Dari Dusun yang Jauh

oleh -2920 Dilihat
banner 468x60

Andaikata semua orang berani menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Andaikata semua orang lebih berani mencapai kesuksesan dibanding ketakutannya untuk gagal. Andaikata, andaikata, … andaikata. Semua kata motivasi dari video Youtube itu terulang di benaknya.

Algoritma media sosial yang mengintip dan menginterpretasi kecenderungannya menebak dengan tepat. Dia butuh mengisi baterai jiwa untuk menjalani dan merayakan realitas. Namun algoritma itu hanyalah rangkaian nol dan satu seiring dorongan elektron pada papan sirkuit komputer. Dia sadar, dia setara dengan pencipta biner. Dan dia tidak harus terperosok ke dalamnya.

“Stop!” katanya pada diri sendiri, lalu menarik jarak dengan semua yang terkait sirkuit elektronik. Dia pulang ke dusun. Pulang ke rimba.

Sejauh dia memandang, kosong melompong … meski sebenarnya tidak. Nun di seberang teluk, kerlap-kerlip lampu kota yang memanjang hingga ke batas kota. Lampu-lampu itu berupaya menelan gelapnya malam seutuhnya di batas angan. Persis seperti dirinya yang ingin melawan gelapnya garis nasib. Nasib yang tanpa daya ungkit sosial, nasib yang tanpa daya ungkit ekonomi.

Sebuah gubuk di tengah kebun yang terhampar di lereng bukit sedikit terjal, baginya itulah teman yang selalu hadir untuk berbagi resah dan kesunyian malam. Sesekali suara kodok, tokek, dan jangkrik memecah kebuntuannya untuk terus berharap dan berani.

Dari pendopo tampak kemilau sinar bulan di atas dedaunan padi yang berembun, pantulan cahaya lampu di atas lautan teluk, semuanya membentuk garis-garis pandang yang menyirat keteraturan. Ah, rupanya masih ada keteraturan alam di dunia yang kacau idealismenya, silapnya meraba-raba kebenaran.

Sebelumnya, dia selalu berpikir bahwa para idealis dari buku-buku yang dibacanya, telah menggenggam ‘kebenaran’, lalu membagikannya dalam tulisan dan perkataan. Sebelumnya, dia selalu menganggap para bangsat adalah orang yang tidak mengerti dan tidak pernah mengerti ‘kebenaran’. Lalu dia menyadari sepenuhnya bahwa itu salah.

Pada akhirnya, setiap orang akan memiliki sebagian kehidupan yang membuatnya berhenti berharap. Pada saat itu, orang tidak bisa lagi mencaplok ‘kebenaran’ bagi dirinya sendiri. Begitulah dia. Jika dulu, dia berpikir bahwa dirinya adalah sub-ordinat penting dari ‘kebenaran’ dalam semesta, maka kini tidak lagi.

Peta pertarungan kehidupannya kini telah berubah. Jiwa dan raganya kini bertaruh pada realitas semesta yang lebih teratur, menghindari ketidakteraturan yang teratur, yang telah menjadi momok bagi rasa ingin tahunya.

Benaknya tak lagi bekerja untuk mencerna tentang sistem fiat atau moneter. Atau sistem yang bertindak atas nama konstituen, seolah-olah konstituen kurang memahami diri sendiri. Atau desentralisasi keuangan, seolah itu telah membalikkan sistem keuangan dunia dengan emas elektronik.

Atau pasar modal, dimana para bandar membuat algoritma market maker, membuat sentimen dan memainkan psikologi ritel yang ingin cepat kaya, menjebak mereka dalam tarian bid offer dan chart perdagangan, membawa mereka pada kesimpulan: pasar modal bukan untukku, lalu mencari korban lainnya dengan slogan mari berinvestasi untuk masa depan.

Atau sastra, dimana orang dibaliknya duduk merenungi kehidupan seolah-olah mereka paling tahu kebenaran, keadilan, bahkan kesucian hidup, dibalik sederetan kata-kata kosong yang dipercantik alur, plot, plot twist, memisterikan sesuatu dibalik kata, mengharapkan dan membanggakan pembaca bisa terjebak dalam dinamika interpretasi, lalu merasa sebagai maestro kata. Kini tidak lagi.

