Murid Terakhir Sang Binatang Jalang

oleh -899 Dilihat
banner 468x60

Salman kembali ke Jakarta, setelah limabelas tahun meninggalkan kota metropolitan itu. Ia berusaha mengendalikan kegelisahannya sepanjang perjalanan kereta api dari daerah Merak menuju Tanah Abang, Jakarta. Dari situ, ia terus melanjutkan perjalanan naik bus kota menuju Taman Ismail Marzuki, tempat diselenggarakannya pameran buku selama seminggu penuh.

Kini, semua orang tahu, Salman tergolong penulis yang lumayan sukses, baik di tingkat daerah maupun nasional. Meskipun, ia jarang mengikuti acara-acara pertemuan penulis maupun sastrawan, yang sering diadakan di kota-kota besar. Kunjungan pertamanya ke Jakarta, setelah limabelas tahun, seakan terpaksa ia mau memenuhi undangan serta mengubah keputusannya pada menit-menit terakhir. Tahun sebelumnya ia memperoleh tiga undangan pertemuan sastrawan, termasuk yang bertema, “Apakah Sastrawan Indonesia Sudah Menjadi Manusia Selesai?”

Bahkan, sebelum masa pandemi Covid-19, biasanya ia menerima empat hingga lima undangan, tetapi ia hanya pernah menghadiri sekali saja sewaktu acara pertemuan diadakan di Pantai Anyer, Serang, dengan tema utama: “Selamat Datang Sastrawan Milenial”. Saat itu, pada detik-detik terakhir menjelang pertemuan, pertanyaan yang diajukan kepada pihak panitia telah bergeser dari “siapa saja yang diundang”, menjadi “siapa saja yang dipastikan hadir”.

Ia turun dari bus kota, dan seketika melihat beberapa penulis dan sastrawan memasuki pintu gerbang Taman Ismail Marzuki. Beberapa rombongan penulis muda datang, dan ia menyelinap di antara rombongan yang tak dikenalnya. Salman memosisikan diri di barisan belakang. Langkahnya melambat dengan penuh keraguan. Di ruang tunggu, ia mengenali seorang penulis senior dari daerah Sumatera, hingga kemudian cepat-cepat ia menghindar dan bersembunyi di balik tangga. Sastrawan Sumatera itu sedang membaca-baca brosur agenda pameran, kemudian beralih mengamit koran dari loker yang tersedia di samping pintu masuk.

Tak lama kemudian, sastrawan itu menatap sekeliling, seakan ia menyadari dirinya tengah diamat-amati oleh pandangan mata seseorang. Sepintas ia melihat sosok Salman, namun kemudian beralih kembali membaca koran di tangannya. Dua orang wanita cantik muncul, seketika tersenyum lembut dan bercakap-cakap sambil duduk di samping sang sastrawan. Salman mengenal salah seorang wanita itu. Ia adalah penulis muda terkenal yang bukunya telah menjadi (dijadikan) best seller oleh suatu penerbit kenamaan di negeri antah barantah. Salman membaca gerak bibir mereka, tetapi tidak menangkap apa-apa. Ia bercokol di tempat persembunyiannya sampai ketiga orang itu memasuki pintu utama tempat diselenggarakannya pameran.

Ia menatap pintu masuk yang dijaga oleh empat orang penerima tamu, yang barangkali mereka itu para penulis muda. Ia menimbang dengan keraguan, apakah akan masuk ke dalam gedung, ataukah mau balik lagi ke Merak, Banten?

Akhirnya, ia melangkah ke trotoar jalan, memanggil taksi dengan tujuan daerah Pasar Minggu. Sebenarnya, beberapa waktu lalu, ia pernah mendengar berita penyekapan seorang mahasiswi oleh seorang sopir taksi di daerah Pasar Minggu, tetapi lama kelamaan berita itu menguap seakan terbawa angin. “Di jalan apa, Bang?” tanya sopir taksi yang sebenarnya lebih tua darinya. Salman menyebutkan alamat rumah seniman Bahri Sukardi, yang dikenal sebagai penyair Binatang Jalang. Sang sopir tak peduli dengan julukan si Binatang Jalang, juga tak mengenal siapa Bahri Sukardi. Ia hanya minta kejelasan mengenai alamat yang akan dituju.

Setelah turun dari taksi, Salman menyeberang jalan dan masuk ke sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati motor dan pejalan kaki. Suasana begitu lengang dan sepi. Ia menatap keadaan sekeliling, kemudian sampailah di depan rumah si Binatang Jalang. Salman memejamkan pelupuk matanya, seakan merasa capek dan kelelahan. Ia menghela nafas, membayangkan masa-masa yang ia habiskan selama bertahun-tahun di daerah situ. Ah, tidak ada yang berubah, pikirnya, meskipun sebenarnya ia menyadari, bahwa segalanya telah mengalami perubahan.
***

Sejenak Salman menatap ke angkasa. Langit berwarna hitam kelabu, awan-awan bergerak dari selatan ke utara. Nampak, seperti kuburan-kuburan yang mengapung, seakan menyingkapkan keping-keping langit yang menimbulkan gemeretak kering yang tak terdengar oleh siapapun. Kepalanya merasa pening dan kliyengan. Salman menatap beberapa orang yang memasuki lorong gang. Mereka masih muda-muda. Barangkali belum lahir saat dia aktif sebagai seniman muda di usia 20 hingga 25-an.

Kembali ia melihat-lihat rumah Bahri Sukardi, dan bertanya-tanya dulu pada beberapa orang yang tinggal di sebelah. “Apakah Bapak baru pertama kali datang ke Jakarta?” tanya salah seorang dari mereka.

“Belasan tahun lalu saya pernah tinggal di daerah sini,” kata Salman dengan gugup, “apakah benar di situ rumah Pak Bahri Sukardi?” ia pun menunjuk bangunan rumah di sebelahnya yang kelihatan kosong dan lengang. Orang-orang diam terpaku menatap bangunan yang tembok-temboknya bercendawan itu.

Rambut Salman dipotong cepak dan pendek. Saking pendeknya di bagian ubun-ubun, membuat pitak yang tergores di sebelah kiri kepalanya terlihat jelas. Kini, ia bukan lagi seniman muda gondrong yang biasa tampil dengan lantang dari panggung ke panggung. Ia mengenakan kemeja batik berwarna ungu dengan sepatu hitam buatan Cibaduyut. Ia diundang ke acara pameran buku untuk ambil bagian dalam rangkaian acara, di saat puluhan penulis tua dan muda menjelaskan proses kreatifnya. Beberapa novelnya kurang laku di pasaran, juga minim apresiasi publik. Terlebih ketika para penulis muda lebih gandrung pada karya-karya milenial yang dianggap lebih membumi, serta sanggup menghadapi tantangan universalitas.

Ia melihat pagar besi yang digembok, kemudian ujarnya pada salah seorang tetangga, “Saya adalah murid Pak Bahri.” Tiba-tiba salah seorang melengos ke samping dan ngeloyor pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seorang pria tua sekitar 70-an tahun, tiba-tiba berteriak dari balik jendela rumahnya, “Siapa? Bapak ini siapanya Bahri?”

“Saya murid beliau,” ulang Salman agak ragu.

Pria tua itu pun terdiam, tak beerkata-kata lagi. Sorotan matanya nanar dan berkaca-kaca. Ia mendekati Salman dan menjelaskan sesuatu secara panjang-lebar. Keringat nampak jelas pada kening Salman yang mengerut. Ia menatap dengan terkesima pada sebuah gang yang melebar dan memanjang, terhubung dengan jalan utama. Ia membayangkan bahwa di sekitar itulah si Binatang Jalang telah mengakhiri hidupnya. Dan konon, selama dua tahun terakhir rumah itu tak berpenghuni, pagar depannya digembok rapat, dan tak seorang pun pernah membukanya.

Salman kembali ke trotoar jalan utama, mencari hotel terdekat, tanpa harus pergi meninggalkan daerah Pasar Minggu. Di kamar hotel ia menyalakan teve, dan seketika ia menonton pemutaran film Dono, teman Kasino, yang keduanya sudah tiada. Kemudian, ia berselancar mengganti-ganti kanal, dan menemukan penampilan Benjamin S dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

Tak berapa lama, ia melangkah ke serambi hotel, tanpa ada taman maupun pepohonan, hanya lapangan konblok dan jendela-jendela hotel yang seakan lapuk dimakan usia. Ia tak merasa lapar atau mengantuk, kemudian kembali ke kamar hotel dan lanjut menonton teve. Tatapannya menerawang dalam waktu yang cukup lama, seakan ia tak sanggup menahan diri untuk tidak kembali ke rumah Bahri sang penyair Binatang Jalang.

Matahari mulai terbenam di daerah Pasar Minggu. Keesokan harinya, Salman menemukan salah satu tetangga yang dititipkan kunci gembok, yang kemudian mengizinkannya memasuki bangunan rumah itu. Setelah membuka pintu pagar, ia pun dengan mudah masuk ke bagian dalam rumah, karena pintu utama tidak terkunci. Ia hanya berdiri terpaku di depan kamar si Binatang Jalang sambil melihat-lihat di sekitar lantai yang kotor dan berdebu.

“Sejak Pak Bahri meninggal dua tahun lalu, rumah ini sudah tak ada yang menempati lagi,” jelas seorang tetangga yang mendampingi Salman.

“Lalu, ke mana seniman-seniman yang biasanya kumpul di rumah ini?” tanya Salman.

“Saya sendiri kurang mengerti, mereka satu persatu meninggalkan tempat ini.”
***

Ada seseorang yang masih dikenal Salman di daerah itu, tetapi ia tak mau mengabarkan perihal kematian Bahri Sukardi. Ia memberitahu bahwa murid-murid sang Binatang Jalang itu sudah menyebar ke mana-mana, termasuk beberapa orang yang terbilang sukses di ibukota. Puluhan murid-murid barunya sudah berpindah dua tahun lalu, dan kini tinggal di rumah-rumah petak yang tak begitu jauh dari gedung kesenian Taman Ismail Marzuki.

Apa boleh buat, Salman pun meluncur kembali ke sana, menyusuri gang-gang di belakang gedung Taman Ismail Marzuki. Ia menemukan si pelontos tua yang pernah dikenalnya, tetapi seniman itu hanya menatapnya hampa, kemudian ngeloyor pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia juga menemukan si rambut jimbal dan si tambun yang tetap masih memakai jins gombor yang tergantung pada sehelai ikat pinggang hitam, yang konon pemberian dari seorang paranormal terkenal.

Si tambun berkata dengan suara serak, parau dan terbatuk-batuk, sedangkan si rambut jimbal sudah menua dan mungkin hanya selisih beberapa tahun di atas Salman, sekitar 50-an. Seniman-seniman angkuh yang dulu dikenal sebagai pesohor-pesohor garang di atas panggung, kini bernasib sama seperti dirinya, dan hampir semuanya berurusan dengan kondisi fisik yang rapuh, baik paru-paru, liver, pankreas, dan usus-usus besar yang sudah tak keruan.

Seseorang berambut gondrong mengenakan kaos Jogja tiba-tiba muncul, menatap Salman dengan mata melotot kemudian pergi lagi. Dia adalah Eka Darmawan, pernah mengalami baku hantam dengan Salman gara-gara meributkan honor penampilan di panggung teater yang dianggap tidak adil. Belasan tahun lalu, Eka kelihatan gemuk dan badannya berisi, tetapi kini tubuhnya kurus kerempeng karena penyakit paru-paru. Semasa tinggal di Jakarta, Salman beberapa kali terlibat perkelahian dan adu jotos sesama teman seniman. Kadang dia menang, dan seandainya pun kalah, dia akan berusaha menampik sambil berkelit sana-sini, menciptakan retorika seolah dirinya yang berada di posisi pemenang.

“He, bukankah itu Darus… si rocker kita?” teriak Salman menunjuk seseorang di kejauhan.

“Ya benar, itu Darus Muamar,” jawab si Jimbal agak sinis, “tapi dia sudah tidak bergabung lagi dengan kami.”

“Oya, apa kegiatannya sekarang?”

“Dia mengaku sudah tobat, dan sekarang bergabung dengan jamaah tablig pengajian bersama Front Pembela Anak Betawi.”

Ia mengenang masa lalunya bersama Darus “dummer” Muamar, si penggebuk drum pada grup musik beraliran heavy metal. Ia merupakan sahabat karib Saiful si pelukis mural yang gemar menampilkan wajah-wajah bapak bangsa Soekarno di dinding-dinding kota. Kabarnya, sampai sekarang Saiful tetap konsisten sebagai pelukis yang sering mengadakan pameran-pameran lukisan, baik di tingkat nasional maupun mancanegara. Akan tetapi Darus, kini dijuluki “seniman saleh” setelah ia hengkang dari dunia musik, lantaran genderang telinganya terganggu, dan ke mana-mana harus mengenakan implant koklea untuk membantunya berkomunikasi.

Tak lama kemudian, muncul dua pemuda mengenakan sweatshirt bergambar wajah W.S. Rendra dan Iwan Simatupang, seakan para tokoh itu tengah bertopang dagu di atas tumpukan sampah, dengan siluet bangunan monas di belakangnya. Beberapa wajah seniman nampak berdiri menatap tumpukan sampah itu. Saya pernah mengenal wajah-wajah mereka, belasan tahun lalu (pikir Salman). Kami pernah berdebat bersama, mengkhayal bersama, jalan-jalan ke Bandung, Yogyakarta, Bali, hingga nekat jalan-jalan ke Irian Jaya untuk menyaksikan para pematung Asmat berkreasi dengan pahatan dan ukiran seni patungnya. Sepulang dari provinsi emas yang kaya-raya itu, kami kesulitan untuk kembali ke Jakarta, karena tidak memiliki ongkos pulang. Kami sempat singgah selama beberapa bulan di Bali dan Yogyakarta, tidur di emperan toko-toko dan bangku trotoar. Kami mencoba bergabung dengan para pematung di sekitar jalan Borobudur, mencoba mengukir dan memahat patung-patung laiknya suku Asmat berkreasi. Puluhan patung berhasil kami buat, dan kami pun memajangnya di sekitar Pasar Malioboro. Dalam hitungan hari, enam patung Asmat berhasil kami jual, meski harganya hanya cukup untuk membeli tiket kereta guna kepulangan kami menuju ibukota Jakarta.
***

Dua pemuda dengan rambut dikuncir tiba-tiba menghampiri Salman dengan tatapan berkaca-kaca. “Benar, Bapak kenal dengan si Binatang Jalang?” tanya salah seorang yang lebih gemuk.

“Pak Bahri Sukardi?” Salman balik bertanya.

“Ya, Bahri si Binatang Jalang?” Ia menatap wajah Salman erat-erat, “Jadi, Bapak ini siapanya dia?”

“Saya pernah belajar sastra sama beliau. Belasan tahun lalu,” jawabnya agak ragu-ragu.

“Berarti muridnya?”

“Kurang lebih.”

“Bangsat!” teriak temannya yang berbadan kurus. “Apakah Bapak juga penggemar karya-karya si Binatang Jalang?”

Salman terdiam sejenak, dan jawabnya dengan mulut terbata, “Ya… dulu saya pernah… menyukai karya-karyanya….”

Salman memperkenalkan diri, menyebutkan namanya serta menegaskan bahwa ia tidak akan berlama-lama, dan hendak segera pamit. Ia menyatakan dirinya menyesal dan minta maaf telah mengganggu kedua pemuda yang berambut kuncir itu. Tetapi, si gendut menampakkan ketertarikan kepadanya, serta menunjukkan tatapan bersahabat. “Ah, yang benar? Serius nama Bapak Salman? Salman Iskandar?”

“Ya,” jawabnya singkat.

Keduanya mengamat-amati muka Salman, seraya ingin memastikan bahwa apa yang didengarnya itu benar adanya.

Kedua pemuda itu mengantarkan Salman ke sebuah rumah kontrakan melalui serambi gedung Taman Ismail Marzuki. Salman seakan melihat dirinya sedang menyaksikan film melankolis, yang membuatnya tak tahan untuk membendung air matanya. Ia dipertemukan dengan seorang murid terakhir dari Bahri si Binatang Jalang, yang menyaksikan langsung kejadian tragis dua tahun lalu. Ia sedang memboncengi Sang Guru sambil mengendarai sepeda motor buatan Jepang. Ketika akan berbelok memasuki gang menuju rumahnya, tahu-tahu sebuah truk tronton melaju dengan cepat dari arah berlawanan, kemudian menabrak motor yang dikendarainya.

Mereka terdiam sejenak. Seorang berambut kuncir menawarinya rokok, tetapi Salman mengucap terimakasih. “Maaf, saya sudah berhenti merokok selama beberapa tahun terakhir ini.” Ia hanya menyesap teh yang disuguhkan di atas meja.

“Boleh dibilang, sayalah murid terakhir dari si Binatang Jalang,” sambung si pemuda. Ia mengambil sebatang rokok, menghisapnya pelan-pelan, dan lanjutnya, “Ketika saya sadar terpental ke sisi jalan, saya mencari-cari Pak Bahri guru saya. Tahu-tahu ia berada di kolong truk tronton, terseret sejauh seratus meter hingga tergilas ban di sekitar perutnya. Jeroannya bereretan di tengah jalan, dan usus-ususnya terburai hingga ke trotoar jalan… dan, ah maaf, saya tidak tahan melanjutkannya….”

Pemuda itu terdiam, meneteskan airmatanya mengenang kejadian tragis itu. Kedua pemuda berambut kuncir mengakui bahwa mereka pun pernah menjadi murid sang mendiang. Mereka berbicara tentang masalalunya bersama si Binatang Jalang, mengingat masa-masa ketika menenggak minuman keras, teler dan muntah bersama-sama. Tetapi, apapun yang mereka bicarakan itu pada hakikatnya mereka bicara perihal perjalanan hidup mereka sendiri, agar dapat disimak Salman sebagai seorang penulis.

Mereka begitu antusias menceritakan masa lalu mereka, mengguratkan karya sastra, pada lembar-lembar halaman kertas yang dapat dideretkan seluas gelembung-gelembung paru-paru manusia. Mereka menganggap dirinya selaku pewaris utama dari jejak-langkah sang Binatang Jalang. Konon, mereka pun telah menuliskan lirik-lirik lagu yang dipakai oleh grup-grup musik legendaris. Mereka sudah menghasilkan beberapa album yang tak disentuh oleh siaran televisi maupun radio, kecuali beberapa radio lokal yang masih mau menyiarkannya. “Bagaimanapun kami ini tetap terdepan, pionir agung, dan tetap menyuarakan eksistensialisme dan pemberontakan, seperti yang diajarkan guru kami si Binatang Jalang,” kata salah seorang dari mereka dengan angkuh dan penuh kebanggaan.

Lagu-lagu itu pun akhirnya diputar, dan Salman mendengarkan sambil duduk terpaku di tempat. Ia memandangi lantai yang kotor bagaikan diselimuti debu vulkanik dari Gunung Semeru. Ia mengangkat kepalanya, menatap poster-poster lusuh yang terpampang di dinding, di antaranya poster Che Guevara, Linkin Park, Nirvana, hingga musik-musik legendaris dalam negeri yang konon diilhami pembuatan liriknya oleh karya-karya Binatang Jalang dan para muridnya.

Di sebelah kiri dinding, ia menatap poster sang mendiang, sedang berdiri di depan panggung bersama personel-personel grup band beraliran rock dan heavy metal. Si Binatang Jalang diapit oleh anak-anak muda kurus yang sedang memegang gitar-gitar listrik, bagaikan para pejuang yang mengalami kekalahan di medan pertempuran, dan dengan frustasi menyarungkan pedang-pedang mereka. (*)

Oleh: Hafis Azhari
(Pengarang novel Pikiran Orang Indonesia dan Jenderal Tua dan Kucing Belang)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.