Kisah Cinta Soimah

oleh -1111 Dilihat
banner 468x60

Sofyan tak pernah mempersoalkan apakah kisah yang dituturkan istrinya itu benar adanya, ataukah hanya karangan dan rekaan semata. Entahlah, kadang dia sendiri bingung, tak memiliki cara untuk menyelidiki kebenarannya. Apakah istrinya itu menyampaikan suatu kisah nyata, ataukah murni hasil imajinasinya, ataukah gabungan antara fiksi dan fakta yang dialaminya?

Yang jelas, Sofyan selalu saja tergugah tiapkali Soimah bercerita di samping tempat tidur, setelah bersenggama melayani sang suami. Dan itulah kelebihan yang dimiliki Soimah akhir-akhir ini, hingga Sofyan merasa tak ada kesempatan untuk berpindah ke lain hati. Meskipun, belakangan santer tersiar kabar mengenai istri simpanan suaminya yang berprofesi sebagai dokter bedah itu.

Tiapkali menuturkan kisah-kisahnya, Sofyan selalu saja terhanyut dibuatnya. Terutama mengenai alur ceritanya, karakter tokoh-tokohnya, pengaturan jeda dan temponya, selalu saja membuatnya tertarik. Sofyan merasa terdorong untuk merenungkan dan membayangkan tokoh-tokoh itu, hingga disibukkan untuk berspekulasi mengenai akhir ceritanya.

Karena perasaan terpesona, Sofyan seakan mampu melupakan hal-hal lain di luar persoalan kisah yang dituturkan sang istri. Pada saat situasi genting dan tumpang-tindih saat ini, ditambah urusan carut-marutnya berbagai informasi yang berseliweran, kisah-kisah yang dituturkan Soimah telah berhasil mencuri hati suaminya, serta mengacuhkan semua persoalan yang njelimet, kalang-kabut dan memusingkan.

Soimah berusia tigapuluh enam, lebih tua sekitar dua tahun di atas suaminya. Tadinya ia hanya seorang janda muda, dan dikaruniai seorang anak gadis yang sudah menduduki kelas lima SD. Setelah bercerai dengan suaminya yang temperamental, Sofyan menikahinya karena rasa sayang dan kasihan, seakan melebihi rasa cinta kepadanya. Namun belakangan, setelah enam tahun mendampingi istrinya, segala godaan dan bujuk-rayu dari “orang ketiga” tak lepas dari lika-liku perjalanan hidupnya.

Soimah memahami kondisi tubuh dan fisiknya dalam segala hal, terutama soal kegemukan dan berat badannya yang kurang ideal. Kecantikannya tidak seberapa bila dibanding Rina, yang kabarnya telah menjadi istri kedua dari suaminya. Soimah berusaha mencari-cari cara dan strategi bagaimana agar sang suami menunjukkan kesetiaannya seperti dulu. Meskipun, Soimah bukanlah tipikal wanita yang suka menggunakan cara-cara yang tak lazim dan tak semestinya, terhadap suami yang dicintainya.

 Sejak menjadi istri Sofyan, ia selalu mengeluhkan soal timbunan lemak di sekitar rahangnya bila melihat wajahnya di depan cermin. Belum lagi, soal garis keriput yang kentara di sudut kedua matanya. Meskipun suaminya tak pernah mempersoalkan itu, seorang istri tentu memiliki rasa khawatir mengenai selera sang suami yang memang punya hak untuk menimbang dan menilainya.

Sepuluh tahun sebelumnya, Soimah tergolong wanita muda yang ceria, langsing dan menarik. Tetapi sekarang, bagaimana pun sang takdir sudah menentukan sebegitu adanya, dan rasanya sulit untuk ditarik ulur ke belakang.

***

Sejak memperoleh sertifikasi dari kementerian kesehatan, Sofyan membuka praktek sendiri setelah bertahun-tahun kerja di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangerang. Kini, ia telah memiliki penghasilan yang berlipat dari sebelumnya. Sejurus dengan itu, seorang pria berduit tak lepas dari segala iming-iming yang menggoda dan melingkupi dirinya, terlebih dalam soal wanita cantik. Itulah yang senantiasa menjadi perhatian Soimah, sang istri, serta kekhawatirannya akan kemungkinan sang suami pindah ke lain hati.

