Sebuah Rosario untuk Perasaan yang Tak Dimiliki

oleh -720 Dilihat
Catholic rosary laid out in the shape of a heart. close-up
banner 468x60

Di kota karang (Kupang) yang tenang, setiap hari Minggu terakhir dalam bulan selalu terasa berbeda bagi para frater. Itu adalah hari “outing” atau dikenal dengan minggu free, hari di mana mereka boleh keluar dari rutinitas biara, menghirup kebebasan sederhana, dan sejenak merasakan dunia di luar tembok panggilan.

Minggu pagi itu terasa berbeda bagi Frater Piter. Langit cerah, lonceng gereja telah lama berhenti berdentang, dan waktu outing yang biasanya dinanti justru membuatnya bingung. Ia duduk di beranda komunitas, memandang jalan yang perlahan mulai ramai. Tidak ada rencana dan tidak ada tujuan. Hanya keheningan yang terasa ganjil di dalam hatinya.

Namun, Pada pagi hari setelah misa, Frater Piter dengan langkah ragu namun mantap, ia berjalan menuju rumah sebuah keluarga yang sudah lama dikenalnya. Mereka sering membantu frater, dan hari itu ia memberanikan diri untuk meminjam motor.

“Boleh saya pinjam sebentar, Om?” tanyanya sopan.

Pemilik rumah tersenyum hangat. “Untuk hal baik, selalu boleh, Frater.” jawab Om. Jawaban itu terasa seperti restu.

Lalu frater Piter menyusuri jalan kota yang penuh warna. Anak-anak berlarian, pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli, dan suara klakson bersahutan seperti irama kehidupan yang tak pernah berhenti.

Angin menyapu wajahnya, membawa rasa bebas yang jarang ia rasakan. Namun di tengah keramaian itu, matanya tertuju pada seseorang.

Seorang Mahasiswi berdiri di pinggir jalan. Ia tampak sederhana, mengenakan pakaian kasual dengan tas ransel di bahu. Wajahnya menunjukkan sedikit kegelisahan, sesekali melihat ponselnya, mungkin menunggu seseorang yang tak kunjung datang.

Tanpa rencana, Frater Piter memperlambat motornya… lalu berhenti tepat di depannya. “Maaf… lagi nungguin seseorang?” tanyanya dengan hati-hati.

Mahasiswi itu menoleh, sedikit terkejut, namun tidak merasa terancam. “Iya… teman kelompok. Katanya mau kerja tugas, tapi belum datang juga.”

Ada jeda singkat. Frater Piter hampir melanjutkan perjalanan, tapi entah mengapa, ada dorongan dalam dirinya untuk tidak pergi. “Kalau… tidak keberatan, kita bisa duduk sambil cerita. Daripada menunggu sendirian,” katanya, mencoba tetap sopan.

Mahasiswi itu ragu sejenak, lalu tersenyum kecil. “Boleh juga.” Lalu Frater Piter dengan sopan memperkenalkan namanya. ”Saya Piter”. ”Ani”. Jawab si Mahasiswi itu. Dan mereka pun mulai berbincang di tepi jalan.

Dari obrolan ringan, perlahan mengalir cerita tentang kuliah, keluarga, mimpi, dan perjuangan. Waktu berjalan tanpa terasa. Tak lama kemudian, Frater berkata,

“Sudah siang… bagaimana kalau kita makan bakso? Di depan sana ada yang enak.” si Ani itu sempat terdiam, lalu mengangguk. “Baik.”

Perjalanan singkat itu terasa hangat. Di atas motor tua yang sedikit berderak, mereka tertawa kecil, saling berbagi kisah. Frater Piter mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sementara itu merasa seperti menemukan teman lama yang baru saja dikenalnya. Tibalah di warung bakso sederhana, mereka duduk berhadapan. Uap hangat dari mangkuk bakso naik perlahan, seolah menyatukan suasana yang semakin akrab.

