Restorasi Terhadap Masyarakat Digital: Berpikir Refleks Menuju Berpikir Reflektif

oleh -2074 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Yoris Pantrang

Berpikir merupakan sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Manusia dapat berpikir karena ia memiliki akal. Akal inilah yang menjadi penggerak manusia untuk terus memaknai setiap denyut nadi kehidupannya. Manusia dapat menjadi seorang yang berkualitas karena ia selalu mengakses daya intelektualnya untuk berpikir dan bertindak. Berpikir juga membuka ruang bagi manusia untuk merefleksikan hidupnya secara lebih mendalam. Dengan berpikir, manusia tidak hanya bereaksi secara spontan terhadap realitas dihadapannya tetapi mampu mengambil jarak, menimbang, dan menentukan arah hidupnya secara sadar. Inilah yang membuat manusia bukan sekadar makhluk biologis, melainkan makhluk reflektif yang mampu mencari makna, tujuan, dan nilai dalam setiap peristiwa.

Pada era ini, diatas panggung kehidupan manusia muncul suatu status baru terhadap masyarakat yaitu masyarakat digital. Masyarakat digital merupakan sekelompok orang atau individu yang berinteraksi, bekerja dan hidup melalui teknologi digital seperti internet, media sosial, aplikasi dan berbagai platform media sosial lainnya. Aktivitas mereka tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Kapan pun dan dimana pun mereka dapat mengakses segala sesuatu. Ambigunya, mereka bisa telepresensi sekaligus absensi. Mereka bisa berada dimana-mana sekaligus tidak dimana-mana. Fenomena masyarakat digital ini bukanlah diri yang palsu melainkan realitas yang memiliki eksistensinya sendiri.

Eksistensinya itu mengakar dalam keseharian digitalnya. Sebutan masyarakat digital ini memang terdengar sarkastis sebab dapat dianggap sebagai makhluk jari. Tetapi makhluk jari yang dimaksudkan bukan jari sebagai jari tetapi sebuatan jari karena aktivitasnya didominasi oleh klik pada layar. Sekilas tentang profil singkat yang dapat saya terangkan mengenai masyarakat digital.

Masyarakat Digital dengan Kebiasaannya

Pada tulisan ini, perhatian utama saya yaitu pada aktivitas masyarakat digital. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa masyarakat digital itu juga berasal dari masyarakat korporeal, manusia yang berdaging, bertulang, dan berkesadaran penuh akan tubuhnya. Namun fenomena yang terjadi ialah dalam peralihan ke ruang digital, ada semacam gap atau ruang pemisahan antara tubuh fisik dan kehadiran digital.

Aktivitas manusia yang sebelumnya bersifat reflektif yakni hasil permenungan, kesadaran, dan niat yang mendalam kini bergeser menjadi aktivitas refleks. Klik, unggah, gulir, balas, dan bagikan menjadi kebiasaan dan gerakan-gerakan cepat yang seringkali dilakukan tanpa jeda berpikir. Ketajaman akal untuk berpikir menjadi tumpul dan daya reflektif nalar di hujam oleh nafsu-nafsu egoisme. Manusia enggan lagi utk berpikir dan mempertimbangkan apakah hal yang dilakukannya itu dapat memberi dampak yang baik bagi orang lain atau tidak, yang terpenting saya update dan viral. Mentalitas seperti inilah menyebabkan krisis moralitas pada manusia.

Aktivitas digital yang tidak terkoordinasi dengan baik dapat terus menggerus sosialitas manusia. Manusia kehilangan jati diri dan bibit egoisme dapat bertumbuh subur. Sehingga tidak salah kalau ke-brutal-an manusia selalu dipentas dan dipertontonkan diatas panggung digital. Hal yang bersifat pribadi dipublikasikan dan dipertontonkan kepada publik. Dalam masyarakat digital tidak ada lagi ruang pribadi. Semuanya dapat dikomsumsi oleh siapa saja. Hal ini muncul karena didesak oleh keinginan untuk meraup viewers dan followers yang banyak. Sehingga tidak salah kalau dalam masyarakat digital muncul tindakan brutalitas dan kata-kata anarkis dari netizen yang tidak like dengan konten kita. Melihat fenomena ini sosialitas manusia menjerit “ini sangat miris” tetapi ini bukti bukan opini, Ini fakta bukan fiksi.

Restorasi Terhadap Aktivitas Masyarakat Digital

Fakta diatas yang saya maksudkan sebagai krisis “reflektifitas” dalam masyarakat digital. Segala sesuatunya berlangsung secara instan dan serba tanggap. Alih-alih bertanya “mengapa saya membagikan ini?” Atau “apa makna dari interaksi ini?”, yang muncul adalah reaksi cepat atas notifikasi dan algoritma. Maka, aktivitas masyarakat digital saat ini perlu direstorasi, bukan dalam arti penghapusan, tetapi penataan ulang pengembalian pada kualitas manusiawi yang reflektif. Menjawab realita ini, saya mengajak pembaca untuk melihat dari kaca mata Heideeger. Ia merupakan seorang filsuf yang hidup di abad ke-20 dan berasal dari Jerman.

Dalam interpretasi ontologisnya ia menyumbangkan suatu konsep yang biasa disebut dengan berpikir meditatif. Cara berpikir ini merupakan suatu kontras-positif terhadap cara berpikir kalkulatif. Cara berpikir kalkulatif ini dalam bahasa Heidegeer sebagai sesuatu “lari dari berpikir atau ketakberpikiran”. Manusia terus mengadaptasi dengan suatu mekanisme impersonal ciptaannya sendiri. Manusia hanya cukup menyesuaikan diri dengan mekanisme-mekanisme tersebut yang mana kemudian lantas membuatnya menjadi rutin, dan refleks bukan reflektif.

Karena itu Heidegeer menyarankan agar kita tidak larut tenggelam dalam aktivitas digital, kita perlu melakukan berpikikr meditatif. Baginya cara berpikir ini membuat kita tetap waspada terhadap jebakan dari sesuatu yang dangkal atau banalitas, membuat kita dapat berelasi secara bebas dengan teknologi. Kalau diperhaluskan cara berpikir ini lebih kepada sikap mengiklaskan dan membiarkan sesuatunya terjadi tanpa dipengaruhi oleh kebiasaan refleks. Berpikir meditatif semacam sebuah tanda titik pada tulisan yang mengingatkan kita untuk sejenak berdiam lalu ber-refleksi kemudian lanjutkan. Segala sesuatu tidak mengalir terus menerus seperti air terjun.

Oleh karena itu, kita perlu melakukan restorasi terhadap kebiasaan refleks pada masyarakat digital supaya tidak terjerumus dalam bingkai ke-brutal-an dan egoisme. Restorasi ini bukan seruan nostalgia ke masa lalu tanpa teknologi, tetapi sebuah ajakan untuk menghidupkan kembali dimensi kesadaran dalam aktivitas digital kita. Misalnya, berpikir dahulu sebelum kita memposting, mengomentar sesuatu atau menanggapi isu sosial dengan lebih bijak dan penuh pertimbangan.

Dengan demikian, masyarakat digital bukan hanya makhluk jari yang bergerak cepat, tetapi juga makhluk jiwa yang mampu berhenti sejenak, merenung, dan memutuskan secara utuh. Akhirnya, antara reflektif dan refleks, kita dihadapkan pada pilihan eksistensial: apakah kita akan menjadi individu yang sadar dalam dunia digital, atau hanya sekadar objek algoritma yang bereaksi tanpa arah. Restorasi aktivitas masyarakat digital bukan sekadar upaya kultural, tetapi juga tanggung jawab etis untuk menjaga keutuhan kemanusiaan di tengah derasnya arus virtual.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.