Soimah dengan mudah mengendus adanya aroma perubahan suaminya, seakan ia tergerus oleh arus yang samar dan tak kasatmata. Sofyan nyaris tidak bicara saat menggauli dirinya, dan melakukan setiap tindakan seolah-olah tugas yang tak menggairahkan. Saat Soimah tengah menstruasi, dia pun rela menggunakan tangannya untuk mencapai tujuan yang sama. Cara kerjanya yang cekatan dan agak lincah, mengingatkan Sofyan bahwa Soimah mampu menyaingi para perawat yang handal dan profesional sekalipun.

Setelah bersenggama, mereka berbaring di tempat tidur dan berbincang-bincang. Lebih tepatnya, Soimah yang banyak bicara sementara Sofyan hanya mendengarkan, dan sesekali mengajukan pertanyaan. Ketika waktu menunjukkan Pk. 23.00, Soimah akan mengakhiri ceritanya setelah sang suami beberapa kali menguap dan rasa kantuk menyergap dirinya.

          Pagi hari, sebelum sang suami berangkat kerja sambil mengantar anak tirinya ke sekolah, Soimah sudah menyiapkan sarapan pagi dengan nasi goreng, lauk dadar, ditambah dengan teh manis hangat atau kopi kesukaan sang suami. Setelah berdiam diri di dalam rumah, Soimah mulai mematikan teve dan beralih membaca novel-novel klasik, dan kadang ia harus membuka kembali halaman demi halaman untuk dibaca ulang.

Jika malamnya menuturkan suatu kisah kepada sang suami, pagi harinya ia merasa cerah dan nyaman. Ia pun dapat melepas kepergian suaminya dengan hati puas. Ia tidak merasa khawatir kalau sang suami terdampar di pulau terpencil di tengah lautan lepas, karena pulau terpencilnya itu adalah dirinya, bukan wanita lain. Yang menjadi kegelisahannya justru ketika ia membisu di tempat tidur, tidak bicara apa-apa, atau kehilangan lanjutan dari kisah yang dituturkan pada sang suami.

***

Hubungan biologis yang dijalani Soimah dan suaminya tak bisa dikatakan formal atau sepenuh hati. Tidak juga bisa dikatakan penuh gairah. Mungkin bagi Soimah dapat dipahami bahwa tugas itu sudah menjadi kewajiban seorang istri. Tetapi, dalam hal tertentu, seakan ia telah menemukan kesenangan di dalamnya. Sofyan sendiri bisa merasakan adanya reaksi atau respon yang ditunjukkan pada gerakan-gerakan tubuh Soimah.

Pada akhirnya, Sofyan bukanlah binatang liar yang dikurung dalam kandang, tapi manusia yang dilengkapi dengan berbagai-macam emosi. Bagaimanapun, seks sebagai kebutuhan dasar manusia haruslah terpenuhi. Di sisi lain, Sofyan kadang merasa kesulitan saat membaca perasaan dan pikiran istrinya. Contoh sederhananya begini. Sekitar jam sepuluh malam, Soimah tiba-tiba ke kamar mandi dengan alasan ingin buang air kecil. Setelah dari kamar mandi, ia akan membuka lemari dan mengganti BH-nya dengan model lama yang sering dipakai oleh emak-emak. Tapi entahlah, ini baru dugaan Sofyan saja, karena bagaimana pun dia sendiri tak pernah punya pengalaman khusus dengan emak-emak.

Biarpun begitu, masalah ganti kutang itu jelas menimbulkan pertanyaan, yang sampai kapan pun menjadi teka-teki yang sulit dijawab.

Hal lain yang tidak kalah krusial, adalah fakta di lapangan, khususnya momen-momen setelah persetubuhan, serta kisah mengenai tokoh “Lita” sebagai teman lama Soimah sewaktu duduk di bangku SMU dulu.

