Seniman dan Jenderal Tua

oleh -912 Dilihat
banner 468x60

Di hari Minggu pagi, Jenderal Gatot Suminto dan puterinya, Atiek Suminto telah sampai di kompleks perumahan Griya Indah Permai yang terletak di jantung pusat kota Serang. Mereka memilih rumah yang letaknya aman dan strategis di sekitar Blok B Nomor 12, sebuah bangunan model tahun 1990-an namun cukup megah dan besar dengan tiga ruang kamar yang nyaman. Serambinya ditopang oleh pilar-pilar putih tinggi. Halaman rumah dinaungi oleh pohon akasia dan kaktus, dan pada musim hujan langit akan menyirami rerumputan hijau di sekeliling pekarangan.

Deretan semak dari bunga-bunga yang merambat di sekitar pagar telah ditata dengan apik dan rapi menjelang rumah itu ditempati. Tampak gaya dan tampilan khas mirip kediaman Jenderal Soeharto di Cendana, ketika di awal tahun 1980-an Pak Gatot pernah menjabat salah seorang ajudan presiden RI yang kedua tersebut.

Ia mengaku pernah menemani Presiden Soeharto ke beberapa negara Eropa, sehingga ia mendesain kamar depan sebagai tempat kerjanya, dengan corak khas Eropa-sentris. Pikirannya seakan tetap hidup di abad-abad kegelapan, ketika rezim militerisme Orde Baru masih berkuasa penuh. Di masa jaya-jayanya, ia pernah memiliki puluhan hektar lahan kebun yang ditanami kopi dan buah-buahan di daerah Rangkasbitung, sambil mempekerjakan para tukang yang diberi upah sekadarnya saat kebun-kebun mulai panen.

Menjelang masa pensiun, rumah besarnya di Jakarta pernah menjadi tempat keramahan yang mewah, serta menarik minat para tamu dari kalangan tentara muda dan elit-elit politik. Pada periode itu, dengan angkuhnya ia menyandang semua kebanggaan dan prinsip kehormatan lama, kesopanan khas Orde Baru yang rigid, kaku, dan cenderung dibuat-buat.

Jenderal Gatot bertubuh gemuk dan tinggi, dan tiapkali menjamu para tamu masih senang ia mengenakan seragam militernya, berikut sematan aksesoris di sekitar bahu dan pundaknya. Beberapa tentara muda yang tinggal di kompleks perumahan, kerap memanggilnya dengan sebutan “Babeh” ketimbang “Pak Jenderal Gatot”. Namun, di acara-acara resmi yang berkaitan dengan hari besar keagamaan, ia akan menyesuaikan diri dengan memakai kopiah hitam dan kain sarung. Meskipun, seragam loreng militer berlengan panjang, tetap menjadi andalan yang masih dikenakannya.

Sebagai jenderal berbintang, Pak Gatot tak membutuhkan waktu lama untuk diakui sebagai kasepuhan yang duduk sederajat dengan para alim ulama di kota Serang, Banten. Seusai acara-acara keagamaan, ia akan duduk bersila bersama para tentara muda, Pak Lurah dan Rt setempat, Babinsa hingga tokoh-tokoh agama. Biasanya, ia bercerita banyak tentang kiprahnya membantu Presiden Soeharto di era 1980-an, bahkan ketika menjadi tentara muda, pernah juga menggerebek kediaman seorang tokoh Barisan Tani Indonesia (BTI) dan Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), serta menjebloskan mereka ke penjara tanpa proses pengadilan.

Dulu, dia cukup garang dan menggebu-gebu saat menceritakan peristiwa politik di era kejayaan Orde Baru. Namun belakangan, setelah penayangan film-film luar negeri yang mengisahkan korban-korban politik sang rezim, Pak Gatot menjadi kapok, pendiam, dan tak memiliki keberanian untuk menceritakan masa kejayaannya. Terlebih ketika presiden keempat Gus Dur menyampaikan pernyataan maafnya kepada keluarga PKI, Pak Gatot terlihat murung dan cenderung skeptis. Ia lebih banyak mendengar para tokoh agama menentukan topik utama yang menjadi bahan perbincangan.

Ia juga tak punya nyali untuk membuat anekdot-anekdot tentang gerakan kaum kiri di Indonesia. Beberapa tentara muda kadang memancingnya agar membicarakan topik yang disukainya di masa lalu, tetapi kini ia merasa perlu bersikap hati-hati dan waspada. Meskipun, tatapan matanya masih terlihat garang dan sangar, hingga membuat kalangan awam dan beberapa tokoh muda merasa tegang dan tidak nyaman di hadapannya.

