Kota merupakan tempat yang menakutkan. Seperti banyaknya hari yang sering menakut-nakuti jiwaku. Aku telah sering meronta-ronta, tetapi aku sadar bahwa ruang gerakku kini terbatas, disekap oleh waktu di dalam ruang yang tak punya hati. Bahasa Kitabku mengatakan, “di sana terdapat ratapan dan kertak gigi.” Bertemu dengan orang-orang yang tidak kukenal memang hal yang biasa namun mendapatkan perlakuan yang tak biasa memang sudah nasibku. Suara-suara yang berdatangan ke arahku sering tak bermakna untuk kurenungkan.
Aku bukan habis-habisan membanting tulang melainkan aku justru habis-habisan dibanting tuan-tuan. Di benakku, kota menjadi tempat indah untuk mengumbar sukacitaku dan mencari makna hidup demi mereka di gubuk tua. Apalah daya bahwa semua ini di luar kendaliku saat manis di mulut waktu itu dan pahit tuk ditelan saat ini.
***
“Kamu pikir, hidup berkeluarga itu mudah? Haa…!”
Dari balik celah dinding bambu, Sinta menjadi saksi bisu yang diam menatap keduanya dengan tatapan kosong dipenuhi ketakutan. Ia sadar bahwa ekonomi keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja dan sudah sejak awal demikian. Ayahnya yang menekuni kerja pada banyak tuan di kampung terkadang memilih sedikit nyaman untuk berjudi dan mabuk-mabukan sembari memamerkan beberapa lembaran daun bernilai yang diperolehnya.
Sinta lebih merasa kasihan pada ibunya. Sejak pagi hingga sore menanti malam, upah yang didapat oleh ibu Dorkas sebesar 50 ribu. Dan banyak kali, ma Dorkas lebih suka bersyukur dari pada mengeluh dengan situasi ditambah kelakuan Donatus, suaminya.Sang ayah dapat menjadi penasihat yang bijak bagi keluarga di kala mabuk sopi menguasainya.
Semua yang ada di sekitarnya akan menjadi sasaran empuk kemarahannya. Kenyataan seperti ini yang terkadang membuat Sinta gadis berusia 17 tahun itu, merasa muak dengan ayahnya termasuk karena dirinya menjadi korban darah tinggi Donatus.
“Bu, Sinta mau berhenti sekolah saja.” Ia berkata dengan penuh harap. “Kalau pun Sinta terus bersekolah, kasihan ibunya.” Dorkas tampak hening, mungkin sedang merenung kata-kata Sinta barusan.
“Ma, Sinta tidak mau kalau ibu dan ayah terus bertengkar gara-gara utang yang melilit, belum lagi Fian dan Ricky. Mau dapat uang dari mana untuk sekolah kami bertiga bu.” Ia sedikit kesal, manakala meratapi nasib hidup di gubuk tua yang mungkin kelak dikenangnya.
Gerimis menjilati awan hitam yang sedari tadi mendung. Bu Dorkas menyeka air matanya sebab ia sungguh merasa iba dengan pikiran anak gadisnya yang perlahan beranjak tumbuh. Sinta pun tak tega melihat air mata ibunya langsung mendekat dan memeluk tulang punggung keluarga itu.
Tak berselang lama, Donatus tiba membawa Fian dan Ricky. Mereka basah kuyup. Kedua anak yang jarak umurnya tidak begitu jauh itu tampak menangis tersedu-sedu sembari menutup mulut mereka. Keduanya dihajar oleh Donatus, lantaran anak-anak mandi hujan lupa waktu. Namun, menyedihkan ketika Dorkas melihat permukaan kulit luar kedua putranya itu nampak lebam atau semacam memar.
“Heh…bodok, kalian kalau sakit mau ambil uang dari mana untuk bayar rumah sakit? Jangan seperti Dorkas, tidak kerja hanya urus gosip.” Donatus mulai berulah.
“Memang lelaki yang tidak punya rasa malu itu kau, Donatus. Kau pikir saya pergi kerja kebun dimana-mana urus sana urus sini itu hanya untuk main-main.” Ibu Dorkas menarik napas dalam karena dirinya selalu dipermainkan oleh sang suami, belum lagi kenyataan hidup yang menggenaskan. “Kalau tidak bisa urus anak, biar saya yang atur, bukan kau pukul mereka seperti ini. Mereka masih kecil.”
“Heh..cukup Dorkas,”, Teriakan Donatus menggelegar, membuat ketiga anaknya takut. Sebuah tamparan nyata mendarat di pipi sang ibu. Dorkas hanya berteriak, “Aduh Tuhan”, dan ketiga anaknya merapat seperti anak ayam yang bernaung di bawah sayap induknya.
Hujan sore itu begitu mendukung kata-kata bejat dan aksi Donatus. Ia datang bersamaan dengan air mata sebuah keluarga yang kian meratapi nasib tak menentu. Hujan itu tidak hanya membasahi tanah tetapi juga menembusi gubuk tua, tempat kisah itu berawal.
***
Gerak-gerikku kini selalu diawasi oleh CCTV. Aku dilarang untuk keluar, bahkan aku dilarang untuk tidak boleh bertemu dengan orang lain di luar. Semata-mata aku dikunci dalam rumah mewah di sebuah kota yang menyimpan kekejaman tak beralasan. Aku hanya bisa merasakan Tuhan dan bercakap dengannya dalam doa hening tanpa ketahuan orang rumah.