Apakah kisah mengenai perjalanan hidup Lita sewaktu SMU hanya karangan Soimah saja. Sekali lagi perlu ditekankan, apakah kisah itu benar-benar nyata, ataukah gabungan antara fiksi dan fakta. Meskipun kisah itu begitu memikat di hati Sofyan, hingga ia merasa terjebak di tengah-tengah awal dan akhir cerita, sampai-sampai ia merasa kebingungan kapan Soimah akan menyampaikan ending dari kisah yang dituturkannya.

 “Umur Lita waktu itu masih sepantaran dengan saya, sekitar delapanbelas  tahun,” kata Soimah pada sang suami tercinta, saat berbaring di tempat tidur.

Pada suatu hari, Lita berusaha menyelinap dan membobol rumah Herman, laki-laki paling ganteng di kelas kami. Sebenarnya bukan hanya Lita, beberapa gadis lainnya juga tergila-gila pada Herman, sebagai pemain bulutangkis yang hebat, juga ranking teratas di sekolah kami. Tetapi, tidak ada di antara kami yang melakukan tindakan nekat dan gila seperti yang dilakukan Lita itu.

Soimah terdiam sejenak, menghela nafasnya, dan Sofyan menunggunya dengan penasaran.

Menurut Lita, hal yang paling mengasyikkan saat membobol rumah orang, ketika rumah itu sedang kosong dan tak ada penghuninya. Jadi, ketika Lita mengendap-endap memasuki pagar rumah Herman, ia memerhatikan suasana sekitar yang sepi dan lengang. Tak ada suara-suara. Seperti ia sedang menginjakkan kakinya di planet Mars atau Venus yang tak ada seorang pun mendiami planet-planet itu.

Pertama kali dia membobol rumah Herman sebenarnya sejak semester terakhir di kelas dua SMU, kemudian berlanjut sampai semester awal di kelas tiga. Itu dia lakukan setelah Lita merasa yakin bahwa Herman lebih mencintai gadis lain ketimbang dirinya. Lita mengakui bahwa ia tak bisa menyingkirkan laki-laki itu keluar dari pikirannya. Hanya melihat dia sedang memegang raket bulutangkis saja, membuat nafas Lita tersengal-sengal. Bahkan, membuat dia pamit menuju toilet seraya muntah-muntah memikirkan gadis lain yang konon dicintai Herman  tersebut. Padahal, ia merasa sepadan kecantikannya, bahkan kalau berdandan ia berani tampil lebih modis ketimbang dirinya.

“Bagaimanapun saya harus melakukan sesuatu untuk menaklukkan Herman,” pikir Lita suatu ketika. Sebab menurutnya, jika dia berpangku tangan, bisa-bisa jadi gila dan edan dibuatnya. Namun di sisi lain, untuk terang-terangan menyatakan “cinta” tentulah bukan perkara mudah bagi seorang wanita.

Pada Jumat pagi, Lita bolos sekolah dan pergi menuju rumah Herman. Hanya sepuluh menit berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Dia telah membaca situasi dan menelisik keluarga Herman secara eksklusif. Ibunya seorang PNS dan bekerja di kantor perpustakaan daerah. Bapaknya sudah meninggal sewaktu Herman duduk di bangku SD dulu. Ada seorang adiknya yang juga tinggal bersamanya, tetapi setiap pagi ia bersekolah di SMP yang letaknya tak begitu jauh dari tempat tinggalnya.

Tentunya rumah akan kosong dan pintu depan terkunci. Lita memeriksa lubang angin di atas pintu, juga beberapa pot bunga, tetapi kunci akhirnya berhasil dia temukan dari bawah lantai tertutup keset.

Untuk amannya, Lita pura-pura membunyikan bel, serta menunggu beberapa jenak untuk memastikan tidak ada orang sama sekali di dalam rumah. Lalu, dia pun masuk dan mengunci pintu kembali dari dalam. Melepas sepatu dan memasukannya dalam kantong plastik, serta menempatkannya dalam ransel di punggungnya. Kemudian, dia berjinjit menaiki tangga ke lantai dua.

