Tentara yang Berkebun

oleh -767 Dilihat
banner 468x60

Orang itu pernah menduduki jabatan sebagai Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) di ibukota Jakarta. Namanya Jenderal Hoegeng. Setelah pensiun dan menjadi purnawirawan, ia memutuskan pulang ke kampung halamannya di desa Nameng, Rangkasbitung, lalu tinggal bersama istrinya yang sudah tua, sambil menggarap sebidang lahan miliknya, yang luasnya hanya beberapa ratus meter persegi.

Ia mendirikan rumah sederhana, sambil berkebun dan bercocok-tanam bersama sang istri. Ketika presiden baru yang tidak didukungnya mengajak untuk bergabung ke dalam pemerintahannya, ia pun angkat tangan, serta-merta menolaknya.

Selama puluhan tahun menduduki jabatan penting dan mengabdi pada negara, hidupnya makmur dan berkecukupan. Tetapi, ia paham bahwa semua itu adalah amanah yang telah dibeli dengan keringat rakyat. Saat ini, anak-anaknya sudah mandiri di perantauan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di pedalaman, serta merelakan diri untuk kehilangan segala-galanya.

Kini, ia dan istrinya hanya hidup seadanya, membelanjakan uang pensiun untuk kebutuhan sehari-hari, sambil menggarap sebidang lahan yang ditanami sayur-mayur dan umbi-umbian. Ketika seorang anaknya yang pengusaha menawarkan agar mereka tinggal bersamanya di Jakarta, mereka pun menolaknya, dengan alasan harus hidup tenang dan mandiri, serta khusuk beribadah di hari-hari senjanya.

Pak Hoegeng dikenal masyarakat sebagai jenderal yang bijak, jujur dan apa adanya. Ia dikenal sebagai prajurit tanah air yang berani dan akrab dengan rakyat kecil. Kata-katanya dianggap bertuah, rasa empatinya tinggi terhadap nasib orang-orang yang telantar dan dipinggirkan oleh kekuasaan. Banyak masyarakat yang tak segan meminta bantuan dan nasehatnya. Ketika seseorang berada dalam masalah dan tidak tahu harus berbuat apa, tetangganya akan berkata, “Datang saja ke rumah Pak Hoegeng, insyaallah beliau bisa membantu.”

Suatu hari, ketika Pak Hoegeng sedang panen sayur-mayur dan membagi-bagikan kepada para tetangga, tiba-tiba terdengar kabar tentang adanya kegaduhan dan keributan di pusat ibukota. Ribuan penduduk Baduy dari wilayah Lebak dan sekitarnya telah menyerbu dan menjarahi pertokoan dan pusat-pusat perbelanjaan, disebabkan terdengar isu dan rumor tentang raibnya tiga orang pedagang madu dan gula aren di daerah Cengkareng, Jakarta Barat.

Suasana semakin kacau-balau setelah adanya insiden penembakan dua orang yang tewas, lalu para pemuda dan mahasiswa ikut terjun ke lapangan untuk membela nasib warga Baduy, serta melukai dan melucuti pakaian beberapa orang polisi lalu lintas, sebagaimana nasib para menteri dan anggota parlemen di negeri Nepal.

Berhari-hari dan berminggu-minggu terjadi chaos dan kekacauan di lapangan. Beberapa aktivis dan mahasiswa diseret ke meja interogasi. Orang-orang Baduy mengalami intimidasi di sana-sini, pasukan snipers dikerahkan di atas bangunan-bangunan tinggi, sampai akhirnya pihak kepolisian dibantu oleh para tentara. Namun, ultimatum apapun yang diberikan Panglima TNI tak didengar dan dihiraukan massa yang semakin brutal dan beringas.

Akhirnya, ibukota Jakarta dinyatakan dalam keadaan darurat. Pintu dan jendela di rumah-rumah penduduk ditutup rapat-rapat sepanjang hari. Ribuan keluarga hijrah keluar kota, memilih tinggal bersama saudara dan handai-taulan di desa dan kampung-kampung halaman. Para wanita dan anak-anak diungsikan keluar kota, dikhawatirkan terjadi lagi insiden berdarah hingga perampokan dan pemerkosaan seperti pernah terjadi pada kerusuhan Mei 1998, yang telah digambarkan melalui novel psiko histori Pikiran Orang Indonesia.

Ribuan mahasiswa dan warga Baduy terus merangsek dan menduduki pusat-pusat perkantoran. Gedung DPR telah diduduki dan dikuasai mereka selama berminggu-minggu. Tak ada aparat yang berani mengusik mereka, bahkan para “tetua” berambut putih, yang pernah terlibat membuat undang-undang, menasehati Panglima TNI dan Kapolri agar jangan berbuat gegabah dengan menerjunkan pasukan bersenjata, karena dikhawatirkan terjadi pertempuran sengit melawan rakyat, yang justru telah membayar pajak dan membiayai kebutuhan para militer yang bersenjata.

“Jadi, begini Pak Presiden Prajoko,” kata Panglima TNI menjelaskan, “sejak beberapa hari yang lalu, gedung DPR sudah dikuasai mahasiswa dan ribuan warga Baduy. Mereka saling bahu-membahu menyediakan ransum dan konsumsi, menggelar yel-yel dan membakar ban-ban kendaraan. Beberapa pasukan dikerahkan tetapi justru dua orang anggota polisi dikeroyok mereka, dan satu di antaranya telah tewas. Tembakan-tembakan peringatan tak digubris oleh mereka, bahkan gas-gas airmata juga tak membuat mereka jera dan mundur. Kini, ribuan warga Baduy telah mengepung jalanan, membakar kantor dan mobil-mobil polisi dan menjarahi pertokoan. Pasukan kami tak sanggup menghalau mereka, kecuali jika terjadi bentrokan yang lebih parah, dan akan menimbulkan korban lebih banyak lagi…”

“Lalu, apa yang harus kita lakukan agar tak terjadi adanya korban lagi?” ujar Presiden. “Kira-kira siapa yang harus kita kirim agar dapat menenangkan mahasiswa dan warga-warga Baduy itu?”