***

Puteri Pak Gatot, biasa dipanggil “Bu Atiek”, usianya masih di kisaran 45-an. Ia seorang janda berperawakan gemuk dan montok, dengan ciri khas rambutnya yang panjang disanggul, sehingga membuatnya tampak lebih anggun dan menawan. Namun, ia kurang tertarik, juga tidak terpancar pada raut mukanya tentang kemegahan era Orde Baru di masa kejayaan ayahnya. Kini, Bu Atiek inilah yang mengurus keuangan keluarga, dan selalu siap ketika ada tagihan-tagihan yang harus segera dibayarkan. Pak Gatot menganggap tagihan air bersih (PDAM) dan internet adalah tagihan yang tak masuk akal dan menjengkelkan. Tagihan itu, seperti halnya listrik dan gas harus dibayar kontan, dan akan mati seketika bilamana terlambat dibayarkan.

Tetapi, Pak Gatot merasa lega setelah menyelesaikan bukunya yang berkisah tentang perjalanan hidup semasa menjadi ajudan Presiden Soeharto. Namun kemudian, kepalanya terasa pening ketika pihak penerbit banyak komplain supaya diralat pada beberapa bab, agar disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan zaman milenial saat ini.

Sebagian besar penghuni kompleks Griya Indah Permai tidak ada di rumah pada siang hari. Karena hampir semuanya adalah pegawai pemerintah, pengusaha, hingga para pedagang toko-toko besar yang biasanya dari kalangan etnik Tionghoa. Tetapi, ada seorang tetangga yang menempati rumah nomor 14 di blok yang sama, bernama Herry Muhzen yang dikenal sebagai seniman yang aktif sebagai pemain teater di gedung kebudayaan Rumah Semesta. Herry semakin meningkat pamornya sebagai seniman muda Banten, yang bukan saja dikenal sebagai pemain tetapi juga sutradara dan penulis skenario. Ia dikenal banyak bekerjasama dengan para intelektual dan sastrawan milenial seperti Chudori Sukra, Irawaty Nusa, Supadilah Iskandar, hingga Indah Noviariesta.

Di dunia teater, Herry juga sering tampil bersama para komika yang menyuguhkan dialek serba bisa, dengan pengalaman unik yang mencakup spesialisasi dialek Sunda dan Jawa Banten. Sebagai seniman muda, ia begitu obsesif dan ambisius, dan sering berbicara tentang keinginannya yang besar untuk mencapai kesuksesan di dunia kesenian Indonesia.

Di sore hari, Herry sering menyempatkan diri bertandang di kediaman Pak Gatot sambil menyeruput kopi dan hidangan gorengan yang disodorkan Bu Atiek puterinya. Sebenarnya, Pak Gatot dalam fase hidupnya pernah berseberangan dengan para seniman muda di Jakarta, bahkan pernah menolak tamu dari kalangan sastrawan. Namun, melihat keramahan dan kesopanan Herry, serta apresiasinya saat mendengar cerita-cerita di seputar tahun 1965, Pak Gatot akhirnya rela menjadi sahabat tuanya dalam berdialog dan berdiskusi, khususnya tentang sejarah politik Indonesia.

Jenderal Gatot menyisihkan waktu setiap sore untuk membacakan naskah bukunya kepada Herry Muhzen. Ada selipan anekdot yang kadang membuat Herry tertawa miris, bahkan tak ragu memperkenalkan Bu Atiek anaknya, bahwa Herry adalah pemuda harapan bangsa, yang memiliki pengamatan khusus tentang sejarah bangsa, serta dapat menjadi tonggak untuk ikut-serta menyuarakan kepentingan rezim lama di masa kejayaannya.

Seperti kebanyakan orang tua yang suka membanggakan masa lalu, Pak Gatot senang berlama-lama membahas soal detail sejarah. Dalam menggambarkan masa kejayaan rezim militerisme, hampir seperti kerajaan-kerajaan Jawa, para pemilik perkebunan dan pendudukan wilayah, ia tak ragu-ragu membicarakan masa-masa panen, serta memerintah ratusan petani dan pekebun, yang membuat para raja bergelimang dengan kemegahan duniawi. Namun demikian, kadang Herry tak lupa mengajukan gugatan yang tercetus dari alam bawah sadar, khususnya tentang bagaimana nasib dan perlakuan terhadap para petani dan pekebun, sampai akhirnya ia tak pernah berhasil mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Bagaimana nasib para tukang kebun kopi, lada dan cengkeh; kekerasan tindakan para makelar; kerja paksa para Romusha yang menggarap rel kereta api; serta pekerja rodi yang menggarap jalan-jalan pos yang memungkinkan para juragan dan penjajah Belanda berkelimpahan materi dan pembangunan. Sederet pertanyaan itu, membuat kepala Jenderal Gatot merasa pusing tujuh keliling. Apalagi jika dihubungkan dengan perlakuan rezim Orde Baru, pimpinan Jenderal Soeharto yang pernah bekerja sebagai pegawai Belanda (KNIL). Tak ayal, ia pun mengaitkan sebagai kepanjangan tangan dari sistem kolonialisme; sebagai musang-musang yang mengenakan bulu-bulu domba. Untungnya, Jenderal Gatot tak pernah memahami apa yang dimaksudkan Herry, yang sering menyebut istilah “musang berbulu domba”.