“Aku sebenarnya… hanya ingin berbagi,” kata Frater pelan. “Hari ini aku dapat kesempatan untuk menikmati suasana kota, seminggu sibuk dengan tugas dan kuliah.

Ani menatapnya. Ada sesuatu dalam nada suara tulus, tanpa maksud tersembunyi. Namun justru ketulusan itu yang menyentuh hatinya lebih dalam. Ia tersenyum, tapi matanya menyimpan perasaan yang mulai tumbuh.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya mereka harus berpisah. Sebelum pergi hanya meninggalkan tatapan indah.Tidak ada yang istimewa dari tempat itu, kecuali cara mereka tertawa dan saling mendengarkan.

Frater Piter mengantar Ani pulang ke kosnya sore itu. Mereka berpisah dengan sederhana. Tanpa bertukar nomor, tanpa janji untuk bertemu lagi. Seolah perjumpaan itu hanya sebuah kebetulan… yang selesai pada hari itu.
Namun hidup sering menyimpan cerita yang belum selesai.

Perjumpaan yang Kedua

Dua bulan kemudian, pada hari Minggu outing yang hampir sama, Frater Piter kembali keluar. Kali ini ia tidak terlalu banyak berpikir. Ia hanya mengendarai motor, menyusuri jalan yang terasa familiar. Dan di tempat yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya.

Ia pun pergi menghampiri kosnya Ani. Mereka kembali berjalan bersama. Cerita yang dulu sempat terputus kini berlanjut. Lebih dalam, lebih terbuka. Mereka tertawa lebih lepas, berbagi lebih jujur. Dan kali ini, langkah mereka tidak lagi ragu.

“Ada tempat yang mau saya datangi dulu,” kata Frater Piter sambil menyalakan motor.
“Ke mana?” tanya Ani, duduk di belakang dengan santai, tak lagi canggung seperti dulu.

“SPC. Saya mau tukar uang dolar.” kata frater Piter. Ani mengangguk. “Menarik juga, saya ikut saja.”

Motor itu melaju pelan menyusuri jalan kota Kupang. Angin siang menyentuh wajah mereka, membawa suasana ringan yang terasa akrab. Tidak banyak kata yang keluar, tetapi keheningan itu tidak kosong,nia penuh dengan rasa nyaman.

Sesampainya di SPC, suasana cukup ramai. Frater Piter masuk dengan tenang, mengurus keperluannya, sementara Ani berdiri di samping, memperhatikan dengan rasa ingin tahu. “Kamu kelihatan seperti orang yang sudah biasa begini,” bisik Ani setengah bercanda. Frater tersenyum kecil. “Tidak juga. Saya masih belajar… seperti banyak hal lain dalam hidup.” Jawaban itu sederhana, tapi membuat Ani diam sejenak. Ia mulai menyadari—Frater ini tidak pernah berbicara berlebihan, tetapi selalu tepat. Selesai dari SPC, mereka kembali naik motor.

“Kita ke mana lagi?” tanya Ani.

Frater berpikir sejenak, lalu berkata, “Ke Gramedia. Saya ingin cari sesuatu.” lalu mereka menelusuri ke toko Gramedia yang berhadapan langsung dengan SPC.

Di dalam toko buku, suasana berubah hening dan hangat. Rak-rak penuh buku seolah menyimpan ribuan cerita yang menunggu untuk ditemukan. Frater berjalan perlahan, matanya menyusuri judul demi judul. Hingga akhirnya ia berhenti, mengambil sebuah buku, dan menyerahkannya kepada Ani.

Perempuan di Titik Nol.

Ani membaca judul itu dengan perlahan. “Kedengarannya… berat.” “Mungkin,” jawab Frater. “Tapi kadang kita perlu membaca kisah orang lain supaya lebih mengerti hidup kita sendiri.”

