Lelaki di Kedai Kopi

oleh -1453 Dilihat
banner 468x60

Laki-laki itu selalu saja menempati posisi yang sama tiapkali duduk di kedai kopi. Ada dua bangku memanjang di kedai kopi itu, dan ia duduk di ujung bangku sebelah kiri yang hampir mendekati pintu ke arah dapur. Selalu saja di situ, kecuali kalau di tempat itu sudah ada yang menempati.

Udin masih ingat kali pertama laki-laki itu berkunjung ke situ. Penampilannya langsung menarik perhatian. Kepala bagian depannya botak, tubuhnya ceking, tulang bahunya agak menonjol, dan sorotan matanya cukup tajam. Laki-laki itu sekitar 35 atau 40-an tahun.

Dia mengenakan jaket hitam, walaupun saat itu tidak ada hujan turun. Semula Udin menganggap dia seorang jawara atau pendekar yang melatih olahraga pencak silat, tapi sepertinya dia tak pernah membawa anak buah atau seorang murid ke kedai kopi itu. Selalu saja sendirian, menenteng sebuah map berisi berkas-berkas yang selalu diteliti dan dibacanya di bangku pojok, kadang sampai berjam-jam.

Waktu itu pukul 20.30, pada suatu malam yang dingin di bulan Februari, dan tak ada seorang pun yang berkunjung ke kedai kopi. Laki-laki itu menanggalkan jaketnya, memesan mie rebus ditambah telor, kemudian minta diseduhkan kopi pahit. Ia membuka mapnya pelan-pelan kemudian membaca berkas-berkas di dalamnya.

Setengah jam kemudian, ia menyantap mie yang sudah menghangat, dan dalam waktu singkat makanan itu habis, lalu dihirupnya kopi pahit hingga habis pula.

Laki-laki itu membaca lagi selama setengah jam, kemudian berdiri dan membayar dengan uang pas, tanpa kembalian. Udin merasa lega dan menghela napas setelah laki-laki itu berada di luar pintu. Tapi setelah laki-laki itu pergi, aura kehadirannya masih terasa.

Selagi Udin berdiri di belakang meja, dia sesekali melirik bangku yang tadi ditempati laki-laki misterius itu, setengah berharap dia masih duduk di sana, mengangkat tangan kanannya untuk memesan sesuatu.

Laki-laki itu mulai datang ke kedai kopi secara rutin. Sekali, dua kali, atau paling banyak tiga kali dalam seminggu. Kalau dia tidak menyantap mie rebus, kadang menikmati hidangan gorengan yang terhampar di atas meja.

Di situ ada bakwan, tahu isi, pisang goreng, combro, misro, hingga kue taripang (yang orang Banten bilang ‘kontol sapi’). Dia menikmati kue-kue itu, kadang mencocolnya dengan sambal kacang pada mangkuk yang tersedia.

Setelah menghirup kopi, ia kembali membaca-baca berkas sambil menghisap beberapa batang rokok. Ia nyaris tak pernah mengucapkan sepatah katapun. Dan kalaupun bicara hanya seperlunya saja.

Walaupun begitu, Udin semakin terbiasa dengan kehadiran laki-laki itu. Dia tidak pernah merasa tidak nyaman berada di dekatnya, bahkan ketika di kedai kopi hanya ada mereka berdua. Udin sendiri tidak pernah menyapanya, dan tidak pernah merasa kesulitan untuk tetap membisu di dekatnya.

Sementara laki-laki itu membaca, Udin melakukan hal yang biasanya dia kerjakan ketika sendirian, seperti mencuci gelas, piring dan mangkuk, menyiapkan saus, kecap dan sambal, atau memilih acara kesukaannya pada channel TV yang terpasang di langit-langit pojok kedai kopi.
Udin tidak tahu nama laki-laki itu.

Dia hanya pelanggan tetap yang datang menikmati kopi panas, mie rebus atau gorengan, membaca dalam diam, membayar tunai, kemudian pergi begitu saja. Dia tak pernah mengganggu orang lain. Hanya itu yang dia ketahui. Tidak kurang tidak lebih. Dan dia juga seakan tak mau tahu lebih banyak.


Sewaktu SMA dulu, Udin termasuk pemain bulutangkis yang menonjol di sekolahnya. Tetapi kaki kirinya pernah terkilir ketika ia jatuh dari pohon jambu di kebun orang tuanya. Setelah dibawa ke tukang urut di kampungnya, ia kembali bermain bulutangkis tapi tidak menonjol lagi, dan semakin tersalip dengan pemain-pemain muda berbakat lainnya.

Setelah lulus kuliah, atas rekomendasi pelatih bulutangkis, dia mendapat pekerjaan di perusahaan pembuat alat-alat olahraga, dan bertahan di sana selama empatbelas tahun. Di tempat kerjanya, ia bertanggung jawab membujuk toko-toko olahraga untuk menyetok sepatu bagi para atlet bulutangkis. Walaupun tidak semegah Adidas atau Nike, perusahaan itu juga membuat sepatu-sepatu bermutu untuk para atlet lokal dan nasional, dan beberapa di antara mereka sangat menyukai hasil produk perusahaan itu.

“Bekerjalah dengan jujur, karena setiap orang akan mendapatkan ganjaran dari kejujurannya.” Slogan ini barangkali agak aneh bagi sebagian pebisnis. Tapi pemilik perusahaan tetap percaya pada pernyataan itu. Dengan pendekatan kalem dan santun, bahkan di tangan laki-laki pendiam dan tak mampu bersosialisasi seperti Udin, seseorang masih bisa melakukan penjualan di era hiper modern ini.

Pemilik perusahaan menyimak dengan seksama kebutuhan setiap atlet bulutangkis, kemudian memastikan kepala produksi memahami detail-detailnya. Meskipun gajinya tidak seberapa, tapi Udin merasa pekerjaannya menarik dan memuaskan. Walaupun dia tidak bermain bulutangkis layaknya para pemain top dan handal, tapi senang sekali dia menyaksikan para pemain muda bertanding di lapangan. Dan seringkali dia menyempatkan waktu untuk bermain bersama pemain-pemain bulutangkis terkenal.

Suatu hari, Udin memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja. Hal itu bukan lantaran ia merasa kurang puas dengan pekerjaannya, tapi karena dia memergoki istrinya selingkuh dengan salah satu manajer di perusahaan tersebut. Udin biasanya menghabiskan waktu lebih banyak di jalanan ketimbang di rumahnya di daerah Tangerang Selatan. Dia sering menjejali tas ranselnya dengan sampel sepatu sampai penuh, kemudian berkeliling ke toko-toko olahraga di seantero Tangerang, Serang hingga Kota Cilegon. Dia juga mengunjungi kolega setempat serta perusahaan-perusahaan yang mensponsori tim bulutangkis lokal dan nasional.

