Kisah Kematian Darus 

oleh -1044 Dilihat
banner 468x60

Darus adalah kakak kandung saya satu-satunya. Badannya tinggi dan jangkung. Dada dan perutnya rata dan kurus, tipikal lelaki yang tahan dengan hanya memakan daun singkong berhari-hari. Mukanya oval dan tangannya kekar dan kasar. Tangan itulah yang kerap melindungi saya dari segala marabahaya, ditambah dengan sorot matanya yang sangar dan jalang, seakan telah mewarisi bola mata dari para leluhur yang telah kehilangan tanah-tanah mereka.

Sampai saat ini, selalu saya bertanya-tanya perihal kematian Darus yang serba misterius. Jika perlu diceritakan kepada Anda. Misalnya, ketika dia pulang dari pasar lama, atau dari Pelabuhan Tanjung Priok, tempat dia bekerja sebagai pengangkut atau kuli panggul. Pada hari itu, dia menghampiri saya yang sedang bermain bola di pekarangan rumah, memikul saya di punggungnya, menyuruh saya berpegangan erat di sekitar kepalanya. Masih lekat dalam ingatan saya aroma tubuhnya yang pekat bau tomat busuk, dicampur bau keringat yang apek dan pesing karena beberapa hari belum mandi.

Ketika pulang dalam keadaan capek dan lelah, biasanya Ibu membuatkan kopi hitam, dan sesekali bersama keripik peyek atau pisang goreng. Ayah kami sudah kabur entah ke mana. Selama bertahun-tahun kami tak mendengar kabar apapun tentang dirinya, meski pernah terdengar selentingan bahwa ia berada di daerah Madura. Konon, Darus sering berjumpa dengan Ayah melalui mimpi, mengabarkan sesuatu yang kemudian disambungkan kepada kami.

Kalau Darus mendengar orang-orang bergunjing tentang Ayah, badannya agak gemetar dan kedua matanya menerawang. Tidak jarang saya dipukulnya karena suatu alasan yang tak jelas. Tak lama kemudian, terjadi percakapan bersama Ibu yang biasanya berakhir dengan pertengkaran sengit. Karena masih kecil, tak pernah saya dilibatkan, meskipun memahami inti persoalannya. Itu masa-masa yang meresahkan, sarat amarah, dan saya takut oleh pikiran bahwa Darus – sebagaimana Ayah – akan meninggalkan kami juga. Tapi, dia selalu kembali sore hari, masuk ke rumah dengan agak sempoyongan, sementara Ibu mengamati di jendela dari ekor matanya. Setelah Darus menjatuhkan tubuhnya di kasur karena mabuk, terlihat Ibu merasa lega seakan terbebas dari suatu beban berat.

Mengenai minggatnya Ayah dari rumah, waktu itu saya masih balita. Saya hanya mengingat cangkir-cangkir kopi di meja, puntung rokok, sepasang sepatu hitam pemberian pabrik, dan saat-saat ketika Ibu menangis sesenggukan, lalu secepat kilat menyeka air matanya ketika tetangga bertandang untuk menanyakan perihal utang-piutang. Sejak saat itu saya dapat menebak kenapa ekspresi Ibu sering berubah-ubah hingga kerap saya meragukan kejujurannya.

Segala sesuatunya seakan bermuara pada Ayah yang tidak meninggalkan apa-apa selain nama keluarga, hingga kemudian jarang tetangga kami yang menyebut nama saya, kecuali “Anak Satpam”. Ya, konon dulu Ayah bekerja sebagai satpam malam di suatu pabrik yang kini sudah tutup karena memproduksi barang-barang yang dipasarkan secara ilegal. 

Ketika saya tumbuh remaja, Ibu menceritakan kembali perihal Darus yang mati tenggelam di pantai Pulo Cangkir. Ia membuat-buat versi tersendiri perihal kematian Darus, mengarang-ngarang cerita perihal anak sulungnya yang masih keturunan Sultan Hasanuddin, serta menyebarkan Islam di tanah Banten. Darus seakan berhadapan dengan orang-orang kafir yang digambarkannya sebagai pasukan dajjal dan Firaun. 