Kamar tidur Herman terlihat jelas di depan matanya. Fotonya terpampang di dinding kiri. Di atas meja ada seperangkat komputer dan mesin printer dengan beberapa kertas di atasnya. Ruangan itu rapi sekali, seakan mencerminkan kepribadian penghuninya yang teliti dan cekatan. Atau cerminan dari sang ibu yang terus menjaga agar rumahnya tetap rapi, bersih dan nyaman ditempati. Hal itu membuat Lita merasa gugup dan minder. Sedikit saja ceroboh, pasti akan ketahuan kalau kamar lelaki keren itu ada yang berubah.

Lita duduk sebentar di atas kursi menghadap layar komputer yang telah dimatikan. Ahay, inilah tempat lelaki pujaannya itu belajar tiap malam. Hatinya berdebar-debar, kemudian terbersit dalam pikirannya untuk membuka laci meja. Ia mengambil bolpoin dan menciumi aroma harum pada ujung penanya. Ia mengambil penggaris, gunting, kater dan pinsil dari atas meja. Entah kenapa, benda-benda itu seakan bercahaya dan berkilauan dalam pandangan matanya.

“Jadi, cuma itu saja yang dilakukan Lita? Membobol rumah, lalu menyusup masuk ke dalam dan menciumi barang-barang milik Herman, begitu?” tanya Sofyan.

          “Bukan, tetapi ada sesuatu yang harus dibawa Lita, yaitu sesuatu yang sering dipegang dan dipakai oleh lelaki pujaannya itu. Tetapi, tentu saja benda yang tidak akan kentara kalau dia telah mengambilnya.”

“Apa yang dia bawa?”

“Bolpoin.”

“Hanya bolpoin?”

“Tapi bolpoin itu menunjukkan benda yang sering dia pegang dan pakai, dan itu menunjukkan fakta bahwa Lita adalah seorang pembobol rumah dan pencuri cinta.”

“Maksudnya?”

Soimah menutup ceritanya untuk malam itu, kemudian esok malamnya kembali dia lanjutkan di tempat tidur.

 “Bukan hanya mengambil barang milik Herman, tetapi kemudian Lita juga harus meninggalkan sesuatu miliknya di kamar itu, sebagai bukti bahwa dia pernah mengembara dan menjejakkan kakinya di tempat itu.”

“Ah, kayak pendaki gunung saja…”

“Bukan begitu, tapi sebagai komitmen atau deklarasi bahwa telah ada semacam pertukaran.”

“Jadi, barang apa yang dia tinggalkan di kamar itu?” ujar Sofyan lagi.

 Lita menimbang-nimbang, lalu membongkar-bongkar isi ranselnya. Ia menyesal karena tidak berpikir untuk membawa sesuatu yang pas dan cocok. Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan saputangan yang masih bersih dari dalam ranselnya. Ia menyelipkan saputangan itu di bawah kasur spring bed.  Setelah sepuluh atau limabelas menit kemudian, ia memutuskan segera keluar, menyelinap di balik pintu, menguncinya kembali dan menaruh kunci di bawah keset. Kemudian keesokannya, ia pergi ke sekolah sambil membawa bolpoin berharga itu, dengan penuh semangat dan gairah untuk menuntut ilmu.

***

Minggu itu adalah minggu paling bahagia dalam hidup Lita. Tangannya terus meremas-remas bolpoin itu, menciumnya, memutar-mutar di antara jari-jemarinya. Kadang dia melekatkannya ke pipi dan mulut sambil menikmati aromanya. Tapi kemudian, Lita merasa gundah dan gelisah, karena seringnya dipakai sampai-sampai isi tintanya habis.

Ia berusaha mengendalikan diri. Pikirnya, kalau memang tintanya habis, toh ia bisa datang untuk kembali membobol rumah Herman, serta mengutil sesuatu yang lebih berharga dari sekadar bolpoin.

Seminggu kemudian, Lita bolos sekolah, dan beraksi kembali. Kali ini dia masuk ke kamar Herman sekitar jam sepuluh pagi. Dan seperti dugaannya, kamar lelaki itu masih tampak sempurna. Lita memilih beberapa pensil yang sudah dipakai, kemudian sisir yang tergeletak di atas meja. Lalu, pelan-pelan dia naik ke tempat tidur Herman dan berbaring di atasnya. Ia mendekapkan tangannya di dada, dan terasa jantungnya berdebar-debar. Lima menit kemudian, ia turun dan merapikan selimutnya. Tapi sebelumnya, ia memeriksa kembali saputangan kemarin apakah masih berada di tempatnya, ternyata masih ada. Ia menuju laci dan mengambil sebuah buku catatan milik Herman.

Ah, tulisan tangan lelaki itu indah sekali, sesuatu yang diharapkan dari seorang siswa teladan. Nyaris tidak ada coretan maupun kesalahan tulis yang dibuat. Lita menuju lemari dan melihat pakaian dalam dan kaos kaki. Kemeja dan celana. Seragam bulutangkis dan bola. Semua terlipat rapi. Tidak ada yang bernoda atau kusut. Apakah lelaki itu yang melipatnya sendiri? Ataukah si ibu yang melakukannya? Tiba-tiba, Lita merasa dihinggapi rasa cemburu pada sang ibu, yang bisa melakukan apa saja semaunya terhadap lelaki pujaannya itu.

Untuk memperingati kunjungan keduanya, Lita meninggalkan lima buah potongan kuku dari jari kanannya. Malam sebelumnya, ia telah memotong kukunya dengan gunting kuku, membungkus dalam plastik, dan menyegel dalam amplop kecil. Sekarang, dia mengambil amplop tadi dari ransel dan menyelipkannya ke lembaran buku kamus yang jarang dibuka-buka di era milenial ini.

          Pada bagian ini, Soimah mengambil jeda, terdiam dan mengamati reaksi Sofyan. Ia melompat dari tempat tidur, dan melangkah menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Dibiarkan sang suami sendirian, merenungi kisah yang baru saja ia ceritakan. Ia dibiarkan menikmatinya sedikit demi sedikit, sambil terus bertanya-tanya ke mana arah cerita yang dituturkan sang istri. Ia membayangkan sosok Lita yang nekat itu, apakah tubuhnya gendut mirip Soimah bersama timbunan lemak yang menggelambir di sekitar dagu dan rahangnya. Ataukah ia semampai dan langsing seperti sosok Rina yang konon telah menjadi istri keduanya? Tapi, apakah benar gunjingan mengenai sosok Rina itu?

***

Penyusupan dan pembobolan rumah untuk kali ketiga, dilakukan empat hari berikutnya. Lita menghabiskan waktu yang lama berbaring di tempat tidur Herman. Kali ini jantungnya berdegup pelan dan normal. Dia membayangkan lelaki ganteng itu sedang tidur dengan tenang di sampingnya, seakan meremas-remas jari-jemarinya. Lita mendapat dorongan kuat untuk menciumnya. Tiba-tiba, ia menemukan ide baru dan langsung berlari turun ke lantai bawah, menuju mesin cuci. Ia menemukan keranjang binatu dan membuka tutupnya. Itu adalah campuran beragam pakaian kotor dari tiga anggota keluarga: Herman, ibu dan adiknya. Lita mengambil kaos singlet putih dan menciuminya. Aromanya begitu jelas berasal dari tubuh Herman. Kini, dengan kaos singlet di tangan, Lita menaiki tangga ke lantai dua dan berbaring di tempat tidur sekali lagi. Dia membenamkan wajahnya pada kaos itu, hingga merasakan sensasi yang menggelenyar di bagian bawahnya, hingga puting susunya kian mengeras.

Ia memutuskan untuk membawa pulang kaos singlet itu. Padahal, ini berisiko, tentu saja. Ibu Herman kemungkinan besar akan tahu kalau sebuah pakaian telah hilang. Meski si ibu tidak menyadari bahwa kaos itu hilang karena dicuri, ia masih akan bertanya-tanya ke mana perginya pakaian itu. Setiap wanita yang telaten menjaga rumah, pastilah akan tahu sekecil apapun benda yang raib dan menghilang. Boleh jadi, ia akan mencari di setiap jengkal rumah dari atas ke bawah, sudut kiri pojok kanan, bagaikan anjing pelacak yang tak henti-henti mengendus, sampai ia berhasil menemukan jejaknya.

