Pak Majid berdiri di depan gerbang pemakaman umum, seakan menunggu seseorang yang akan datang. Dia melangkah dari rumahnya sejak pukul 07.30, melewati jalan utama, kemudian melintasi jembatan dan menyusuri pematang sawah untuk mengambil jalan pintas. Udara sangat dingin di musim penghujan tahun ini.
Digosok-gosoknya kedua telapak tangan untuk menghangatkan diri, sambil berlari-lari kecil, hingga sampailah ia di depan pintu gerbang yang masih terkunci. Ia berdiri dan melihat-lihat sekitar. Tak berapa lama, ia duduk di pilar panjang yang dibangun di sekitar trotoar pemakaman. Dengan tatapan menerawang, ia membayangkan mimpinya semalam, ketika ia menggendong cucu satu-satunya yang wafat karena terserang Demam Berdarah, menjelang datangnya masa Pandemi Covid-19 lalu.
Sebetulnya ia tak pernah akur dengan anak sulungnya yang menikah dengan wanita Sunda, namun karena sang cucu yang masih balita itulah yang membuatnya sering bertandang ke kediaman anaknya, setelah bertahun-tahun tak berjumpa, bahkan tak saling bertegur-sapa.
Kedekatan dengan sang cucu membuat segalanya kian berubah, namun ketika cucunya beranjak sekitar empat hingga lima tahun, tiba-tiba ia disentakkan oleh kabar duka perihal kematian sang cucu karena penyakit DBD. Hanya dalam hitungan hari, kabar kematian itu diterimanya. Padahal, dalam dua tahun terakhir sang cucu sering diajak main oleh mamahnya ke rumah nenek. Dan sebagai kakek yang menghadapi cucu yang sedang lucu-lucunya, tentu Pak Majid merasa sangat terhibur.
Dalam tahun-tahun terakhir ia selalu bercengkerama dengan sang cucu, bahkan seringkali diajaknya ke pasar, memasuki toko-toko mainan, dan diperbolehkan memilih jenis mainan apa saja yang disukai sang cucu. Namun, siapa yang dapat menebak takdir hidup seorang anak manusia, seberapa kuat pun ia mencintai dan melindunginya. Bahkan, semahal apa pun obat-obatan yang dipakai untuk menyembuhkan penyakitnya. Jika ajalnya tiba, manusia hanya bisa berpasrah ketika Tuhan berkehendak untuk merenggutnya kembali.
Sekitar pukul 08.00 seorang lelaki tua muncul dari arah timur. Seketika ia membuka kunci gerbang pemakaman. Ditariknya bingkai dan rantai besi yang membatasi pintu gerbang, lalu dimasukkan kunci pada sebuah gembok besar, maka terbukalah pintu gerbang itu.
“Mau ziarah, Pak?” tanya lelaki tua berusia sekitar 70-an, dengan suaranya yang agak serak.
“Ya, saya mau menengok makam cucu saya,” jawab Pak Majid.
Kakek tua itu masuk ke pondokannya di dekat gerbang, lalu menyapu dedaunan yang berserakan di sekitar halaman. Pak Majid melangkah menuju jalan masuk dan kemudian berhenti dan mengernyitkan dahinya. Dia tidak dapat mengingat di mana dia berziarah terakhir kalinya beberapa tahun lalu, karena tampaknya suasana berbeda dan banyak mengalami perubahan.
Dia melangkah beberapa puluh meter ke dalam. Dilihatnya beberapa gundukan tanah yang masih basah dengan berbagai rupa batu nisan yang diukir sesuai nama-nama yang wafat.
Ada puluhan kuburan dalam barisan pertama dan kedua, dan sepertinya kuburan sang cucu berada di barisan ketiga atau… keempat atau kelima?
Pada baris ketiga Pak Majid mengecek puluhan makam anak-anak yang panjangnya rata-rata sama, baik untuk balita maupun remaja. Dia melihat nama Rahmat Agus 2011-2018, Sedi Sadiyah 2001-2018, Rohmulyati 2003-2019, lalu dia melangkah lagi, dan melihat nama Wawan Samsul 2007-2017, Ningsih Hutiawati 2000-2017, lalu ada juga nama Khairul Imong 2013-2022, Abud Sabudin 2001-2016, Nisa Elun 2000-2002, dan Lelah Jamilah 2001-2015. Selebihnya adalah puluhan kuburan orang-orang tua yang wafat di kisaran usia 50 hingga 90-an tahun.
“Bagaimana, Pak, sudah ketemu kuburannya?” Kakek tua penjaga makam berteriak dari kejauhan sambil menyapu halaman.
“Belum,” katanya sambil menggelengkan kepala.
“Kapan dimakamkan?”
“Saya lupa, Pak, karena dalam beberapa tahun ini saya tak sempat menengok.”
Kakek tua penjaga makam mendekat, lalu tanyanya lagi, “Namanya siapa?”
“Dia cucu saya, masih sekitar lima tahun umurnya, tapi namanya… aduh, namanya siapa, ya?” katanya sambil menggaruk-garuk kepala.
Setelah selesai mencari di barisan keempat dan kelima, pinggangnya terasa sakit dan tak bisa diajak kompromi. Dia duduk di bangku terdekat sambil menggosok-gosokkan telapak tangannya.
“Bagaimana Bapak mau ziarah, sementara namanya saja enggak tahu,” seloroh kakek tua, seraya pergi sambil mengamit gagang sapu.
