Kristus: Raja yang Tersalib dan Relevansinya bagi Dunia Dewasa Ini

oleh -908 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Arnoldus Nggorong

Raja, dalam benak orang-orang sederhana (rakyat jelata) terlebih pada tempo doeloe sebelum mengenal konstitusi, adalah sosok yang dihormati, dihargai, dikagumi, disanjung, dipuja layaknya dewa, tapi sekaligus juga disegani, ditakuti. Perihal ambiguitas sosok raja ini cukup beralasan karena ia memiliki kekuasaan mutlak, tidak terbatas. Dia dapat berbuat apa saja bila ia mau. Jadi tergantung pada kemauan baik sang raja itu sendiri. Yang dapat membatasi kekuasaannya hanyalah sang raja itu sendiri. Sebutan yang memperkokoh kekuasaan absolut sang raja adalah maharaja, mahadhiraja, prabu, panembahan, malik. Itulah sebabnya segala keputusan dan tindakan entah baik atau jahat, buruk bergantung sepenuhnya kepada sang raja.

Walaupun sang raja memiliki penasihat, namun yang menentukan dan memutuskan, tetaplah sang raja itu sendiri. Sekalipun pada permulaan pemerintahannya sang raja itu baik, namun sifat absolut kekuasaan itu membuatnya terlena sehingga akhirnya dia terjerembab dalam kesewenang-wenangan. Deskripsi ringkas di atas dengan jelas memperlihatkan sosok raja duniawi yang penuh kuasa, kemegahan, kesemarakan, kemewahan, kemuliaan, disegani, dihormati dan dipuji. Gambaran ini tampak dengan cukup sempurna dalam kisah pencobaan Yesus di padang gurun pada saat iblis memperlihatkan seluruh kerajaan duniawi dengan segala kuasa dan kemuliaannya (bdk. Luk. 4:5-6; Mat. 4:89). Untuk kepentingan tulisan ini, saya mengambil raja dalam Kitab Suci sebagai contoh.

Raja dalam Kitab Suci

Dalam Kitab Suci terdapat beberapa kisah tentang raja yang jatuh dalam tindakan sesuka hati dan sewenang-wenang karena besarnya kekuasaan yang ada padanya. Sifat kekuasaan raja yang absolut secara potesial memberi peluang lebih besar untuk bertindak sewenang-wenang, walaupun awalnya sang raja itu baik. Lagipula watak kekuasaan secara intrinsik berpotensi diselewengkan seperti sudah diperingatkan sejarawan Ingris, Lord Acton.

Padahal status raja dalam kitab suci adalah representasi Allah. Dengan lain kata, sang raja memerintah atas nama Allah. Sebab raja dipilih oleh Allah dengan perantaraan nabi-Nya. Dalam keyakinan sederhana, raja pilihan Allah tidak mungkin bertindak sesuka hati. Namun karena kekuasaan itu berada dalam tangan manusia, selalu ada kemungkinan untuk disalahgunakan. Di sini hanya disebutkan beberapa sebagai contoh untuk menunjukkan tindakan raja yang akhirnya tergoda dan jatuh dalam penggunaan kekuasaan secara sewenang-wenang.

Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama terdapat beberapa raja yang menyalahgunakan kekuasaannya. Pertama, Raja Saul (1 Sam. 9-15). Dia adalah raja Israel pertama. Saul menjadi raja atas kemauan orang Israel yang mendapat restu dari Allah lewat perantaraan nabi Samuel (1 Sam. 8:6-9; 9:15-16). Kesalahan yang dilakukan Saul adalah ketidaktaatannya terhadap perintah Allah lantaran takut akan kehilangan takhta dan kecemburuannya terhadap Daud yang berdampak pada upayanya untuk membunuh Daud karena takut kehilangan pengaruh dan kewibawaan.

Kedua, Raja Daud (1 Sam. 16 – 2 Sam. 24). Daud menggantikan Saul sebagai raja. Daud memerintah sangat lama. Dia menjalankan pemerintahannya hingga usia tua. Meskipun Daud sangat berkenan di hati Allah, namun ada satu kesalahan yang dilakukan Daud yakni memperistrikan Betsyeba dengan cara yang licik (2 Sam. 11:2-27). Daud menyuruh Uria, suami Betsyeba pergi berperang. Daud menyurati Yoab agar Uria ditempatkan di barisan depan berhadapan dengan musuh. Uria meninggal dalam pertempuran itu. Perbuatan Daud ini jahat di mata Allah. Setelah ditegur oleh Nabi Natan, Daud menyesal, berubah, bertobat dan kembali ke jalan yang benar (2 Sam. 12:1-14).

Perjanjian Baru

Raja yang paling nyata dalam hal abuse of power dalam Perjanjian Baru adalah Herodes Agung. Tindakannya yang paling dikenang dalam sejarah karena kekejamannya yang di luar batas peri kemanusiaan. Dia membunuh anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah di Betlehem, karena merasa diperdaya oleh para majus dari Timur (Mat. 2:16-18). Aksi barbar Herodes Agung ini, kalau menggunakan perspektif HAM sekarang sudah pasti masuk dalam kategori kejahatan luar biasa dan patut mendapat hukuman berat.