Sang istri dan manajer perusahaannya mulai tidur bersama selagi Udin pergi. Ia bukanlah tipe suami yang mudah menangkap pertanda. Dia pikir pernikahannya baik-baik saja, dan nyaris tidak ada perkataan atau perlakuan istrinya yang menyudutkannya ke keadaan sebaliknya. Kalau saja bukan karena dia kebetulan pulang ke rumah lebih awal setelah perjalanan bisnisnya, Udin mungkin tak pernah tahu apa yang terjadi.
Sekembalinya dari Kota Cilegon hari itu, dia langsung menuju rumahnya, hanya untuk mendapati istri dan manajernya telanjang di depan pintu kamar, kemudian sang manajer bergegas mengenakan pakaian dan melompat dari jendela samping. Posisi istrinya masih telanjang di atas ranjang. Ia berusia 39 tahun, dan Udin sendiri sekitar 42-an. Mereka tidak punya anak setelah duabelas tahun menjalani pernikahan.

Saat itu, Udin hanya bisa menunduk, menutup pintu kamar, meninggalkan rumah dan tidak pernah kembali lagi ke sana. Beberapa hari kemudian, dia menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya bekerja.


Udin punya bibi yang tidak menikah, kakak perempuan ibunya. Waktu Udin kecil, bibinya selalu baik kepadanya. Bibinya dulu punya pacar yang lebih tua selama beberapa tahun, dan pacarnya itu dengan murah hati memberinya sebuah ruko sederhana di daerah Pasar Kamis Tangerang.

Dia tinggal di lantai dua dan menjalankan kedai kopi di lantai pertama ruko itu. Di depannya ada taman kecil dan pohon sawo besar dengan daun-daunnya yang lebat. Ruko itu terletak di samping jalan yang agak sempit, tentu bukan tempat terbaik untuk menarik pengunjung. Tapi bibinya itu punya bakat menarik orang, dan kedai kopinya menjadi bisnis yang mendatangkan keuntungan lumayan.
Setelah bibinya berusia enam puluh lebih, dia menderita sakit pinggang sehingga lebih sulit baginya mengelola kedai itu sendirian. Dia memutuskan pindah ke rumah penampungan bagi para wanita lansia di Kota Tangerang. “Saya pengen tahu, apakah kamu mau mengambil alih kedai kopi milik Bibi, dengan ganti rugi yang sangat murah dari harga ruko di sekitar itu.”

Percakapan itu terjadi dua bulan sebelum Udin mengetahui perselingkuhan istrinya. “Terimakasih, Bi. Saya sangat menghargai tawaran murah itu, tapi sekarang saya masih senang bekerja di sini.”
Kemudian, setelah mengajukan pengunduran diri, Udin menelepon bibinya untuk bertanya apakah dia sudah menjual kedainya. Dia sudah memasang iklan di beberapa suratkabar, katanya kepada Udin, tapi belum ada penawaran serius. “Kalau begitu, baiklah saya akan ambil-alih ruko itu, tapi saya akan membayar Bibi dalam bentuk sewa bulanan, bagaimana?”
“Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya bibinya.

“Saya sudah keluar dari pekerjaan.”
“Kenapa keluar, nanti istrimu keberatan?”
“Dalam waktu singkat, mungkin kami akan bercerai.”

Sama sekali Udin tidak menjelaskan alasannya. Bibinya juga tak merasa perlu bertanya-tanya lebih jauh. Sejenak ada keheningan di ujung telepon. Lalu, si bibi menyebutkan biaya sewa bulanannya, yang jauh lebih rendah daripada perkiraan Udin. “Baiklah Bi, saya kira saya akan sanggup membayarnya,” kata Udin lagi.
Dia dan bibinya tidak pernah bercakap-cakap sebanyak itu, dan si bibi paham betul perangai Udin yang memang bukan tipikal orang yang ingkar janji. Udin menggunakan tabungannya untuk memoles kedai kopi itu. Dia membeli perabot sederhana dan memasang meja panjang yang lebih kokoh. Dia memasang pelapis dinding baru berwarna kalem, membawa koleksi rekamannya dari rumah, dan menderetkan beberapa jenis kopi di etalase kaca.

Dia punya stereo yang cukup bagus, kaset-kaset CD dari lagu Koes Plus, Ebiet G. Ade, hingga Doel Sumbang. Ia juga senang mendengar lagu-lagu cinta gubahan Iwan Fals, suatu hobi tidak jarang dimiliki teman-teman yang dia kenal juga.

Dia menamakan tempat usahanya “Kedai Kopi Udin”, karena tak bisa menemukan nama yang lebih menarik dari itu. Minggu pertama dia membuka kedainya, dan hanya ada dua orang pengunjung. Lagi pula, dia memang belum mengiklankan tempat itu, juga tidak memasang plang yang mencolok mata. Dengan sabar, dia menunggu orang yang penasaran untuk menemukan kedai kopi di jalan yang terasing itu.

Dia masih punya sebagian pesangonnya, dan istrinya tidak meminta sokongan finansial sedikit pun. Istrinya sekarang tinggal dengan mantan manajernya. Dia dan Udin memutuskan untuk menjual rumah mereka di Tangerang Selatan. Udin tinggal di lantai dua ruko miliknya. Selagi menunggu pengunjung kedai, Udin senang membaca buku yang ingin dia baca, juga mendengar musik dengan tema yang sesuai dengan suasana hatinya. Bagaikan tanah gersang menyambut hujan, dia membiarkan kesunyian, keheningan, dan kesendirian meresap ke dalam dirinya.

Dia tidak yakin kenapa, tapi dia tidak merasa marah atau getir terhadap istrinya, atau terhadap manajernya yang tidur dengan perempuan itu. Pengkhianatan itu mengejutkan, tentu saja, tapi seiring berjalannya waktu dia mulai merasa seakan hal itu memang tidak terhindarkan, seakan memang sudah takdirnya. Sepanjang hidupnya, bagaimanapun, dia memang tidak memiliki prestasi yang dibanggakan. Dan dia sendiri menyadari kemampuan dirinya yang kurang produktif. Dia tidak bisa membahagiakan orang lain, dan tentu saja, kurang bisa membahagiakan dirinya sendiri.

