Oleh: Alim Witjaksono
Parman mencintai Mulan, dan sepertinya Mulan juga mencintai Parman. Pertama kali mereka berjumpa sejak menduduki Sekolah Dasar (SD) Karang Asem, di Kota Cilegon. Saat itu Parman duduk dua baris di belakang Mulan. Kemudian, saat mereka menduduki kelas 5 sepertinya mereka saling jatuh cinta. Terutama Parman, yang tak henti-hentinya memikirkan Mulan.
Ketika duduk di bangku SMP di tahun 1990-an mulai muncul beberapa televisi swasta di Indonesia yang menayangkan film-film Amerika Serikat (Hollywood). Di waktu-waktu luangnya, mereka menyaksikan berbagai tayangan film dan sinetron di rumahnya masing-masing. Kadang mereka saling berbagi cerita tentang tontonan mereka bersama teman-teman sebaya di kampungnya.
Meskipun keduanya mendapat pendidikan dasar agama Islam tentang tatacara solat dan membaca Al-Quran, namun rasa cinta Parman sebagai remaja belasan tahun nampaknya semakin menggebu-gebu. Kedua orang tuanya melarang mereka saling berpacaran, meskipun di malam Minggu, Parman kesulitan tidur, kecuali setelah memeluk bantal erat-erat sambil membayangkan wajah Mulan. Kadang ia berguling dan bergelung, meliuk dan mengendus serta menggesek-gesekkan mukanya ke ujung bantal guling.
Parman kadang bertingkah aneh seperti kerbau di kubangan, atau seperti cacing dan belut yang meliak-liuk di lumpur sawah. Kadang ia menyaksikan ayam jantan yang mengejar-ngejar betina di belakang rumah, lalu si betina terdiam dan berputar-putar di sekitar jantan sambil mengibaskan sayapnya, hingga keduanya bersenggama dalam waktu beberapa detik saja.
Sampai akhir kelas 3 SMP, Parman tidak pernah menyatakan apa pun yang berhubungan dengan cinta. Mereka jarang ngobrol serius, kecuali soal keperluan sekolah, dan keduanya jarang saling menyapa lebih dari keperluan pendidikan.
Ketika menginjak SMA, pelan-pelan Parman melupakan Mulan. Sepertinya ia mulai melirik gadis lain. Sampai kelas 3 SMA Parman pernah dua kali pacaran, pernah tiga kali ciuman. Ia mulai senang berkumpul dan begadang bersama beberapa teman sekolahnya, mulai mengenal rokok, dan sesekali diajak minum bir di rumah temannya sambil menonton film porno.
Pernah ia tergoda melakukan hal-hal yang terlarang dengan salah seorang pacarnya, tanpa sempat berpikir panjang. Seminggu kemudian, keduanya ribut dan bertengkar, kemudian mereka merasa terluka, merana, dan kemudian saling berpisah.
Setelah memasuki era reformasi dan kejatuhan Presiden Orde Baru, Parman merantau ke Jakarta, memilih satu jurusan di perguruan tinggi ternama. Di tahun-tahun perkuliahannya, semakin banyak televisi swasta menayangkan film dan musik-musik Amerika dan Inggris. Ia mulai menyaksikan film-film bagus di Twenty One, juga membeli tiket-tiket untuk pertunjukan musik di Senayan, Lebak Bulus hingga Bandung dan Surabaya.
Di tahun-tahun terakhir masa kuliahnya, hampir ia merasa frustasi bersama para sahabatnya yang menunda waktu kelulusan. Memikirkan masa depan yang seakan tak jelas, mau jadi apa mereka hidup di negeri yang menimbun utang, serta mewarisi peradaban inlander yang sangat melekat sejak pemerintah Hindia Belanda hingga Orde Baru Soeharto. Sesekali ia mengunjungi pertunjukan seni di Taman Ismail Marzuki (TIM), Gedung Kesenian Djakarta, perpustakaan nasional, hingga tempat-tempat wisata dan hiburan.
Sekali waktu ia bersama beberapa temannya mendatangi Museum Pancasila Sakti, yang dinamakan Museum Lubang Buaya oleh pemerintah Orde Baru. Karena banyak adegan-adegan visual yang tak masuk akal di museum itu, mereka pun sepakat mendatangi seorang pengusaha lele jumbo dan berusaha merintis usaha baru lagi. Ia menyaksikan pakan lele mengalir bersama tahi-tahi yang langsung dilalap para lele jumbo. Kadang Parman berpikir, bahwa menjadi tahi barangkali memiliki nasib yang lumayan ketimbang sosok manusia terkutuk dalam novel Pikiran Orang Indonesia. Ia merasa kesasar terlahir di permukaan bumi, dengan beragam ujian dan cobaan, bagaikan dihempaskan di tengah padang pasir atau hutan-hutan belantara.
Beberapa tahun setelah lulus kuliah, Parman memulai untuk menata hidup baru. Seperti orang-orang pada umumnya, ia mencoba menetapkan prinsip. Ia pergi ke kota Bandung, mencoba menemui Mulan yang sudah bekerja. Parman mengajak Mulan makan siang, dan Mulan menyetujuinya. Mereka makan di pinggir jalan. “Bagaimana kabarmu?” tanya Parman. “Baik,” jawab Mulan. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Dijawab, “Baik.”
Jam 12.00 siang, suara azan bergema dari salah satu masjid. “Apakah kamu mau solat?” Dibalas, “Apakah jarak masjid tidak jauh dari sini?” Lalu ditanya lagi, “Apakah kamu rajin solat?” Dijawab, “Ya, kadang-kadang.”
Setelah makan siang yang tidak begitu istimewa, Parman mengantar Mulan pulang ke rumah kontrakannya. Di sepanjang jalan, Parman berharap Mulan mengatakan sesuatu dan mereka bisa mengobrol, tetapi Mulan bungkam saja, tak mengatakan apa-apa.
Sepulang ke kamar kost-nya di Jakarta, Parman merasa hampa dan nelangsa. Ia tak bisa tidur, lalu keluar dan duduk di serambi, membakar rokok dan memandangi langit. Seberkas sinar bulan memancar dari balik awan hitam, lalu berpikir tentang Tuhan Yang Maha Pengasih, yang telah menciptakan alam raya bersama terang dan gelapnya, siang dan malamnya, bahkan lelaki dan wanitanya. Namun, jika lelaki dikonotasikan sebagai terang, apakah layak kegelapan diidentikkan dengan sosok wanita. Lalu, siapakah itu Mulan? Apakah ia serupa istri Nabi Nuh atau Nabi Luth yang terhempas ke dalam neraka karena penolakannya akan kebenaran?
Jika pun Tuhan menciptakan surga sebagai kenikmatan dan keindahan, bukankah neraka yang panas dan menyengsarakan juga ciptaan Tuhan? Apakah mungkin Dzat Yang Maha Penyayang itu tega menyiksa manusia karena kesalahan dan dosa-dosa yang dilakukan atas izin-Nya pula?
Parman membakar rokok lagi dan memandangi langit dan membakar rokok lagi dan memandangi langit lagi. Setelah beberapa kali terbatuk, ia pun mematikan rokok terakhirnya, lalu meminum segelas air dan pergi tidur sambil mendekap sebuah harapan, barangkali suatu saat nanti…
Tetapi kemudian, selama dua-tiga tahun mereka tak saling jumpa. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing, beberapa kali ganti nomor ponsel. Tahun-tahun ketika munculnya medsos dan berbagai aplikasi Facebook, Instagram dan WhatsApp. Parman mengenal beberapa teman wanita, begitu pun dengan Mulan yang mulai menjalin persahabatan dengan banyak teman baru.
Suatu ketika, Parman menyambangi rumah kontrakan Mulan, namun tak ada seorang pun di sana. Ibu kontrakan mengabarkan, bahwa tadi sore dia berangkat, dan dijemput dengan dua orang lelaki yang mengendarai mobil sedan berwarna abu-abu.
Banyak hal yang terjadi dan banyak hal datang dan pergi. Sampai titik ini, seperti kebanyakan lelaki sepantarannya, Parman menerapkan prinsip dan bersikeras mempertahankan apa yang baginya teramat penting. Dia menikah dengan seorang wanita dari Indramayu, tetapi dua tahun kemudian mereka cerai. Seorang bayi mungil dibawa mantan istrinya pulang ke kampung halaman, dititipkan pada neneknya di kampung halaman.
Lalu, bulan-bulan dengan dompet selalu kempes, kerja di kantor yang menjemukan, beberapa teman toxic dan bos menjengkelkan. Semakin muncul tunggakan-tunggakan, utang sana-sini, segala macam kekecewaan, keterpurukan datang silih berganti.
Mula-mula, Parman mengatasi semua itu dengan susah payah. Namun, lambat laun, hatinya mulai kebas dan mati rasa dan sebelum menyadari apa yang terjadi, ia menemukan dirinya mulai terbiasa, seperti orang-orang pada umumnya. Dan kehidupan tetap harus terus dijalani.
Kini, ia mencoba mengikuti beberapa grup pengajian, yang membahas soal-soal keagamaan, dari tingkat syariat, tarekat, hakikat, hingga makrifat. Ia berusaha mengenal Tuhan dalam dirinya. Ia memahami, ketika seorang ulama menyatakan, bahwa Tuhan tak pernah menjauh dari diri kita, tetapi kitalah yang kadang tak menyadari bahwa Dia begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. “Tuhan sendiri tidak pernah berhijab,” kata seorang ulama sufi, “tetapi manusialah yang membangun hijab-hijab di dalam dirinya, seakan ada pembatas antara dirinya dengan Tuhan Yang Maha Dekat.”
Suatu hari, sepulang dari pengajian, Parman menemukan Mulan sedang duduk di teras rumah kost-nya. Mereka saling bersitatap. Parman membukakan pintu untuk Mulan, dan ia pun masuk. Mulan meletakkan kantung kresek di atas meja makan, lalu mengeluarkan beberapa cemilan, roti sobek dan air mineral. Di bagian bawah ada kresek kecil berisi seutas tali berwarna putih.
“Buat apa tali itu?” tanya Parman heran, apakah kamu mau….” (dia tak melanjutkan kata-kata itu).
Tampaknya itu adalah tali pramuka yang dibeli Mulan dari warung tadi pagi. Karena saat menuju kediaman Parman ia menemukan seekor anak kucing terperangkap di bawah got yang kedalamannya sekitar tiga meter. Ia memintal dan menjuntai tali tersebut untuk menuruni got, lalu mengangkatnya ke permukaan, hingga anak kucing itu pun kembali berlarian bersama teman-temannya.
Keduanya terus mengobrol tentang banyak hal. Parman bicara dan Mulan mendengarkan, kemudian Mulan bicara dan Parman mendengarkan. Sesekali mereka menyela, memprotes dan saling tersenyum. Tentu saja mereka menyimpan rahasia tertentu tentang masa lalu, yang tak mau diungkapkan.
Mereka berjanji pada dirinya untuk merahasiakan sesuatu yang tak mau dibicarakan selama mereka menjalani perkawinan, bahkan hingga akhir hayat mereka. Setiap jalan hidup manusia mengandung misteri, baik yang positif maupun negatif. Tentu saja ada misteri tertentu yang hanya boleh diketahui antara diri kita dan Tuhan Sang Pencipta. []
Penulis adalah Prosaik dan pengamat sastra milenial, telah banyak menulis cerpen dan esai di berbagai media nasional dan daerah







