Pancasila sebagai Cermin Menuju Pancasilais

oleh -521 Dilihat
banner 468x60

Oleh : Alfred Lanang

Pancasila merupakan panduan etis bagi perjalanan bangsa, juga sekaligus sebagai suatu cerminan dari “jiwa dan hasrat yang sedalam-dalamnya. Sebuah bangsa besar, yang memiliki tata nilai, konsep tetang moral atau etika politik yang santun, yang terangkum dalam sebuah ideologi agung, pasti akan hancur jika penguasa dan elite politik di dalamnya mengabaikannya (Andi Setiadi: 2014). Sejak awal, para founding fathers telah menyusun Pancasila sebagai suatu pegangan atau semacam tolak ukur yang mesti dijalankan setiap nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Sayangnya bahwa kini, nilai-nilai yang termuat dalam Pancasila perlahan mulai suram dan buram. Pancasila tidak dijadikan sebagai way of life, karena orang-orang tidak sungguh-sungguh memetik nilai-nilai yang terkandung serta tidak menjalankannya. Tentu ini amat menyedihkan, sebab dasar negara yang sering diagung-agungkan baik di dalam negeri maupun sekelas internasional ternyata hanya bersifat superfisial. Banyak orang kurang bertolak lebih dalam (Duc In Altum), untuk menggali kekayaan nilai Pancasila yang sekiranya dapat diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa yang searah menuju tujuan yang sama.

Pancasila dalam banyak kesempatan masih sering dijadikan sebagai sumber referensi yang dikutip untuk menguatkan slogan janji manis, juga terkurung di dalam bingkai yang dipajang pada tembok kelas maupun kantor besar, atau hanya sampai pada teriakan simbolis pada saat upacara bendera hingga singkatnya Pancasila hanya dijadikan sebagai atribut formal belaka. Untuk itu dalam prakteknya sehari-hari, tak jarang apabila ada perilaku-perilaku tertentu yang bertentangan atau menyeleweng dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri.

Sebagai contoh dari kenyataan ironis yang tak dapat disangkal seperti tindakan korupsi oleh para elite yang tentu sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai Pancasila. Lebih lanjut bahwa, kehadiran Pancasila dalam perjalanan para penguasa maupun elite politik sebetulnya menjadikan mereka sebagai pelaku Pancasila sekaligus teladan bagi masayarakat. Bahwa, Pancasila itu mesti dijadikan sebagai prinsip, pegangan, dan juga harus sampai pada tahap, merealisasikan nilai-nilai moral, luhur dan etis, yang mengarahkan bangsa Indonesia kepada jalan kebenaran, kejujuran, keadilan, solidaritas, dan perdamaian

In facto-nya justru tidak demikian. Kekuasaan dan kekayaan yang dikejar justru membuat nilai-nilai Pancasila sebagai cermin nasional maupun internasional semakin memudar. Banyak yang bertindak semaunya, sesuka hatinya (suka-suka gue), sampai lupa mengaca pada cermin bangsa ini. Pancasila hanya dipakai sebagai kutipan formal demi menegaskan bahwa, “Aku dan Kami Pancasilais.

Dan inilah kenyataannya. Barangkali banyak yang bertanya mau sampai kapan dinamika kehidupan bangsa ini tidak mencerminkan Pancasila? Kapan kita bisa dewasa kalau Pancasila tidak dijadikan sebagai napas perjuangan? Semakin sulit untuk menemukan siapa yang betul-betul Pancasilais.

Pancasilais merupakan mereka-mereka yang sungguh-sungguh menjunjung, menghayati serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kenyataan hidup sehari-hari. Mereka-mereka yang melabelkan diri sebagai pancasilais mesti berkaca pada cermin Pancasila. Lebih lanjut bahwa, Pancasila yang oleh Pancasilais tidak sebatas dimengerti secara teori saja melainkan soal penerapan prinsip-prinsip dalam sikap, tutur kata dan tingkah laku seseorang maupun kelompok tertentu.

Orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Pancasilais mesti memberikan kontribusi positif kepada bangsa ini yang pada dasarnya menganut Pancasila demi mencapai bonum communae. Bukan sebaliknya menjadi hipokrit yang mengaku dirinya Pancasilais namun hanya menghiasi bibir hitam yang menggelapkan dinamika bangsa demi kepentingan pribadi.

Di tengah era digital yang semakin maju ini, seorang Pancasilais harus mampu menghadapi tantangan dengan menggunakan Pancasila yang selain sebagai cermin arah kehidupan bangsa tapi juga sebagai filter akurat untuk mempertahankan komitmen bersama. Ada korupsi, kesenjangan ekonomi, intoleransi, teknologi, media sosial yang kian pesat, dll merupakan tantangan-tantangan yang mesti dihadapi oleh seorang Pancasilais.

Motivasi Pancasilais ialah rasa cinta akan tanah air yang membesarkan dan menghidupkannya hingga kelak tutup usia. Untuk itu, ranah pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mengkarakterkan para penerus bangsa supaya dapat menjadi Pancasilais yang otentik.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam pendidikan Pancasila sejak dini. Pertama, perlu adanya keterlibatan orang tua dalam menanamkan etika maupun moral kepada anak-anak di rumah. Selain itu, masyarakat pun mesti menciptakan lingkungan yang ramah Pancasila.

Kedua, karakter anak harus dibina, tidak hanya dengan kata-kata tapi juga dengan keteladanan hidup. Ketiga, para guru maupun staf sekolah harus sekreatif mungkin dalam memberikan pengajaran yang efektif terkait relevansi dari nilai-nilai Pancasila.

Pada akhirnya Pancasila harus terus dihayati dan dilaksanakan sepanjang nafas masih dikandung badan. Ada bahasa yang mengatakan bahwa Pancasilais sejati adalah mereka yang memahami Pancasila sebagai falsafah hidup. Mereka yang Pancasilais adalah mereka yang mau berkontribusi untuk negara sebagai manusia-manusia yang mempunyai hati.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.