Oleh: Arnoldus Nggorong
Kalau menelusuri kisah kejatuhan manusia dalam dosa seturut kitab Kejadian (Kej. 3:1-24), sesungguhnya titik awal kejatuhan itu adalah rasa curiga. Perasaan ini timbul ketika manusia berhadapan dengan larangan yang diberikan Allah. Larangan itu berbunyi: “Pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:17; 3:3). Di sini Allah hanya memberikan larangan dan akibatnya kalau melanggar larangan itu, tanpa ada penjelasan lebih lanjut.
Menurut KBBI, curiga memiliki arti berhati-hati atau berwaswas (karena khawatir, menaruh syak, dan sebagainya); (merasa) kurang percaya atau sangsi terhadap kebenaran atau kejujuran seseorang (takut dikhianati dan sebagainya).
Pengertian di atas dengan jelas mengafirmasi rasa curiga yang muncul dalam batin manusia, apalagi kalau berhadapan dengan larangan tanpa penjelasan. Dalam konteks larangan lebih-lebih tanpa penjelasan, umumnya orang mempunyai dua sikap yaitu mematuhi dan menolak/meragukan.
Tampaknya, inilah yang terjadi dengan manusia Adam dan Hawa.
Dalam hubungan dengan larangan tanpa penjelasan dari pihak Allah, demikian Georg Kirchberger dalam bukunya “Allah Menggugat”, manusia mangambil dua sikap. Pertama. Manusia bisa percaya, Allah mempunyai maksud baik sehingga dia bisa mematuhi larangan itu. Kedua. Manusia bisa juga mencurigai Allah, jangan-jangan Allah memiliki maksud buruk dan mau merugikan manusia dengan larangan itu.
Pada akhir proses penggodaan, manusia memilih yang kedua yaitu bersikap curiga terhadap Allah. Seiring dengan rasa curiga yang semakin mendalam, manusia menjadi kurang percaya. Kecurigaan, yang semakin dalam itu, memengaruhi manusia sedemikian kuat sehingga dia tidak bisa lagi melihat sisi positif dari larangan itu. Alhasil dia tidak lagi mempercayai Allah.
Dalam filsafat, kecurigaan menggelorakan kuriositas yang ada dalam diri manusia. Ia adalah perkakas yang digunakan untuk bertanya dan terus bertanya. Pertanyaan itulah yang menuntun seseorang untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam, pasti, utuh.
Rupanya setelah bergelut dengan sekian banyak tanya dalam batinnya, manusia kian merasa yakin bahwa dia akan menyamai Allah bila memakan buah terlarang itu. Dengan demikian, manusia dapat mengandalkan dirinya sendiri, tanpa bergantung pada Allah. Jadi manusia menyimpulkan, Allah memang bermaksud jahat dengan larangan itu. Allah menyembunyikan sesuatu yang baik di balik larangan itu.
Dengan lain perkataan, kecurigaan yang semakin dalam telah melahirkan kekurangpercayaan dari pihak manusia terhadap Allah, yang akhirnya mengantarnya pada sikap tidak mematuhi larangan Allah karena hasrat yang begitu kuat dalam diri yaitu ingin menjadi sama seperti Allah.
Perubahan Perspektif dan Sikap
Dalam konteks ini, Allah dilihat sebagai saingan. Dengan menganggap Allah sebagai saingan, maka Allah, bagi manusia, bukan lagi sebagai Dia yang memberi hidup, yang menjamin kehidupan manusia, yang telah menyediakan segala sesuatu bagi kebutuhan manusia. Dengan adanya perubahan cara pandang manusia terhadap Allah, dengan serta merta pula sikap dan perilaku manusia terhadap Allah turut berubah.
Dengan lain kata, perspektif dan sikap manusia tentang Allah berubah secara fundamental. Allah, yang dahulunya, amat dekat dengan manusia, menjadi Allah yang jauh dari manusia; Allah, yang sebelumnya, sangat akrab dengan manusia, menjadi Allah yang asing bagi manusia; Allah yang begitu bersahabat dengan manusia, menjadi Allah yang ditakuti.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa perubahan cara pandang dan sikap manusia terhadap Allah, yang berakar dalam rasa curiga, membawanya kepada ketidaktaatan. Manusia melawan Allah dengan melanggar perintah-Nya. Manusia bersandar pada kemampuannya sendiri. Manusia tidak membutuhkan Allah lagi. Akibatnya suasana keakraban, persahabatan, intimitas manusia dengan Allah menjadi hilang. Ketidakpatuhan inilah yang disebut dosa.
Namun patut diberi catatan bahwa bukan Allah yang merasa kehilangan, tetapi manusia yang merasa kehilangan intimitas dengan Allah karena ketidakpatuhannya terhadap larangan Allah. Ketidaktaatannya melahirkan rasa takut, gentar terhadap Allah.
Pandangan yang Ekstrim
Seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia yang semakin maju, sebagian kalangan bukan hanya mempersoalkan Allah dan hakekat-Nya, menggugat Allah, tetapi yang lebih ekstrim lagi, mereka berpendapat bahwa Allah tidak ada, tidak relevan untuk hidup yang konkrit. Karena itu, mereka mengabaikan Allah dalam hidupnya. Mereka adalah kaum ateis.
Kelompok ini berpendapat bahwa orang percaya kepada Allah, yang sebetulnya tidak ada, tetapi diyakini ada, hanya atas dasar kerinduan tersembunyi. Mereka menggantungkan hidupnya pada suatu bayangan semu, karena tidak berani memikul tanggung jawab atas hidupnya sendiri (Leo Kleden, “Filsafat Ketuhanan”, Ms., 1999). Maka dari itu, bagi kaum ateis, manusia harus dibebaskan dari ilusi yang menyesatkan itu.
Di sini, hanya disebutkan beberapa filsuf yang memiliki pandangan yang ekstrim tentang keyakinannya bahwa Allah tidak ada, tidak nyata, tidak dapat dibuktikan secara ilmiah atau tidak relevan untuk diperbincangkan.
Salah satu filsuf ateis asal Jerman (1804-1872) adalah Ludwig Feuerbach, yang terkenal dengan pandangannya, “manusia menciptakan Allah”. Menurut Feuerbach, Tuhan adalah hasil khayalan manusia. Tuhan hanyalah proyeksi manusia. Tuhan itu tidak nyata. Dengan demikian, bukan Allah yang menciptakan manusia, tetapi manusialah yang menciptakan Allah melalui proses alienasi.
Yang disebut Allah, demikian Feuerbach, sesungguhnya adalah hakekat kemanusiaan universal yaitu apa yang paling luhur dan mulia dalam diri manusia sendiri. Namun karena manusia memproyeksikan kepada Allah semua yang terbaik dari kemanusiaannya, maka ia teralienasi dari hakekatnya sendiri.
Feuerbach mengatakan, manusia mengakui dalam Tuhan apa yang diingkari dari dirinya sendiri. Ia memiskinkan diri seraya memperkaya Allah. Setelah itu manusia yang merasa miskin dan tak berdaya mengharapkan keselamatan dari Allah yang diciptakannya sendiri.
Yang tak kalah tajamnya dengan Feuerbach adalah Sigmund Freud (1856-1939), Pendiri Psikoanalisis. Dalam bukunya The Future of An Illusion, Freud mengatakan, Tuhan merupakan ilusi, karena sama sekali tak ada hubungannya dengan realitas yang dapat diverifikasi. Ilusi adalah keyakinan tentang sesuatu atas dasar keinginan tak sadar tanpa menghubungkannya dengan realitas yang dapat diverifikasi (Leo Kleden., Ibid). Menurut Freud, manusia memproyeksikan keinginan tak sadar kepada Tuhan, karena kekerasan dan keganasan hidup yang dialami manusia baik melalui tekanan dari dalam dirinya sendiri maupun tekanan yang datang dari luar.
Yang dimaksud tekanan dari dalam, menurut Freud, adalah ego, yang berfungsi mempertahankan kepribadian manusia, menghadapi tekanan baik dari id maupun superego. Id menekan dengan naluri yang mesti dilampiaskan, sedangkan superego menekan dengan banyak norma moral yang sudah diinternalisasi.
Sementara tekanan dari luar terdiri dari tiga unsur. Pertama. Tekanan dari kekuatan alam di mana manusia tidak mampu menguasai keuatan alam yang begitu dahsyat seperti bencana alam, sakit, dan kematian. Kedua. Tekanan kultur. Walaupun kultur membawa banyak manfaat bagi manusia, namun menurut Freud, secara psikologis kultur mengakibat frustrasi bagi manusia, karena budaya membuat banyak aturan yang menghalangi dorongan naluriah dalam diri manusia. Ketiga. Tekanan dari agresivitas orang lain.