Pak Majid duduk dengan pandangan menerawang. Kembali ia mengingat mimpinya semalam. Ia terkenang wajah cucunya, teringat akan tawa dan candanya selama beberapa tahun terakhir. Ketika ia melakukan solat, kadang sang cucu mencandainya dengan menunggangi punggungnya di kala sujud. Kadang wajahnya begitu jelas, matanya, hidung dan bibirnya saat tertawa, namun adakalanya di saat ia melupakannya sama sekali. Tetapi, siapakah biasanya dia memanggil, Hasan… Jirin… Ocid… Saiful… Azhari… Eeng… Rauf… aduuh?
Nama-nama berterbangan di kepalanya, tetapi tak ada satu pun yang dianggap tepat. “Ya Allah… kenapa ingatan saya bisa tumpul begini….?”
Masih juga belum ketemu. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah lanjut mencari dan berharap bahwa namanya akan muncul kembali dalam pikirannya. Baris demi baris kembali ditelusurinya. Dia masih berharap akan menemukan sesuatu yang dapat mengembalikan ingatannya. Baginya, kali ini adalah lupa ingatan paling lama dialaminya. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Ia pun kembali duduk dan mengistirahatkan pinggangnya yang kelelahan.
Kini, nafasnya terasa berat. Berjalan dalam ketegangan untuk mengingat nama seorang cucu yang sangat dicintainya. Ia kembali menyusuri nama-nama pada baris ketujuh dan kedelapan, kemudian balik lagi ke baris ketujuh, lalu ia menemukan batu nisan yang tulisannya agak samar:
Inna lillah wa inna ilaihi rajiun
Haris Iskandar
Lahir: 19 Agustus 2004
Wafat: 12 Desember 2019
Tiba-tiba air matanya menetes sambil melangkah terhuyung-huyung. Ia memeluk batu nisan itu sambil menangis sesenggukan. “Haris… benar, itu namanya… Haris Iskandar!” pekiknya. “Kakek sudah menemukanmu, Cu… ya, ya, ini Kakek sudah ada di depanmu, Cucu….”
Pak Majid memeluk batu nisan itu erat-erat, mengelus-elusnya, dengan cara yang biasa dilakukannya ketika ia mengelus wajah sang cucu semasa hidup.
“Sayangku… Haris… Kakek sudah lama mencari-carimu, Cucu… dulu kamu sering membantu Kakek bermain puzle atau menumpuk-numpuk mainan sampai menjulang tinggi… tapi, kenapa tadi tidak memberitahu Kakek, Cu… kenapa diam saja…?”
Kembali ia menangis sesenggukan. Kini, semakin terasa tahun-tahun tanpanya begitu nelangsa dan kesepian. Dia kembali berdukacita kepada sang cucu yang telah meninggalkannya sekian lama. Dia melihat bidang tanahnya lagi. Di sana telah ditumbuhi rerumputan, dan lumut-lumut mulai merata dalam setiap cetakan tulisannya.
“Baiklah, Cu, Kakek mau merapikan kamu… Kakek mau merawatmu sekarang… sudah lama sekali Kakek tidak menjumpaimu di sini….”
Dia mengabaikan punggungnya, bahkan rasa sakit di persendiannya. Dia mulai berlutut dan membersihkan ilalang dan rerumputan yang meninggi. Dia bahkan rela membuka kaos dalamnya untuk menggosok dan membersihkan lumut-lumut yang menutupi huruf-huruf pada namanya.
Tak lama kemudian, ia teringat pada kakek penjaga makam yang sejak tadi memerhatikan dari kejauhan. Sambil berpegangan erat pada batu nisan, ia memaksakan diri berdiri. Kemudian, menyatakan diri pamit pada makam sang cucu: “Sekarang Kakek harus pergi dulu, Haris… cucuku… nanti besok Kakek mau ke sini lagi sambil membawa bunga-bunga segar, bersama batu nisan yang baru….”
Dia menyapukan jemarinya pada tulisan yang masih samar karena tertutup lumut hitam yang menebal. “Sampai ketemu lagi besok, ya, Haris… cucuku sayangku…”
Dia melangkah pelan melewati baris-baris kuburan menuju pintu gerbang. Setelah memberikan uang rokok pada penjaga makan, Pak Majid keluar pintu gerbang dan melangkah menyusuri jalan utama. Sesampainya di rumah, istrinya terheran-heran melihat suaminya yang seakan tergopoh-gopoh kelelahan, hingga tak menyempatkan sarapan pagi di rumah.
“Dari mana, Pak, kok enggak memberi kabar?” tanya sang istri.
“Semalam Bapak mimpi menggendong dan bercanda dengan Haris… cucu kita…”
“Lalu?”
“Bapak mencari-cari makamnya dan berziarah di sana. Meskipun batu nisannya kotor dipenuhi lumut, tapi Bapak masih bisa menemukannya. Karena itu, siang ini Bapak mau ke pasar untuk memesan batu nisan yang baru.”
Siang harinya, ketika Pak Majid memesan batu nisan yang diantar oleh sang istri. Pembuat batu nisan menyuruh si pemesan untuk menuliskan nama almarhum.
Pak Majid seketika menuliskan nama “Haris Iskandar” pada secarik kertas yang disodorkan.
“Lalu, lahirnya dan wafatnya tanggal berapa?”
“Adduh biyuuung… saya lupa…!!” (*)
Oleh: M. Muckhlisin
Penulis adalah Pengajar sastra milenial Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, juga peraih juara pertama lomba penulisan cerpen nasional yang diselenggarakan Harian Rakyat Sumbar. Tinggal di Kota Bogor, Jawa Barat