Ketika tumbuh dewasa, saya cenderung membenarkan versi yang disampaikan seorang teman yang usianya lebih tinggi dari saya, bahwa Darus yang biasanya bergabung dengan para nelayan di Laut Utara Banten – ketika ia merasa segan menjadi kuli panggul – konon dikeroyok oleh empat nelayan yang dipimpin oleh Bang Jalu yang berbadan kekar dan besar. Apakah waktu itu dia sedang mabuk, tak ada yang tahu. Meskipun mayatnya kemudian diketemukan pada sore harinya oleh dua orang nelayan asal Serang. Cerita mana yang benar? Tetap sulit untuk ditelusuri kepastiannya.

Bila dihubungkan dengan kisah yang dituturkan Ibu, seolah-olah Darus adalah tokoih herok dan pahlawan pembela kebenaran, sementara orang yang diduga musuhnya adalah sosok Firaun yang kafir. Tapi yang jadi masalah, kenapa justru dia yang tenggelam, sementara Firaunnya masih tetap hidup hingga saat ini? Di sisi lain, saya sendiri pun baik-baik saja dengan keluarga Bang Jalu yang dianalogikan Firaun. Bahkan, dia dan istrinya sering menyapa sewaktu saya berangkat sekolah SD, serta menanyakan kabar tentang kesehatan Ibu.

Secara pribadi, saya paham sifat temperamen Darus yang memang sering berantem dengan siapapun. Tetapi, Ibu memang pintar berkelit, serta mampu menarasikan kematian Darus secara rinci menurut versinya sendiri, seakan-akan dia adalah martir yang melawan kebatilan dan kemungkaran. Dia tak pernah bercerita soal perkelahian atau kegemaran anaknya yang suka mabuk-mabukan. Dia membelokkannya sebagai kisah yang fantastik, sebagai keturunaan Walisongo yang bertapa di kaki Gunung Karang, lalu menerima hidayah untuk mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Sampai saat ini, jika saya harus menceritakan pada Anda, wahai para wartawan, atau para penyelidik kepolisian, perihal kematian Darus kakak kandung saya, maka jawaban saya tetap sama: tidak tahu menahu. Tapi, kalian tak perlu menanyakan pada Ibu saya, karena boleh jadi akan muncul versi terbaru yang meluncur fasih dari mulutnya. Boleh jadi beliau akan berkata bahwa Darus itu adalah seorang Habib keturunan Rasul, atau bisa juga Imam Mahdi yang bertugas membelah Lautan Banten Utara, yang kelak diutus untuk melawan dajjal-dajjal di hari kiamat.

Sehari setelah tenggelamnya Darus, beberapa teman karibnya berdatangan ke rumah untuk menunjukkan empati. Baik yang berprofesi kuli panggul, nelayan hingga teman nongkrongnya di terminal Kresek. Ada si Jubed dan adiknya yang bertubuh kerempeng, yang juga suka mabuk-mabukan. Ada Kadir yang pernah mengajaknya bermain debus, kemudian ketahuan menghamili anak Pak Lurah. Ada si perokok berat, Sukim, yang semua orang kenal dari batuk-batuknya.

Bahkan di pagi hari, batuknya akan bersahutan dengan kokok ayam sebagai penanda waktu fajar. Ada juga tukang copet di Pasar Rawu Serang yang tak perlu saya sebutkan namanya. Ada Haji Dolim yang bangga dipanggil “haji” padahal belum pernah pergi ke Mekah. Ada Masduki yang suka kencing sembarangan, yang penting asal ketemu tembok, dan seberapa hektar rumput telah tumbuh subur di musim kemarau karena siraman kencingnya. Ada juga Juned yang sering mengerahkan anak buahnya, yang kalau menggasak buah mangga, bisa habis satu pohon milik Pak Dulmatin dan Haji Hambali.

***

Sekarang ibu saya mungkin sudah hampir menginjak 80-an. Begitu menginjak usia tertentu, waktu akan menyematkan ciri-ciri para leluhur kepada kita, semacam kombinasi reinkarnasi. Mungkin begitulah rupa alam selanjutnya, sebuah koridor tak berujung tempat semua keturunan berbaris. Mereka menantikan kedatangan anak keturunannya tanpa kata dan tanpa gerak sama sekali, mata-mata yang sabar terpaku pada tanggal perjumpaan.

Saya tidak yakin Ibu tahu usia saya. Ketika saya lahir, orang-orang kampung tak peduli soal tanggal lahir. Irama kelahiran biasanya ditandai dengan musim paceklik, wabah atau kelangkaan bahan pangan. Nenek saya wafat gara-gara penyakit tipus, ayah hengkang dari rumah ketika musim pagebluk. Itu seakan menjadi episode yang menandai batasan-batasan waktu.