Semua orang menggelengkan kepala dengan muram, seakan sudah tidak ada lagi harapan. Lantas, seorang prajurit wanita bernama Mega Kartini angkat bicara, “Sebaiknya kita panggil Pak Hoegeng, insyaallah beliau bisa membantu.”

“Pak Hoegeng siapa?” tanya Presiden spontan, “apakah mantan panglima TNI itu?”

“Ya, benar sekali.”

Ketika dijemput, Pak Hoegeng dan istrinya sedang berladang dan menanam ubi jalar. Melihat beberapa orang berseragam turun dari mobil, sontak ia menuju pagar bambu di depan rumahnya, dan seketika menerima laporan tentang suasana ibukota selama beberapa minggu terakhir.

“Tapi, apakah semuanya baik-baik saja?”

“Ada beberapa korban dari mahasiswa, warga Baduy, juga dua korban tewas dari anggota TNI dan kepolisian.”

Pak Hoegeng menyeka keringat di keningnya dengan perasaan sedih. Ia menyuruh istrinya untuk mengambil seragam militernya, yang selama beberapa tahun tak pernah dikenakannya. Sang istri mengibaskan debu pada lengannya, lalu memakaikan seragam itu di pundaknya. Kemudian, ia bersama rombongan bergegas menuju ibukota Jakarta.

Setibanya di Istana, Presiden Prajoko segera menyambut, dan seketika memberitahu keadaan darurat, “Untuk itu, saya menunjuk Bapak sebagai Panglima Tentara Darurat, serta mempersilakan Pak Hoegeng untuk melakukan apapun sesuai dengan kehendak dan hati nurani Bapak. Bagaimana pun, kami percaya bahwa Pak Hoegeng sanggup menangani kekisruhan ini, bahkan sanggup untuk memutuskan sesuatu agar tidak menimbulkan adanya korban, baik dari rakyat kita, maupun para aparat kita.”

Pak Hoegeng menyibak kerumunan dengan tenang. Beberapa pengawal dari tentara sudah mengenal tabiatnya yang berkharisma, sorot matanya yang kalem dan memancarkan empati dan rasa sayang kepada seluruh lapisan masyarakat, tanpa pandang bulu.

Sama sekali ia tak bermaksud untuk menghakimi atau melawan kerusuhan. Juga sama sekali tak menjadikan rakyat merasa takut dan gentar di hadapannya. Sebaliknya, justru wajahnya menimbulkan pesona, dan ia menyalami ketua-ketua aktivis, baik dari kalangan mahasiswa, LSM, bahkan menyunggingkan senyum ceria di hadapan warga-warga Baduy.

Sore itu, ketika ia berbicara di hadapan hadirin selama 30 menit dengan menggunakan mikrofon, semuanya terdiam membisu, seakan dengan khusuk bermuhasabah dan bercermin diri.

Keesokan harinya, ada kegembiraan yang memancar pada wajah-wajah mereka. Para mahasiswa kembali ke kampus-kampus mereka, ribuan warga Baduy juga kembali ke perkampungan mereka di Lebak, Banten.

Para aparat dan keluarganya bersuka cita, karena pada prinsipnya tak ingin mereka menghendaki adanya korban dari kedua belah pihak. Bapak Presiden juga merasa bersyukur, karena kemungkinan adanya bentrokan yang memakan korban telah mampu ditanggulangi dan ditenangkan dengan sikap empati dan kelembutan yang terpancar dari wajah dan kepribadian Pak Hoegeng.

Ya, Pak Hoegeng, sebagaimana pembawaan karakternya, tak pernah mau menobatkan dirinya sebagai penyelamat. Karena menurutnya, semuanya itu berkat perlindungan dan pertolongan Allah Swt.

Kemudian, setelah Presiden Prajoko mengucapkan banyak terima kasih atas apa yang dia lakukan, Pak Hoegeng berpesan agar para pejabat, baik dari kalangan menteri maupun aparat agar hidup zuhud dan bersahaja, agar mereka semua berpantang melakukan korupsi dan ketidakadilan kepada rakyat.

Ia pun menyalami dan menepuk bahu Presiden, serta mengimbau agar para koruptor segera ditindak tegas dan diberi hukuman yang setimpal. “Ingat kata-kata Gus Dur,” ujar Pak Hoegeng, “bangsa ini akan menjadi besar jika mau menghormati mereka yang pantas diberi penghormatan, serta berani menghukum mereka yang memang layak diberi hukuman.”

Kapolri dan panglima TNI segera menyalaminya dan mengucap terima kasih, seakan-akan Pak Hoegeng menyerahkan kembali mandat komando di tangan mereka.

Hanya satu bulan Pak Hoegeng menjabat sebagai Panglima Tentara Darurat, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali menuju ladang kecilnya di desa Nameng, Rangkasbitung. ***

Oleh: Indah Noviariesta

Penulis adalah Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), menulis prosa dan esai, juga peraih nominasi cerpen terbaik nasional yang diselenggarakan Litera

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.