Alasan aku tidak bisa menjangkau luar karena kata majikan, penampilanku memalukan. Keseharianku ialah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga dan merawat seorang nenek yang berusia 92 tahun. Di rumah mewah itu, aku belajar untuk takut. Takut kepada majikan yang sering menakut-nakutiku dengan ancaman dan kekerasan.
Ibu pernah bilang, jika kita benar tidak perlu takut, lain halnya jika salah. Tapi satu hal yang mau kubalas dari pernyataan ibu terkasih bahwa, itu tidak berlaku saat aku berhadapan dengan gelapnya kota, kejamnya rumah mewah dan ganasnya perangai tuan. Aku sadar bahwa aku menjadi hamba yang mesti takut pada tuan rumah.
Belum sebulan bekerja, aku sudah mendapatkan ganjaran yang tak manusiawi. Saat bekerja di dapur, keringat terus mengucur bersamaan dengan darah yang mengalir membasahi ubun-ubun. Kepalaku dihajar oleh majikan dengan sebatang senduk goreng besi karena aku tidak menjaga nenek yang sedang makan. Alhasil, karena sudah rentah, makanan pun berkeliaran di sekitarnya beserta alat makan yang terpampang jelas.
Inilah kemarahan tuan di panas terik kala darah mendidih, ia menghajarku. Di sini tidak ada alasan yang membenarkan selain salah. Dengan penuh penyesalan, aku bertanya, ”Mengapa aku bisa berada di tempat ini?” Diam-diam, aku menggunting rambut kepalaku agar bekas luka bisa terobati. Tidak banyak kata selain tangisan rindu mengenang gubuk tua yang jauh di sana.
Aku tidak bisa menyalahkan tuan soal tikar yang empuk untuk kupakai dan bukan kasur beku. Dimarahi dan dipukul tak beralasan sudah merupakan rutinitas harian yang wajib, selagi kepuasan belum terpenuhi.
Dari waktu ke waktu, nenek hanya pasrah medengar rintihan si gadis 17 tahun dari kursi rodanya. Kalau mau dicatat, kekerasan dan penyiksaan di kota itu terjadi secara fisik, psikis, seksual, ekonomi, sosial, dan spiritual.
Mereka puas dengan menyiksa dan mengedarkanku kepada siapa mereka mendapatkan untung lebih. Dan, aku kembali mengenang nasihat ibu. “Susah senang kita hidup di kampung sendiri, mau makan atau tidak, kita aman di tanah sendiri. Hidup di tanah orang itu tidak mudah nak”
***
Pascakepergian Donatus, Sinta si gadis semata wayang di rumah itu pun keluar. Tersisa Dorkas beserta Fian dan Ricky. Sang ibu mencari kemana-mana, bertanya dimana-mana namun hasil menghianati usahanya. Sinta si anak yang hilang telah berlayar bersama Siguntang menuju kota Sabah. Belum juga tiba di kota impian itu, ia dan beberapa wanita lainnya ditempatkan pada sebuah rumah semacam tempat persinggahan sebelum akhirnya dikirim.
Rata-rata dari mereka itu baru saja putus sekolah dan ada yang memang tidak sekolah. Pada mereka tak ada barang lain selain dokumen palsu yang kelak menghantar mereka menuju ruang gelap.
Mulanya ditawar, Sinta langsung menerima apalagi dengan iming-iming gaji yang besar. Mungkin, dengan meninggalkan keluarga di gubuk tua, ia dapat bebas menghirup udara kota untuk memperbaiki atap gubuk yang sudah berlobang.
Ia meninggalkan keluarga, melepaskan sekolah, dan mengikuti pria berkumis Hitler yang sama sekali tak dikenalnya. Hari pertama bekerja sebagai pembantu, hatinya langsung sakit merasakan perbedaan makian majikan dan ayahnya sewaktu di kampung.
Lain rasanya dipukul oleh tuan maupun Donatus. Si jago berkokok, waktu pun mulai membangunkannya untuk beraktivitas, pukul 04.00 Pagi. Di situlah ia mulai teringat akan gubuk tua, tempat ia dibesarkan meskipun dalam kekurangan dan keterbatasan.
***
Mereka adalah para gadis lugu yang siap merangkai mimpi. Sayangnya martabat gadis-gadis itu jatuh di atas panggung yang mereka dambahkan. Semua itu berawal saat pria yang juga tak berdasi mempromosikan gaji jutaan dan memastikan jaminan hidup mewah.
Oleh buaian itulah mereka berani melepas diri dari cengkeraman keterbatasan ekonomi dan keluarga, lalu berkelana hingga ke negeri Jiran. Harapan perlahan dikecewakan. Mereka justru terdampar di kota sebagai pekerja illegal yang diperlakukan tak manusiawi.
Ketika rintik hujan membasahi kota, Sinta bergumam, “Jangan sampai hujan ini mendukungku memilih jalan yang buta ini. Namun ia sadar bahwa dirinya dijadikan pembantu dan sebagian telah dikirim menjadi budak nafsu bejat hidung belang.
Oleh: Alfred Lanang
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang







