anggaran dan pengelolaan utang daerah menuntut perencanaan yang matang. Karena itu, masyarakat perlu ikut mengawal agar penggunaan anggaran benar-benar menyentuh kebutuhan dasar rakyat. Pemerintah tidak selalu punya semua data dan perspektif; sering kali warga di kampung, para guru, petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil justru memiliki pandangan paling tajam tentang apa yang benar-benar dibutuhkan.
Sebagai generasi muda asal Sikka, saya merasa terpanggil untuk mengajak sesama warga agar tidak berpangku tangan. Kita mungkin berbeda pilihan politik, tetapi kita punya tanggung jawab yang sama terhadap kemajuan daerah ini. Tanggung jawab itu tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk besar. Kadang cukup dengan mengirimkan saran yang jujur, berbagi gagasan, atau menyampaikan laporan tentang proyek di kampung. Hal-hal sederhana ini bisa menjadi bentuk dukungan yang nyata.
Tentu, JPYK masih dalam proses menjadi pemimpin yang matang. Idealisme yang tumbuh dari pengalaman dan latar belakangnya sebagai anak muda Sikka bisa menjadi kekuatan, tetapi juga bisa menimbulkan tantangan jika tidak ditopang dengan dukungan dan dialog yang terbuka. Karena itu, masyarakat perlu membantu agar idealisme itu tetap membumi, terarah, dan berpihak pada rakyat kecil.
Seruan “jangan biarkan dia sendiri” bukanlah bentuk dukungan politik, melainkan panggilan moral. Setiap pemimpin akan kehilangan arah bila berjalan tanpa dukungan dan koreksi dari rakyatnya. Pemerintahan yang kolaboratif menuntut kerja bersama antara pemerintah, DPRD, masyarakat sipil, dan seluruh warga yang peduli pada kemajuan daerah.
Kita semua ingin melihat Kabupaten Sikka tumbuh dengan tenang dan maju dengan pasti. Karena itu, marilah menciptakan suasana yang sejuk, rasional, dan saling menghormati. Biarkan perbedaan menjadi ruang belajar bersama, bukan sumber pertikaian. Dan di atas semuanya, biarkan kerja-kerja kebaikan tumbuh dari tangan siapa pun yang mencintai tanah ini.
Saya bukan pemilih JPYK dan SSSK, tetapi saya warga Sikka yang punya tanggung jawab moral terhadap masa depan daerah ini. Maka izinkan saya menutup dengan satu keyakinan sederhana: kemajuan Sikka tidak akan datang dari satu orang atau satu kelompok saja. Ia akan lahir dari kesediaan kita semua untuk bekerja bersama, saling menopang, dan tidak membiarkan siapa pun berjalan sendirian.
Tabe mole — hormat saya untuk Anda semua.
Oleh: Yosef A. Arifin
Penulis adalah Putra asal Kampung Bei, Desa Blatatatin, Kecamatan Kangae, domisili di Nagekeo Flores