Setelah setahun lebih tinggal di Griya Indah Permai kota Serang, suatu pagi Bu Atiek Suminto menyadari bahwa mereka merasa kesulitan secara finansial. Walaupun buku berjudul “Kejayaan Politik Era Pak Harto” sudah rampung ditulis, namun pihak penerbit di Jakarta masih menimbang soal pemasarannya kelak. Apakah buku semacam itu masih laku di pasaran? Apakah Gen Z yang mengalami transformasi pemikiran dan kecerdasan, masih mau menerima ide-ide kuno yang dihembuskan para pengagum rezim militerisme yang cenderung obsolete, dengan cara-cara berpikir serba rigid dan konvensional?

Sementara itu, token listrik dan PDAM sudah dua bulan menunggak. Uang makan mereka untuk sebulan sangat pas-pasan. Bu Atiek mendekati ayahnya untuk berkonsultasi. “Pak, sekarang saldo sudah menipis. Beberapa tunggakan belum terbayar, lalu bagaimana kita bisa makan untuk bulan-bulan ini?”

“Aah, brengsek mereka semua!” ia pun menggerutu dan mengumpat para elit politik di pemerintahan pusat. “Anjing-anjing bangsat itu seenaknya mengorupsi tambang emas, batu bara, nikel dan lain-lain, sedangkan saya selalu berhadapan dengan urusan-urusan receh seperti ini!”

Sang jenderal merogoh sakunya. Ia hanya menemukan dua lembar uang kertas bergambar mantan Presiden Soeharto. Ia membanting uang itu di atas meja, “Coba, tolong belikan Bapak kuota internet… nanti yang lain-lainnya bisa menyusul….”

Ia pun memencet nomor sahabat lamanya, Jenderal Sigit Harnoko, yang juga menjabat komisaris dari penerbit terkemuka di Jakarta. Ia berusaha memakai pengaruhnya agar segera menerbitkan buku yang sudah rampung ditulisnya.

Beberapa hari kemudian, para editor berkumpul, dan terpaksa menunda pekerjaan lainnya. Hasil rapat mereka setelah membaca naskah, agar manuskrip tersebut dipangkas sebisa mungkin supaya menghilangkan hal-hal krusial yang menyangkut isu sektoral dan kelas, terkait dengan transformasi spiritual yang dialami generasi milenial. Dengan begitu, pihak penerbit akan mempertimbangkan penerbitannya.

Seketika itu, amarah kian memuncak dan meluap-luap. Tensi darahnya naik lagi, sampai kemudian Bu Atiek seperti biasa membawanya ke klinik terdekat untuk diberikan pengobatan seperlunya.

***

Selama beberapa minggu Dokter menyarankan agar beristirahat. Manuskrip karyanya belum juga diterbitkan, karena pihak editor meminta judulnya agar diubah, dan ini yang membuat Pak Gatot bersikeras untuk menahan dan menundanya.

Sementara itu, Bu Atiek meskipun usianya lebih tua dari seniman Herry, kini telah menjalin kedekatan dan keakraban dengannya. Kadang ia berduaan di taman alun-alun Serang, menyantap baso, somay, mie ayam, atau jajanan apa saja yang sering mangkal di sekitar Jalan Ahmad Yani hingga sepanjang emperan pasar Royal. Kadang ia beralasan mau pergi kondangan, membiarkan ayahnya sendirian di rumah, padahal sudah janjian menonton pertunjukan teater, pembacaan puisi dan cerpen, atau menyaksikan pameran lukisan di gedung kebudayaan Banten.

Di hari Sabtu sore, Bu Atiek mengatakan ingin pergi ke Rumah Semesta, melihat pemutaran film pendek berdurasi 30 menit karya para sineas muda, yang banyak berkiprah di dunia kesenian dan kebudayaan. Ada tiga film dokumenter yang akan diputar, salah satunya adalah karya seniman Herry Muhzen, sahabat muda Jenderal Gatot, yang kini sekaligus berperan sebagai pacar dan kekasih dari puterinya.

“Ini film perdana Herry sebagai seniman, karena belakangan dia banyak berkecimpung di dunia sineas,” ujar Bu Atiek membanggakan kekasihnya.

“Film tentang apa?” tanya ayahnya agak antusias.

“Saya sendiri belum tahu, Pak, karena malam ini baru mau nonton. Kabarnya film perdana Herry ini diberi judul Musang Berbulu Domba.”

Dia pernah mengenal istilah itu yang langsung didengar dari mulut orang pertama. Tetapi, ingin sekali Pak Gatot mendapat pengertian dari para sineas milenial, tentang apa yang dimaksud ‘musang berbulu domba‘ tersebut.

“Kalau Bapak mau ikut, usahakan pakai jaket, karena ruangannya full AC,” tawar puterinya.

“Di mana pemutaran filmnya?”

“Di gedung aula Rumah Semesta.”

Keduanya datang agak terlambat, hingga terpaksa mengambil posisi duduk di barisan kursi keempat. Pemutaran film pertama sudah hampir selesai. Rencananya film “Musang Berbulu Domba” akan ditayangkan pada pemutaran yang ketiga. Tirai kembali terbuka untuk pemutaran film kedua yang berjudul “Keindahan Eksotik Banten Lama”. Film ini menampilkan panorama pemandangan gedung-gedung Kaibon dan Surosowan, suatu perpindahan era kesultanan Banten menuju era kolonialisme Belanda. Panorama khas Banten membuat Pak Gatot merasa tertarik, terutama pada pemandangan gedung dan perkebunan yang hijau membentang; para petani yang giat bekerja; mandor-mandor Belanda berpakaian rapi dan necis; seakan menunjukkan masa kejayaan dan kemakmuran Hindia Belanda. Kemudian, mental dan jiwa Pak Gatot berbalik sekian puluh derajat ketika menyaksikan penayangan film terakhir karya Herry Muhzen.

Untuk menggarap film tersebut, Herry banyak diilhami dari karya Joshua Opperheimer, seorang sineas muda Amerika yang berhasil meraih nominasi Oscar untuk film dokumenter “The Act of Killing” (2012). Film tersebut mengisahkan kekejaman seorang Anwar Congo dari Medan, yang diperankan oleh pelakunya sendiri, terutama saat dia membunuhi lawan-lawan politik Presiden Soeharto pasca tahun 1965-an.

Sementara itu, film “Musang Berbulu Domba” ini berkisah tentang masa muda Jenderal Soeharto saat menjadi tentara bayaran Belanda (anggota KNIL). Herry selaku sutradara, menghubungkan peristiwa itu dengan peran CIA dan pemerintah Amerika Serikat dalam upaya penggulingan presiden pertama RI, melalui kekuatan pribumi Angkatan Darat, yang kemudian menjelma sebagai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Film ini dibumbui dengan ending kejatuhan Orde Baru, yang diilhami dari novel Pikiran Orang Indonesia, bahwa kekuasaan yang diawali dengan kebohongan dan kekerasan, kelak akan berjalan dengan pertentangan yang tak berkesudahan.

Seusai pemutaran film dan lampu gedung dinyalakan, Jenderal Gatot mendengus kesal lalu memalingkan wajahnya dari muka Herry. Mereka saling berpisah di depan gedung pertunjukan. Bu Atiek segera mengantar pulang ayahnya, meski sama sekali tak mengerti apa yang menjadi kekesalan dan kegelisahan sang ayah di sepanjang perjalanan.

Sesampainya di rumah, tampak muka sang Jenderal memerah dan menegang, dan ia pun menghempaskan punggungnya di atas sofa. Tak lama kemudian, tiba-tiba ia berteriak histeris: “Pokoknya, kamu jangan sampai berhubungan lagi sama si Herry Muhzen itu! Mulai hari ini, detik ini, Bapak tak mau lagi melihat dia menginjakkan kaki di rumah ini!”

Dia merasa telah dirampok segalanya oleh generasi milenial, pikirannya, ide-idenya, bahkan puteri tercintanya sekali pun. Selama minggu-minggu itu, Jenderal Gatot mengurung diri di kamar, tak mau diajak ngomong sama sekali. Setelah mendengar kabar penolakan bukunya oleh penerbit, tiba-tiba ia mengumpat dan berteriak-teriak seperti orang kesurupan.

Suatu pagi, ketika Bu Atiek melihat tubuhnya kejang-kejang, ia pun segera menghubungi ambulans, serta melarikan ayahnya ke Rumah Sakit Gatot Soebroto, Jakarta. (*)

Oleh: Muakhor Zakaria

Penulis adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.