(Diterjemahkan secara puitis dari Surat Al-Waqi’ah dalam Al-Quran)
Oleh: Eeng Nurhaeni
Bila saatnya datang kebangkitan yang tak bisa disangkal, maka peristiwa itu akan merendahkan derajat sekelompok manusia, juga akan mengangkat derajat yang lainnya. Ketika gempa bumi datang dan bumi terguncang, gunung-gunung meletus, maka di mana-mana terjadi kehancuran bagaikan debu-debu beterbangan. Pada saat itu, manusia akan terpecah-belah menjadi tiga komunitas yang akan saling terpisah secara alami. Golongan kanan akan dimuliakan, sedangkan golongan kiri akan berada dalam kehinaan. Adapun yang terdepan adalah golongan yang lebih dulu beriman, yakni mereka yang maqamnya lebih dekat dengan Allah.
Mereka akan berada dalam surga penuh kenikmatan. Sebagian besar adalah orang-orang terdahulu, dan sebagian kecilnya adalah orang-orang yang datang kemudian. Mereka duduk di atas dipan-dipan bertahtakan emas permata. Mereka berkumpul bersama anak-anak muda yang membawa gelas-gelas minuman anggur yang tak memabukkan. Mereka menikmati buah-buahan apa pun yang mereka suka, serta daging-daging burung yang nikmat, ditemani para bidadari cantik yang bermata jelita bagaikan mutiara. Itulah balasan atas kebaikan amal perbuatan mereka. Di surga itu, mereka bercakap-cakap dengan pembicaraan yang berguna, bermanfaat dan saling menentramkan.
Komunitas yang kedua adalah golongan kanan yang dimuliakan. Mereka berada di sekitar pohon-pohon bidara yang sejuk, tak berduri, juga dikelilingi pohon-pohon pisang yang bersusun-susun, serta air jernih yang terus-menerus mengalir tiada henti, serta buah-buahan yang terus berbuah, serta diperbolehkan bagi siapa pun memetiknya. Mereka menempati rumah dengan kasur-kasur tebal dan empuk, serta disediakan bidadari-bidadari cantik yang masih perawan dan usia yang sebaya dengannya. Golongan ini banyak dari orang-orang terdahulu, juga banyak pula dari orang-orang yang datang kemudian.
Komunitas yang ketiga adalah golongan kiri. Sungguh sengsara hidup mereka, dikelilingi angin-angin bertiup panas, serta air-air yang mendidih, juga dinaungi awan-awan berasap yang hitam legam, dan sama sekali tak menyenangkan. Ketika hidup di dunia, golongan ini serba mengandalkan hidup mewah dan glamor, bahkan tak henti-hentinya melakukan dosa-dosa besar. Mereka selalu menyangsikan, “Mana mungkin jika kami telah berkalang tanah dan menjadi tulang belulang, kemudian ada yang membangkitkan? Lalu, apakah kakek-nenek kami juga akan dibangkitkan?”
Katakan (Muhammad): “Ya, semuanya akan dibangkitkan, baik orang-orang terdahulu maupun yang datang kemudian.” Semua akan dikumpulkan pada waktu yang ditentukan, lalu kalian yang tersesat dan banyak berdusta (membuat hoaks), kelak akan disediakan pohon zaqqum yang akan menggerogoti lambung-lambung kalian, kemudian akan minum dengan air panas seperti binatang-binatang unta yang kehausan. Itulah hidangan bagi kalian di hari pembalasan.
Bukankah dulu Kami menciptakan kalian, lalu mengapa kalian mengingkari hari berbangkit? Kenapa kalian tidak perhatikan, dari mana kalian diciptakan? Bukankah Kami yang menciptakan manusia dari benih yang memancar, ataukah kalian? Kami pun telah menentukan waktu bagi ajal kematian, dan Kami tidak ragu menggantikan kalian dengan orang-orang yang seperti kalian, serta membangkitkan kembali di akhirat nanti.
Dan kalian menyaksikan pada saat pertama kali diciptakan, lalu mengapa kalian tak mengambil pelajaran? Bukankah kalian memerhatikan benih yang kamu tanam? Kaliankah yang menumbuhkannya menjadi pohon, ataukah Kami? Jika Kami menghendaki, sangat mudah bagi Kami untuk meluluhlantakkan pohon-pohon, serta menghentikan rizki kalian, sampai-sampai kalian berteriak panik: “Celaka, kami mengalami kerugian besar hari ini!”
Kenapa kalian tidak perhatikan air yang kalian minum sehari-hari? Apakah kalian sendiri yang menurunkannya dari awan, ataukah Kami? Jika Kami menghendaki, mudah bagi Kami menjadikan air itu asin, lalu mengapa kalian tidak bersyukur? Mengapa juga kalian tidak perhatikan api yang kalian nyalakan, apakah kalian yang menumbuhkan kayunya, ataukah Kami? Kami telah menjadikan api itu manfaat yang banyak untuk perjalanan para musafir. Karena itu, bertasbihlah menyebut nama Tuhan Yang Maha Besar.
Lalu, Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang, dan ini adalah sumpah yang besar. Sungguh kata-kata dalam Al-Quran ini sangat mulia, serta terpelihara di Lauhul Mahfudz. Tak ada yang sanggup menyimaknya, kecuali hamba-hamba yang hatinya bersih, yang diturunkan oleh Tuhan Semesta Alam.
Apakah kalian masih meremehkan perkataan dalam kitab suci ini? Lalu, kalian manfaatkan rizki Tuhan itu sebagai alat untuk menyebar dusta dan kebohongan. Kalau begitu, silakan kalian tahan sendiri ketika nyawa sudah sampai di kerongkongan. Pada saat itu kalian merasakan sendiri, bahwa Aku berada di sekitar kamu, meskipun kamu tak sanggup melihatnya. Jika kamu memiliki kuasa atas kehendak Tuhan, mengapa kamu tidak tahan sendiri nyawamu agar kembali kepada jasadnya?
Adapun mereka yang termasuk golongan kanan, para Malaikat akan menyambut kedatangan mereka dengan ucapan salam yang menentramkan. Sedangkan, mereka yang golongan kiri, sambutan itu berupa siraman air yang mendidih, lalu mereka akan dibakar di dalam api neraka. Sungguh, inilah perkataan yang benar. Maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Besar. (*)
Penulis adalah Pengasuh Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Banten, juga menulis artikel dan opini untuk harian Kompas, Media Indonesia, Republika, dan lain-lain