Ketika saya dikuliahkan oleh seorang tuan tanah yang mengadopsi saya, saya jarang sekali ketemu Ibu. Ia masih tinggal di sebuah gubuk bilik di desa Karangantu, yang menghabiskan waktu dengan menyapu setiap sudut kebun yang dia tinggali. Untuk makan sehari-hari ia menjadi binatu dan menjemur hasil panen padi milik Haji Sirojudin yang pernah mencalonkan diri sebagai kepala desa.

Saya masih punya kenangan dari periode itu, ketika saya masih tinggal bersamanya, menerima kiriman masakan dari istri Pak Haji lalu menyantapnya setelah seharian perut kami keroncongan. Tapi ah, sebaiknya saya persingkat saja periode ini. Saya tak mau memperpanjang, karena pada masa-masa seperti itu satu-satunya masalah yang paling vital dalam kehidupan kami adalah soal perut, bukan soal keadilan seperti yang digambarkan dalam buku Pikiran Orang Indonesia.

Pada sore hari kami main kelereng di teras-teras rumah kami. Ketika wabah menerpa desa kami, tetap saja kami masih bermain kelereng. Jika ada salah satu dari kami tidak kelihatan esok harinya, berarti dia sudah mati, sedangkan kami yang masih hidup tetap bermain kelereng. Saat itu, kami hidup dalam ketakutan, terutama pada malam hari, ketika mendengar bunyi langkah kaki yang mencurigakan. Kami takut kalau-kalau itu adalah para lelaki yang tahu bahwa Ibu tak punya pelindung. Malam-malam keterjagaan dan kewaspadaan, sambil badan saya menempel ketat pada badan Ibu. Saya sungguh-sungguh telah menjadi seorang    “Anak Satpam” bagi ibu saya sendiri.

Pada hari raya Kong Hu Cu, Ibu membawa saya ke sebuah Vihara untuk menerima Angpao dari para saudagar Cina, begitupun pada bulan Muharam atau tahun baru Hijriah. Saya seakan disulap agar bergabung bersama anak-anak yatim yang berhak menerima amplop tunjangan. Pada masa-masa itu, Ibu cukup lihai mengubah drama pribadinya menjadi urusan yang membuat orang-orang bersimpati kepada kami berdua. Kadang dia pura-pura sakit agar tetangga menjenguknya.

Kadang saya diperlakukan seperti almarhum kakak saya dulu, yang sering disuguhi kopi hitam, yang suara langkah kakinya ditunggu saban sore hari, seakan dia baru pulang dari perantauan. Saya bernasib menjadi aktor pembantu, karena saya tidak punya apa-apa untuk ditawarkan. Saya merasa bersalah sebab masih bernyawa, tetapi juga merasa bertanggung jawab atas nyawa yang bukan milik saya pribadi. Saya harus menjadi anak Satpam sekaligus jaminan agar kami bisa menyambung hidup.

Konsekuensinya, Ibu seakan menugasi saya menjadi reinkarnasi Darus. Saya juga disuruh memakai baju bekasnya dulu, sampai ke pakaian dalamnya. Saya dilarang jauh-jauh dari Ibu, berjalan sendirian, atau tidur di tempat yang tidak diketahui, bahkan dilarang keras dekat-dekat pantai. Setiap sisi lautan menjadi area terlarang bagi saya. Ibu menakut-nakuti saya dengan cerita tentang mulut raksasa yang dimiliki sang Laut. Sampai sekarang, ketika saya berjalan di pantai, meski yang berombak lemah, sensasi pergerakan pasir pada kaki sudah mulai menerbitkan rasa takut tenggelam.

Untuk itu, dapat dikatakan bahwa saya tidak mengalami masa muda yang menyenangkan, absen dari kebangkitan perasaan-perasaan erotis masa pubertas. Saya tumbuh menjadi pendiam dan pemalu. Saya menghindari kolam renang bahkan taman yang sering dimanfaatkan oleh pemuda-pemudi berpacaran. Butuh waktu bertahun-tahun untuk saya berdamai dengan tubuh dan dengan diri saya sendiri. Faktanya, hingga sekarang, saya belum kunjung yakin. Gestur saya selalu kaku, terpengaruh perasaan bersalah karena masih bernyawa.

Seperti anak peronda malam sejati, tidur saya cuma sedikit, itu pun tidak nyenyak. Saya sering terserang panik karena memikirkan bahwa setelah memejamkan mata, saya akan terjatuh ke dalam palung yang membuat saya lupa nama sendiri. 

