Untuk mencari nafkah sebagai laki-laki yang masih lajang, saya bekerja di rumah seorang pelukis terkenal yang percaya takhayul. Saya bertugas menjaga gudang miliknya, dan tidur di dalam gudang sepanjang malam. Di dalamnya ada berbagai-macam jenis lukisan, baik yang sedang dikerjakan, yang siap dijual ke pasaran, lukisan pesanan yang siap dikirim, termasuk lukisan-lukisan mahal hasil kreasinya yang konon harganya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Banyak juga koleksi lukisan kuno yang terpajang di dinding, sebagai karya seni langka yang konon dikoleksi beberapa kalangan elit saja.
Kadang saya merasa kesulitan untuk memejamkan mata di malam hari, tak bisa tidur sama sekali, apalagi ketika si pelukis itu pernah berkata,”Hati-hati, karena di antara lukisan-lukisan itu terdapat peninggalan Nyi Roro Kidul yang boleh jadi obyek lukisan itu bisa keluar dari kanvas, lalu menggugat Anda.”
“Kenapa bisa menggugat saya?” protes saya.
“Karena, dia merasa terbunuh dan mati di dalam lukisan itu.”
Tapi anehnya, pelukis itu tak pernah memberitahu yang mana dari puluhan lukisan di dinding itu, yang dia maksud? Akibatnya, sepanjang hari dan minggu, kepikiran terus oleh saya, kapan makhluk aneh yang misterius itu akan keluar dan mengejawantah secara kasatmata di hadapan saya.
Karena merasa lelah dengan pekerjaan menjaga gudang tersebut, saya pun minta berhenti. Dan dalam waktu yang tak begitu lama, si pelukis cepat-cepat menggantikan posisi saya dengan pekerja baru yang tugasnya – maupun petuah-petuahnya – barangkali serupa dengan apa-apa yang pernah saya alami selama beberapa bulan bertugas di situ.
Kemudian, saya pindah melamar bekerja di rumah seorang penulis yang dikenal sebagai sastrawan. Konon, ia juga dikenal sebagai writerpreneurship, yang pintar bekerjasama dengan pihak penerbit untuk ikut-serta menjualkan buku-buku hasil karyanya ke toko-toko di seluruh wilayah Banten. Orangnya lumayan supel dan pandai bergaul. Ia juga mengarang kisah-kisah tentang dongeng Sangkuriang, Puteri Duyung hingga cerita rakyat Malin Kundang.
Sastrawan itu pernah berkata pada saya, bahwa fungsi buku-buku itu tak lain untuk mencegah tokoh-tokoh jahat dalam lembaran-lembaran kertas itu agar jangan keluar dan merajalela di muka bumi. Ia pernah bercerita bahwa tokoh Malin Kundang pernah melarikan diri dari lembaran buku-buku, pada saat buku-buku didistribusikan ke seluruh pertokoan. Saya bertugas untuk duduk di atas ratusan kardus berisi buku di atas truk, untuk dikirim ke toko-toko buku di seluruh wilayah Banten dan sekitarnya. Sungguh, tugas yang teramat berat karena truknya berguncang-guncang, jalanan di sana-sini berlubang dan rusak parah. Saya disuruh duduk dalam posisi yang tidak nyaman, rutenya membosankan, pengemudi truknya sering ugal-ugalan.
Kadang-kadang ada kardus yang jatuh terpental, dan bukunya pun berantakan di jalanan. Akibatnya, ketika stok berkurang, sayalah yang selalu kena getahnya dan diomeli habis-habisan oleh si sastrawan kenamaan.
Setahun berikutnya, saya bekerja di rumah seorang artis dan penyanyi yang menyukai binatang, khususnya kucing. Wanita itu memiliki delapan ekor kucing berjenis angora, persia atau apalah entah lagi. Tiap pagi dan sore, saya harus mempersiapkan makan untuk delapan kucing piaraannnya. Kadang saya terheran-heran, mengapa si artis itu begitu meyakini bahwa salah satu dari kucingnya itu merupakan penjelmaan iblis dan setan. Tetapi, kucing yang mana yang dimaksud? Tak pernah saya diberitahu.
