Delapan hari terkurung longsor bukan hanya soal waktu—itu adalah delapan hari menunggu di antara hidup dan mati. Di Linge, Aceh Tengah, warga menatap rumah-rumah yang roboh seperti tubuh tanpa nyawa. Lumpur yang menggenang berubah menjadi cermin penderitaan: tubuh-tubuh lelah, perut kosong, anak-anak menangis tanpa air mata. Lalu terdengar kalimat yang seperti menebas nurani bangsa:
“Kalau tidak ada makanan, kirimkan kami kain kafan.”
Kalimat itu lahir bukan dari sikap mencari sensasi, melainkan dari kepasrahan seorang manusia yang tidak ingin mati, tetapi sudah terlalu lama menunggu untuk tetap hidup.
Bencana longsor menutup seluruh akses desa. Jalan raya runtuh, jembatan ambruk, sinyal komunikasi lenyap. Beras terakhir habis tiga hari lalu. Air bersih ditampung dari genangan hujan. Orang tua rela tidak makan agar anaknya dapat sesuap nasi. Ada ibu menyeduh air hangat untuk berpura-pura memberi “makan” bayi yang menangis. Keluarga menanak satu gelas beras untuk sepuluh mulut. Warga memungut umbi liar seolah sedang kembali ke zaman sebelum peradaban.
Di tengah penderitaan itu, negara terasa jauh. Bantuan datang seperti embun di tengah padang pasir—setetes, tidak cukup untuk siapa pun. Alat berat tersendat oleh birokrasi, distribusi logistik lambat oleh alasan teknis, dan koordinasi instansi lebih sibuk memastikan prosedur daripada memastikan orang tidak mati. Pada hari kelima, harapan berubah menjadi marah; pada hari kedelapan, kemarahan berubah menjadi pasrah. Itulah saat kata-kata “kirimkan kami kain kafan” dilontarkan: bukan karena ingin mati, tapi karena tidak ingin mati perlahan dalam kelaparan.
Di balik reruntuhan rumah, terdapat reruntuhan martabat. Ketika manusia memohon kain kafan kepada negara yang seharusnya melindunginya, sesungguhnya kita sedang menyaksikan tragedi moral, bukan hanya tragedi alam.
Kita tahu penyebab langsung bencana: hujan ekstrem, kondisi tanah labil, kemiringan lereng. Tetapi kita juga tahu penyebab tak langsung yang sering ditutupi: hutan yang dirambah, alih fungsi lahan, pembiaran berkepanjangan terhadap kerentanan wilayah. Data mitigasi bencana sudah ada bertahun-tahun, namun tidak menjadi prioritas sampai korban jatuh. Indonesia terlalu pandai menangisi bencana setelah terjadi, dan terlalu malas mencegahnya sebelum terjadi.
Namun di atas semua kritik itu, yang paling mendesak saat ini bukan saling menyalahkan, melainkan menyelamatkan hidup. Setiap jam keterlambatan bukan statistik—itu adalah satu anak kehilangan tenaga untuk menangis, satu ibu kehabisan akal untuk bertahan, satu lansia menunggu ajal dalam sunyi.
Humanisme bukan sekadar konsep. Ia diuji di Linge.
Tanggung jawab negara bukan sekadar kewajiban hukum. Ia diuji di Linge. Rasa kemanusiaan kita sebagai bangsa bukan sekadar semboyan. Ia ditikam di Linge.
Jika hari ini kita masih ragu mendahulukan evakuasi daripada urusan administratif, kalau kita masih sibuk menghitung logistik daripada menghitung napas terakhir warga yang kelaparan, maka tragedi Linge bukan bencana alam—melainkan kejahatan karena kelambanan.
Warga tidak meminta banyak. Mereka tidak meminta istana, tidak meminta uang, tidak meminta fasilitas. Mereka hanya ingin makan untuk tetap hidup.
Dan jika pun itu tidak bisa diberikan, mereka meminta hal paling sederhana namun paling menyayat: kirimkan kain kafan—sebab tubuh manusia yang tidak diberi makanan pada akhirnya hanya menunggu waktu untuk dibungkus kain itu.
Linge hari ini adalah pengingat bahwa sebuah bangsa bisa hancur bukan hanya oleh gempa bumi dan longsor, tetapi oleh lupa—lupa bahwa manusia harus diselamatkan terlebih dahulu sebelum segala yang lain.
Tim Redaksi