Soimah terdiam dan menghentikan ceritanya. Untuk waktu yang lama, dia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia berbaring di sana bernafas tenang dengan mata tertutup. Di sampingnya, Sofyan penasaran dan terus menunggu bagian selanjutnya.

Dalam sejekap, rasa gairah semakin membuncah pada diri Sofyan, kemudian ia menawarkan istrinya, apakah sanggup bersenggama sekali lagi.

“Oke, siap!” balas Soimah, “setelah ini, kita lanjutkan ceritanya,” dan mereka pun segera melucuti pakaian dalamnya masing-masing.

Persetubuhan kali ini begitu menggairahkan. Mereka bercinta dalam waktu yang cukup lama dari biasanya. Klimaksnya juga jelas dan menggairahkan. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Soimah sendiri merasa dirinya terjebak ke dalam tubuh gadis seumuran SMU yang tengah menghirup aroma kaos berkeringat di genggamannya. Setelah itu, mereka saling berbaring kelelahan. Soimah tidak lagi melanjutkan ceritanya, dan Sofyan tidak serta-merta menagih agar melanjutkan malam itu juga. Mata mereka terbuka lebar sambil menatap langit-langit.

“Lalu, apa yang ditinggalkan Lita sebagai pengganti dari kaos singlet itu?” Rupanya tidak tahan juga bagi Sofyan untuk segera angkat bicara.

Soimah tidak langsung menjawab, namun setelah beberapa waktu ia pun berkata, “Enggak ada.”

“Lho? Kok enggak ada?” desak Sofyan.

“Ya, karena Lita tidak bawa persiapan apa-apa yang bisa menyamai indahnya kaos singlet. Karena itu, dia hanya menaruh gunting kuku…”

“Gunting kuku?”

“Ya, dia punya dua gunting kuku di ranselnya, dan yang paling bagus ditinggalkannya di kamar itu.”

“Di atas meja?”

“Bukan, kalau di atas meja terlalu mencolok baginya, tetapi dia menaruhnya di pojok laci, agak tersembunyi.”

Tujuh hari berikutnya, Lita melakukan lagi untuk kali yang keempat. Saat itu, Lita berpikir tentang benda yang akan ditinggalkan di kamar Herman. Dia sudah mempersiapkan BH dan tiga helai rambut yang terbungkus rapi dalam plastik. Tetapi, di tempat mana ia akan menaruhnya? Ia pun memutuskan di tempat tersembunyi di belakang lemari seraya menggesernya sedikit dan menjepitnya kembali.

“Yang dia bawa apa?” tanya Sofyan kemudian.

“Kaos kaki dan celana dalam.”

Sofyan tertawa keras, meski kemudian ia terus memancing Soimah agar melanjutkan ceritanya. Tapi sayang, pada penyusupan berikutnya ia tak berhasil mencari kunci yang tak ditemukannya di bawah keset, di sekitar pot maupun di atas lubang angin.

Mungkin ibunya mulai mengendus tanda-tanda setelah kehilangan kaos singlet dan sempak beberapa waktu lalu. Naluri perempuan itu sungguh tepat, dan reaksinya cukup sigap. Sepintas kepikiran oleh Lita, bahwa perempuan bermata elang itu mestinya kerja sebagai anggota BIN atau CIA. Ngapain juga dia jadi PNS dan bekerja di kantor perpustakaan segala?

Akhirnya, pembobolan berakhir, dan Lita kembali ke rumahnya, berbaring dengan tatapan menerawang di tempat tidur, sambil terus menciumi kaos singlet dan celana dalam milik Herman di genggamannya.

Dia membungkusnya dengan rapi, menyembunyikannya sebelum berangkat ke sekolah di pagi hari. Lalu, menjelang tidur di malam hari, ia akan mengeluarkannya, membelai-belainya dan kembali mengendus-endus aromanya.