Dalam kehidupannya sekarang, alam terasa lebih adil. Adil memberi hujan, adil memberi panas, kabut, embun, air, matahari, bulan, bintang, kelembapan, adil memberi giliran siang malam, bentangan pelangi, lalunya awan, tarian dedaunan seiring hembusan angin, adil memberi riuh tawa burung jantan merayu betinanya. Bahkan babi yang kelahi berebut makanan di hutan, itu tetap terasa adil baginya karena alam akan selalu memberi cukup makanan.

Di tangannya ada beberapa bilah bambu. Dibersihkan dan dirapikannya itu untuk siap dibentuk menjadi jerat tikus di kebun padi yang akan mengandung bulir-bulir padi.

Besok dia akan ke hulu sungai mencari gemuti sebagai pengikat jerat itu. Melewati beberapa gua, ia akan mengambil sarang burung walet. Sampai dekat mata air, ia akan memetik sedikit sayur paku. Begitu rencananya untuk besok. Dia bersyukur lalu terlelap dininabobokan oleh suara gesekan batang dan daun bambu yang tertiup angin malam.

Dalam tidurnya malam itu, dia bertemu leluhur berambut keriting gimbal dan panjang. Rambut itu diikat ke atas menggunakan pelepah pinang. Sang leluhur memakai beberapa kalung bermanik-manik aneka warna, tapi lebih banyak berwarna seperti sari kunyit tua. Kain tenun nan halus terikat di pinggang, menutupi cawat di dalamnya.

Jiwanya tercengang. Selama ini dia selalu menganggap leluhurnya adalah orang yang paling luhur, mewariskan kearifan dan kebijaksanaan melintasi waktu dan zaman. Itu, hingga sang leluhur berbicara, “Kau tahu: ketika orang berkulit putih itu datang membawa senjata lalu sebuah kitab, kami disebut orang kolot dan bodoh ketika masih mengagungkan alam semesta dalam ritual lama. Padahal, kala itu kami hanyalah seperti bocah polos baru lahir yang berupaya mengenal kebenaran, lebih tepatnya kemajuan zaman.

Kami disebut tidak berani berperang secara terbuka dan agresif, hanya berani memamerkan tarian perang, melontarkan panah dari tempat tersembunyi seperti pengecut, menunggu kesempatan yang baik untuk membalas dendam ketika musuh tidak siap. Itu kata mereka. Tidak seperti mereka yang datang membawa sedikit tentara, sedikit senjata, tapi kemudian menguasai banyak musuh dengan taktik pecah-belah.

Mereka membawa sedikit pengabar kabar baik, sembari mengabaikan moncong senjata kepada pribumi di daerah kekuasaan. Memberi kesempatan kepada bos perusahaan mereka untuk meraup kekayaan secara gila-gilaan hingga mereka bubar karena kegilaan sendiri.”

Antara sadar dan tidak, dia masih ingin mendengar tutur leluhur. Jiwanya berontak menolak kesadaran yang datang seiring merasakan rentetan tarikan nafas. Jemari perlahan mengayun mengusap sudut mata. Tarikan kakinya tersendat sambungan anyaman tikar daun pandan. Tulang pendengarannya digetarkan kokok ayam. Dia terbangun.

Rangkaian saraf di kepalanya mengingatkan pada rencana kemarin. Tak lama kemudian lantai pelupuh berderit seiring langkahnya keluar dari gubuk. Spektrum oranye berebut keluar dari jebakan dedaunan di timur, dari kaki bukit di timur, menyilaukan matanya yang separuh terbuka. Lesung pipi perlahan terbentuk. Matanya perlahan menyala, seperti mata anak kedua saat pertama kali mendapat pakaian ‘baru’ dari warisan sang kakak. Selalu begitu dia memulai pagi di dusun yang jauh.

Keterangan:
Gemuti: Ijuk (melayu Kupang-NTT).

Oleh Krismanto Atamou

Penulis menamatkan pendidikan dasar di SD GMIT Likwatang, SMP Protestan Makassar, SMA Kristen 2 Kalabahi, dan FKIP Undana Kupang. Saat ini ia menjadi Guru di Kabupaten Kupang. Memiliki Akun FB: Krismanto Atamou.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.