Filsuf Jerman yang lebih ekstrim lagi adalah Friedrich Nietzsche (1844-1900), yang mengguncang kaum agamawan dengan memproklamirkan kamatian Allah. Baginya, “Allah sudah mati.” Dengan konsep Übermensch, Nietzsche menyadarkan manusia bahwa manusia adalah tuan atas dirinya. Sebab manusialah yang menciptakan nilai-nilainya sendiri. Manusia memberi makna pada hidupnya sendiri, bukan sesuatu yang dari luar (lih. Bambang Sugiharto dalam Darius Djehanih, “Humanisme dan Humaniora, Relevansinya Bagi Pendidikan, 2017).
Manusia yang berpaling kepada Allah menunjukkan ketidakberdayaannya menghadapi kenyataan hidup. Karena itu, apapun realitas hidup yang dialami harus dihadapi termasuk kecemasan, kerisauan, ketakutan, dan kegagalan. Dengan Übermensch ala Nietzsche, manusia memuliakan dirinya sendiri. Sebab manusia menunjukkan kesiapsediaan dan keberaniannya menjalani hidup.
Nietzsche juga menafikkan ide tentang adanya awal penciptaan dunia dan akhir dunia. Segala peristiwa yang ada di dunia atau apa saja yang ada, menurut Nietzsche, merupakan pengulangan dirinya sendiri. Jadi dunia tidak berawal dan tidak berakhir. Ia bersifat kekal. Maka dari itu, Nietzsche berpendapat, dunia akan bernilai dan manusia menjadi luhur bila Allah dilenyapkan. Dalam formula ekstrim Nietzsche, dunia menjadi berarti dan manusia sungguh manusia, kalau Tuhan sudah mati.
Pemikiran Nietzsche ini dibangun di atas fondasi kebebasan dan otonomi diri manusia. Sebab, bagi Nietzsche, manusia yang bebas adalah manusia yang dapat menentukan dirinya sendiri. Dengan kebebasan yang ada padanya, manusia dapat melakukan apa saja karena dia memiliki otonomi dalam dirinya sendiri. Oleh karena dalam keyakinan kaum agamawan Allah ada, maka manusia tidak benar-benar bebas dan tidak otonom, manusia berada dalam bayang-bayang Allah. Jadi Allah harus tidak ada supaya manusia sungguh bebas dan sungguh otonom.
Terus Berlanjut
Jika terhadap Allah, yang telah menciptakan, memberi hidup dan menjamin serta menyediakan segala keperluannya, manusia bersikap curiga, maka lebih-lebih lagi terhadap sesamanya, manusia akan selalu curiga. Keadaan ini terus menyertai relasi antarmanusia pada generasi berikutnya, yang dapat dilihat dalam hubungan antara Kain dan Habel (Lih. Kej. 4:1-16), bahkan hingga saat ini kondisi tersebut tetap ada.
Rasa curiga dapat mengantar manusia kepada situasi persaingan. Dengan lain kata, rasa curiga dapat mempertajam dan memperburuk persaingan yang diselimuti iri hati, cemburu. Keadaan saling bersaing di antara manusia yang satu dengan yang lainnya terjadi karena masing-masing harus berjuang untuk menjamin hidupnya sendiri. Setiap orang berupaya untuk memperjuangkan nasibnya sendiri. Dalam upaya tersebut sesama dilihat sebagai ancaman. Kesuksesan sesama dapat menjadi ancaman bagi keberhasilan yang lain.
Di sini muncul kecenderungan dalam diri manusia untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri. Kepentinganku lebih utama daripada kepentingan yang lain. Jadi yang dikedepankan adalah kepentinganku, keinginanku, keuntunganku. Perihal mementingkan diri lebih dari yang lain adalah palagan yang tepat bagi persaingan, yang pada akhirnya manusia jatuh dalam situasi saling menguasai, saling menindas, dan saling memangsa.
Situasi demikian menjadi lahan subur bagi pertumbuhan kebencian dan dendam. Yang terjadilah selanjutnya adalah aksi balas dendam satu dengan yang lainnya atau kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya. Jadi manusia saling membalas dendam. Dalam bahasa hukum taurat, nyawa ganti nyawa, gigi ganti gigi, mata ganti mata, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki (Kel. 21:24; Im. 24:20; Ul. 19:21; Mat. 5:38). Dengan kata lain, sifat egois dan naluri predator yang ada dalam diri manusia diafirmasi dalam adagium terkenal dari filsuf Inggris, Thomas Hobbes, manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).
Dunia yang Tidak Sempurna
Situasi persaingan ini, dalam konteks dunia sekarang ini, terasa semakin meluas. Persaingan, yang pada awalnya, terjadi antarindividu, berkembang menjadi antarkelompok, antarsuku, antaretnis, antargolongan, antaragama, antarideologi, antarnegara, dan antarpersekutuan negara-negara. Persaingan yang paling barbar dan nyata tampak dalam rupa perang. Di sini manusia saling membinasakan, saling meniadakan, saling membunuh.
Persaingan ini menyebar ke segala bidang kehidupan manusia seperti ekonomi, sosial, politik, militer. Dengan perkataan lain, keadaan persaingan ini mewarnai seluruh segi kehidupan manusia tanpa kecuali, mulai dari yang paling ringan hingga yang paling ekstrim, mulai dari skala yang kecil sampai ke tingkat yang besar, dari taraf yang paling rendah hingga ke level yang tertinggi.
Deskripsi ringkas ini menunjukkan bahwa dunia ciptaan ini memang tidak sempurna. Ketidaksempurnaan itu tampak dalam kecurigaan dan persaingan, kecemasan, ketakutan, kegagalan, penderitaan, ketakberdayaan, kesementaraan, ketidakkekalan, kefanaan, kematian. Inilah keadaan keterbatasan yang inheren dalam ciptaan. Kondisi yang terbatas ini disebut situasi batas (grenz situation) oleh Karl Jaspers.
Sejumput Harapan
Kembali ke cerita awal kejatuhan manusia dosa. Bila memeriksa secara lebih teliti kisah tersebut, dapat ditemukan secercah harapan yang bisa menjadi pegangan bagi manusia, setelah ia kehilangan intimitas dengan Allah karena ketidaksetiaannya pada perintah Allah, yang berakar dalam kecurigaan dan kekurangpercayaanya terhadap Allah.
Harapan itu terletak dalam:
Pertama. Inisiatif Allah datang menjumpai manusia dan memanggilnya (Lih. Kej. 3:8-9). Kedua. Dialog Allah dengan manusia (Kej. 3:9-19). Ketiga. Allah tidak membiarkan manusia terlantar begitu saja. Allah tetap memberikan jaminan hidup kepada manusia, tapi dengan syarat yaitu manusia harus bekerja mengeluarkan keringat dan darah untuk menghidupi dirinya sendiri. Manusia mesti mengalami dan merasakan sakit, penderitaan serta berhadapan dengan kejahatan dan agresivitas sesamanya demi mempertahankan hidupnya (bdk. Kej. 3:17-19). Keempat. Janji kesetiaan Allah terhadap manusia (bdk. Kej. 3:15).
Dengan lain perkataan, walaupun manusia sudah mengingkari ketaatannya terhadap Allah, akan tetapi Allah tetap menyertai manusia dengan setia. Namun demikian kesetiaan Allah harus dibayar mahal oleh manusia dengan berjerih payah, berjuang mempertahankan hidupnya sendiri. Sebab manusia telah diusir dari taman Eden di mana di sana manusia hanya menikmati segala keperluannya yang telah disediakan Allah tanpa harus bersusah payah (bdk. Kej. 3:23-24). Itulah seberkas asa yang dapat menjadi acuan bagi manusia akan kesetiaan Allah dan Janji-Nya, yang senantiasa menyertai manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia.
Bertolak dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa manusia mesti memupuk harapan dalam dirinya demi membangun pola pikir positif, menyingkirkan prasangka melalui dialog cinta yang telah dimulai oleh Allah. Itulah jalan yang ditawarkan Allah. Dialog yang lebih intens dan dalam dapat menepis syak wasangka. Lebih dari itu, dialog menghidupkan pengharapan.
Sebagaimana Allah telah menginisiasi dialog cinta dengan manusia, demikian pula manusia mesti memulai dialog cinta dengan sesamanya. Allah mendekati manusia dengan berdialog dengannya. Namun karena manusia telah melakukan kesalahan, dia menjadi takut terhadap Allah. Di sini tampak jelas bahwa rasa takut muncul dari dalam diri manusia, bukan dari pihak Allah. Dalam keadaan normal, orang yang berbuat salah pasti merasa takut.
Di sinilah dialog cinta menampilkan perannya yang tepat. Dialog merubah pola pikir, pola sikap dan pola tingkah laku. Dialog sebagai pintu gerbang menuju transformasi. Perubahan yang radikal adalah pertobatan. Pada titik ini harapan mengantar manusia, yang telah jatuh dalam dosa, menuju pertobatan demi mendapat pengampunan dari Allah. Sebab satu-satunya jalan untuk memperoleh pengampunan adalah pertobatan. Persis inilah seruan utama Yohanes Pembaptis selama masa advent. “Bertobatlah,…, dan Allah akan mengampuni dosamu.” (Luk. 3:3; Mrk. 4:4; Yoh. 1:29).
Teladan Pengharapan
Terdapat beberapa figur dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menjadi teladan yang paripurna dalam hal memiliki pengharapan yang kokoh, tak tergoyahkan akan kesetiaan dan janji Allah, meski berhadapan dengan badai penderitaan yang paling berat sekalipun. Dalam tulisan ini, saya memilih Abraham dari Perjanjian Lama dan Maria, ibu Yesus, dalam Perjanjian Baru.
Pertama. Abraham. Pengharapan yang total dan kokoh dapat ditemukan dalam diri Abraham. Andreas B. Atawolo dalam bukunya “Allah Trinitas Misteri Persekutuan Kasih” mengatakan, Abraham adalah contoh orang beriman, contoh istimewa pribadi yang hidup dalam pengharapan. Hidupnya diwarnai terutama oleh panggilan, janji dan ikatan/sumpah Allah terhadapnya.
Allah memanggil Abraham keluar dari tanah kelahirannya menuju suatu tempat yang tidak diketahuinya, yang tidak ada dalam bayangannya sama sekali. Abraham menanggapi panggilan Allah dengan meninggalkan tanahnya. Dia percaya pada janji Allah yaitu berkat, tanah (negeri) yang berlimpah susu dan madu, serta keturunan sebanyak pasir di laut dan bintang di langit.
Janji itu bukan hanya untuk Abraham, melainkan bagi seluruh keturunannya.
Lebih dari itu janji Allah ini diperuntukkan bagi semua orang di muka bumi (Kej. 12:13). Dalam konteks ini, berharap, bagi Abraham, berarti percaya secara radikal. Tak ada kecurigaan sedikit pun, tidak ada keraguan secuil pun dalam diri Abraham. Salah satu janji Allah yang terpenuhi adalah Sara, istrinya, di usia yang sudah uzur dan mandul, mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bagi Abraham, yang diberi nama Ishak (Kej. 17:15-16; 18:10,14; 21:1-3).
Dalam pengharapan dan kepercayaannya kepada Allah, Abraham juga mengalami masa-masa sulit. Puncak pengalaman yang paling menantang, ujian yang teramat berat bagi Abraham adalah pada waktu Allah meminta dia mempersembahkan anak semata wayangnya, Ishak, sebagai kurban kepada Allah (Lih. Kej. 22:1-19). Suatu permintaan yang benar-benar absurd, tidak masuk akal.
Dalam budaya patriarki anak laki-laki mendapat tempat yang paling utama karena dipandang sebagai penerus keturunan, panjaga klan, suku, pemimpin. Dalam konteks pengalaman Abraham, permintaan Allah, memang sungguh, irasional, tidak wajar, tidak berdasar seturut perspektif budaya patriarki. Di sinilah letak absurditas permintaan itu. Lagi-lagi Abraham mengikutinya tanpa protes, tanpa curiga, tanpa ragu.
Kedua. Maria, ibu Yesus. Bagi Maria, berharap berarti percaya. Maria percaya sepenuhnya terhadap penyelenggaraan Ilahi atas dirinya. Maria memiliki iman yang mendalam kepada Allah. Itulah sebabnya Konsili Vatikan II menyebut Maria sebagai anggota Gereja yang unggul dan istimewa serta pola-teladan yang mengagumkan dalam iman dan cinta kasih (LG. art. 53, 63).
Pengharapan dan iman Maria terlihat dalam sikap pasrahnya terhadap kehendak Allah. Maria menjawab “Ya” kepada Allah melalui malaikat Gabriel tanpa benar-benar mengerti maksud dan rencana Allah atas dirinya ketika dia diminta menjadi Bunda Sang Juruselamat (Lih. Luk. 1:26-38).
