Perlu diketahui, menurut warga Palestina, tanah dan pohon itu punya makna suci, kudus, dan harus dirawat dengan sentuhan tangan yang terampil. Ketika masyarakat dunia terfokus pikirannya tentang konflik di Gaza, sesungguhnya daerah Gaza itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan wilayah Palestina. Sedangkan, negeri Palestina sendiri meliputi Tepi Barat, Ramallah, Nablus, Jenin, Tulkarm, hingga Betlehem dan seterusnya. Bahkan, meliputi kota-kota yang dicaplok Israel agar kami segera melupakannya, seperti Yafa, Haifa hingga Akka.
Pikiran ayah saya tak terfokus pada soal bantuan pangan maupun kertas-kertas yang harus ditandatangani, tetapi ia selalu berpikir matang tentang tanah perkebunan yang sedang digarap. Ia tekun merawat ratusan pohon zaitun dan merasa nyaman ketika duduk-duduk di bawah naungannya. Ia terkenang ketika mengolah minyak-minyak zaitun, serta menuangkannya ke dalam jerigen, lalu dibagi-bagikan kepada saudara-kerabat dan handai tulan. Itulah tahun-tahun terindah baginya, ketika kami dapat hidup dan saling berbagi, dari hasil tetumbuhan di atas lahan-lahan tanah yang kami cintai.
Ada ikatan batin yang tak bisa diputuskan antara Ayah dan tanah perkebunan miliknya. Anda tak bisa memiliki perspesi semudah itu untuk memutuskan hubungan orang Palestina dengan tanah tempat kelahirannya. Untuk itu, tentara-tentara Zionis itu seakan dapat membaca pikiran kami, dan dengan liciknya ingin mencerabut akar keterikatan, antara hubungan orang Palestina dengan tanah air yang dimilikinya.
Tiapkali buldoser-buldoser itu memorakporandakan tanaman dan meratakan kebun-kebun kami, dalam sekejap saja kami segera membeli bibit-bibit tanaman ke pasar, lalu merapikan lahan dan menanam kembali pohon zaitun di atas tanah perkebunan kami. Kadang saya memerhatikan Ayah yang sedang berdiri tenang di sekitar lahan tanah miliknya, hingga saya pun merasakan adanya kebahagiaan di sana. Bahkan, saya tersenyum ketika Ayah bersama para tetangga dengan giat menggarap kembali lahan-lahan kebun mereka.
Kadang saya membayangkan wajah Ayah seperti sosok manusia yang terlahir kembali di permukaan bumi, meskipun dia sangat antusias ketika mendengar saya bercerita tentang nilai-nilai pelajaran, serta posisi ranking saya di sekolah.
Suatu hari, kami memperingati Hari Tanah Nasional serta memberi penghormatan kepada masyarakat yang membela tanah-tanah mereka sejak tahun 1976, ketika tentara-tentara Israel mengumumkan untuk menyita ribuan hektar yang kemudian mengorbankan warga-warga sipil Palestina.
Beberapa waktu lalu, Ayah menerima panggilan telepon yang memberitahu bahwa beliau telah terpilih untuk program pemulihan yang didanai pemerintah Turki. Kabarnya, mereka akan membantu para petani Gaza, yang tanahnya rusak akibat serangan Israel di tahun 2008 lalu; agar bisa menanam kembali pohon-pohon mereka. Mereka memberikan bantuan untuk membangun pagar-pagar, stek pohon, bibit, benih, hingga sistem pengairan. Meskipun, Ayah tak pernah mengajukan diri ke lembaga mana pun yang memberikan bantuan finansial. Sebab menurut pendapatnya, “Uang sebesar apa pun, tak bisa menggantikan tanah,” tegasnya.
Bagaimana pun, tanah memiliki nilai sakral baginya, apalagi dia terlahir dari keluarga petani. Tetapi, ia tidak mengikuti jejak kemahiran kakek sebagai petani atau pekebun. Ia pernah bersekolah di Mesir, lalu bergiat sebagai jurnalis di negeri Kuwait. Ia juga pernah aktif menjadi kolumnis di bidang ekonomi dan politik, bahkan juga menulis artikel untuk koran-koran di Kuwait. Namun, ketika memutuskan kembali ke Gaza, ia memiliki ketertarikan untuk menggarap dan merawat kebun-kebun yang diwariskan dari keluarga kakek.
