Percayalah bahwa sepanjang perjalanan hidup ini, hati Tuhan akan selalu tertuju padamu. Terutama, saat hidup menempatkanmu pada posisi yang tak menyenangkan.
Mata Tuhan selalu terarah padamu terutama saat kamu merasa ditinggalkan seperti domba tanpa gembala. Tangan Tuhan merangkulmu terutama saat dunia memaksamu untuk berpikir bahwa perjalananmu telah usai.
Tak pernah sekalipun wajahmu hilang dari ingatan Tuhan. Karena itu, beri diri yang terbaik sebagai sebuah persembahan bagi Tuhan. Tuhan akan menggunakan pemberianmu itu untuk memberikan kasih dan berkatNya bagi semua orang.
Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang. Ada beberapa hal yang dapat menjadi fokus permenungan kita pada hari ini.
Pertama, ketika melihat orang banyak datang kepadaNya, berkatalah Ia kepada Filipus: “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan”. Tindakan Yesus ketika Ia melontarkan pertanyaan kepada Filipus sesungguhnya mau menunjukkan bahwa dalam peristiwa ini, inisiatif sepenuhnya datang dari diriNya. Ia sendiri sudah berkeputusan untuk memberi makan orang banyak itu.
Berbeda dengan kisah lain dalam Injil, kita melihat bahwa dalam kisah itu, Yesus melakukan suatu tindakan ketika orang meminta kepadaNya. Di sini, tanpa ada permintaan, Yesus sendiri berinisiatif untuk bertindak. Ia berinisiatif karena mataNya selalu tertuju kepada manusia untuk memperhatikan kesulitan hidup mereka.
Pertanyaan ini juga di sisi lain adalah pertanyaan cobaan kepada Filipus, apakah Filipus sudah benar-benar percaya kepadaNya sebagai sang pemberi hidup. Jawaban Filipus menunjukkan bahwa para murid hanya memikirkan makanan yang dapat dibeli dengan uang dan tidak akan cukup jumlahnya. Mereka belum belajar dari perkataan Yesus bahwa makananNya adalah menyelesaikan pekerjaan Bapa yang telah mengutusNya. Mereka belum sadar akan jati diri Yesus.
Kedua, di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan. Kalau roti seharga dua ratus dinar (sekitar beberapa juta rupiah) tidak cukup, apalagi lima roti jelai dan dua ikan. Menariknya di sini adalah semua orang yang ada di situ tidak membawa makan. Yang ada hanyalah lima roti dan dua ikan yang dibawa oleh anak kecil.
Kata “roti jelai” di sini mengingatkan tentang dua puluh roti jelai yang dibagikan oleh Nabi Elisa kepada seratus orang seperti yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Yesus pun akhirnya menyuruh para murid untuk membuat orang banyak itu duduk di atas rumput. Ia menampilkan diri sebagai Gembala yang membaringkan domba-domba di padang rumput yang hijau dan memberi makan. Yesus melebihi Nabi Elisa. Dengan lima roti jelai Ia memberi makan 5000 orang.
Ketiga, Ia memberi makan 5000 orang dan potongan-potongan roti yang lebih ada 12 bakul penuh. Dalam teks ini tidak dikatakan bahwa para murid yang membagikan roti itu, melainkan Yesus sendiri yang membagikannya, dengan diawali ucapan syukur. Di sini semakin menunjukkan bahwa semua yang terjadi adalah prakarsa dan karya Yesus sendiri.
Bahkan, dengan membagi roti, Ia mau menunjukkan bahwa Dialah Roti Kehidupan. Para murid mengumpulkan potongan roti yang lebih, bukan sisa. Tujuannya supaya tidak ada yang terbuang. Kelebihan potongan-potongan roti ini adalah pralambang makanan yang tidak akan binasa yang bertahan sampai hidup yang kekal, yaitu Ekaristi yang selalu kita rayakan hingga saat ini.
Dari ketiga hal ini, apa yang dapat kita ambil dan bawa pulang untuk kehidupan kita?
Pertama, Tuhan selalu punya inisiatif terlebih dahulu. Maka, milikilah syukur di dalam hati masing-masing. Tuhan tidak akan pernah meninggalkanmu sekalipun dunia memaksamu untuk berpikir bahwa perjalananmu telah usai. Tuhan akan selalu berpaling kepadaMu selagi kamu setia untuk mengikuti Dia.
Kedua, belajar untuk memberi. Sebagaimana seorang anak yang memberi lima roti dan dua ikan, kita pun diajak untuk memberi apa yang dapat kita beri. Pemberian kita tentunya tidak akan sia-sia.
Sebab melalui pemberian itu, Tuhan sendiri sedang berkarya untuk menerima, memberkatinya dan kemudian tiba ke tangan orang lain. Rasul Paulus dalam bacaan kedua menasehati bahwa hendaknya kita selalu rendah hati, sabar, lembut dan menunjukkan kasih kita dalam saling membantu. Apa yang sudah kita beri? Mungkin pemberian paling sempurna adalah diri kita sendiri. “Tuhan, padaku hanya ada diriku yang rapuh dan berdosa ini. Maukah Engkau menerima dan mempergunakannya untuk banyak orang?”
Ketiga, selalu merayakan dan menghayati Ekaristi. Roti yang lebih tadi dikumpulkan oleh para murid merupakan pralambang Ekaristi. Apakah semua kita sudah secara sadar merayakan ekaristi dan menghayatinya? Inilah warisan paling berharga yang Tuhan Yesus beri bagi kita. Dengan warisan ini, Ia sendiri menjaga kita sampai pada akhir hidup kita.
Tuhan maha online, lihat, kehidupan sudah terendam dalam layar. Orang mencari nama di instagram dan media sosial berbayar.
Selebgram selalu punya followers lebih banyak dari Tuhan. Insta story dan story WA ditata lebih rapi daripada perasaan. Anak-anak remaja mengimani game.
Sembayang mereka adalah top up. Kolekte dan persembahan mereka adalah paket data. Perjamuan mereka adalah mabar. Gereja mereka adalah internet dan wifi. Lihat, Tuhan duduk di taman eden seorang diri, sebab Adam sedang sibuk tenggelam di dalam layar bersama Hawa.
Homili Hari Minggu Biasa XVII
Bacaan I : 2Raj 4: 42-44
Bacaan II : Ef. 4: 1-6
Bacaan Injil : Yoh. 6: 1-15
Minggu, 28 Juli 2024
Oleh: Diakon Gregorio Kanaf