Kebahagiaan hidup? Ah, dia bahkan tidak yakin apa artinya itu. Dia tidak punya pikiran jernih, tak bisa membedakan gejolak emosi, seperti kesedihan atau kemarahan, kekecewaan atau kepasrahan, dan bagaimana rasanya semua itu. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menciptakan tempat di mana hatinya bisa ditambatkan. Untuk menjaga suasana hatinya agar tidak berkeliaran tanpa tujuan. Kedai kopi itu, Udin, yang terselip di jalan sempit, menjadi tempatnya bernaung. Dan anehnya, ini juga yang menjadi tempat nyaman baginya.


Yang merasakan betapa nyamannya tempat itu bukan hanya Udin, tetapi juga kucing jalanan. Seekor kucing betina berwarna kuning kehijauan, dengan ekornya yang panjang dan cantik. Kucing itu menyukai etalase kaca yang terabaikan di pojokan dan senang bergelung di sekitar itu. Dia tidak terlampau menghiraukan, malah berpikir bahwa kucing itu sepertinya senang dibiarkan sendirian di tempat itu. Sekali setiap hari, Udin memberinya makan dan mengganti airnya, tapi tidak pernah lebih dari itu. Kemudian dia membuat pintu kecil sehingga kucing itu bisa keluar-masuk kedai sesuka hatinya.

Dari sudut pandang lain, mungkin saja kucing itu membawa keberuntungan, karena setelah binatang itu muncul, beberapa pengunjung mulai berdatangan. Sebagian dari mereka mulai datang secara rutin. Orang-orang yang menyukai kedai kopi di jalan sempit dengan pohon sawo tua yang mengesankan, pemilik setengah baya, rekaman tua disetel di pemutar CD, dan kucing cantik yang tidur di pojokan.

Meskipun masih jauh dari berkembang pesat, tapi kedai kopi itu setidaknya menghasilkan cukup uang untuk membawar sewa tempat. Bagi Udin, itu sudah lumayan.

Laki-laki dengan kepala bagian depan yang botak itu mulai datang ke kedai kopi sekitar tiga bulan setelah tempat itu dibuka. Dan butuh waktu tiga bulan juga sampai akhirnya Udin tahu namanya: Tohari.

Waktu itu turun hujan rintik-rintik, suatu jenis hujan yang membuat kita kurang yakin apakah membutuhkan payung atau tidak. Saat itu hanya ada tiga orang pengunjung, Tohari dan dua laki-laki mengenakan kaos suatu partai politik. Jam menunjukkan delapan malam, kurang seperempat.

Seperti biasa, Tohari menempati bangku paling ujung di meja kedai, minum segelas kopi sambil makan cemilan yang tergantung di samping etalese. Kedua laki-laki itu memesan dua gelas kopi dan dua mangkuk mie rebus. Sambil menunggu hidangan disediakan, kedua laki-laki itu terus saja merokok.

Awalnya, kedua laki-laki itu tampak bercengkerama dengan akrab, menikmati mie dan kopi, tapi kemudian muncul perbedaan pendapat mengenai suatu topik tentang politik Indonesia. Kata-kata mereka semakin berapi-api. Sampai pada titik tertentu, seorang di antaranya bangkit, memukul meja hingga membuat asbak penuh abu dan salah satu gelas kopinya jatuh ke lantai. Udin bergegas datang membawa sapu, menyapu kekacauan itu, kemudian meletakkan gelas bersih dan asbak di atas meja.

Tohari jelas-jelas jengkel dengan perilaku kedua laki-laki itu. Raut wajahnya tidak berubah, tapi dia terus mengetuk-ngetukkan jemari tangannya dengan pelan ke atas meja, seperti pianis yang sedang mengecek kunci. Wah, saya harus mengendalikan situasi ini, pikir Udin. Dia menghampiri kedua laki-laki itu, dan tegurnya sopan, “Maaf, sebagai pendukung salah satu partai politik, sebaiknya bapak-bapak bicara agak pelan.”

Salah seorang dari mereka mendongak memandangnya dengan tatapan dingin, kemudian bangkit dari meja. Udin sebelumnya tidak menyadari, tapi badan laki-laki itu sangat besar. Laki-laki itu tidak begitu tinggi dan berdada bidang, dengan lengan besar, jenis postur yang biasa kita lihat dalam pertandingan tinju.

Laki-laki yang satunya jauh lebih kecil, kurus dan pucat, dengan penampilan licik, jenis yang pandai menghasut-hasut orang lain. Dia juga perlahan-lahan bangkit dari kursinya, dan Udin mendapati dirinya berhadapan dengan keduanya. Mereka nampaknya sepakat memanfaatkan kesempatan ini untuk mengakhiri pertengkaran dan bergabung menghadapi Udin. Keduanya benar-benar selaras, nyaris tampak seakan mereka memang diam-diam menunggu munculnya momentum semacam ini.

“Berani juga rupanya kau menganggu kami, ya?” kata orang yang berbadan lebih besar, suaranya terdengar keras dan lirih. Udin mempersiapkan diri untuk menghadapi hal buruk yang mungkin terjadi. Keringat mulai muncul di keningnya.

“Maaf,” ujar suara lainnya.

Udin berbalik dan mendapati Tohari berdiri di belakangnya.

“Jangan menyalahkan pedagangnya,” kata Tohari membela Udin. “Sebab, sayalah yang menyuruh dia supaya jangan berisik. Itu membuat saya sulit konsentrasi untuk membaca catatan-catatan saya.”

Suara Tohari terdengar lebih tenang, lebih lesu daripada biasanya. Tapi ada sesuatu, yang tak terlihat mulai bergolak.

“Tidak bisa membaca catatan?” ulang laki-laki bertubuh kecil dengan nada sinis. “Kenapa? Emangnya kamu nggak punya rumah?”

“Punya,” jawab Tohari. “Rumah saya di sekitar sini.”

“Lalu, kenapa nggak dibawa pulang saja catatanmu itu?” kata laki-laki berbadan besar.

“Saya suka membacanya di tempat ini.”
Kedua laki-laki itu bertukar pandang. Kemudian kata salah satunya, “Coba lihat, catatanmu itu… biar saya yang bacakan…”
“Saya suka membaca sendiri dalam suasana tenang. Dan saya merasa jengkel kalau ada orang yang salah membacakannya.”

“Wah, kamu ini benar-benar hebat,” ujar laki-laki berbadan besar. “Kamu ini benar-benar pemberani.”

“Siapa namamu?” kata si pendek.
“Tohari,” jawabnya singkat.

“Saya akan ingat nama itu,” ancam si badan besar.

“Mudah-mudahan ingatan kamu bagus, dan tidak pikun.”

“Hehe, berani juga kau, ya?” kata si badan kecil, “Bagaimana kalau kita keluar sekarang. Di luar kita akan bebas bicara apa saja yang perlu kita bicarakan.”
“Ayo kita keluar,” ujar Tohari. “Di mana kalian mau, saya selalu siap. Tapi sebelumnya, kalian harus bayar dulu apa-apa yang sudah kalian makan.”

Tohari meminta Udin memberikan tagihan mereka. Si pendek mengeluarkan uang kertas seratus ribu dari dompetnya kemudian melemparkannya ke meja. “Saya tidak butuh kembalian,” ujarnya kepada Udin.

“Dan kamu laki-laki yang bijaksana,” ujar si badan besar kepada Tohari, “Sepertinya kamu berlagak sebagai pahlawan di sini.”
“Setiap orang punya harga diri, bukan soal pahlawan atau bukan.”

“Kali ini, kamu akan menggadaikan harga dirimu begitu murah,” kata si badan pendek. Dia menjilat bibirnya perlahan, seperti ular yang sedang mengincar mangsanya.

Laki-laki berbadan besar membuka pintu kemudian melangkah ke luar, diikuti si pendek di belakangnya. Karena mungkin merasakan ketegangan yang ada, kucing itu, meskipun saat itu sedang turun hujan, meloncat keluar kedai kopi.

Dengan rasa khawatir, Udin berbisik pada Tohari, “Bapak serius, mau keluar?”
“Tenang saja. Kamu tak usah khawatir. Diam saja di sini. Semuanya akan selesai dan baik-baik saja.”

Tohari beranjak ke luar dan menutup pintu. Saat itu masih hujan, sedikit lebih lebat daripada sebelumnya. Udin duduk di bangku dan menunggu. Anehnya, keadaan di luar hening, dan dia tidak bisa mendengar suara apapun. Buku catatan Tohari terbuka di atas meja, bersama kopi yang tinggal setengah gelas. Sekitar seperempat jam kemudian, pintu terbuka, kemudian masuklah Tohari seorang diri.
“Ada handuk nggak? Saya pinjam handuk sebentar.”
Udin menyerahkan handuk bersih kepadanya. Tohari menyeka kepala, leher, wajah, kemudian kedua tangannya.
“Terima kasih. Semua sudah beres sekarang,” ujarnya sambil mengembalikan handuk. “Kedua orang itu nggak bakal ada di sini lagi.”

“Bapak apakan mereka?”

Tohari semata menggeleng, seakan mengatakan, “Kamu nggak usah tahu.” Dia kembali ke tempat duduknya, menenggak kopinya, meneruskan membaca buku catatannya.

Belakangan pada malam itu, setelah Tohari pergi, Udin keluar dan berkeliling lingkungan perumahan. Jalanan tampak lengang dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda perkelahian, tidak ada jejak darah. Dia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi. Dia kembali ke kedai menunggu pengunjung lain, tapi tidak ada lagi yang datang malam itu. Kucingnya juga tidak kembali lagi.


Sekitar seminggu setelah insiden itu, Udin tidur dengan seorang pengunjung perempuan. Dia adalah perempuan pertama yang berhubungan seks dengannya sejak Udin meninggalkan isterinya. Perempuan itu berumur tiga puluh, atau mungkin sedikit lebih tua. Udin tidak yakin apakah perempuan itu tergolong cantik, tapi ada sesuatu yang unik dalam dirinya, sesuatu yang menarik perhatian.

Perempuan itu pernah mengunjungi kedai kopi beberapa kali, selalu ditemani laki-laki sepantarannya yang mengenakan kacamata berbingkai hitam dan berjenggot agak panjang. Laki-laki itu berambut kusut seakan tak pernah disisir, jadi Udin mengira dia mungkin bukan tipe pekerja kantoran. Perempuan itu selalu mengenakan gaun ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Mereka duduk-duduk di bangku dekat pintu masuk, memesan mie dan makan gorengan, kemudian minum es teh manis sambil ngobrol-ngobrol sejenak, lalu pergi lagi.

Keduanya menunjukkan ekspresi yang agak aneh. Terutama si perempuan yang kelihatannya tak pernah tersenyum. Kadang perempuan itu mengajak Udin bercakap, selalu tentang musik yang sedang diputar. Perempuan itu suka musik Ebiet G. Ade. “Bapak saya suka sekali musik ini,” kata si perempuan kepada Udin, “Kalau mendengar lagu ini, mengingatkan saya sewaktu masih kecil.”

Dari nada bicaranya, Udin tidak mengerti apakah ingatan itu tentang musiknya atau tentang bapak si perempuan itu. Tapi dia tidak berani bertanya.

Udin sebenarnya berusaha agar tidak terlalu banyak terlibat dengan perempuan itu. Laki-laki yang bersamanya kentara sekali tampak tidak senang saat Udin bersikap ramah kepada perempuan itu. Suatu kali dia dan perempuan itu mengobrol panjang, membahas sebuah lirik lagu yang sedang didengar melalui salon di sudut kedai. Laki-laki itu terus memandang Udin dengan tatapan dingin dan penuh curiga.

Udin biasanya berhati-hati menjaga jarak dengan segala jenis kerumitan. Tidak ada yang lebih buruk ketimbang kecemburuan dan harga diri, dan Udin sudah punya cukup pengalaman karena satu atau lain hal. Terpikir olehnya waktu itu, bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang memunculkan sisi gelap orang lain.

Walaupun begitu, malam itu, si perempuan datang ke kedai kopi seorang diri. Tidak ada pengunjung lain, dan saat dia membuka pintu, udara dingin menyusup masuk. Perempuan itu duduk menghadap meja, dan menyuruh Udin memutar lagu “Titip Rindu Buat Ayah”. Mereka berdua mendengarkan dalam diam. Setelah lagu selesai, dia berkata, “Coba tolong diputar sekali lagi.“ Dan Udin melakukan seperti yang perempuan itu minta.

Tadinya, Udin pikir perempuan itu sedang menunggu teman laki-lakinya yang berjenggot, tapi dia tidak melirik ke jam dinding sekalipun. Dia hanya duduk-duduk di sana, mendengar musik, tenggelam dalam pikirannya sambil merokok dan menghirup kopi.

“Teman kamu tidak ke sini hari ini?” Udin memutuskan bertanya karena sudah mendekati jam tutup kedai.

“Dia tidak datang. Dia sedang bertugas ke daerah Sumatera,” ujar perempuan itu. Dia bangkit dari bangkunya dan melenggang ke tempat si kucing tidur. Dia mengelus punggung kucing itu dengan lembut menggunakan ujung jemarinya. Kucing itu, tak merasa terganggu, terus saja tidur.
“Sepertinya kami tidak akan saling ketemu lagi,” ujar perempuan itu.

Udin tidak tahu bagaimana menanggapinya, karena itu dia diam saja, dan melanjutkan beres-beres di belakang meja.

“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya,” kata perempuan itu. “Hubungan kami bisa dibilang… tidak sewajarnya…”

“Tidak sewajarnya bagaimana?” Udin mengulang ucapan perempuan itu, tanpa benar-benar memikirkan artinya.

Perempuan itu meneguk habis sedikit kopi yang masih tersisa di gelasnya. “Saya pengen menunjukkan sesuatu pada kamu, Din,” katanya berbisik.

Perempuan itu melepas baju atasannya dan menaruhnya di bangku. Udin segera memutuskan untuk menutup kedainya. Dia menutup pintu dan tirai jendela dari dalam. Setelah menunggu sebentar, kedua tangan perempuan itu meraih ke balik punggung dan membuka ritsleting rok terusannya. Dia memutar punggungnya pelan-pelan menghadap Udin. Tepat di bawah pengait bra, Udin melihat totol-totol luka berwarna kelabu pudar, seperti memar-memar. Perempuan itu tidak berkata apa-apa, hanya memperlihatkan punggungnya kepada Udin. Layaknya orang yang tidak bisa memahami makna pertanyaan yang dia ajukan, Udin hanya memandangi bekas luka itu. Akhirnya, perempuan itu menutup ritsleting dan berbalik menghadapnya. Dia mengenakan atasannya kembali, dan merapikan rambutnya.

“Itu luka sundutan rokok,” kata perempuan itu enteng.

Udin kehilangan kata-kata. Tapi dia harus mengatakan sesuatu. “Siapa yang melakukan itu?” tanyanya, suaranya terdengar parau.

Perempuan itu tidak menjawab, dan Udin menyadari bahwa dirinya tak mengharapkan jawaban. “Ada banyak luka-luka seperti itu di bagian tubuh lain,” jawab perempuan itu pada akhirnya, suaranya tanpa ekspresi. “Terutama di bagian tubuh yang paling vital… dan saya nggak mau memperlihatkan itu….”

Sejak awal, memang Udin merasa bahwa ada sesuatu yang agak lain pada perempuan ini. Sesuatu yang memicu respons instingtif, seolah memperingatkan Udin agar tidak terlibat dengan perempuan itu. Pada dasarnya dia orang yang waspada. Kalau dia memang sangat perlu tidur dengan perempuan, dia selalu bisa melakukannya dengan pekerja profesional. Dan semua ini bukan pula karena dia tertarik pada perempuan itu.

Namun malam itu, si perempuan sangat menginginkan seorang laki-laki untuk bercinta dengannya, dan tampaknya Udin-lah laki-laki itu. Mata perempuan itu tampak dangkal, pupilnya melebar dengan aneh, tapi ada semacam kilatan tegas di sana yang tak akan memperbolehkannya mundur. Udin tidak punya kekuatan untuk menolak.

Setelah Udin mengunci pintu kedainya, mereka berdua beranjak ke lantai atas. Di kamar, perempuan itu segera menanggalkan rok terusannya, melepaskan baju dalamnya, kemudian menunjuki Udin bagian tubuh yang agak sulit dia perlihatkan. Awalnya, Udin tidak tahan untuk tidak mengalihkan pandangan, tapi kemudian dia seakan kembali ditarik untuk menatapnya.

Dia tidak mengerti, bukan berarti dia ingin mengerti, pikiran laki-laki yang tega melakukan hal kejam semacam itu, atau perempuan yang bersedia menanggungnya. Itu perbuatan keji yang seolah diperbuat oleh makhluk dari planet lain yang gersang, dan berjarak jutaan tahun cahaya dari tempat Udin tinggal.

Perempuan itu meraih tangan Udin dan mengarahkannya ke luka itu, membuat Udin menyentuhnya satu persatu secara bergantian. Ada luka di payudaranya, dan di sebelah vaginanya. Udin menyusuri bekas luka yang gelap dan keras itu, seakan dia sedang menggunakan pensil untuk menyambungkan titik-titiknya. Bekas luka itu tampak membentuk sebuah wujud yang mengingatkan Udin pada sesuatu, tapi dia kurang yakin bentuk apa itu.

Saat itu juga, mereka bercinta di atas lantai beralaskan kasur busa dan berguling-guling di atas karpet merah. Tanpa bertukar kata, tanpa pemanasan, bahkan tidak ada waktu untuk mematikan lampu atau menutup tirai jendela. Di bawah sorotan lampu, bagaikan dua binatang kelaparan, mereka melahap daging yang mereka idam-idamkan. Ketika fajar tampak menyingsing di luar, mereka merayap ke atas kasur kemudian terlelap, seakan terseret ke dalam kegelapan.

Udin terbangun tepat sebelum tengah hari, dan perempuan itu sudah pergi. Dia merasa seakan baru saja mendapat mimpi yang sangat realistis, tapi tentu saja itu bukan mimpi. Beberapa helai rambut hitam panjang melingkar di atas bantalnya, dan seprainya menguarkan aroma kuat yang belum pernah dia cium sebelumnya.

Perempuan itu datang ke kedai kopi beberapa kali setelah itu, selalu ditemani si laki-laki berjenggot. Mereka akan duduk di meja, bercakap dalam suara tertahan sambil merokok dan menghirup kopi yang disediakan Udin. Nampak pada wajahnya, seakan-akan perempuan itu tidak ingat apa yang terjadi pada mereka di malam itu. Tapi tetap saja, Udin bisa menangkap kilatan nafsu di mata perempuan itu. Dan kilatan itu membuat Udin kembali mengingat semuanya dengan jelas.

Selagi Udin dan perempuan itu bercakap-cakap, laki-laki yang datang bersamanya akan mengamati ekspresi dan gerak-gerik Udin dengan saksama. Udin merasakan sesuatu yang kuat menjalin pasangan itu, seakan-akan ada rahasia besar yang hanya diketahui oleh mereka berdua.


Pada akhir musim hujan, proses perceraian Udin rampung. Masalah hukumnya selesai dengan cepat, dan keduanya telah menandatangani berkas-berkas yang diperlukan. Istri Udin mengenakan gaun baru berwarna biru, rambutnya dipotong pendek. Dia tampak lebih sehat dan anggun dibanding yang pernah dia lihat. Perempuan itu tak diragukan lagi telah memulai kehidupan baru yang lebih memuaskan. Dia melempar pandang ke sekeliling kedai kopi.

“Tempat yang benar-benar bagus,” ujarnya. “Tenang, sejuk, kalem… benar-benar seperti kamu.” Ucapannya diikuti keheningan singkat.

Lalu, kata Udin memecah keheningan, “Kamu mau minum teh atau kopi?”

“Kopi rasa Mocacinno, kalau kamu punya.”
Udin membuat dua gelas kopi Mocacinno dan menyuguhkan kepada mantan istrinya. Mereka minum dalam diam. Si kucing berjalan mengendap-endap dan, tanpa dinyana, meloncat ke pangkuan Udin. Udin membelai bagian belakang telinga kucing itu.

“Saya mau minta maaf,” akhirnya istrinya berkata.

“Maaf kenapa?” tanya Udin.

“Karena telah menyakiti kamu,” sahutnya. “Mungkin kamu sakit hati… walaupun sedikit…”

“Mungkin saja,” jawab Udin setelah mempertimbangkan sejenak.

“Bagaimanapun, saya juga kan manusia… tapi persoalan sakit hati itu sedikit atau banyak, saya nggak tahu.”

“Saya datang ke sini karena mau minta maaf.”

Udin mengangguk. “Ya sudah, kamu sudah minta maaf dan saya memaafkan… tak ada yang perlu dirisaukan lagi….”

Istrinya menghela napas, dan katanya lagi, “Sebenarnya saya ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, secara mendetil… tapi, saya tak bisa membuat kata-kata secara rinci.”

“Ya sudahlah, lupakan saja….”

“Sepertinya memang harus begitu.”
Udin menghirup kopinya, “Ini bukan salah siapa-siapa. Seharusnya saya tidak pulang lebih awal. Atau, seharusnya saya memberitahu kamu kalau mau pulang awal. Dengan itu, barangkali kita tidak akan mengalami seperti ini.”

Istrinya tidak mengatakan apa-apa.
“Kapan kamu mulai berkencan dengan laki-laki itu?” tanya Udin kemudian.

“Sudahlah, saya tidak mau membahas itu.”
“Maksud kamu, lebih baik saya tidak tahu? Ya sudah, mungkin itu benar.” Dia terus membelai kucing yang sekarang mendengkur pelan.

“Mungkin saya tidak berhak mengatakan ini,” kata istrinya, “tapi saya kira lebih baik kamu melupakan yang sudah terjadi, dan mencari perempuan baru.”

“Mungkin,” ujar Udin.

“Saya tahu pasti ada perempuan di luar sana yang tepat untuk kamu. Pastinya tidak terlalu sulit menemukan itu.

Masalahnya, saya tidak bisa menjadi perempuan itu untuk kamu, dan saya telah melakukan hal-hal yang tidak baik.

Barangkali, sejak awal memang ada yang kurang pas di antara kita. Seolah-olah kita salah mengancingkan baju kita. Saya kira, kamu sebaiknya mempunyai kehidupan yang normal dan bahagia.”

Salah mengancingkan baju? (pikir Udin). Dan ia pun melirik ke arah kancing bajunya, tanpa disadari.

Lalu, istrinya pun tertawa terpingkal-pingkal.


Musim kemarau datang, si kucing tiba-tiba menghilang. Perlu beberapa hari bagi Udin untuk menyadari bahwa kucing itu telah menghilang. Kucing yang tidak bernama itu datang ke kedai kopi sesuka hati, dan kadang tidak menampakkan diri untuk beberapa lama. Jadi, kalaupun Udin tidak melihatnya selama seminggu, atau bahkan sepuluh hari, dia tidak terlampau khawatir. Udin menyukai kucing itu, dan kucing itu pun tampak memercayainya. Udin punya kesan kuat bahwa selama kucing itu tidur di pojokan, tidak akan ada hal-hal buruk terjadi. Tapi setelah dua minggu berlalu, Udin mulai khawatir. Setelah tiga minggu, firasat Udin mengatakan bahwa kucing itu tidak akan kembali lagi.

Di sekitar waktu kucing itu menghilang, Udin mulai melihat ular di luar, di dekat pintu masuk kedai kopinya. Ular itu berwarna cokelat tua dan bertubuh panjang. Ular itu ternaungi pohon sawo di halaman depan, melata santai di sekitar situ. Udin, yang menenteng sekantong belanjaan, sedang membuka kunci pintu ketika melihatnya. Dia agak terkejut, tapi tidak terlampau khawatir. Ada bangunan rumah tua yang terletak di seberang jalan, tak jauh dari kedai kopi. Bukan hal mustahil ada ular bersarang di sekitar itu.
Tapi tiga hari kemudian, selagi Udin membuka pintunya tepat sebelum tengah hari, ia melihat ular yang berbeda di bawah pohon sawo. Ular itu nampak lebih besar dan berwarna kehitaman. Udin tidak tahu apa-apa tentang ular, tapi ular yang satu ini tampak paling berbahaya baginya. Ketika menyadari kehadiran Udin, seketika ular itu merayap ke dalam semak. Dua ular berbeda dalam waktu tiga hari, entah bagaimana Anda menafsirnya. Boleh jadi akan ada hal-hal aneh yang mungkin terjadi.

Udin menelepon bibinya yang ada di penampungan para wanita lansia di Kota Tangerang. Setelah menceritakan perkembangan lingkungan perumahannya, Udin bertanya apakah bibinya pernah melihat ular di sekitar itu.

“Ha! Ular?” tanya bibinya kaget, “Saya nggak pernah lihat ular selama tinggal di situ. Udin, coba dengar apa kata Bibi. Mungkin itu pertanda akan datang gempa bumi, longsor atau tsunami di wilayah itu. Binatang biasanya mampu membaca gelagat akan munculnya kejadian besar di daerah yang dia tinggali.”

“Kalau begitu, mungkin saya harus membeli beberapa rantang yang agak kuat…”

“Rantang? Buat apa?”

“Buat persediaan makanan, bekal atau ransum dan semacamnya.”

“Ya boleh-boleh saja, terserah kamu. Tapi Bibi menduga akan terjadi gempa bumi di daerah situ.”

“Tapi apakah ular punya kepekaan setajam itu?”

“Bibi kurang tahu seberapa jauh ular punya kepekaan dan kepedulian. Tapi ular termasuk binatang pintar dan cerdik. Mereka bisa mengarahkan orang, seakan memberitahu apa yang akan terjadi. Karena itu, kalau ada ular memberi peringatan, kita kurang tahu apakah peringatan itu kepada kebaikan ataukah keburukan. Seringkali peringatan itu mengandung arti kombinasi antara keduanya…”

“Antara keduanya bagaimana?”
“Ya itu tadi, antara kebaikan dan keburukan.”

Udin merasa bingung, dan pandangannya menerawang, “Ah, saya kira itu perkiraan Bibi saja…”

“Nah, tepat sekali! Menurut Bibi ular itu punya perkiraan yang tajam,” kata bibinya kurang nyambung, “Dalam legenda-legenda kuno, ular terpintar dan terbesar menyembunyikan jantungnya di suatu tempat di luar tubuhnya sehingga dia tidak bisa dibunuh. Kalau kamu mau membunuh ular, kamu tidak akan bisa membunuhnya di depan pintu kedai, tapi harus pergi ke tempat persembunyiannya ketika ular itu pergi ke sana. Lalu, kamu cari jantungnya yang berdenyut, dan membelahnya jadi dua. Bukan pekerjaan mudah, kan?”
Udin makin bingung. Ia tersenyum sambil garuk-garuk kepala.


Udin mulai merasa seakan-akan kedainya dikelilingi oleh ular-ular berbisa. Dia merasakan kehadiran mereka yang diam-diam menyusup masuk. Pada tengah malam, ketika Udin menutup kedainya, suasana di perumahan sangat tenang, tidak ada suara selain sirene yang sesekali terdengar. Begitu tenang hingga nyaris bisa mendengar ular melata di sekitarnya. Dia mengambil papan dan memakunya ke pintu kecil yang dia buat untuk si kucing sehingga tidak akan ada ular yang bisa masuk ke dalam.

Menjelang pukul sepuluh, Tohari tiba-tiba muncul. Dia memesan kopi pahir yang biasa dipesannya, lalu makan beberapa gorengan yang tersedia. Tidak biasanya, dia datang begitu larut, dan duduk di sana begitu lama. Beberapa kali, dia mengalihkan pandangan dari buku catatannya untuk menatap dinding di depannya, seolah sedang merenungkan sesuatu. Menjelang jam tutup, dia masih bergeming, sampai menjadi pengunjung terakhir di sana.

“Udin,” bisik Tohari dengan tatapan serius. “Saya merasa kurang enak membicarakan hal ini sekarang. Tapi saya harus mengatakannya terus terang. Kamu harus pergi dari tempat ini malam ini juga…”
“Malam ini juga?” ulang Udin.
“Ya, karena sudah waktunya…”
“Sudah waktunya bagaimana?”
“Jadi, untuk sementara kamu harus tutup kedai kopi ini.”

Udin memandang Tohari, tidak tahu bagaimana menanggapinya. Tohari memandang berkeliling di sekitar kedai, kemudian kembali menatap Udin. “Mungkin kamu nggak paham apa-apa yang saya katakan…”

“Ya, saya nggak paham… tapi saya agak mengerti.”

“Saya menyukai kedai kopi ini,” kata Tohari seakan mengungkap suatu rahasia kepadanya. “Kedai kopi ini tenang, jadi saya bisa membaca, dan saya juga menikmati musiknya. Saya sangat senang ketika kamu membuka kedai kopi di sini. Tetapi sayangnya, ada beberapa hal yang sudah terlanjur hilang.”

“Terlanjur hilang?” ujar Udin. Dia tidak tidak tahu apa maksudnya ini. Yang bisa dia bayangkan hanya kehilangan sendok, mangkuk dan tutup cangkir, atau beberapa uang receh miliknya.

“Kucing itu tidak akan kembali ke sini lagi,” kata Tohari. “Setidaknya untuk beberapa waktu.”

“Karena hal-hal yang terlanjur hilang tadi?”
Tohari tidak menjawab. Udin terus mengikuti arah pandangan Tohari, dan menatap ke sekeliling dengan saksama. Udin merasa tempat ini lebih kosong daripada yang sudah-sudah, kekurangan daya hidup dan coraknya. Sesuatu yang jauh melampaui biasanya. Lalu, Tohari berkata pelan, “Udin, kamu bukanlah tipe orang yang biasa terlibat pada hal-hal yang bersifat ekstrim. Kamu itu termasuk orang yang polos dan jujur. Tapi di dunia ini, ada masanya ketika seseorang berlaku jujur saja belum cukup. Beberapa orang menganggap itu adalah ruang kosong, hingga mereka menyusup masuk untuk mencari-cari kambing hitam, atau melakukan fitnah sesuka hati… paham kan?”

Udin menggelengkan kepala, belum juga paham.

“Dengarkan, Din… kamu pernah bilang bahwa ada masalah serius yang telah terjadi. Bukan karena kamu telah sengaja melakukan kesalahan, tapi boleh jadi kesalahan itu telah dilakukan tidak sengaja, atau karena keadaan terpaksa, lalu kamu bisa menjadi korban karena ketidaksengajaan itu, paham kan?”
“Maksudnya, kesalahan karena menyangkut kedai kopi ini, atau karena kesalahan saya pribadi?”

Tohari mengangguk dengan tatapan bening berkaca-kaca. “Ya, kamu benar, Din. Dalam hal ini, saya tidak menyalahkan siapa-siapa. Tempat ini memang nyaman dan tenang, tetapi ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan ketenangan itu, lalu menciptakan kekeruhan lalu memancing di air keruh itu… paham kan?”

“Kenapa orang itu tidak pergi ke tempat pemancingan saja….”

Tohari hampir tertawa, tapi dia menahan diri, dan menatap wajah Udin dengan serius.

“Jadi, apa yang harus saya lakukan?” tanya Udin kemudian.

Tohari menatap jam dinding, “Sebaiknya kamu berangkat sekarang juga. Tutup kedai kopi ini untuk sementara waktu, pergilah yang jauh. Tinggalkan tempat ini. Dan sebaiknya kamu berangkat sebelum turun hujan deras…”

“Pergi ke mana?”

“Terserah kamu… yang penting tinggalkan tempat ini… maaf, kalau saya berkata terus terang, karena hal ini untuk kebaikan kita bersama… tapi, apakah kamu punya cukup uang untuk melakukan perjalanan jauh?”

“Saya kira, saya punya cukup uang untuk melakukan perjalanan selama beberapa minggu.”

“Bagus.”

“Tapi ngomong-ngomong, siapa sebenarnya Bapak ini?”

“Saya hanya laki-laki bernama Tohari,” jawabnya singkat.