Awalnya dia merasa kesulitan, karena tak punya pengetahuan mendasar perihal pertanian dan perkebunan. Meskipun, semakin lanjut usia, tampaknya semakin tumbuh kecintaannya pada tanah kelahirannya. Lalu, dengan penuh kesabaran, ia berusaha menekuni soal perkebunan, dan semakin tumbuh gairah untuk menggarap dan mengelolanya, seakan-akan ingin membangun surga dunia di atas lahan perkebunan miliknya.
Suatu ketika, saat sedang tekun-tekunnya menggarap kebun zaitun, tiba-tiba tentara Israel menyerbu bagaikan kerumunan Ya’juj dan Ma’juj, sambil membawa buldoser dan alat-alat berat lainnya. Mereka meratakan tanah-tanah kami selama duapuluh tiga hari. Ada beberapa insiden di sana sini, yang membuat kami terkepung oleh pasukan-pasukan militer bersenjata. Ketika mereka pergi ke barak masing-masing, mereka terus memantau gerak-gerik kami dari kejauhan. Dan seketika itu, kami menerima kabar tentang ribuan hektar yang diratakan, termasuk milik keluarga kami. Dengan sendirinya, ada ratusan pohon-pohon milik Ayah dan paman-paman yang hilang seketika. Bahkan, wilayah Sharga dan seluruh distrik lahan perkebunan di timur, juga ikut musnah oleh buldoser-buldoser mereka.
“Ini hanya kabar burung, mereka hanya meratakan di wilayah timur, sedangkan kebun milik Bapak masih utuh,” seseorang mencoba menghibur ayah saya.
Ya, tentu saja, kami berharap itu kabar burung. Kami berpikir, mungkin pohon-pohon milik orang lain ada yang dibuldozer dan diratakan, tetapi tak mungkin dengan ratusan pohon zaitun milik Ayah. Tentu saja, kami berharap tanah kami berikut pohon-pohon zaitun yang sangat disukai Ayah masih utuh. Itulah tanah yang sangat dibanggakan, sebagai warga Gaza yang identik dengan suburnya minyak-minyak emas hitam sebagai minyak suci (al-zait al-muqaddas).
Beberapa hari kemudian, langit Gaza kembali membiru. Semua insiden dan huru-hara telah usai. Ayah mengajak salah seorang kakak saya, untuk segera berangkat memeriksa lahan tanah miliknya. Dia menduga bahwa pohon-pohon zaitunnya adalah pengecualian. Dia berharap ada setitik nurani dari para militer dan operator buldoser, yang tersentuh melihat keindahan pohon-pohon zaitun itu. Tetapi, apa yang disaksikannya di sana?
Sepulang dari wilayah perkebunan, ia terdiam membisu, tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Hanya kakak saya yang bercerita secara mendetail tentang apa yang terjadi di sana. Di sepanjang tatapan mata mereka, ribuan hektar kebun telah dihancurkan dan diporakporandakan. Ayah menetaskan air matanya ketika menyaksikan ratusan pohon zaitun miliknya telah rata dengan tanah. Lalu, batang-batang kayu dari pohon zaitun itu dikumpulkan di sisi kebun, seakan bisa untuk dijadikan kayu bakar selama puluhan tahun. Kepahitan dan penyangkalan campur aduk dalam pikirannya. Sorot matanya yang membara, seperti tatapan seseorang yang baru terlahir kembali di permukaan bumi ini.
Hanya ada satu pohon zaitun yang sudah miring, dibiarkan tumbuh di tempatnya. Beberapa minggu sebelum kedatangan buldoser Israel, Ayah pernah memerintahkan kakak saya agar menebang pohon yang miring itu. Tetapi, belum sempat ditebang, tahu-tahu pasukan militer sudah meratakan ratusan pohon yang berkualitas, dan hanya menyisakan satu pohon yang miring.
Seorang sempat paman berkelakar, sambil ditujukan kepada kakak saya: ”Mungkin mereka sudah menebak pikiran ayahmu, bahwa tanpa dibuldoser pun, kalian sudah berencana untuk menebang pohon itu.” Kami sempat tertawa dengan candaan paman, tetapi Ayah sama sekali terdiam. Karena menurutnya, kekejaman dan kekejian tentara Israel yang menyerbu dan meratakan tanah, sama sekali tidak layak menjadi bahan guyonan. Seketika Ayah melangkah ke kamar, menggelar sejadah, berdoa dan menangis, sambil membaca ayat-ayat suci Al-Quran.
