Setelah pergantian kepresidenan di negara Republik Indonesia, akhirnya beberapa patung yang tadinya akan dipasang di sekitar alun-alun kota Serang, terpaksa dibatalkan. Ada sebagian birokrat dan ulama menyatakan agar segera dipasang, tetapi sebagian lain menyatakan tidak setuju. Akhirnya, patung tiga mantan presiden itu dibiarkan tergeletak dalam posisi berdiri, mengitari pohon beringin tua yang umurnya sudah ratusan tahun.
Dalam pengamatan saya, ketiga patung itu menyerupai sosok raja dan ratu, tetapi ketika saya jalan-jalan di pagi hari, ketiga patung itu disinari matahari pagi yang menyusup dari celah-celah batang pohon, sehingga terkesan sosok malaikat dan bidadari cantik dalam posisinya yang anggun, ramah dan menawan. Kecuali patung mantan Presiden Jokowi, sepertinya mengenakan jaket hitam yang terkesan merakyat, seakan ujung jaket itu dipegang oleh kedua telapak tangannya hingga terlihat agak condong dan mengembang.
Suatu hari di bulan Juni, seekor burung pipit yang mencari makan di lahan-lahan kosong, kemudian menyelusup masuk di balik jaket patung Jokowi yang tersingkap. Ia bertengger di ujung jaket, kemudian beberapa teman lainnya ikut terbang dan berlindung di sekitarnya. Mereka seakan mengistirahatkan kaki-kaki mereka karena merasa lelah, sampai kemudian beberapa burung pipit bersarang di balik lipatan jaket hitam tersebut.
Kadang di sore hari, saya sempat melihat beberapa burung jalak dan merpati bertengger di kepala patung SBY dan Megawati, namun setelah mendengar burung-burung pipit mencicit dan menyembul dari balik jaket, para burung besar itu akan mengalah dan pergi menyingkir menuju atap-atap aula di bagian timur alun-alun tersebut.
Boleh dibilang, hanya patung Jokowi-lah tempat yang paling aman dan nyaman bagi burung-burung pipit, sementara bagi merpati dianggap terlalu condong ke bawah dengan banyak bayangan yang menutupinya. Lagipula, patung itu tidak menyilangkan tangannya dalam sikap saleh seperti kedua patung lainnya, di samping lipatan-lipatan jaketnya yang menawarkan posisi nyaman bagi burung-burung kecil untuk membuat sarang.
Ketika fajar menyingsing, saya melihat mereka sedang merayap dengan mendesak-desakkan badannya ke sudut-sudut bagian leher, ketiak hingga selangkangan patung. Tak lama kemudian, hanya tinggal satu ekor yang tersisa, matanya yang mulai gelap seakan berjaga-jaga. Ia tampak kesepian, seperti mendengar beberapa alunan musik dari arah pertokoan di kejauhan sana. Setiap menjelang malam, selama berjam-jam yang monoton, nyanyian cicitnya seakan melemah ditelan oleh alunan musik-musik dangdut yang semakin mengeras.
Ketika cuaca mulai gelap, muncul beberapa kalong dan kelelawar dari area pesawahan dan perkebunan yang tersisa di wilayah selatan kota. Si burung kecil seakan mengendap-endap sambil mengintip para kelelawar di angkasa. Ia bersandar di balik tingkapan ujung jaket. Kemudian, pergi menuju sarang bersama beberapa ekor yang mungkin adalah anak-anak yang harus dilindunginya.
Suatu pagi, saya pernah melihat dua ekor burung yang terbang rendah sambil melompat-lompat di bawah patung Jokowi. Tapi, karena orang-orang yang melihatnya paham prinsip-prinsip dasar ekonomi, maka nilai kemanusiaan dan kebinatangan jadi terabaikan. Sehingga, salah satu burung itu tertangkap oleh kedua telapak tangan seorang kakek yang gesit. “Wah, lumayan… buat disembelih,” kata kakek tua itu.
Si kakek yang mengendarai sepeda, rupanya sudah mempersiapkan anyaman sangkar burung yang ditaruhnya di balik pohon beringin. Akhirnya, saya pun dapat memaklumi si kakek yang hidup miskin dan seadanya, sampai-sampai menangkap burung dijadikan profesinya yang paling utama.
“Kakek sudah terbiasa menangkap burung, ya?” sapa saya dengan suara pelan agar ia tak merasa tersinggung.
“Ya, habis, mau bagaimana lagi, Nak?” balasnya.
“Sejak kapan Kakek menangkap burung-burung?”
“Sejak zaman Presiden Soeharto,” katanya, “dulu Kakek jadi nelayan mencari ikan, tetapi belakangan laut-laut itu dibendung, sampai-sampai Kakek susah mencari ikan. Lagipula, bangau-bangau putih juga sekarang makin bersarang di area pesawahan.”