Wanita itu gemar sekali mengenakan pakaian hitam-hitam, dan ia mengatakan bahwa dirinya tidak sanggup menjaga seluruh kucing miliknya di tengah malam. Jadi, terpaksa saya yang harus mengamatinya setiap saat. Ia sanggup memberi saya upah, lantaran saya disuruh berjaga-jaga selalu hingga larut malam. “Kamu harus tahu, bahwa salah satu dari kucing-kucing ini adalah setan. Kalau kamu perhatikan salah satu dari mereka mengeluarkan tanduk di jidatnya, segera kasih tahu saya. Karena pada saat itu, kita harus segera membuat api unggun di pekarangan rumah…”
“Api unggun untuk apa, Mbak?” tanya saya.
“Untuk segera membakar dia hidup-hidup. Sebab, kalau dia sudah mati, maka setan-setan akan lenyap di sekitar kita.”
Dengan demikian, saya pun terjaga terus sepanjang malam, mewanti-wanti agar mata tetap terarah pada kedelapan kucing itu. Tapi lama kelamaan, semangat saya surut dan mengendur. Setelah wanita itu pergi tidur, saya pun menekuk kaki di bawah selimut, kemudian meringkuk di atas bangku panjang.
Selama tujuh bulan saya bekerja di rumah artis itu, kemudian menyatakan diri berhenti. Karena bagaimanapun, sepertinya kurang baik buat kesehatan saya untuk terjaga terus sepanjang malam.
Tujuh minggu kemudian, saya mendengar kabar tentang adanya rumah tua yang besar di jalan Bhayangkara, Kota Serang. Mungkin dulunya itu rumah seorang pembesar atau elit politik Banten. Tetapi kini, ia dihuni oleh sepasang manula berambut kelabu, yang sama-sama meyakini bahwa keempat patung perempuan yang menjaga kediamannya, konon mendambakan sepasang kekasih yang amat dicintainya. Kalau keempatnya tak mendapatkan kekasih, roh yang menghuni patung-patung itu akan melayang dan mati seketika.
Yang lelaki dari kedua manula itu memang seorang seniman yang sering dipekerjakan elit politik Banten untuk membuat ukiran atau pahatan kayu jati, baik berbentuk tokoh seorang laki-laki maupun perempuan.
Suatu hari, kedua pasangan manula itu meninggalkan saya sendirian. Meski sebelumnya berpesan bahwa saya harus terus memberi perhatian pada keempat patung wanita itu, bahkan memberi mereka makan setiap pagi. Saya curiga, bahwa kedua manula itu selalu memata-matai saya sepanjang hari. Seakan mereka masih berada di sekitar rumah. Saya duduk-duduk di sofa usang dengan pegas-pegasnya yang keras. Saya memasak nasi dan menggoreng lauk-pauk, karena kedua manula itu sengaja meninggalkan stok beras, telur dan ikan sarden yang memenuhi kedua kulkas berpintu di dapur.
Lama kelamaan, saya menganggap keempat patung wanita itu adalah gadis-gadis pujaan hati saya. Saya menyediakan makan-minum untuk mereka. Saya pun terbiasa menulis puisi-puisi indah dan menarik buat mereka. Akhirnya, tatapan mata mereka begitu memesona, sambil menyunggingkan senyum khas yang menawan. Saya memanggil mereka sebagai “Bidadariku yang Cantik”, dan saya pun menulis puisi panjang dengan tema itu.
Salah seorang dari mereka menundukkan kepalanya, dan dengan suara mendesah merdu, ia pun bertanya,”Jadi, kapan kita akan menikah?”
“Sebenarnya saya ingin menikah secepatnya, Bidadariku yang Cantik, tapi…”
“Tapi apa?”
“Tapi, maaf, saya belum punya cukup uang untuk menikah.”
Dengan rasa kesal, wanita itu berkata ketus, “Bagaimana kamu punya cukup uang, kalau mencari rejeki dengan bergantung pada orang-orang yang percaya pada takhayul?” (*)
Oleh: Mu’min Roup
Penulis adalah Peneliti dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis esai dan prosa di berbagai media cetak dan online.