Saya menyendiri di depan komputer selama beberapa waktu. Saya membayangkan, ketika kita membicarakan tanah, rumah, dan harta yang direnggut setelah serangan tentara Israel, seakan terdengar seperti sebuah pengkhianatan, dan memang tak layak untuk menjadi bahan tertawaan. Ketika kita merasakan kehilangan dari keluarga atau saudara-kerabat yang dicintai, tampaknya tidak sebanding dengan hilangnya rumah mewah yang telah rata dengan tanah. Ketika kita merasa sedih dengan salah satu keluarga yang kehilangan tangan atau kaki, tampaknya tidak sebanding jika kita bicara soal mobil mewah yang telah hancur berkeping-keping.
Secara pribadi, ketika saya menyaksikan seorang ibu menangis sambil menguburkan jenazah anaknya, tentu tak sebanding dengan kehilangan tanah dan pohon yang dibuldoser secara membabi-buta. Barangkali, keimanan itulah yang menancap dalam kepribadian Ayah, sehingga dalam kondisi apa pun, selayaknya kita mensyukuri apa-apa yang masih bisa dinikmati dan diselamatkan. Saya meninggalkan komputer dalam keadaan layar masih menyala. Di ruang depan saya duduk menamani Ayah, sambil mengajukan beberapa pertanyaan penting, “Jadi, berapa pohon zaitun milik Ayah yang mereka ratakan dengan tanah?”
Ayah terkesiap menatap wajah saya, “Untuk apa kamu tanyakan hal itu, Nak? Apakah kamu mendaftar ke salah satu lembaga amal yang biasanya menawarkan bantuan itu?”
“Tidak, Ayah, saya hanya menulis di Blog untuk mengabarkan perlakuan mereka terhadap keluarga kita.”
“Silakan beri tahu dunia tentang apa yang mereka lakukan, tapi tak usah kamu berpikir tentang bantuan berkarung-karung sambako yang akan mereka kirimkan.”
“Saya hanya ingin menceritakan apa yang mereka lakukan terhadap masyarakat kita. Sekarang, Ayah sampaikan saja berapa jumlah pohon zaitun yang mereka tumbangkan?”
“Tentu saja mereka telah menghancurkan ribuan pohon, termasuk kebun-kebun milik saudara, paman dan bibi-bibi kamu.”
“Khusus untuk pohon-pohon yang Bapak punya, berapa banyak yang mereka tumbangkan?”
“189 pohon zaitun,” saya pun mengambil pena dan secarik kertas, lalu Ayah melanjutkan, “160 pohon lemon, dan 14 pohon jambu.”
“Coba diulang kembali, untuk pohon zaitun yang tumbang sekitar 160, 188, atau seratus 190 batang?”
Ayah meluruskan perhitungan saya yang keliru, dan katanya tegas: “Bukan 160, juga bukan 188 tetapi 189 pohon zaitun… dan tak usah digenapkan jadi 190 pohon.”
Saya menunduk malu, kemudian Ayah pun menasihati saya agar selalu bersikap jujur, agar mencermati angka-angka dengan teliti, jangan sampai mengurangi dan jangan pula menambah-nambahkan.
Saya melangkah kembali menuju komputer, lalu meneruskan bercerita kepada Anda tentang perlakuan mereka terhadap keluarga kami.
Ya, para militer Israel itu telah tega menghancurkan 189 pohon zaitun di tanah yang mereka yakini sebagai “tanah pemberian Tuhan”. Apakah mereka tidak menyadari bahwa tanah-tanah yang mereka hancurkan, serta pepohonan yang mereka tumbangkan, adalah anugerah dan amanat yang diberikan Tuhan untuk kita semua?
Jika kami orang Palestina mampu membuat alat-alat berat seperti buldoser, atau seandainya saya berada di tengah kebun milik orang Israel, dan saya punya kesempatan untuk menumbangkan pohon yang mereka tanam, tentu saya tak sampai hati untuk melakukannya. Saya yakin, setiap warga Palestina tidak akan tega mencerabut pohon yang ditanam oleh warga Israel, walaupun hanya satu batang pohon.
Saya adalah warga Palestina, dan sebagaimana pendapat Ayah dan leluhur saya, sesungguhnya tanah dan pohon itu punya makna suci, sakral, dan kita harus merawat dengan sebaik-baiknya. (*)
Oleh: Sarah Ali
Diterjemahkan dengan bebas dari cerpen “The Story of The Land” oleh Dr. Mu’min Roup, MA, peneliti dan dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga penulis prosa dan esai di berbagai media nasional







