Menjelang Kematian Nisa

oleh -1161 Dilihat
banner 468x60

Nisa turun dari ranjangnya, melangkah pelan-pelan menuju dapur untuk mengambil segelas air putih, lalu menaruhnya di atas meja di samping pembaringannya. Mukanya tampak pucat, dan matanya memerah. Setelah kembali berbaring, badannya tiba-tiba menggigil, hingga ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Saya bergegas memanggil istri yang sedang beres-beres di halaman depan sambil menyapu lantai dan menyiram tanaman.

Istri saya menghampirinya, seraya mengelus-elus kepalanya sambil memijit dahinya pelan-pelan. “Apakah kepala Nisa masing pusing?” tanya istri saya.

“Kata dokter, Nisa harus banyak istirahat. Panasnya masih tinggi,” tegur istri saya sambil mengusap-usap kedua kakinya. Ia sudah menginjak sembilan tahun, namun karena nafsu makan yang menurun dalam beberapa bulan terakhir, ia tampak seperti bocah tujuh tahun yang kurus, dengan pipinya yang pucat dan tirus. Saya mencoba meletakkan tangan ke dahinya, demamnya memang masih juga belum turun.

Sudah empat ia meminum obat. Menurut dokter, memang ada jenis bakteri yang memiliki cara tersendiri untuk bertahan dari serangan obat-obatan. Walaupun dunia kedokteran sudah cukup maju, namun tidak sedikit jenis-jenis kuman yang mempelajari cara agar bisa kebal menghadapi antibiotik. Hingga pada waktunya, semakin banyak kuman yang resisten terhadap antibiotik, semakin sulit kita mengobati penyakit yang disebabkan kuman yang resisten tersebut.

Dokter memberinya dua jenis obat dalam bentuk tablet dan sirup agar diminumkan tiga kali sehari setelah makan. Sejak dua hari lalu, dokter muda itu menambahkan satu jenis obat lagi, namun belum juga ada pengaruh yang berarti. Saya membuka internet untuk mempelajari jenis-jenis obat yang diberikan dokter. Rupanya ada obat untuk menurunkan demam, mengatasi sakit kepala, hingga mengatur keasaman lambung.

Siang itu, nafsu makannya masih sedikit. Setelah menyuapi bubur beberapa sendok, istri saya meminumkan obat tablet yang agak besar, dengan menumbuknya hingga halus. Lalu, saya mengambil sebuah buku cerita dari lemarinya sambil menawarkan, “Mau, Papa bacakan cerita?”

“Tentang apa?” tanya Nisa pelan.

“Tentang gadis kecil yang kuat dan tangguh, dan ketika dia mengikuti lomba 17 Agustus di sekolahnya selalu saja ia menang, meskipun bertanding melawan temannya yang laki-laki.”

“Seperti Teteh Adiba?”

“Ya, kurang lebih seperti Teh Adiba yang selalu dapat ranking teratas di kelasnya.”

“Oke, Nisa mau dengar ceritanya.” Raut mukanya sangat pucat dan ada bagian gelap di bawah pelupuk matanya. Dia berbaring tenang, tapi rupanya kurang bisa menyimak apa-apa yang saya bacakan saat itu.

Saya pun membuka beberapa halaman lagi, menceritakan kisah seorang puteri dari kerajaan yang pemberani, hingga ia lolos dari kejaran nenek penyihir yang jahat. Seusai membacakan cerita, saya mengulangi pertanyaan, “Sekarang bagaimana perasaan Nisa?”

“Masih sama, Pah, kepala masih pening.”

“Ya sudah, Nisa berbaring sambil baca al-Fatihah pelan-pelan…”

Saya mengambil posisi di kaki ranjang dan membaca buku cerita itu dalam hati, sambil menunggu waktu untuk meminumkan obat berikutnya.

Pada pukul 14.30 biasanya ia tertidur, tapi kali ini matanya terus menerawang sambil sesekali menatap ke arah jendela.

“Kenapa enggak tidur, Nak?” tanya saya lagi.

“Enggak ngantuk, Pah, tapi kalau Papah merasa suntuk, jalan-jalan saja keluar. Nanti juga Mama menamani Nisa setelah beres-beres di dapur.”

Untuk menghadapi hal-hal semacam ini, kadang saya berpikir bahwa kaum wanita memang lebih mahir ketimbang para lelaki. Tak berapa lama, setelah istri saya datang dan menemaninya, saya undur diri untuk duduk-duduk di serambi rumah sambil menatap pohon-pohon jati yang sebagian berguguran di waktu pergantian musim.

Kembali saya teringat kata-kata dokter, bahwa perubahan iklim dan lingkungan sanggup dihadapi virus dengan melakukan modifikasi, bahkan hingga ke tingkat yang terkecil sekalipun (genetik). Demi mempertahankan perkembangannya, meskipun banyak menghadapi serangan antibiotik, sifat kuman sangat cerdik untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan lingkungan di sekitarnya.

“Apakah ada yang sakit selain kepala?” tanya saya setelah kembali ke kamar Nisa.

“Badan Nisa lemas sekali Pah… seperti tak ada tenaga sama sekali,” katanya dengan suara berat.

“Ya enggak apa-apa, Nisa tenang aja…”

“Nisa nggak takut, Pah, hanya lemas saja.”

“Memang tidak boleh takut, Nisa harus tegar dan berani.”

“Iya, Pah.”

“Mau Papa bacakan cerita lagi?”

“Tentang apa?”

“Tentang seorang puteri raja yang baik hati dan sabar, hingga menunggu waktu bertahun-tahun untuk mendapatkan pasangan hidup yang cocok…”

Nisa membetulkan posisi berbaringnya. Saya segera membantunya karena ia sama sekali tak kuat mengangkat tubuhnya sendiri. Demam tinggi masih nampak pada raut wajahnya yang memerah dan pucat-lesi.

Saya membayangkan sistem kekebalan tubuh manusia dalam menghadapi serangan penyakit. Kemampuan kuman-kuman menyerang tubuh yang terus bermutasi secara konstan, tak ubahnya dengan tekanan air yang makin keras hingga nyaris menjebol selang-selang air. Dengan kondisi selang yang kurang memiliki ketebalan kuat, maka tekanan air yang keras tentu akan menimbulkan kerusakan dan kebocoran.

“Apakah puteri raja itu kemudian meninggal dunia?” tanya Nisa kemudian.

“Tidak, Sayang, dia begitu tegar hingga selamat dari segala marabahaya.”

Saya membacakan kisah itu, namun ia belum juga bisa menyimak dengan baik. Pandangannya agak kabur menatap langit-langit. Tak berapa lama, istri saya muncul sambil membawakan segelas susu.

“Minumlah susu ini, Nak.”

“Menurut Mama, apakah susu ini akan berpengaruh?”

“Ya, susu ini baik sekali untuk kesehatan, Sayang.”

“Menurut Mama, kapan Nisa akan meninggal?”

“Jangan bicara begitu, Nak, Nisa tidak akan meninggal.”

“Tapi badan Nisa seperti tak merasakan apa-apa, juga demam tidak turun-turun.”

“Tenang saja. Nisa berdoa saja agar Tuhan segera memberi kesembuhan.”

Kami meminumkan susu pelan-pelan, tetapi ia memuntahkannya kembali, seakan tubuhnya kesulitan untuk menerima asupan. Kami terdiam dalam waktu yang cukup lama, kemudian ujar Nisa memecah kesunyian, “Kalau Nisa meninggal, apakah akan masuk surga?”

“Tentu, Sayang… tapi kenapa Nisa tanya begitu? Nisa tidak akan meninggal, Nak.”

“Apakah di surga ada cokelat dan ice cream?”

“Ya, tentu saja, di sana ada bermacam-macam cokelat dan ice cream. Apakah Nisa mau cokelat, Nak? Nanti Mama belikan sekarang juga…”

“Enggak usah, Mah, jangan, semua makanan tidak ada rasanya di mulut Nisa.”

Saya menghela nafas, sambil berdiri terkesima.

“Apakah di surga banyak bonekanya, Pah?” Nisa menoleh sedikit ke arah saya.

“Ya tentu, bonekanya bagus-bagus, Sayang,” jawab saya dengan perasaan miris.

Saya teringat pada saat ulang tahunnya yang ke-5 beberapa tahun lalu, ketika kami tak mampu membelikan boneka Mickey besar yang dapat berbicara. Kami menggantinya dengan boneka Panda berukuran sedang. Ia merasa senang dan memeluk kami sambil mengucap terima kasih.

Tapi suatu sore, saat kami mengajaknya jalan-jalan ke pasar, ketika kami sudah sanggup membelikannya, tiba-tiba boneka Mickey itu menghilang dan sudah tidak ada di tempat.

“Berapa lama demam ini bertahan sampai Nisa meninggal?”

“Nisa tidak akan meninggal, Sayang,” kata saya sambil mengelus rambutnya.

“Tentu Nisa akan meninggal, karena kemarin lusa Nisa mendengar Dokter mengatakan bahwa suhu tubuh Nisa cukup tinggi.”

“Tidak, Nak, dokter mengatakan bahwa suhu tubuh Nisa masih normal,” hibur saya.

“Dokter juga bilang, banyak jenis penyakit baru yang sulit dideteksi, iya kan, Pah?”

“Belum tertedeksi, Nak, nanti juga semua penyakit ada obatnya.”

“Tapi banyak anak-anak meninggal, karena jenis penyakit yang belum ada obatnya?”

“Tidak, Nak, Nisa mungkin salah dengar… Dokter tidak mengatakan seperti itu…”

“Mungkin Nisa juga nggak kuat menghadapi jenis penyakit baru itu, karena badan Nisa letih sekali…”

“Nisa harus kuat, Sayang,” kata istri saya meyakinkan.

“Apakah di surga nanti Nisa akan sembuh?”

“Ya, di surga tidak ada orang sakit, Sayang.”

“Kenapa?”

“Karena di sana sudah tidak ada lagi virus dan kuman yang mengganggu kesehatan anak-anak.”

“Apakah kuman yang mengganggu kesehatan anak-anak ini sejenis dengan virus korona pada tahun 2020 lalu, Pah?”

“Tidak, Sayang, dokter tidak mengatakan itu. Hanya penyakit biasa.”

“Bagaimana, Mah,” matanya menoleh sedikit ke istri saya, “apakah kata dokter sejenis penyakit covid 19?”

“Tidak, Nak, dokter sama sekali tidak mengatakan seperti itu?” jawab istri saya.

“Tapi kenapa demam Nisa semakin tinggi, dan kepala Nisa masih pusing juga? Apakah Tuhan tidak sayang pada Nisa, Mah?”

“Tuhan pasti sayang… pada Nisa,” kata istri saya ragu, “dan juga sayang pada… semua anak-anak….”

“Pada semua anak-anak di Indonesia?”

“Ya, pada semua anak-anak di Indonesia… dan di seluruh dunia ini….”

“Tapi beberapa hari lalu, Nisa mendengar omongan Dokter di saluran teve, bahwa virus baru yang menyerang masyarakat, justru lebih banyak menyasar kepada anak-anak, bukankah begitu?”

Kami diam membisu, saling bersitatap, dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Padahal, kami sudah menjauhkan posisi televisi dari ruang tengah, juga jarang menyetelnya. Hal ini dikarenakan soal kenyamanan, agar Nisa dapat beristirahat tenang, tanpa diganggu oleh berita-berita yang berseliweran mengenai varian-varian baru virus korona. Tapi rupanya, ia masih sempat menguping perbincangan kedua kakaknya, Adiba dan Alena yang membahas soal virus pengganggu, yang sejenis dengan setan-setan yang gemar mengganggu dan menakut-nakuti umat manusia. Menurut mereka, virus-virus itu akan menjadi para pengikut Dajjal karena kegemarannya yang suka menggoda, serta membuat manusia tak percaya pada keadilan dan kasih sayang Tuhan.

Saya pernah menegur kedua kakaknya agar tak membicarakan terlalu jauh soal eskatologi yang banyak dibahas dalam konten-konten akhir zaman. “Kiamat itu sepenuhnya dalam genggaman dan kekuasaan Allah. Walaupun terjadi kehancuran dunia, jika Allah menolong hamba-hamba-Nya agar selamat, mereka akan hidup dengan tentram dan damai.”

Keesokannya, saya melihat istri menyeka air matanya. Nisa sempat meminum susu kotak dan tiga gigitan buah pir. Tatapan matanya melemah perlahan-lahan. Sebelum matanya terpejam, ia tersenyum sambil mengucap satu kalimat terakhir: “Mah, Pah, Nisa sepertinya enggak kuat, letih sekali, Nisa mau istirahat saja….”

Tangannya agak mengepal tapi kemudian jari-jarinya terbuka dan lunglai. Kami segera melarikan ke klinik untuk yang kedua kalinya, kemudian para dokter meminta agar segera dirujuk ke Rumah Sakit Kartini, Rangkasbitung.

Bantuan kejut oksigen dikerahkan. Sebuah alat khusus dipakai sebagai kombinasi kompresi dada, dan penggunaan defibrilator eksternal otomatis (AED). Beberapa menit kemudian, dua orang dokter menghampiri saya, melangkah pelan-pelan sambil menyatakan, “Pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi tepat jam 18.50 tadi, Anisa anak Bapak sudah tak tertolong lagi….”

Saya pun menengadah sambil berucap: Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun… Kami semua milik-Mu ya Allah, dan kami semua pasti akan kembali kepada-Mu….” (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Pengarang Novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.