Menjelang musim penghujan, saya merasa heran ketika melihat burung-burung di sekitar patung yang semakin menghilang. Mungkin anak-anak mereka disambar kalong, atau mungkin dikejar-kejar kucing liar pada saat mulai belajar terbang. Atau, boleh jadi ulah perbuatan manusia, yang karena keterbatasan ekonominya menjadi sulit untuk dipersalahkan. Mungkin saja mereka dipelihara si kakek hingga besar, lalu disembelih untuk menjadi santapan bagi anak-cucunya di rumah.
Suatu hari di Minggu pagi, saya tak melihat seekor pun burung pipit di sekitar alun-alun. Hanya beberapa ekor merpati gendut yang sedang memandikan diri di genangan air di tengah lapangan. Tak lama kemudian, terdengar alunan cicit burung yang bergerombol datang dari arah timur, seakan mengadukan nasib hidup mereka. Saya kurang tahu pasti, apakah suara cicit itu semacam nyanyian merdu, ataukah justru tangisan yang menyayat hati karena rasa rindu kehilangan anak, atau justru karena kelaparan?
Seketika saya menoleh ke arah pohon beringin, lalu memastikan dari jarak dekat, bahwa patung Jokowi tampaknya terpelanting jatuh hingga kepalanya berlubang serta lengan kirinya patah. Sementara, kedua patung lainnya masih berdiri di tempatnya, bersandar pada batang pohon yang cukup kokoh.
Semalam memang hujan deras dan angin bertiup kencang di sekitar wilayah Serang dan Banten. Tetapi, saya tak dapat memastikan bahwa patung yang mestinya berdiri tegak itu terpelanting jatuh hanya karena terpaan angin.
Perlahan-lahan saya melangkah ke arah Security yang sedang berjaga sambil bertanya, “Kenapa Pak, dengan patung yang jatuh itu?” tanya saya kemudian.
“Sepertinya Adik perhatian amat, ada apa?” merasa curiga, dia balik bertanya.
Saya berpikir sejenak, menghindari pertanyaan yang agak politis, “Maksud saya, kenapa patung yang satu itu roboh, sementara yang lainnya dibiarkan berdiri?”
“Oo, maksud Adik, apakah tiga-tiganya perlu saya robohkan?” katanya ketus.
Karena dia bertanya secara tendensius, maka jawaban saya perlu juga politis, “Oo, kalau begitu Bapak sendiri yang merobohkan, ya?”
Matanya memicing seakan mengamati gerak-gerik saya, “Adik ini siapa sih, kok datang-datang menanyakan hal seperti itu?” tanyanya semakin curiga.
“Saya bukan siapa-siapa, saya hanya warga kota sini… yang merasa kurang nyaman jika pemandangan kota terlihat janggal….”
Akhirnya, Pak Security itu menjelaskan posisinya sebagai petugas keamanan baru di lokasi alun-alun, sehingga kurang banyak tahu perihal tiga patung yang dibiarkan berjamur itu.
Namun demikian, ia menjelaskan tentang peristiwa kemarin siang, saat terjadi demonstrasi mahasiswa di sekitar alun-alun kota. Ia tak kuasa melerai beberapa mahasiswa yang bentrok, kemudian muncul beberapa pemuda yang menerobos masuk, kemudian merusak beberapa fasilitas alun-alun, termasuk patung-patung di sekitar pohon beringin.
“Jadi, patung yang roboh itu adalah patung mantan presiden?” tanya Pak Security kemudian. “Apakah presiden Soeharto?”
“Bukan, tapi Presiden Jokowi,” jawab saya singkat.
“Ah, bagi saya Soeharto dan Jokowi sama saja. Dulu ketika pemilu dia tampil seolah-olah anti Orde Baru, tetapi ternyata setelah memimpin, dia memiliki hasrat yang menggebu-gebu untuk meniru Soeharto dan keluarganya,” katanya tak acuh. “Tapi, karena dalam beberapa minggu ke depan akan diadakan perombakan dan pemugaran alun-alun kota, maka saya tinggal menunggu keputusan dari Pak Walikota mengenai nasib patung yang roboh itu,” sambungnya lagi.
“Oo, begitu.”
Dan saya pun menjabat tangan Pak Security sambil tersenyum simpul. (*)
Oleh: Irawaty Nusa
Penulis adalah Peneliti dan prosaik milenial, juga menulis esai sastra di berbagai media nasional, seperti Suara Merdeka, Kabar Madura, Radar Mojokerto, Majalah Elipsis, Espos Indonesia, Jurnal Toddoppuli, litera.co.id, janang.id, nusantaranews.co, radarntt.net, ruangsastra.com, dan lain-lain