Menjelang bulan Ramadhan, Ibu mengajak saya menziarahi kuburan Darus di pemakaman umum. Bagi saya yang masih belia, hari itu adalah masa ketika saya bersembahyang bukan menghadap kiblat. Saya menatap birunya langit, embusan angin yang membangkitkan gairah pada diri saya. Pekuburan itu saya anggap sebagai taman bermain. Meskipun, konon setiap malam Minggu akan menjadi tempat mangkal para buronan dan pemabuk. Tidak jarang mereka menggasak marmer makam, serta mencuri batu-batu nisan.

Saya malah menduga – semoga dugaan saya salah – bahwa Darus pun dulu pernah nongkrong dan mabuk-mabukan di sekitar tempat itu, sersama rekan-rekannya, yang pada gilirannya kelak menjadi tempat pekuburannya sendiri. 

***

Setelah Darus meninggal, Ibu terlihat begitu sensitif. Coba bayangkan, sejak muda dia dipaksa kawin dengan laki-laki yang tak pernah dia kenal, yang kemudian meninggalkannya. Di sisi lain, dia tergolong wanita yang seakan mampu menghidupkan hantu, bahkan menenggelamkan siapapun ke pusaran arus narasi yang diciptakannya. Padahal dia tidak mahir membaca, tetapi lihai mengisahkan kronologi kematian Darus anak kandungnya, sesuai versi yang diciptakannya. Ya, saya jamin dia tidak semata-mata berbohong tanpa alasan yang jelas. Juga bukan laiknya penguasa yang mengarang-ngarang kisah Lubang Buaya untuk merebut tampuk kekuasaan.

Saya percaya, Ibu berbohong bukan untuk berniat dusta atau munafik, tetapi untuk mengoreksi realitas serta mengurangi absurditas yang menghajar dunianya, dan dunia saya juga. Wafatnya Darus benar-benar menghancurkan hatinya, ditambah fakta akan sulitnya mencari kebenaran perihal kematiannya. Dalam waktu yang cukup lama, kelakuannya membuat saya merasa malu, namun di sisi lain, kemahirannya bercerita dalam berbagai versi telah membangun kesadaran saya akan kekayaan bahasa yang dimiliki, meskipun bahasa itu tidak harus sama dengan saya.

Saya menyadari kemampuan visual yang dia sampaikan dengan penuh vitalitas, improvisasi dan katarsis yang mengagumkan. Kesedihan yang dialaminya memang berlarat-larut, sampai ia memerlukan berbagai idiom baru untuk mengungkapkannya. Cara bicaranya bagaikan seorang alkemis yang berjuang merekrut jamaah yang akan berempati secara dadakan. Kadang ia berteriak penuh amarah kepada hal-hal yang melalap kehidupannya, kepada angin yang menelan suaminya, kepada air yang menelan putera sulungnya. 

Ketika saya diadopsi oleh seorang tuan tanah, kemudian melanjutkan perguruan tinggi, saya menjadi seorang mahasiswa yang serius dan tekun. Buku-buku secara bertahap mampu membuat saya menamai hal ihwal, untuk mengorganisir dunia ini dengan kata-kata saya sendiri.

Di lingkungan kampus, saya juga menemukan pepohonan dan langit yang nyaris bisa saya sentuh. Saya menemukan teman akrab yang sama-sama pendiam. Itu membantu perhatian saya teralihkan dari hanya memikirkan Ibu, dan dari caranya mengamati saya makan dan tumbuh besar dengan tatapan yang tidak mengenakkan. Itulah tahun-tahun ketika saya dianggap sebagai kambing yang sedang digemukkan untuk dijadikan kurban pada hari Idul Adha.

Saya merasa hidup ketika memasuki bangku perguruan tinggi, kemudian bekerja di suatu perusahaan ternama di Kota Cilegon. Sampai sekarang pun, saya masih terus memupuk dan mengasah kedewasaan agar tidak menyia-nyiakan waktu dengan kesibukan mengasah pisau dendam. Saya bertekad menjadi manusia baik, serta mengabarkan pada Anda tentang pentingnya makna kebaikan. ***

Oleh: Muhamad Pauji

Pegiat organisasi kepemudaan OI (Orang Indonesia), penulis prosa dan kritik sastra milenial, di berbagai harian nasional, luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.