Makan Baso Bersama Para Kiai

oleh -696 Dilihat
banner 468x60

“Kami makan baso bersama para kiai di rumah Ibu Aisah,” begitu kata Ibu Hani, “juga bersama dosen, pengusaha, sastrawan dan lain-lain.”

Hari itu Ibu Hani menjadi pasien saya. Sepertinya ia mengalami flu, demam, dan banyak ingus keluar dari hidungnya yang mancung. Kadang, ia mengeluh soal kepalanya yang pusing. Tetapi, sewaktu tes Covid-19 beberapa tahun lalu ia dinyatakan negatif, hingga Dokter Hasan hanya memberikan beberapa butir pil dan kapsul untuk pengobatan jangka pendek.

Sebagai dokter wanita, saya tak merasa keberatan mendapat tugas yang diamanatkan Dokter Hasan untuk menangani beberapa pasiennya. Saya hafal betul tentang ratusan komposisi obat-obatan paten, termasuk nama-nama farmasi yang memproduksinya. Saya telah mempelajari berbagai daftar obat-obatan terbaru, baik melalui buku maupun internet. Bahkan, beberapa obat paten untuk menangani pasien Covid-19 berikut varian-variannya, telah saya hafal di luar kepala.

“Sekarang buka kancing baju Ibu,” kata saya pelan.

Bu Hani terdiam kaku. Ia menatap mata saya erat-erat, lalu terkesiap kaget, “Maafkan saya, Dok, soalnya saya masih ingat kemarin siang makan baso bersama para kiai.”

“Oya?” kata saya tersenyum.

“Kok Bu Dokter ketawa? Dokter percaya enggak sama saya?”

“Iya deh percaya,” kata saya menenangkan Bu Hani. “Lalu, sama siapa lagi?”

“Sama pengusaha, sama sastrawan, sama dosen, intelektual…”

“Hahaha… ya sudah, sudag, saya percaya… sekarang Ibu Hani duduk, saya mau periksa dulu… sekarang buka kancingnya.”

Ibu Hani segera membuka kancing bajunya.

“Lho… lho… jangan dibuka semua, cukup kancing atasnya saja.”

Ibu Hani minta maaf. Untungnya saya termasuk dokter yang cukup sabar mendengar keluh kesah para pasien, termasuk mereka yang sakit karena persoalan-persoalan non-medis. Kadang hanya dengan mendengar keluhan, atau sedikit nasehat, seorang pasien dapat sembuh lebih cepat ketimbang bergantung pada obat-obatan.

“Jadi, kemarin Bu Hani habis makan baso bersama para kiai?”

“Kok Bu Dokter tertawa… berarti Bu Dokter enggak percaya?

“Oh iya, saya tertawa ya? Maafkan saya, Bu Hani.”

Saya memeriksa detak jantungnya. Sepertinya tidak ada masalah, iramanya stabil dan terdengar jelas melalui stetoskop.

“Sekarang buka mulut Bu Hani.” Ia membuka mulutnya sangat lebar, bau kurang sedap menguar dari rongga mulutnya. Hal itu sering saya temukan pada pasien sakit jiwa, yang biasanya malas untuk menggosok gigi.

Saya mengarahkan senter kecil ke dalam mulut, serta melihat satu gigi geraham yang agak berlubang. Lidahnya terlihat pucat dan mengerut. Sepertinya ada gejala tifus. Tetapi, diagnosa saya mengarah pada penyakit aneh yang terjadi belakangan ini, entah sejenis varian corona terbaru, atau boleh jadi belum ada kepastian dan kesepakatan soal nama jenis virusnya.

“Sekarang Bu Hani berbaring saja.”

Saya menekan bagian kiri perutnya. “Apakah Ibu merasa sakit di bagian ini?”

“Tidak, Dok,” jawabnya singkat.

Saya berpindah menekan bagian tengahnya, lalu naik sedikit dan menekannya agak keras. “Apakah Ibu merasa sakit?”

“Ya, sakit sekali, Dok.”

Barangkali perlu cek di laboratorium, tetapi saya pikir itu enggak perlu. Saya duduk dan berpikir keras dalam waktu yang cukup lama, apakah itu sejenis virus ataukah bakteri hingga membutuhkan antibiotik. Ah, saya kira enggak perlu juga. Sepertinya untuk kembali disuntik vaksin juga gak perlu.

Saya memeriksa beberapa daftar obat yang pernah diberikan Dokter Hasan untuk Bu Hani, lalu menulis ulang pada resep baru sambil menambah beberapa obat nafsu makan dan vitamin.

“Bu Hani, sekarang duduklah.”

“Ada apa, Dok?”

Mungkin perlu dijelaskan dulu di hadapan Ibu Hani, bahwa saya adalah dokter spesialis jantung lulusan fakultas kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), namun saya bekerja multifungsi sejak ditugaskan untuk berpraktek di rumah sakit. Padahal, rumah sakit ini termasuk salah satu kelas wahid di provinsi ini. Dan ketika saya manangani Bu Hani, banyak dokter yang baru pulang mudik sehabis lebaran. Hanya ada beberapa dokter yang bertugas, termasuk saya yang dengan tulus mendampingi pasien bersama dua orang bawahan Dokter Hasan di UGD.

Beberapa jam lagi saya akan melakukan operasi usus buntu, lalu setelah itu berkunjung ke bangsal TBC, belum lagi urusan pasien yang mengalami gangguan jiwa, kadang saya pun harus bertugas sebagai psikiater.

“Apa yang sedang Dokter tulis?” tiba-tiba Bu Hani bertanya.

“Ini resep obat untuk Ibu.”

“Apakah tidak perlu disuntik.”

“Saya kira tidak perlu.”

Kami terdiam sejenak, kemudian tanya saya memecah kesunyian, “Oya, ngomong-ngomong, Ibu belum melanjutkan cerita tentang makan baso bersama para kiai tadi.”

“Itu kemarin siang, Dok. Banyak kiai yang makan baso di rumah Ibu Aisah…”

“Ibu Aisah yang pengusaha itu?”

“Ya, betul sekali, Dok.”

“Lalu, dengan siapa lagi tadi?”

“Dengan dosen, intelektual, sastrawan, wartawan…”

“Haha… banyak juga ya? Wartawan dan penulis juga ikut?”

“Iya, Dok.”

“Nah, sekarang saya mau bukti… kalau benar-benar ada wartawan, coba tunjukkan beritanya, di koran apa kalau Bu Hani benar-benar makan baso bersama para kiai, sastrawan dan penulis segala?”

“Waduh, saya enggak punya dokumennya, Bu Dokter.”

“Nah, sekarang Bu Hani mengaku saja, bahwa Ibu tidak punya beritanya. Jadi, siapa yang salah, saya atau Bu Hani?”

“Iya, Dok, maafkan saya kalau ada kesalahan.”

Saya pun menyodorkan resep obat pada Bu Hani. Ia membaca resep itu lama sekali. Kemudian, saya pun menegunya, “Ibu berikan saja pada orang di apotik itu, lalu ambil obatnya.”

“Baik, Dok.”

Bu Hani berjalan ke luar ruangan, lalu sambung saya lagi, “Semoga cepat sembuh, ya Bu.”

“Iya, terima kasih, Dok.”

Bagi saya, Bu Hani ini termasuk pasien spesial. Dan untuk menangani pasien khusus seperti dia, saya cukup berhati-hati untuk mengikuti segala prosedur, serta berusaha bersikap ramah kepadanya.

Tetapi, untuk mempercayai omongan bahwa dia makan baso bersama para kiai dan ulama, tentu akan saya bantah. Sambil bicara tegas kepadanya, bahwa Bu Hani jangan lagi banyak mengkhayal dan berpikir yang macem-macem. Atau barangkali, obsesinya untuk ketemu para Kiai dan Ibu Nyai, termasuk salah satu gejala yang membuatnya sakit.

Dua hari berikutnya, Dokter Hasan datang dan membuka pintu. Sebagai asistennya, saya menghormati Dokter Hasan karena ia begitu disegani dan termasuk salah satu dokter yang cakap dan cerdas di Rumah Sakit. Saya banyak belajar darinya dalam hal menganalisa penyakit dan memberikan terapi untuk para pasien.

“Jadi, pengobatan untuk Bu Hani sudah selesai?”

“Sudah beres, Dok, saya akan menangani pasien yang mengalami usus buntu dan TBC.”

“Kamu sibuk sekali minggu-minggu ini, ya?”

“Begitulah, Dok. Tapi mengenai gejala terakhir yang dialami Bu Hani, sepertinya dia banyak menghayal atau mengalami halusinasi, bahwa akhir-akhir ini dia merasa makan baso bersama para Kiai dan Bu Nyai.”

“Siapa yang memberi kabar bahwa dia makan baso bersama para kiai di kediaman Ibu Aisah.”

“Lho? Kok Pak Dokter tahu?”

Dokter Hasan merogoh kantong bajunya mengambil ponsel, seraya menunjukkan gambar para kiai yang sedang menyantap baso di rumah Ibu Aisah dalam rangka acara Reuni dan Halal Bihalal di daerah Rawa Buntu. Tampak pada foto yang terpampang di halaman muka, bahwa Dokter Hasan sedang mendampingi Kiai Muhajirin, Kiai Eeng Nurhaeni, Bu Nyai Hijriana, Bu Nyai Khairunnisa dan lain-lain. Di belakang mereka juga tampak para alumni Darqo 89 yang terdiri dari para pengusaha, sastrawan, intelektual, dosen dan para akademisi.

Salah satu gambar foto yang ditunjukkan, tampak pula Ibu Hani didampingi Dokter Hasan, sedang menyantap baso bersama para kiai dan pengusaha yang memberikan santunan untuk para pasien rumah sakit.

Segera saya menghempaskan punggung di tempat duduk, sambil berpikir keras, apakah yang mengalami halusinasi adalah Ibu Hani, ataukah justru saya sendiri? (*)

Oleh Indah Noviariesta

Penulis adalah Penggiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), peraih nominasi penulisan cerpen terbaik nasional (2021), juga pemenang lomba cerpen Cagar Budaya Nasional

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.