Bila hujan begini, air yang menggenang selalu mengingatkanku pada hari-hari dimana aku dibesarkan. Air yang menggenang sama-sama mampu menghanyutkan dan kemudian menjadi cermin, saat aku terpaku diam sembari menatap bayangan wajah pada permukaannya.
Wajah yang timbul pada pantulan permukaan itu, merupakan wajahku sendiri. Sebab, memang akulah yang memandang air di bawahku. Berlatar langit-langit rumah tanpa cacat. Rautku di situ begitu tenang, tapi dihardik oleh beberapa lembar daun yang seketika menodai begitu saja.
Kicauan burung camar bergema masuk ke dalam pendengaranku hingga seketika mukaku suram-muram. Angin sepoi merangsang kulitku, lalu kakiku melangkah menyibakannya. Di situ wajahku tampak nyaman dan tenang. Namun wajahku sempat disobek oleh guguran daun yang jatuh tak pasti di permukaan air tenang.
Saat hendak mematut-matut diri, sekali lagi ia kecewa mendapati wajahnya yang buruk. Namun, apa yang dibahasa, itulah kenyataan masam dan kusam yang mesti ia pijaki sepanjang hayatnya. Ia bahkan lupa akan bayangan wajah yang tergenang di rumah. Lagi pula, kakinya sendiri merobek air yang tenang itu.
Air yang tenang perlahan meresap dan lenyap ditelan butiran debu. Namun ingatan pada cermin tadi mulai menyergap benteng pikirannya, mengguncang kabut perasaannya, menyayat-nyayat keras hatinya, manakala mengingat kali ini yang dihadapi adalah citranya sendiri.
Bocah perempuan itu bernama Mona. Kapan ia dilahirkan? Ada duri yang menggores rasa, hingga nama kedua orangtuanya pun tak sempat diketahuinya. Serumit itu ketika melangkah ke depan dan melihat sejarah. Yang jelas, Mona mempunyai seorang lelaki yang gesit menemaninya. Lelaki itu selalu mengajak Mona berpindah tempat karena perang baru saja membakar ludes tumpuan awal mereka. Bernaung bersama, membuat Mona kurang menaruh perhatian pada wajahnya lagi.
“Bang, kemana pun engkau pergi, ijinkan aku ada bersamamu juga bang.!” Pinta Mona dengan raut kusam penuh harap. Abang Selman paham betul persoalan dia. Lagi pula ia baru saja memasuki masa remaja.
“Iya Mona. Tapi kita harus secepatnya berlabuh ke tempat lain. Abang harus menjamin tempat yang aman untuk kamu.” Abang Selman menatap dalam bola mata lucu adiknya. Mona sebatas mengangguk tanda setuju. Dari kejauhan, gubuk yang mereka tempati menyemburkan asap dari tungku, sehingga mereka semakin was-was.
Suatu ketika bang Selman lari terbirit-birit, tak tahu dari mana arahnya menuju ke gubuk tua mereka. Mereka baru saja menetap di situ selama tiga hari, namun terpaksa dipukul mundur oleh situasi.
“Ayo, kita harus pergi sekarang.!” Sang abang berkata dengan nada serius dan menatap ke arah lain dengan penuh waspada serta ngos-ngosan. “Ayo, tunggu apa lagi?” Mona pun menyadarinya dan membawah barang seperlunya saja. Keduanya berlari ke arah utara. Meskipun sungut-sungut memanjakan dia, namun itu hanya di dalam hati. “Kita harus cepat sebelum keberadaan kita diketahui mereka.” Abang Selman lumayan panik, tetapi ia fokus menggandeng Mona.
Mereka lalu tiba di sebuah rumah sederhana yang dihuni oleh sepasang suami-istri yang tak beranak. “Kamu boleh menetap bersama om Karso dan tanta Suna di sini sampai abang kembali.” Mona tertegun dan tertunduk lesu, sembari air mata menetes mengotori wajahnya. Tidak ada protes karen takut dipoles dengan bentakan. “ Hati-hati jah bang. Mona yakin Yang Maha Kuasa merangkul kita nanti.”
Kehidupan penuh ragu dan rasa bersalah pun aku lewati. Nasibku tidak seperti kebanyakan orang. Aku memilih menghabiskan sebagian besar waktuku di penjara rumah saja. Terkadang sambil mengeluh, namun ada masa aku rindu. Di luar rumah, aku kerap dilempar cemoohan karena alasan keminderan plus latarku.
“Apa sebab wajahku seperti ini?Penampilan fisik seakan-akan merendahkaku.”
Seiring berjalannya waktu, Mona lebih mengisi waktunya dengan menciptakan planet Mars. Khayalan-khayalan untuk menjadi rupawan dan dermawan menghanyutkannya dalam angan-angan. Sesekali Mona keluar kamar untuk meringankan pekerjaan rumah, sebab pemiliknya bergulat dengan kebun seharian.
“Jika sekarang aku berada di kondisi yang sedikit sulit seperti ini, salahkan saja mereka” ujar Mona dengan irama marah. Ma Karsi semakin membenci mendengar respon itu.
“Heehh Inaa…kurang ajar kamu yah…memangnya kau siapa? Kau itu hanya titipan semu dari orang tua dan abangmu yang sekarang sudah tidak jelas identatitas mereka.”
Sejenak Mona tertegun, dan mendiami dirinya. “Bualanmu seperti angin busuk yang dihindari lalat” Plaakkk….
Tamparan keras mendarat di pipi perempuan malang itu. Rambutnya dijambak dan ia diseret untuk bekerja.
Bukan seperti ini yang aku inginkan, bukan seperti ini. Mona menjadi marah dan mengutuk dirinya. Wajah yang sayu dan sendu terpampang tidak biasa seperti anak lainnya. Benar-benar ia merasa terjebak. Dijebak oleh orang tua dan abang.
“Aku dijebak oleh bapa, mama, abang, dan penghuni rumah ini.” Sambil menangis, Mona menyeka wajahnya dengan baju kumal, sebab air mata tangisan isaknya telah meleleh sedari tadi.
Ia melangkah lugu masuk ke kamarnya yang tidak beda dengan gudang tua abad -18. Di sudut kamar itu ada sepotong cermin yang bersandar pada dinding bambu. Ia menatap pada dirinya.
“Tak seorang pun mencintai ku. Semuanya membenciku. Aku jelek, tidak punya apa-apa, dan tidak bisa apa pun. Aku tak punya siapa-siapa. Aku sebatang kara mengapung di atas laut dan dihempas badai semaunya.”
Oleh: Alfred Lanang
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang







