Sudah tercatat dalam suratan takdir, bahwa salah seorang kakek buyut saya (Kakek Sukra) dari keluarga Ayah, telah wafat karena tenggelam di Sungai Kalitimbang ketika ia menyeberang dalam keadaan arus sungai sangat deras. Ia berencana mengirim puluhan kelapa dalam karung, untuk seseorang yang akan membelinya di kampung seberang. Ketika karung kelapa di atas gendongan terlepas, ia mencoba menyelamatkan karung tersebut, sampai akhirnya ia terhanyut bersamaan dengan karung kelapa yang hendak dikirimkannya. Generasi berikutnya adalah Mang Salman, adik Ayah, yang juga tenggelam di Pantai Carita, ketika mengadakan reuni teman-teman SMA beberapa hari menjelang tahun baru Masehi.
Konon, ada semacam mata rantai dari karma leluhur yang tidak akan terputus. Karma leluhur itu seakan meretas dari generasi ke generasi berikutnya, dan kadang saya merasa bahwa diri sayalah korban berikutnya yang akan mengalami nasib yang sama dengan Mang Salman.
Di kalangan keluarga kami yang religius, tampaknya ada beberapa yang memiliki intuisi cukup tajam. Barangkali karena mereka rajin tirakat, atau memiliki mursyid dan guru spiritual yang dipercaya akan kebenaran fatwa berikut jampi-jampi yang diandalkannya. Di antara mereka ada yang bernama Mang Slamet, adik bungsu Ibu, yang rajin berguru ke sana kemari, dan dia merasa yakin bahwa dari garis keturunan Ayah, saya-lah orangnya yang layak menyandang karma leluhur tersebut. “Karena bagaimana pun,” tegasnya, “sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, bahwa di antara anak-anak dari keturunan ayahmu, sepertinya kamulah orangnya.”
Kontan saya merasa terpukul oleh prediksi yang di luar nalar dan akal sehat itu. Meski begitu, saya pun tak berani secara frontal menentang anggapan itu, karena segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan, siapa pun boleh dan berhak meramalkannya. Kadang saya menyempatkan diri berkelakar di hadapan keluarga dan saudara-saudara, “Kalau begitu, kalian harus berterima kasih pada saya, yang akan menanggung beban nasib buruk, setidaknya saya tidak akan dengan sengaja menenggelamkan diri di kolam renang saat pertemuan arisan keluarga nanti.”
Pertemanan saya dengan Mang Salman memang sejak saya lahir, balita, dan terus beranjak dewasa. Dalam banyak hal, konon saya memiliki kemiripan dengan karakter dia, tetapi dalam hal-hal tertentu (terutama yang negatif) tentu saja saya tak mau dipersamakan. Kadang ia mengunjungi kami, membawa banyak permen, menyodorkannya pada saya dan adik saya, mengobrol beberapa saat bersama Ayah, kemudian pulang dengan mengantongi uang pinjaman.
Mang Salman selalu paham apa yang harus dibicarakan bersama Ayah. Segala persoalan dia kuasai dengan baik. Sinetron apa yang disukai ibu saya; pebulutangkis dan klub sepakbola mana yang disukai Ayah; bahkan hingga dai dan penceramah kondang; serta topik apa yang sedang hangat digemari Ayah, selalu saja dia hafal di luar kepala. Ketika semalam tampil seorang pakar politik dan filosof di layar teve, memprediksi tentang kemenangan seorang kandidat presiden, kontan keesokan paginya, bahkan sebelum matahari terbit, Mang Salman sudah nongol mengetuk pintu dan mengucap salam begitu fasih. Kadang sampai berkali-kali ia mengucap salam, saling bersahutan dengan kokok ayam tetangga yang sedang siap mencari makan di serambi halaman.
“Acara teve semalam bagus juga ya? Sampai-sampai Rocky Gerung merah mukanya menghadapi lawan bicara, meskipun dia cukup hebat menyampaikan jurus terakhir, sebagai balasan untuk kemenangan argumennya.” Mulailah dia tampil menjadi pakar dan pengamat politik, sebagai umpan bagi perangkap liciknya. Kemudian, nada suaranya diturunkan dengan penuh kelembutan, ramah, lalu menukik ke topik intinya meminjam uang dengan jumlah yang cukup menakjubkan.
Beberapa bibi saya sering bergosip mengenai Mang Salman, bahwa jika dia mau, sebenarnya mudah saja dia menjual atau menguangkan pengetahuannya. Entah menjadi guru, penceramah kondang atau penulis buku. Tetapi, mereka terheran-heran, mengapa begitu hobinya dia memanfaatkan keluarga dan para saudaranya untuk mengeruk banyak keuntungan.
***
Mang Salman cukup lihai dan cekatan menghadapi semua jenis lawan bicara. Tentang olahraga boleh, tentang sinetron hayo, tentang agama dan mazhab juga oke, apalagi tentang isu politik mengenai para calon kandidat, baik di tingkat daerah hingga pusat sekalipun. Suatu kali, seorang temannya bicara soal kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman nanti. Mang Salman menanggapinya dengan penambahan bumbu-bumbu penyedap perihal satrio piningit atau Ratu Adil, bahwa konon Sang Imam akan hadir dari bumi Nusantara, yang berpusat di Gunung Karang, Banten, lalu menaiki Buraq dan kereta kencana menuju Laut Pantai Selatan. Sampai kemudian, hijrah dan dilantik di sekitar Ka’bah di kota Makkah al-Mukarromah.
Karena pembawaannya yang temperamen dan berwibawa, lawan bicaranya terkesima dan terpukau dibuatnya. Pada momen yang mengesankan itu, ia takkan melewatkan kesempatan untuk memasuki topik utama pembicaraan, yang diakhiri dengan kata-kata: “Kang, tolong bantu saya dong, buat….”
Di hadapan bibi-bibi saya, kadang Mang Salman berdemo tentang perawatan bayi, meskipun dia tak pernah punya anak. Dia akan melibatkan ibu-ibu pengajian dalam diskusi menarik tentang diet agar menyusutkan badan yang gemuk; obat-obatan herbal untuk berbagai jenis penyakit; suplemen yang cocok untuk melawan virus dan kuman; bahkan hingga menyarankan merek bedak dan minyak telon yang bagus. Dia bahkan tahu cara menggendong bayi yang aman. Seorang bayi yang menangis akan segera tenang ketika dia memeluknya. Dia seperti memancarkan sihir yang menakjubkan. Di rumahnya, dia dengan nyaman mengoleksi lagu-lagu cinta hasil gubahan Chrisye, Erwin Gutawa hingga Vina Panduwinata.
Tetapi, kapan pun dan apa pun topiknya, saat percakapan mendekati akhir dan momen perpisahan semakin dekat, biasanya di ruang depan, ketika pintu setengah tertutup, dia melongokkan kembali mukanya yang setengah gelap dan pucat, “Bi, tolong bantu saya dong, buat….”
Jumlah yang ia pinjam bervariasi, antara seratus ribu hingga satu juta rupiah. Seakan ada hukum tertulis selama beberapa dekade, bahwa ia takkan meminjam lebih dari nilai tersebut. Lalu, ia akan menambahkan dengan kata-kata, “Buat nutupin tunggakan motor supaya minggu ini sudah lunas.” Lalu, dia tidak jadi pamit, dan masuk kembali ke ruang depan, menghempaskan pantatnya di sofa dengan tatapan tajam dan serius, lalu menjelaskan secara detail tentang rencana pengembaliannya. “Mudah-mudahan awal bulan depan saya ada bisnis dengan teman yang menawarkan usaha sejak kemarin lusa.”
“Berarti, awal bulan depan harus kembali, kan?” pancing Bibi.
“Tentu saja kembali, yang penting doakan supaya lancar….”
Mungkin perlu juga diceritakan mengenai sisi positifnya, khususnya ketika suatu hari ia mencoba mengembalikan pinjaman sebanyak tigaratus ribu kepada Ayah. Di saat kantongnya sedikit berisi, dia akan muncul, mengeluarkan uang kertas dari sakunya, meluruskannya, dan berkata, “Alhamdulillah ada rizki, ini uang yang tigaratus kemarin itu.” Kadang Ayah mengernyitkan alis, karena dia bilang “kemarin” yang berarti satu atau dua hari lalu, padahal Mang Salman meminjam uang itu sejak berminggu-minggu lalu. Setelah itu, dia akan ngeloyor pergi, namun beberapa hari ke depan, sekitar tiga atau empat hari lagi, dia akan muncul kembali dengan pinjaman yang lebih dahsyat lagi.
***
Masih menjadi teka-teki bagi saya, kok bisa-bisanya lelaki berusia 55 tahun yang pernah ditinggal mati istrinya, tak punya anak, lalu hidup melajang tanpa pernah ada kemauan untuk mencari pekerjaan tetap. Istrinya meninggal ketika pandemi Covid-19 di tahun 2020 lalu. Saat itu, dia sendiri sempat diisolasi karena dinyatakan postif Corona juga, tetapi beberapa minggu kemudian pulih dan sehat wal afiat. Lalu, beberapa waktu lalu, tanpa memberi kabar kepada pihak keluarga manapun, ia mengikuti acara reuni SMA di Pantai Carita, dan barangkali dia ingin mengakrabi beberapa teman masa lalunya yang sukses jadi pengusaha atau apalah. Tiba-tiba, tersiar kabar bahwa dua orang dari rombongan reuni itu dinyatakan tewas karena terbawa ombak laut yang tahu-tahu meninggi. Mayat Mang Salman diketemukan pertama kali pada Pk. 17.30, sedangkan mayat temannya baru diketemukan sekitar Pk. 21.00 malam.
Padahal, sebelum kejadian tenggelam, kesehatannya betul-betul prima, dan dia memang jarang sakit. Ketika beberapa anggota keluarga dan saudara kami meninggal saat Covid lalu, justru Mang Salman cepat pulih karena imunitasnya baik. Saat pemeriksaan dokter, jantungnya berfungsi dengan baik, dan dia tidur seperti orok bayi yang polos dan lugu, seakan sedang menyusu sambil memegang tetek ibunya. Tetapi, ya begitulah, barangkali suratan takdirnya memang harus berlaku. Dan ketika catatan kotak pandora di Lauhul Mahfudz menyatakan bahwa dia akan tenggelam di suatu tempat tertentu, maka ajal itu pun tibalah pada waktunya.
Di dalam saku celananya terdapat dompet berisi batu akik kecil dan pipih, KTP, ATM, dan uang sekitar duaratus ribu perak. Hal lainnya yang membuat malu keluarga kami adalah rumahnya yang sederhana, berantakan dengan beberapa perabot seadanya. Di dalam lemari bajunya ada beberapa buku bacaan, termasuk buku kecil berisi daftar yang cukup akurat berisi orang-orang yang pernah dia pinjami utang, baik yang sudah terbayar maupun yang belum.
Ayah kemudian mengambil uangnya di tabungan untuk membayar semua utang-utangnya. Tabungan miliknya sekitar 40 juta rupiah, sedangkan total utangnya mencapai 64 juta rupiah. Jumlah krediturnya mencapai 62 orang, meliputi tukang parkir, tukang somay, pedagang kaki lima, pemilik warung kelontong, tukang sayur, pangkas rambut, tukang bengkel motor, penceramah agama, guru madrasah, termasuk Ayah yang telah memberi pinjaman dengan total limabelas juta rupiah. Mungkin karena Mang Salman menganggap Ayah paling mudah untuk dimintai pinjaman.
Setelah 40 hari kematiannya, saya mulai menyusun skripsi untuk syarat kelulusan kuliah di Untirta, Banten, pada jurusan Sastra Indonesia. Ayah mempersilakan Mang Slamet, adik bungsu Ibu untuk menempati rumah Mang Salman bersama istri yang baru dinikahinya. Tetapi, enam bulan kemudian mereka meninggalkan rumah itu dan menetap kembali bersama Nenek di daerah Jombang Cemara. Akhirnya, setelah lulus kuliah, saya memutuskan untuk tinggal di rumah Mang Salman, memakai beberapa perabot yang pernah ditinggalkan Mang Slamet.
Tempatnya cukup menarik, menghadap ke kebun tetangga yang udaranya asri. Dan saya masih tinggal di situ sampai hari ini, meskipun rambut saya sudah mulai menipis. Barang-barang di rumah itu tidak bertambah ataupun berkurang. Saya pernah mencoba menjadi guru, menulis puisi dan lirik-lirik lagu, menjadi mentor yoga, menulis prosa untuk berbagai media, mengikuti audisi untuk sinetron dan teater, beberapa kali menjadi pedagang dan jualan online, tetapi tampaknya saya tidak punya bakat untuk itu. Sekarang saya memahami dan menyadari semuanya, dan saya menerima kondisi saya, meski beberapa saudara sempat menjuluki saya memiliki reputasi seperti Mang Salman, sebagai seorang pemalas.
***
Selama beberapa tahun menganggur, dan berhutang ke beberapa teman dan saudara, sepertinya saya kurang memiliki pesona yang meyakinkan seperti Mang Salman. Saya juga bukan orator yang bisa mengelabui orang agar memberikan pinjaman. Saya hanya mahir berkomunikasi dengan anak-anak, dan sepertinya sifat ini mewarisi karakter Mang Salman, hingga saya bisa membuat nyaman bayi-bayi ketika menggendong mereka. Seorang bibi malah menyarankan agar saya membuka sekolah TK, demi mengakhiri rencana-rencana ke depan yang enggak karuan. Tetapi, karena saya merasa segan melakukannya, justru di situlah yang membuat saya tersibak akan memori, bahwa jangan-jangan saya memang pantas menjadi tumbal leluhur.
Namun, meskipun ada beberapa saudara yang meyakini saya sebagai salah satu korban, dengan alasan karakter saya menyerupai Mang Salman, seperti pintar menggendong bayi dan berkomunikasi dengan anak-anak, tetapi saya merasa terbebani jika memiliki banyak utang. Sementara, Mang Salman sepertinya cuek dan santai-santai saja. Suatu ketika, saya minta Mang Slamet sebagai koneksi agar saya mendapatkan pekerjaan yang layak, serta agar bisa menebus utang-utang saya yang kian menimbun. Maka, saya pun melayangkan lamaran secara lisan dan tertulis, sampai akhirnya suatu perusahaan nekat menerima permohonan saya.
Itulah hari-hari naas yang membuat saya kelelahan setengah mati. Saya menghasilkan uang yang hanya dihabiskan agar dapat terus bertahan kerja. Saya berurusan dengan para tengkulak yang marah dan mencak-mencak akan selalu mengembalikan produk yang dibuat oleh perusahaan kami. Bos perusahaan kami dikenal dungu dan bodoh, meski tak pernah melakukan apa-apa tetapi tampangnya seperti orang tergopoh-gopoh dikejar anak anjing. Saya membayangkan wataknya yang tak jauh beda dengan bos-bos gendut yang bekerja di kantor IMF dan World Bank di Amerika sana. Sepanjang hari ia terus mengoceh tak karuan; bahwa waktu itu sangat berharga; manfaatkan masa mudamu sebelum datang masa tuamu.
Kadang saya merasa heran, mengapa orang-orang berduit itu justru merepotkan urusan inflasi ketimbang reputasi yang akan menjerat masa depan mereka. Untuk apa mereka sibuk merancang ilusi demi untuk kesenangan hidup di hari tua?
Perusahaan tempat saya kerja, memproduksi jenis furnitur yang ketika dibeli akan membuat pembelinya merasa jengkel setengah mati. Kecuali jika sang pembeli memutuskan untuk menghancurkannya guna dijadikan kayu bakar. Ada bangku sekolah, lemari, kursi-kursi yang dilapisi rotan, rak kecil untuk vas atau pot bunga, ornamen biasa yang dibuat antik, seolah-olah dikerjakan oleh tangan pekerja seni profesional. Belasan karyawan mengecatnya dengan cat oplosan dan dilapisi pernis agar terlihat menarik, semata-mata hanya untuk menaikkan harga jual.
Jadi, seperti itulah saya menghabiskan beberapa tahun di perusahaan brengsek itu. Sementara, Mang Slamet diposisikan sebagai kepala bagian di salah satu pabrik yang terletak di bawah bukit, masih merupakan anak perusahaan kami. Sampai suatu hari, banjir besar datang, dan bukit itu pun longsor menimpa bangunan pabrik, hingga Mang Slamet dan beberapa karyawan dilarikan ke rumah sakit.
Dua hari sebelum kematiannya, Mang Slamet memberikan amanat pada saya agar menyekolahkan anak satu-satunya yang masih berusia empat tahun. Ia menitipkan sertifikat tanah seluas 2000 meter miliknya, hasil warisan dari ayahnya yang meninggal dua tahun sebelum ia menikahi istrinya. Kemudian, setahun sepeninggal Mang Slamet, saya berhasil menemukan peminat, yakni seorang pengusaha Tionghoa yang sanggup menawar tanah strategis itu, dengan harga empat milyar rupiah.
Barangkali, ada saja pihak tertentu yang mengharapkan kematian saya selama membiayai pendidikan anak Mang Slamet sebagai anak yatim. Tetapi, ketika ia beranjak dewasa hingga perguruan tinggi nanti, semoga saya masih sanggup membiayai kebutuhan pendidikannya. Dan tampaknya, tidak ada sungai, laut, maupun banjir longsor yang ditakdirkan untuk menenggelamkan tubuh saya, seperti yang dialami leluhur-leluhur terdahulu.
Sampai saat ini, saya merasa yakin bahwa amal-amal kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, dapat memutus mata rantai karma leluhur saya, setelah kejadian yang menimpa Mang Salman dan Mang Slamet yang terakhir. Sesungguhnya, hanya Allah Yang berkuasa membolak-balik hati manusia, serta memberi rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Juga hanya Allah Yang berwenang membelokkan suratan takdir yang diciptakan-Nya sendiri. Maka, bersabarlah, dan berharaplah hanya kepada-Nya saja. (*)
Oleh: Hafis Azhari
Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia







