Pada akhir tahun lalu, satu keluarga telah menginap selama dua minggu di penginapan yang terletak di sebelah rumah orang tua saya di daerah Anyer kabupaten Serang. Ayah membangun dua tempat penginapan beberapa tahun setelah ia berhenti berjualan kembang di Pasar Ciwandan. Pada hari-hari setelah Idul Fitri, atau hari libur nasional, atau menjelang pergantian tahun baru, biasanya salah satu dari penginapan itu diisi oleh keluarga yang sedang berlibur. Mereka datang pada siang hari, menempuh perjalanan selama tiga jam dari daerah Jakarta. Tapi keluarga satu ini sudah datang pagi-pagi benar. Boleh jadi mereka berangkat dari rumah sekitar jam tiga atau jam empat dinihari.
Setelah mereka memperkenalkan diri, saya mengantarkan mereka berkeliling. Biasanya, Ibu yang melakukan penyambutan ini. Namun, ia berhalangan karena harus menemani Kakek yang sedang dirawat di rumah sakit di daerah Bandung. Keluarga itu ada empat orang: ayah, ibu dan dua anak perempuan berusia sekitar enam dan sembilan tahun.
Keluarga kami melengkapi penginapan itu dengan teras yang nyaman untuk bersantai dan beristirahat. Ada atap jerami yang menghalangi sinar matahari. Ada dua kursi berlengan, sofa yang dibalut kain merah, kursi panjang untuk berjemur, dan meja kayu besar yang bisa memuat enam hingga delapan orang.
Saya membuka pintu geser berkaca dan memperlihatkan isi ruangan. Ada ruang tamu yang nyaman dengan dua sofa lembut. Ada peralatan dapur yang lengkap, serta dua kamar tidur.
Ketika si ayah mengeluarkan barang-barang dari mobil, kedua anak perempuannya menghilang ke dalam kamar mereka dan menutup pintu. Saya menyampaikan kepada si ibu letak handuk dan selimut pengganti untuk berjaga-jaga dari dinginnya angin laut di malam hari. Saya juga memberi tahu tempat penyimpanan racun tikus serta alat pengusir lalat. Karena, tak jauh dari rumah kami terdapat beberapa penduduk desa yang beternak ayam, dan kadang lalat-lalat berdatangan di pagi hari, dan itu sangat mengganggu.
Setelah itu, saya memberitahu jalan menuju minimarket dan pasar Anyer, cara menggunakan mesin cuci dan tempat menjemur pakaian, persis bersebelahan dengan kebun milik ayah yang ditumbuhi cabai, tomat, dan ada pohon mangga, pisang, papaya, dan jambu yang sedang berbuah.
“Kalau Ibu atau anak Ibu suka pada jambu atau mangga untuk dirujak, silakan ambil saja dari kebun ini,” kata saya.
Ibu itu tersenyum gembira, lalu katanya, “Apakah kebun itu masih milik penginapan ini?”
Saya jawab “ya”, dan beberapa pohon sengaja kami tanam, tapi sebagian lainnya tumbuh dengan sendirinya. Buah-buah jambu dan mangga itu sering berjatuhan kalau musim hujan tiba. Kadang Ayah memerintahkan para tetangga untuk memetiknya sendiri. Sebab, sayang kalau tidak ada yang mengambil dan memakannya.
***
Saya melakukan pekerjaan menyiram tanaman di dalam kebun serta taman di sekeliling penginapan. Saya berpura-pura tidak mengamati keluarga itu sehari-hari, sambil berjaga-jaga kalau ada ayam atau kambing masuk dan memakan tanaman di sekitar taman.
Tiap pagi dan sore, mereka meninggalkan penginapan untuk menyeberang jalan menuju arah pantai yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah saya. Saya melihat kedua anak perempuan itu gembira sekali ketika bermain pasir atau menendang-nendang bola di sekitar pantai. Kedua orang tua mereka duduk berdampingan di atas karpet plastik. Sesekali mereka belanja makanan atau aksesoris yang dijual para pedagang di sisi-sisi pantai.
Saya membayangkan, betapa bahagianya keluarga ini. Saya tahu nama-nama anak mereka, lantaran mereka mengajak saya bercanda dan bersenda-gurau saat menyiram taman di sekitar halaman. Juga mereka sering membiarkan pintu geser terbuka sepanjang hari. Sehingga saya bisa mendengar sebagian dari percakapan mereka, terutama soal sekolah anak-anak, pekerjaan kedua orang tuanya, bahkan dalam soal percakapan tentang menentukan menu makanan yang mereka sukai.
Rumah keluarga saya hanya dibatasi kebun yang cukup luas, di balik pagar yang berfungsi sebagai sekat dan pembatas. Selama bertahun-tahun rumah kami hanya terdiri dari satu ruangan, ditambah dengan dapur dan kamar mandi di belakangnya. Sewaktu umur saya menginjak bangku SMP, ibu saya pernah kerja sebagai pencuci pakaian di rumah keluarga yang kaya-raya dan memiliki banyak villa dan cottage di Pantai Carita. Setelah memiliki cukup tabungan, ditambah warisan ayah saya, mereka berhasil membeli kebun, dan sebagian tanahnya dipakai untuk membangun dua penginapan tersebut.
Sebenarnya penginapan itu jarang ditempati oleh penyewa, kecuali pada hari Sabtu dan Minggu, ditambah hari-hari libur nasional. Kalau musim hujan tiba, jalanan yang menuju arah minimarket agak becek, dan Ayah biasanya mengajak saya menaburi sepanjang jalan dengan pasir sungai dan batu kerikil yang dibeli dari toko material. Padahal, kalau dia mau, bisa saja menghubungi Pak RW setempat agar masyarakat sekitar menghimpun patungan secara swadaya, tetapi Ayah tidak mau merepotkan masyarakat. Ia menyisihkan dana secara pribadi guna menaburi jalanan itu agar bisa dilalui motor dan mobil.
Kedua anak perempuan di keluarga itu sangat mirip satu sama lain. Kita bisa dengan mudah mengenali bahwa mereka kakak beradik. Mereka mengenakan baju renang yang sama setiap kali pergi ke pantai. Si ibu juga tampak seperti seorang gadis. Badannya kecil dan langsing, rambutnya tergerai hingga bahu. Ia berjalan tanpa alas kaki di sekitar pantai. Si ayah seringkali memperingatkan agar memakai sandal, khawatir menginjak binatang atau karang laut yang keras dan tajam.
Selain itu, yang membuat saya agak heran, si Ibu selalu saja membawa-bawa semacam buku catatan dan pena setiap kali berangkat ke pantai. Tetapi ayah dan kedua anaknya tak pernah mempersoalkan kebiasaannya itu. Sepertinya mereka sudah terbiasa dan lazim adanya.
***
Pada hari ketiga, jantung saya berdegup kencang ketika si ibu memanggil saya setelah selesai dari tugas menyiram tanaman. Ia menyuruh saya duduk bersebelahan dengannya di sekitar meja kayu di teras penginapan. Ia menanyakan Ibu, karena selama beberapa hari ini keluarganya belum berjumpa dengan ibu saya.
“Sedang di rumah sakit,” kata saya pelan.
“Apakah ibumu sakit?” tanyanya dengan rasa empati.
“Kakek yang sakit. Dia hidup sendirian di Bandung. Dia hanya ditemani seorang pembantu sejak Nenek meninggal.”
“Kapan nenekmu meninggal?”
“Dua tahun lalu.”
Wanita itu seakan terperanjat mendengar kata-kata saya. Kemudian, saya terheran-heran ketika ia bertanya lebih jauh tentang kehidupan Kakek dan Nenek di daerah Bandung.
“Apakah kamu pernah berjumpa dengan mereka?”
“Sering,” jawab saya, “bahkan sewaktu SMA, saya sekolah di Bandung, dan tinggal bersama mereka.”
Percakapan sampai di situ. Lalu, saya pamit untuk mengerjakan urusan lainnya. Seketika ia menahan saya, “Kira-kira kapan ada waktu saya bisa ngobrol-ngobrol sama Adik?”
“Ngobrol apaan?” tanya saya sambil tersenyum.
“Ah, ngobrol apa sajalah… paling tidak saya pengen tahu banyak selama Adik tinggal bersama Nenek di Bandung, bagaimana?”
Saya menimbang-nimbang sejenak, kemudian kata saya, “Kalau sore ini, bagaimana?”
“Jam?”
“Sekitar jam lima.”
“Baik, jam lima nanti kita bersama-sama menuju pantai, ya?”
“Ya,” kata saya mengangguk.
***
Sementara si ayah bersama kedua anaknya berlari-larian di sepanjang pantai, si ibu duduk bersama saya di karpet plastik. Ia menuangkan teh manis dari teko kecil yang dibawa dari penginapan, serta mempersilakan saya menikmati kue-kue pada beberapa toples yang disediakan. Saya pun tersenyum dan mengucap terimakasih.
Kemudian, berlanjut dengan beberapa pertanyaan yang membuat saya merasa ragu untuk menjawabnya. Saya sudah berusaha memendam perasaan dalam hati, juga pernah bertekad untuk tidak lagi mempersoalkan kehidupan Nenek di masa lalu. Tetapi, wanita itu terus mendesak saya dengan lembut dan penuh rasa empati, hingga saya tak kuasa untuk mendiamkannya.
Akhirnya, saya bicara dengan hati-hati sekali, dan dengan suara agak terbata perihal kehidupan Nenek. Dulu beliau pernah aktif sebagai anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang bertugas sebagai bidan di suatu klinik yang pernah didirikan di daerah Jombang Cemara, Cilegon. Di klinik itu banyak dokter dan bidan-bidan yang aktif membantu persalinan bagi ibu-ibu yang melahirkan.
Terbukti sejak berdirinya klinik itu, dalam beberapa bulan saja banyak bayi yang tertolong dan terselamatkan, bahkan jumlah kematian ibu melahirkan semakin berkurang dari waktu ke waktu. Cara mengatasi persalinan bagi ibu melahirkan oleh dukun-dukun kampung (paraji) masih sangat tradisional kala itu. Bahkan ketika sang ibu mengalami perndarahan, dukun kampung merasa kesulitan mengatasinya karena cara pikirnya yang masih kuno dan kolot.
Dengan kehadiran para aktivis Gerwani bersama klinik yang didirikan mereka, masyarakat sangat antusias mengatasi proses persalinan dengan cara-cara yang modern.
“Lalu, setelah meletusnya peristiwa 1965, bagaimana nasib Nenek kemudian?” pancing wanita itu.
“Setelah 1965 Nenek masih aktif melayani masyarakat Jombang dan sekitarnya. Barulah setelah tersiarnya berita-berita miring tentang para wanita Gerwani yang mengadakan tari-tarian mengelilingi mayat-mayat jenderal sebagai pahlawan revolusi, para tentara Angkatan Darat di bawah pemerintah Orde Baru merasa punya legitimasi untuk menangkap dan memenjarakan Nenek. Dalam hal ini, Nenek tidak serta-merta menyalahkan Pak Harto selaku pemimpin Orde Baru. Meskipun dia sangat menyayangkan mengapa seorang presiden yang mestinya punya tanggungjawab untuk mengklarifikasi kabar burung itu, tapi justru mengambil keuntungan dengan tetap berkuasa selama 32 tahun. Dan dia tidak pernah menyatakan permintaan maaf sebagaimana Presiden Abdurrahman Wahid.”
Pandangan saya menerawang. Kemudian, tanpa saya duga, wanita itu melontarkan pernyataan tegas, “Memang benar. Mestinya orang nomor satu negeri ini yang paling bertanggungjawab menjaga keamanan dan ketertiban, tidak malah mengambil keuntungan dari merebaknya fitnah di tengah masyarakat. Tetapi justru dia harus mencegah fitnah-fitnah itu berkembang dan merajalela…”
“Tapi belakangan, para sejarawan berpendapat bahwa pihak Amerika lantaran kepentingan ekonomi-politik mereka, memang dengan sengaja menyebarkan fitnah itu,” potong saya.
“Walaupun ada pihak luar yang mengada-adakan berita, menebar hoaks dan menyebarluaskan fitnah, tetapi tetap Soeharto sebagai pemimpin Orde Baru bertanggung jawab untuk menangkal fitnah itu…”
“Bukan malah mengambil keuntungan dari adanya fitnah,” tandas saya.
“Ya, juga sebagai rasa tanggungjawab untuk menentramkan dan mencerdaskan bangsa,” katanya, lebih tendensius lagi.
***
Sehabis makan siang, si ayah meminta salah satu anak perempuannya untuk membawakan kacamata. Cukup lama dia mempelajari peta jalan. Dia mencatat kota-kota kecil terdekat, dari Ciwandan, Cigading, Karang Bolong, Carita hingga Labuan. Ia menyatakan bahwa dalam satu tahun, cuma dua minggu ini saja bisa terbebas dari rapat-rapat dan pekerjaan di kantor.
Lalu, si ayah bertanya pada saya tentang jarak perjalanan dari Anyer menuju Labuan, lalu tentang pantai mana yang paling bagus. Kemudian tentang peristiwa beberapa tahun lalu, saat Gunung Anak Krakatau meletus dan menimbulkan gelombang tsunami. Saya katakan bahwa tsunami itu tidak menimbulkan dampak yang serius di wilayah Anyer ketimbang di wilayah selatan seperti Ujung Kulon, Panimbang hingga Labuan dan Caringin.
Pagi keesokannya, saya melihat si ibu mengenakan baju renang untuk berjemur. Ia berbaring di salah satu kursi santai. Ayah menyuruh saya memetik buah mangga di kebun untuk diberikan pada keluarga itu. Enam buah mangga besar yang mengkal-mengkal, saya berikan pada mereka. Kedua anak perempuannya berjingkrak-jingkrak saling berebutan. Ketika saya mempersiapkan selang untuk menyiram taman, saya melihat si ibu sedang menulis sesuatu. Ia menulis di buku catatan kecil yang diletakkan di pahanya.
Sesekali ia mendongak dan melihat-lihat pemandangan di sekitar kami. Ia menatap hamparan hijau rerumputan, ladang dan bukit-bukit di kejauhan. Kilauan langit biru dan jerami yang berwarna kuning. Pagar putih dan tembok dari batu rendah yang menandai batas-batas kepemilikan tanah. Ia juga mengamati bangunan tua yang dihuni oleh seorang nenek dan cucunya, tak jauh dari kediaman kami. Ia mengetik di atas laptop, sambil sesekali melihat dan membuka-buka buku catatannya.
Pada sore hari, setelah mereka berbilas dari pantai, mereka mengenakan sweater dan celana panjang untuk melindungi diri dari nyamuk. Kedua anak perempuan itu saling memperbincangkan pasir pantai hari ini yang panas, air laut yang keruh, dan ombak besar yang mengecewakan. Si ayah terus-terusan mengambil foto dengan telepon genggamnya. Dia memperlihatkan kepada kedua anak perempuannya foto-foto kapal nelayan di kejauhan. Gunung Anak Krakatau yang nampak jelas di tengah cuaca cerah, serta beberapa pulau tak berpenghuni di tengah lautan.
Anaknya yang besar bertanya tentang nama pulau tersebut tetapi si ayah menjawab tidak tahu. “Barangkali pulau itu belum ada yang memberi nama,” katanya.
“Kalau begitu, sebut saja namanya Zahra,” kata anak itu. Mereka tertawa, dan saya pun ikut tersenyum, karena saya tahu, Zahra itu adalah nama dirinya sendiri.
“Akan lebih lucu kalau pulau itu diberi nama Bilqis,” kata si ayah, dan itu nama anaknya yang kecil. Lalu, mereka tertawa terpingkal-pingkal, karena si kakak berteriak-teriak memanggil pulau itu dengan sebutan nama ayah dan ibunya.
Malam pun tiba. Mereka mulai mendengar suara jangkrik, belalang dan serangga lainnya, seakan bersahutan dengan deburan ombak laut di kejauhan. Meski udara cukup dingin, mereka memutuskan makan malam di luar, menikmati sisa-sisa cahaya matahari yang tenggelam di tengah lautan.
***
Saya dan Ayah makan di dalam rumah. Seperti biasa, hening tanpa saling bicara. Dia tidak melihat ke depan saat makan. Walaupun kami makan bersama Ibu, obrolan kami sangat terbatas, hanya bicara seperlunya saja.
Sebenarnya, Ibu merasa kurang betah tinggal di sini. Ia pendatang dari Bandung, berarti dari tempat yang lebih jauh ketimbang orang-orang yang menyewa penginapan yang kebanyakan dari Jakarta.
Ibu pernah bilang bahwa orang-orang di sini kurang ramah, mereka tertutup. Ayah tak menggubris keluhannya, walaupun mungkin saja sebagian dari kata-kata Ibu benar adanya. Saya juga kurang suka mendengar keluhan-keluhannya. Kadang, kalau dia banyak mengeluh sepanjang hari, Ayah memilih tiduran di saung kecil yang ia buat di sekitar kebun.
Setelah makan malam, kedua anak perempuan itu bermain di halaman, mengejar kunang-kunang. Mereka bermain-main dengan senter. Orang tua mereka duduk-duduk di teras sambil menatap langit berbintang, sebuah kegelapan yang dalam. Si ibu mengatakan, berlibur di sinilah yang mereka butuhkan, sebab udara di sini masih sejuk dan bersih. Betapa senangnya, ujar mereka, bersama-sama seperti ini, jauh dari keramaian ibukota Jakarta.
Jam enam pagi. Dari pintu geser saya melihat kedua anak perempuan sudah bangun. Setelah menyantap sereal yang disediakan ibunya, mereka berlari-lari mengusir lalat-lalat yang berdengung di sekitar rumah. Yang besar memegang pemukul lalat, sedangkan yang kecil menarik-narik tangan kakaknya agar segera bergantian.
Setelah tiga hari, rutinitas mereka mudah ditebak. Selain menuju pantai tiap pagi dan sore, sesekali mereka keluar menuju minimarket untuk berbelanja. Suatu kali si ayah pernah terengah-engah sepulang dari minimarket. Ia berjalan melewati jalur setapak, melintasi rumah penduduk yang memiliki beberapa anjing untuk berburu. Anjing-anjing itu menyalak dan menggonggong keras. Si ayah terbirit-birit ketakutan menuju rumah, meski si ibu menjelaskan bahwa itu cuma anjing gembala yang bersuara keras, tapi tak bakal melukai siapapun.
Si ibu melakukan pekerjaan yang sama seperti yang biasa saya kerjakan. Dia menyapu lantai, memasak, dan mencuci piring. Setidaknya, sehari sekali ia menjemur pakaian. Sambil mengepit keranjang cucian di tangannya, ia menyatakan dirinya senang. Lantaran mereka di kota, tinggal di apartemen yang penuh sesak, dan si ibu tak bisa menjemur pakaian di tempat terbuka dan leluasa seperti saat ini.
Suatu hari, setelah kembali dari pantai, kedua anak perempuan berlarian selama beberapa jam, mencoba menangkap belalang yang berkeliaran di rumput. Mereka berhasil menangkap belalang dan memasukkannya ke dalam toples, dengan potongan sosis yang mereka ambil dari kulkas. Lalu, mereka memelihara belalang-belalang dan menamai mereka satu persatu. Hari berikutnya, belalang-belalang itu mati kehabisan udara di dalam toples.
Kedua anak perempuan itu menangis karena sedih. Mereka mengubur belalang-belalang itu di bawah pohon mangga, lalu menaruh beberapa bunga liar di atas kuburan itu.
***
Saya menyadari betapa senangnya didatangi tamu dari kota. Betapa senang memandang mereka ceria saat menikmati suasana desa ini. Mereka seakan menikmati tiap detail yang bisa membantu mereka tenang berpikir, beristirahat, dan bermimpi. Ketika kedua anak perempuan itu memetik tomat dan cabe, si kakak melempar adiknya dengan tomat kecil yang gembur, sehingga muncrat mengotori bajunya. Si ibu tidak marah, malah tertawa terbahak-bahak. Ia meminta suaminya mengambil foto, lalu melepas dan meletakkan baju anaknya ke tempat cucian.
Kadang-kadang saya dibuat penasaran apakah keluarga itu benar-benar tahu tentang kesenyapan dan kesunyian yang menggantung di desa ini. Malam hari, ketika angin bertiup kencang yang dirasakan seperti gempa dan tsunami, atau datangnya hujan deras yang membuat kami selalu terjaga dan tak bisa tidur nyenyak. Apakah mereka paham dengan hari-hari yang diliputi ketenangan yang mencekam, yang seringkali hadir di sepanjang musim hujan dengan cuacanya yang amat dingin?
Saya dan Ayah baru saja makan mie rebus dan kerang laut. Kami menghabiskan dua ikat rambutan yang saya beli dari Pasar Anyer. Ketika saya membersihkan meja, terdengar bunyi ketukan pintu. Dua anak perempuan itu sedikit ragu-ragu, lalu salah satunya menyodorkan dua potongan kue. Setelah saya ucapkan terimakasih kedua anak itu lari sambil tertawa-tawa di sepanjang jalan.
Sebenarnya, dulu kami juga pernah tinggal di kota selama beberapa tahun. Ayah membuka kios bunga di Pasar Rawu, Kota Serang. Ibu juga ikut membantu di sana. Mereka menghabiskan hari demi hari di kios kecil tetapi nyaman. Mereka menata beberapa buket bunga yang dibeli orang untuk menghias meja dan teras mereka. Mereka membeli bunga-bunga itu dari Kebon Jeruk, memotong batang dan memasukkannya ke dalam buket-buket bunga.
Suatu malam, dua orang lelaki datang. Ayah sendirian, Ibu dan saya sudah pulang ke rumah kontrakan. Saat itu, kios baru ditutup menjelang jam sepuluh malam. Salah seorang dari mereka meminta Ayah membuka kembali, dan mengatakan bahwa dia memerlukan bunga untuk pacarnya malam itu juga. Dia ingin membeli satu buket bunga yang cantik. Ayah setuju-setuju saja dan merangkaikan satu buket. Ketika Ayah menunjukkan kepada mereka, salah seorang memprotes bahwa buket itu terlalu kecil. Ayah menambahkan beberapa bunga, lalu membungkusnya dengan kertas, dan mengikatnya dengan pita merah.
Salah seorang dari mereka memberi uang receh sebelum Ayah menentukan harganya. Setelah Ayah menyebutkan harganya, mereka merebut buket itu dan Ayah menahannya, hingga terjadilah saling tarik-menarik sampai bunga-bunga itu berhamburan ke lantai.
Seorang menjulurkan mukanya ke arah Ayah, lalu menanyakan dari mana asalnya. Ayah menyebutkan asal kelahirannya, lalu tiba-tiba mereka memukuli Ayah bertubi-tubi sambil berteriak-teriak: “Oo, jadi kamu bukan pribumi… kamu bukan pribumi, ya…. Dasar, PKI kau!”
Ayah berteriak-teriak minta tolong, tapi tak ada orang yang mendengar. Kemudian, mereka mengambil buket bunga itu, dan meninggalkan Ayah tergeletak di lantai.
Sejak peristiwa itu, Ayah jarang bicara. Dia menyimpan kata-kata dalam hatinya, seolah ia sudah tua-renta. Dia malu tersenyum, sebab beberapa giginya tanggal. Saya dan Ibu memahaminya, tapi orang lain tidak. Saya seringkali menjelaskan pada mereka bahwa Ayah seorang pendiam, tapi tidak jarang juga orang menyangka bahwa Ayah tak bisa bicara karena bisu.
Setelah itu Ayah tetap berdagang selama bertahun-tahun, tapi dia hanya bicara seperlunya saja. Dia tidak takut lagi diserang, meski kemudian dia lebih senang mengurus pepohonan di kebun.
***
Ada kabar baik dari Bandung bahwa Kakek sudah pulih dan sehat kembali. Dalam waktu dekat, Ibu akan segera pulang ke Anyer. Bersamaan dengan itu, sudah genap dua minggu keluarga itu tinggal di penginapan, dan mereka hendak pulang kembali ke Jakarta. Si ibu menitip salam pada Ayah, Ibu dan ia merasa bersyukur bahwa Kekek sudah sehat dan pulang dari rumah sakit.
Di pagi hari, si ayah memanaskan mobil. Saat sarapan, dua anak perempuan itu mengatakan sedih, tak mau meninggalkan tempat ini. Si ibu menenangkan mereka dengan menyatakan bahwa tahun depan mereka akan kembali ke sini lagi. Tenang saja. Hampir semua tamu menyatakan hal yang sama sebelum pulang. Sebagian ada yang benar-benar datang kembali, tapi sebagian lain hanya singgah sekali saja.
Sebelum pamit untuk berangkat, si ibu menunjukkan pada saya bahan-bahan makanan di kulkas yang tidak akan mereka bawa ke Jakarta. Ia juga bilang, sangat menyukai rumah ini dan merasa rindu. Mungkin, ketika ia stres atau tertekan karena pekerjaan, ia akan memikirkan tempat ini: udara bersih, perbukitan, dan matahari terbenam sangat indah di ufuk barat.
Saya berharap keluarga ini baik-baik selalu, dan selamat sampai tujuan. Saya ucapkan selamat tinggal pada mereka. Saya berdiri menunggu, sampai mobil itu hilang dari pandangan mata. Lalu, saya beres-beres, dan mulai membersihkan rumah untuk satu keluarga baru yang akan datang besok siang.
Tenyata, ada beberapa barang yang mereka lupa membawanya. Atau sengaja tak dibawa? Saya memegang barang-barang itu, di antaranya gambar pantai pada karton yang dibuat anak perempuan itu, kerang yang mereka pelihara dalam toples yang terbuka. Dan satu lagi, yakni buku catatan kecil yang sering dibawa-bawa oleh si ibu.
Saya berpikir, barangkali catatan-catatan itu sudah dipindahkan dalam fail tersendiri di laptopnya. Seketika saya membuka-buka sepintas. Ternyata, isinya adalah cerita-cerita tentang kehidupan saya dan keluarga saya di sini. ***
Oleh: Supadilah Iskandar
Penulis adalah Peneliti dan penikmat sastra milenial, menulis cerpen dan esai di berbagai media nasional, cetak dan online.