Udin memutuskan untuk bicara lebih lanjut, “Pak Tohari, saya mau bertanya, apakah Bapak pernah lihat ular di sekitar sini?”
Tohari tidak menjawab, tapi kemudian dia berkata, “Itu semua bagian dari persoalan ini… tentang kucing, tentang ular, tentang yang lain-lainnya adalah bagian dari keseluruhan hidup kamu… paham kan?”
Udin menggeleng, dan untuk ke sekian kalinya dia menggaruk-garuk kepalanya lagi.


Malam itu, Udin mengemas barang untuk perjalanannya. Sebaiknya kamu meninggalkan tempat ini sebelum turun hujan deras (kata Tohari). Peringatan itu begitu mendadak, dan dia tidak bisa menangkap logikanya. Tapi kata-kata Tohari punya kekuatan persuasif dahsyat yang jauh melampaui logika. Udin tidak meragukannya. Dia menjejalkan beberapa helai pakaian dan alat mandi ke dalam tas ransel berukuran sedang, yakni tas yang dulu dia pakai saat melakukan perjalanan bisnis.

Sebelum munculnya fajar, dia menempelkan pengumuman di pintu depan: “Maaf, Kedai Kopi Tutup”.
Tinggalkan tempat ini, pergi yang jauh (kata Tohari lagi). Tapi dia tidak tahu, ke mana harus pergi? Apakah ke utara, ataukah ke selatan? Dia memutuskan bahwa dia akan memulai perjalanan dengan menyusuri kembali rute yang sering dia lalui saat menjual sepatu bulutangkis dulu. Dia naik bus dan pergi menuju Serang, kemudian menuju Kota Cilegon dan menginap di sebuah hotel standar. Dia berjalan-jalan di sekeliling kota, dan pergi menonton beberapa film di Twenty One. Bioskopnya sepi saat siang hari, dan film-filmnya begitu membosankan. Ketika hari mulai gelap, dia kembali ke kamar hotel dan menyalakan TV.

Dia mengikuti saran bibinya dan menonton program edukasi. Barangkali saja dia menemukan program yang menayangkan perihal jantung ular, tetapi dia tidak menemukannya. Yang ada hanya program mengenai badak bercula satu.

Beberapa hari kemudian, Udin menginap di sebuah hotel murah, sebuah kamar dengan atap rendah, ranjang tanggung, TV tabung sedang, bak mandi kecil, dan kulkas jelek. Walaupun begitu, selain perjalanan ke minimarket di dekat situ, Udin berdiam seharian di kamar.

Di Alfamart, dia membeli tisu, air mineral, roti sobek, biskuit dan beberapa cemilan. Dia berbaring di ranjang sambil membaca novel Perasaan Orang Banten. Ketika capek membaca, dia menonton TV. Ketika capek menonton TV, dia membaca lagi.


Sudah seminggu lebih dia menginap di hotel di sekitar perempatan Desa Jombang. Sebaiknya berpindah-pindah, jangan terlalu lama menginap di satu tempat (kata Tohari memperingatkan). Udin merenung dalam waktu yang cukup lama. Baginya, sosok Tohari sangat berkaitan dengan pohon sawo tua di depan kedai kopinya. Dia tidak bisa memahami bagaimana hal itu bisa masuk akal. Tapi setelah pikiran itu menguasai benaknya, seketika semuanya terasa logis. Udin membayangkan dahan-dahan pohon itu, terselubung daun hijau, menjorok ke bawah.

Pada musim panas, rerimbunan itu memberikan naungan kesejukan di halaman. Pada hari-hari penuh hujan, tetesan-tetesan keemasan berkilau dari daun-daunnya. Pada hari berangin, ranting-ranting itu berayun-ayun bagaikan hati yang gelisah, dan burung-burung kecil akan terbang di atasnya, bercuitan satu sama lain, bertengger di atas ranting-ranting kecil, hanya untuk terbang lagi.

Di bawah selimut, Udin bergelung bagaikan cacing, memejamkan mata rapat-rapat, dan memikirkan pohon sawo tua itu. Satu per satu, dia membayangkan detailnya. Warna, bentuk dan gerakannya. Dan dia berharap agar fajar segera menyingsing. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah menunggu seperti ini, dengan sabar, sampai cahaya matahari muncul dan burung-burung terbangun untuk memulai hari mereka. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah memercayai semua burung, dengan sayap dan paruh-paruh mereka. Sampai saat itu tiba, dia tidak boleh membiarkan hatinya kosong. Karena kekosongan bisa menggoda manusia, makhluk yang lemah ini, pada hal-hal yang merugikan diri semdiri dan orang lain.
Selain pohon sawo, Udin juga memikirkan kucing kuning kehijauan yang menyerupai perasaan manusia. Dia ingat Tohari yang duduk di pojokan meja, tenggelam dalam buku catatannya.

Dia ingat bakat-bakat pemain bulutangkis muda Indonesia, ketika ia bekerja di perusahaan sepatu dulu, juga alunan musik-musik indah gubahan Iwan Fals, Ahmad Albar, Nicky Astria dan lain-lain. Dia ingat mantan isterinya yang mengenakan gaun baru berwarna biru, dengan rambut dipotong pendek. Dia berharap mantan istrinya menjalani hidup yang sehat dan bahagia di rumah barunya. Dan semoga tidak ada sedikit pun luka-luka pada tubuhnya.

Mantan isterinya itu sudah minta maaf dengan tulus kepadanya, dan ia pun sudah menerima permintaan maafnya. Kini, Udin semakin belajar bukan hanya untuk melupakan, tapi juga bisa memaafkan.
Udin masih ingat kata-kata bersayap dari Tohari, yang pada suatu malam menyatakan: “Jika kita mampu menahan diri untuk hal-hal yang tidak semestinya, kelak di kemudian hari, setiap kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang kita cintai.”

Tentu kata-kata itu bukan muncul dari sembarang orang, tetapi diucapkan oleh mulut orang tertentu yang mampu memetik hikmah dari segala pahit-getirnya kehidupan dunia ini. Dan Udin mencoba memahami kedalaman maknanya, lewat perjalanan hidup yang dialaminya sendiri. (*)

Catatan: “Cerpen ini diilhami dari karakteristik tokoh Haris dalam novel Pikiran Orang Indonesia.”

Oleh: Muhamad Pauji,
Cerpenis adalah pegiat organisasi OI (Orang Indonesia), menulis cerpen dan esai di www.kompas.id, NU Online, alif.id, Kabar Madura, Tangsel Pos, Radar Banten, inilahbanten.com, ruangsastra.com, litera.co.id dan lain-lain)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.