Pada saat Maria dan Yusuf membawa Yesus untuk dipersembahkan kepada Allah, Simeon meramalkan nasib Yesus dan nasibnya sendiri. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri,” demikian Simeon (Luk. 2:34-35). Mendengar kata-kata Simeon, Maria hanya diam, merenung, tanpa tanya.
Dalam peristiwa pernikahan di Kana, ketika tuan pesta kekurangan anggur, Maria memberitahukannya kepada Puteranya, Yesus. Maria tidak meminta secara langsung kepada Yesus (Lih Yoh. 2:1-12). Maria mengatakan, “Mereka kehabisan anggur.” Di sini tampak bahwa Maria sungguh percaya kepada Yesus.
Pengalaman iman Maria, sama seperti Abraham, tidak selamanya berjalan mulus. Duka yang paling mendalam dan tak terlukiskan seorang ibu Maria yang menyaksikan secara langsung penderitaan, sengsara, wafat dan pemakaman Puteranya adalah ujian yang terberat dalam hidupnya. Sekali lagi Maria menunjukkan keutuhan imannya dan keteguhan pengharapan serta ketulusan cintanya terhadap penyelenggaraan Allah. “Maria menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.” (Luk. 2:19).
Seturut ajaran Bapa-bapa Gereja, ada tujuh dukacita Maria yakni nubuat Simeon, Pelarian ke Mesir, Kehilangan Yesus di Bait Allah, Bertemu Yesus di Jalan Salib, Yesus wafat di Salib, Yesus diturunkan dari salib, dan Yesus dimakamkan.
Penutup
Manusia sebagai makhluk ciptaan yang terbatas senantiasa mengarahkan dirinya kepada sesuatu yang tidak terbatas. Dalam bahasa universal, sesuatu yang tidak terbatas disebut “Yang Kudus”, “Yang Suci”, “Yang Mutlak”, “Yang Tak Terjangkau”, “Yang Tak Terlihat”, “Yang Tak Terpahami”, “Yang Maha Agung”, “Sang Kebenaran”. Dalam bahasa agama Samawi disebut Allah, Tuhan. Agama Budha menamai-Nya: Sang Hyang Adi Buddha, Parama Buddha. Agama Hindu menyebut-Nya: Brahman, Sang Hyang Widi Wasa. Singkat kata, terdapat pelbagai macam nama dalam berbagai bahasa dan tradisi perihal “Wujud Tertinggi” yang tidak terbatas tadi.
Keterarahan kepada Yang Tidak Terbatas, yang disebut Allah, Tuhan, adalah dorongan dasariah dari dalam diri manusia untuk mengatasi keterbatasannya. Dorongan itu disebut harapan. Harapan mesti dihidupkan demi menepis kecurigaan, menyingkirkan keraguan, kecemburuan, iri hati agar terhindar dari persaingan. Jalan yang ditawarkan Allah untuk menghidupkan harapan adalah dialog cinta, seperti yang telah dimulai-Nya sendiri.
Walaupun sampai saat ini, rasa curiga, keragu-raguan, kekurangpercayaan itu masih terus mewarnai hubungan antarmanusia, relasi manusia dengan Allah, namun bara api pengharapan tidak boleh padam. Sebab ia adalah energi yang memotivasi, menginspirasi, mencairkan kebekuan relasi, menyambung kembali relasi yang terputus, mempersatukan yang tercerai berai.
Pengharapan adalah sauh yang membuat jiwa mampu bertahan menghadapi ketidakpastian, mercusuar yang menuntun kita menuju pelabuhan ketentraman, kedamaian, dan kebahagiaan. Seturut bahasa rasul Paulus, “Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.” (Ibr. 6:19). Dengan perkataan lain, dalam harapan ada optimisme, ada solusi, ada daya cipta. Sebab “Allah adalah sumber pengharapan,” demikian rasul Paulus (Rm. 15:13). Bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1:37). Meminjam kata-kata Yesus, pengharapan sebesar biji sesawi memampukan kita melakukan hal yang tidak mungkin (bdk. Mat. 17:20). Sebab “Allah adalah andalanku,” kata Santa Faustina.
Penulis adalah Alumnus STFK Ledalero, tinggal di Labuan Bajo