Ani memandang buku itu lebih lama, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, saya mau coba.” lalu Ia membeli buku itu, dan tanpa ia sadari, ada perasaan kecil yang tumbuh—seolah buku itu bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari perjalanan hari itu. Waktu berlalu begitu cepat. Sore mulai turun, cahaya matahari berubah lembut.

“Ayo… saya antar pulang,” kata Frater akhirnya.

Perjalanan menuju kos kali ini terasa berbeda. Tidak ada lagi jarak yang terasa asing. Namun justru karena itu, ada sesuatu yang diam-diam mulai terasa lebih dalam—sesuatu yang tidak berani mereka ucapkan.

Sesampainya di depan kos, Ani turun perlahan. Ia memegang buku di tangannya, lalu menatap Frater.

“Terima kasih… hari ini,” ucapnya, lebih pelan dari biasanya. Frater tersenyum. “Saya yang berterima kasih.” Ada jeda.

Sejenak, mereka hanya saling menatap. Seolah waktu enggan bergerak. “Ada perasaan aneh,” kata Ani akhirnya, hampir seperti berbisik. Frater tidak langsung menjawab. Ia hanya tersenyum kecil, seakan mengerti tanpa perlu penjelasan.

“Kadang dalam hidup kita, tidak semua hal harus langsung dimengerti,” katanya pelan. Ani mengangguk. Ia berbalik menuju pintu kos, namun sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.

Frater Piter masih di sana. Dan di antara mereka, sesuatu telah tumbuh—diam, sederhana, namun nyata.

Sesuatu yang mungkin akan diuji oleh waktu. Atau bahkan oleh panggilan yang lebih besar dari perasaan itu sendiri. Dan kali ini, sebelum berpisah, mereka tidak membiarkan kesempatan itu hilang begitu saja.

Setelah berjalan dan berbincang cukup lama, Frater Piter berhenti sejenak. Ia ingin memberi kenangan terindah kepada Ani. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya.

“Ada sesuatu yang ingin aku berikan,” katanya pelan. Ani menerimanya dengan rasa penasaran. Saat kotak itu dibuka, terlihat sebuah rosario sederhana yang tertata rapi di dalamnya. Dengan sedih , Ani menatap langit biru sambil bertanya: Kamu Frater?.

”Benar sekali perkataanmu.” jawab frater Piter. “Aku… Frater Piter,” katanya sekali lagi. “Dan ini adalah hadiah untukmu.

Indahnya cerita dan kebersamaan boleh kamu lupakan ketika kamu marah aku. Tetapi yang ini jangan dibuang atau dilupakan. Ini adalah tanda cinta kita bahwa setiap Perjumpaan kita punya makna.

Ani terdiam. Selama ini aku mengenalmu sebagai seseorang yang baik, sederhana, dan hangat. Aku berharap kita akan bersama. Namun hari itu, ia mulai memahami siapa sebenarnya pria di hadapannya, dan mengapa kebaikannya terasa begitu tulus.

Ia menggenggam rosario itu erat. Di dalam hatinya, ada rasa yang tidak bisa lagi ia sembunyikan, perasaan yang tumbuh perlahan sejak perjumpaan pertama, menguat di perjumpaan kedua, dan kini menjadi nyata.

“Terima kasih… Frater,” ucapnya lirih. Tidak ada janji yang diucapkan hari itu. Tidak ada kepastian tentang masa depan. Namun mereka sama-sama tahu, bahwa perjumpaan itu bukan sekadar kebetulan.

Bagi Frater Piter, itu adalah perjalanan kecil untuk berbagi berkat. Bagi Ani, itu adalah perjalanan hati. Perjalanan menemukan jalan dengan diam-diam belajar mencintai dalam keheningan.

Dan di antara keduanya, rosario itu menjadi saksi. bahwa tidak semua perasaan harus dimiliki, tetapi selalu bisa didoakan. Obrigado

Oleh: Faustino Da Cruz

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.