Udin dan pemuda jangkung itu mengambil cuti selama tiga hari dari tugas kemiliteran. Keduanya duduk-duduk sambil mengobrol santai di tepi pantai, dekat dengan dermaga kepulauan Buru. Melihat kondisi jalanan sepi, dan para tahanan politik sudah pulang ke gubuknya masing-masing, keduanya memutuskan untuk duduk berlama-lama sambil membicarakan keluarga di Jakarta. Sepertinya kedua orang itu merasa jengah dengan tugas kemiliterannya di Pulau Buru. Menjaga dan mengawasi para tapol yang dipindahkan dari Pulau Jawa setelah kekisruhan politik dan perebutan kekuasaan pasca tahun 1965.
Langit di atas kepulauan Buru menampakkan suasana gelap, sementara udara yang berembus terasa cukup hangat. Setelah mereka mengobrol sambil tertawa-tawa membicarakan kemolekan tubuh wanita, mereka pun memutuskan untuk berenang di lautan lepas.
“Kalau berenang di Ancol atau Anyer, kita harus mengeluarkan uang untuk berendam di laut. Tapi kalau di sini semuanya bebas biaya alias serba gratis!” teriak Udin sambil berjongkok, dan yang nampak hanya kepalanya menyembul di atas permukaan air.
Pemuda itu membalas dengan suara lesu, “Ah, kalau saya sih masih enakan di rumah. Kangen sama keluarga, pengen nonton pertandingan bulutangkis untuk kejuaraan dunia. Main taruhan sama teman-teman di warung kopi, siapa yang menjadi pemenang bulutangkis untuk kejuaraan tahun ini, lalu…”
“Lalu ditembak kepalamu sama Jenderal Murdono!” celetuk Udin.
“Pokoknya, menurut saya sih enakan berenang di laut Ancol.”
“Ah, laut Ancol terlalu banyak orang.”
“Atau di laut Sanur atau Kuta di Bali.”
“Sama juga ramainya. Di pantai sana hanya dipenuhi bule-bule yang membawa dollar Amerika, termasuk dari hasil penjualan emas di Freeport Irian Jaya.”
Pemuda itu kurang menyimak apa yang dinyatakan Udin, dan katanya lagi, “Tempat ini membuat saya depresi dan kesepian.”
“Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan saja mengelilingi pantai itu,” ajak Udin sambil menunjuk ke jelujur pantai Pulau Buru.
“Mau apa? Apa yang kita cari di sepanjang pantai itu? Cuma ada kodok dan tikus-tikus doang.”
Udin menghela nafas panjang, kemudian katanya mendesah, “Kalau mau jujur, sebenarnya saya juga kepengen nonton pertandingan bulutangkis di rumah, atau pertandingan sepakbola seperti di tahun-tahun lalu. Sebenarnya, saya sendiri tak pernah bercita-cita jadi tentara. Pengennya sih jadi aktor atau seniman.”
“Ini pulau terpencil dan jauh dari Pulau Jawa. Saya malah curiga jangan-jangan mereka bukan cuma membuang para tahanan politik, tapi juga mengorbankan kita-kita sebagai tentara muda yang ditugaskan.”
“Benar juga kamu, tapi bagaimana caranya kita keluar dari sini? Kapan jenderal-jenderal Orde Baru itu mau memulangkan kita?”
“Itu masalahnya,” pemuda itu menjulurkan mukanya sambil berbisik, “Ini jalan buntu yang dihadapi tentara-tentara muda seperti kita. Saya masih ingat pernyataan Bung Karno dalam pidatonya, bahwa tingkat budaya dan peradaban militer kita sangat rendah. Tapi mana mungkin jenderal-jenderal Orde Baru itu punya kemauan mendidik orang-orang tolol seperti kita ini.”
“Ya, lama kelamaan, kalau persediaan pangan dari Jawa terlambat lagi, bisa-bisa kita cuma makan tikus bersama para tapol itu.”
Ketika keduanya melangkah ke arah pantai, pemuda jangkung itu merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal. Amplop itu berisi uang dalam bentuk rupiah, kemudian dia tertawa girang, “Hehe… saya punya uang, Din. Berarti saya ada kesempatan untuk pulang ke Jakarta.”
“Berapa banyak itu?” tanya Udin.
“Sejuta limaratus ribu rupiah.”
“Ah, uang segitu masih belum bisa membawamu sampai Jakarta.”
“Siapa bilang?”
“Uang segitu masih belum cukup, Berani taruhan?”
“Ayo, kita taruhan. Tapi kapan kamu punya uang untuk membayar saya?”
“Ah, buat apa saya bayar kamu,” katanya meremehkan, “Yang penting kamu harus membayar saya sebesar satu juta limaratus ribu rupiah.”
***
Pagi hari keesokannya, mereka berenang lagi menuju pantai di samping dermaga. Terlihat kapal-kapal yang akan memulangkan ribuan tahanan politik dari Pulau Buru menuju Pulau Jawa. Mereka telah menjalani hukuman belasan tahun, kemudian menerima secarik kertas ditandatangani oleh Pangkopkamtib, yang menyatakan bahwa mereka tidak terlibat G30S/PKI. Di antara para tahanan politik itu adalah ratusan wartawan dan seniman, termasuk sastrawan terkemuka, Pramoedya Ananta Toer.
Rupanya Udin sudah membaca berita di beberapa koran mengenai rencana pemulangan para tapol ke tengah keluarganya masing-masing. Kabarnya, pihak Amerika di bawah kepemimpinan Presiden Jimmy Carter, secara terbuka mengibarkan bendera hak-hak asasi manusia ke seluruh penjuru dunia. Dengan demikian, panji-panji demokrasi berkumandang di mana-mana. Dan memang, sejak tahun 1979 para tapol di Pulau Buru dibebaskan secara bertahap, dari golongan yang dianggap ringan hingga yang berat-berat.
Terjadi perdebatan panjang perihal pembebasan tapol tersebut. Sebab, di balik administrasi Carter dalam pengibaran panji demokrasi dan HAM, terkandung suatu maksud tersembunyi untuk “mengamankan” status-quo Amerika sendiri, yakni dunia investasi dan penanaman modal bagi kepentingan mereka. Amerika jelas-jelas melihat potensi sumber daya alam Indonesia, dan berusaha untuk terus “menyehatkan” perusahaan-perusahaan mereka.
Di sisi lain, para warga sipil Amerika hingga Australia memberikan teguran keras kepada senat dan kongres mereka, bahwa sebagai negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan HAM tidak sepantasnya mempertahankan kerjasama ekonomi (hubungan perdagangan) dengan suatu pemerintah negara yang masih menginjak-injak rakyatnya, terutama tahanan-tahanan politiknya.
Karena itu, alangkah buruk citra Amerika di mata internasional, bila tidak berupaya untuk membenahi keadaan para tapol di Pulau Buru yang jumlahnya mencapai puluhan ribu, belum lagi menengahi berita-berita yang santer di mana-mana bahwa para militer dan petugas penjara di Indonesia, konon telah seenaknya melakukan penindasan terhadap para tahanan politiknya.
***
Pagi itu, di samping dermaga sejumlah kapal laut bersandar. Kapal-kapal itu datang dengan membawa keluarga para tapol yang kebanyakan dari Pulau Jawa. Setelah mereka berjumpa dengan ayah dan suami-suami mereka yang telah mendiami Pulau Buru selama belasan tahun, kapal-kapal itu rencananya akan diberangkatkan kembali ke Pulau Jawa. Udin dan temannya duduk di atas pasir pantai, menatap ke arah deretan kapal-kapal laut itu.
Tak berapa lama, muncullah ratusan tahanan politik yang dikawal puluhan tentara bersenjata lengkap. Sebagian para tapol itu berpakaian lusuh dan kumal. Kebanyakan mengenakan celana panjang berbahan kasar sejenis karung goni, dan di bagian bawahnya sudah pada robek. Namun, tak ada dari para tapol yang bertampang sedih. Mereka semua gembira menuju geladak, lalu berdiri bergerombol menunggu perintah naik kapal.
“Din, lihat mereka itu!” kata pemuda jangkung, “Beruntung sekali mereka hari ini, sementara kita sampai kapan akan mendiami Pulau Buru ini, dan kapan kita akan dipulangkan… hey, apa-apaan kamu? Kenapa kamu merobek-robek celana dan melumuri baju dan mukamu dengan lumpur? Hey, kenapa kamu, Din?!”
“Ingat, berapa jumlah taruhan kita kemarin? Sejuta limaratus ribu rupiah,”
Udin bangkit berdiri, melepas sepatu tentaranya lalu melemparkannya ke arah laut.
“Hey! Apa-apaan kamu, Din?!”
“Ssst, kamu jangan ikut-ikutan! Risikonya terlalu besar. Jangan lupa, taruhan kita sejuta limaratus ribu. Sampai ketemu di Jakarta….”
Pemuda jangkung itu menyaksikan dari jauh apa yang ingin dilakukan Udin. Dengan mengenakan celana robek dan baju kotor, tiba-tiba ia berlari ke arah sekumpulan tapol yang tak sabar hendak segera naik kapal. Kemudian, ia pun ikut berdesak-desakan bersama mereka. Dari jauh ia menatap ke arah pemuda jangkung sambil tersenyum melambaikan tangannya.
Ketika dokumen dan surat-surat diperiksa satu persatu, Udin justru ingin keluar dari kerumunan tapol sambil menggerakkan tangannya seperti orang meronta-ronta: “Nggak mau… pokoknya saya nggak mau naik kapal ini… tolong keluarkan saya dari sini…!”
Dua orang petugas berpakaian tentara lengkap dengan senjatanya, segera menghambur, dan salah seorang dari mereka berteriak, “Ayo naik, cepetan! Pokoknya kami nggak peduli sesampainya di Jakarta, nanti penjara akan menunggu kamu!”
“Saya nggak mau, Pak… saya nggak mau…”
“Diam kamu bangsat! Dasar PKI!”
Kedua tentara itu mendorong Udin agar segera berjalan menuju geladak kapal.
Pemuda jangkung temannya menatap kejadian tersebut dengan takjub. Ia melihat Udin berdiri di dek kapal, di belakang pagar besi. Ia menyaksikan Udin beraksi untuk membebaskan diri serta melancarkan protes ini-itu agar para penjaga sudi menurunkannya dari kapal. Ia mendengar Udin berteriak: “Keluarkan saya dari sini… saya ini bukan PKI… keluarkan saya dari sini…!”
“Diam kamu, anjing!”
Pemuda jangkung itu menyaksikan sendiri bagaimana punggung Udin dipukul dengan popor sten, kemudian ia pura-pura tersungkur lalu diseret pergi dari atas dek kapal, ke dalam kabin penumpang.
“Sialaaan! Hebat sekali dia! Pantas saja dia bercita-cita jadi aktor atau seniman… hebat sekali dia!” kata pemuda jangkung dengan sorot mata berkaca-kaca. “Tidak rugi buat saya untuk membayarnya satu juta limaratus ribu rupiah.” ***
Oleh: Hafis Azhari
Penulis adalah Pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua dan Kucing Belang