Setelah aktivitas penyusupan berakhir, Lita mulai menjalani hari-harinya dengan normal. Kebiasaan mengkhayal dan melamunnya agak berkurang. Terlebih ketika hari demi hari, ia merasakan tak adanya reaksi apa-apa pada diri Herman di sekolah. Lelaki tampan itu menganggap biasa saja, dan menjalani aktivitasnya normal-normal saja. Dan kenormalan sikapnya itulah yang membuat Lita menjadi makin jengkel dan uring-uringan.

Ia menatap Herman erat-erat saat bertanding bulutangkis. Ia mencoba mengawasi dan mendeteksi perubahan pada dirinya. Barangkali saja dia merasa gugup atau minder disaksikan olehnya saat bertanding. Tetapi, lelaki brengsek itu rupanya anteng, nyantai dan cuek bebek saja. Ia tertawa pada saat ada yang perlu ditertawakan. Ia pun menegur teman-teman seperti biasa, bahkan berteriak keras saat bermain bola dan mengeluarkan keringat seperti biasa.

Sesekali Lita ingin memastikan lebih jauh, lalu pura-pura meminjam bolpoin miliknya. Herman mengambilkan bolpoin dari tas ranselnya, yakni bolpoin yang sangat mirip dengan yang pernah dicuri gadis itu. Tetapi, setelah Lita mengembalikan bolpoin itu dan mengucap terimakasih, reaksi Herman kok biasa saja, dan wajar-wajar saja. Sialan doang!

***

Suatu hari, Lita terperangah kaget ketika menyaksikan acara berita di siaran televisi, mengenai hilangnya sempak-sempak pada jemuran di berbagai pelosok negeri ini. Waduh, ada apa ini? Gejala apa ini? (pikir Lita).

Keesokannya, dia menyaksikan berita di KompasTV dan MetroTV, mengenai dua pemuda yang ditangkap polisi karena membobol rumah orang, hanya untuk mencuri kutang dan sempak di jemuran halaman rumahnya. Lita memalingkan pandangannya dari layar teve, ketika ibunya ikut menyaksikan berita itu sambil berdecak heran dan mengucap istighfar.

Setelah menyaksikan beberapa pemuda yang ditangkap polisi gara-gara mencuri sempak dan kutang, Lita menemukan dirinya mengalami banyak perubahan. Semula ia mengira kelainan itu hanya dialami oleh dirinya saja, tetapi yang dirasakan para lelaki ternyata lebih vulgar dan blak-blakan ketimbang apa yang dialami oleh dirinya.

Selama ini, ia merasa bahwa kejernihan akal sehatnya sedang terganggu. Ia merasa dirinya sedang sakit lantaran mengalami gejala-gejala keanehan, seperti demam yang tidak kepalang tanggung. Tetapi kemudian, lewat perjalanan waktu demam itu bisa terlewati, dan ia pun bisa menjalani kehidupan sebagaimana adanya.

“Jadi, Papah sendiri bagaimana? Apakah pernah mengalami demam yang sama, seperti laki-laki yang mencuri jemuran itu?” pancing Soimah pada Sofyan suaminya.

“Enggak tuh. Kalau suka sama teman sekelas, itu biasa. Tapi kalau sampai mencuri jemuran, apalagi sampai nekat membobol rumah dan menyelinap masuk, tentu saja enggak berani.” Sofyan terdiam sejenak, lalu katanya balik bertanya, “Mamah sendiri bagaimana, pernah?”

Soimah hanya tersenyum dan tidak menjawab. Namun, saat itu Sofyan masih bertanya-tanya, bagaimana nasib mereka di kemudian hari, setelah lulus SMU.

Apakah Lita dan Herman terus melanjutkan di perguruan tinggi yang sama, atau bahkan akhirnya menjadi jodoh. Sofyan masih gemas dan penasaran dibuatnya. Tapi, Soimah hanya diam membisu, dan berjanji untuk melanjutkannya esok hari.

***

Oleh: Pujiah Lestari

Penulis adalah Ibu rumah-tangga, menulis prosa dan kritik sastra di berbagai media nasional, baik luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.