Raja yang juga tak kalah kejamnya adalah Herodes Antipas. Dialah yang memenggal kepala Yohanes Pembaptis atas permintaan istrinya lewat anak perempuannya Herodias lantaran ingin menjaga gengsi di depan para tamu yang hadir pada saat pesta ulang tahunnya (Mat. 14:1-12; Mrk. 6:14-29). Dia juga yang ikut serta dalam proses pengadilan terhadap Yesus dan bersama dengan pasukannya menista, mengolok-olok serta mengenakan jubah kebesaran kepada Yesus (Luk. 23:7-11).

Raja yang Tersalib

Kalau dicermati secara saksama, sesungguhnya gambaran tentang Kristus sebagai Raja yang tersalib sudah tampak dalam kisah kelahiran-Nya. Di satu pihak, tentang Yesus telah diramalkan oleh Nabi Yesaya. Pada waktu kelahiran-Nya, Raja Damai, yang dinubuatkan Yesaya, dengan sendirinya menunjuk kepada Yesus (bdk. Yes. 9:1-6).

Di pihak lain, Yesus tidak lahir dalam kemewahan sebagaimana layaknya seorang anak raja. Justru sebaliknya Dia lahir di kandang hewan (bdk. Luk. 2:7). Yesus lahir dalam kondisi yang sangat memprihatinkan (Lihat tulisan saya, Natal: Pemiskinan Diri Seorang Allah Paling Radikal, FloresPos.Net 24/12/2024). Malah pada waktu Yesus masih dalam rahim Maria, ibu-Nya, Dia sudah merasakan salib di mana cibiran, hinaan, gosip yang dialami Maria karena mengandung tanpa suami, tanpa persetubuhan (bdk. Mat. 1:18-20).

Dengan melihat peristiwa kelahiran Yesus, gambaran tentang Yesus, Raja yang tersalib sudah terpampang dengan cukup jelas. Deskripsi itu menyata dalam nubuat Simeon ketika Yesus dibawa oleh Yosep dan Maria untuk dipersembahkan dalam bait Allah. Sambil menatang bayi Yesus, Simeon berkata: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.”

Biarpun Yesus mengalami masa-masa yang menggembirakan (masa kemuliaan) dan terakhir Dia disambut sebagai Raja secara meriah ketika memasuki kota Yerusalem, namun kalau melihat seluruh perjalanan hidup-Nya seturut keempat injil: Matius, Markus, Lukas, Yohanes, sesungguhnya Yesus lebih banyak mengalami peristiwa salib. Puncaknya adalah kematian-Nya yang memilukan di Golgota (Lihat tulisan saya, Salib: Dari Penghinaan Menuju Kemuliaan, Poskupang.com 29/3/2024).

Bertolak dari penjelasan di atas, dapat dikatakan, Yesus adalah Raja yang berbeda dengan raja-raja duniawi. Jika raja-raja duniawi memerintah dengan kekuasaan, ‘tangan besi’, Yesus memerintah dengan kasih. Jika raja-raja duniawi diterima secara meriah dengan pagar betis dan dikalungi selendang, Yesus hanya disambut oleh orang-orang sakit, orang lumpuh, orang miskin dan sederhana. Apabila raja-raja duniawi bermahkotakan emas di kepalanya (bdk. 2 Sam12:30), Yesus justru dimahkotai duri (Yoh. 19:2-3). Jika raja-raja duniawi dikawal oleh prajurit lengkap dengan senjata, Yesus hanya dikawal oleh duabelas murid dari kelompok sosial terendah.

Bila raja-raja duniawi dilayani dayang-dayang, ditemani permaisuri dan dikelilingi para pejabat istana, sebaliknya Yesus melayani orang-orang dari golongan yang dipandang rendah, hina dalam struktur sosial masyarakat Yahudi seperti orang Samaria, para pemungut cukai, orang buta, orang lumpuh, orang-orang sakit, orang-orang biasa. Mereka itulah yang setia menemani-Nya sekaligus ingin mendengarkan sabda-Nya. Kalau para hamba mengorbankan nyawa demi membela sang raja, sebaliknya Yesus menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan umat manusia. Itulah Kristus, Raja yang tersalib, yang kontras dengan raja-raja duniawi. Suatu perbedaan yang amat jelas, tajam.

Dengan lain kata, Kristus, Raja, menjalankan pemerintahan-Nya dengan kasih. Dia melayani semua orang tanpa pilih kasih, lebih-lebih orang tertindas, lemah, tak berdaya, terpinggirkan, miskin. Mereka adalah prioritas utamanya (bdk. Luk.4:19). Lebih dari itu, Yesus mengorbankan diri-Nya sendiri untuk menyelamatkan manusia. Nyawa-Nya sendiri adalah jaminan keselamatan, bukan murid-murid-Nya, bukan pula orang-orang sakit, lumpuh dan buta. Jalan penebusan itu sangat mahal yaitu sengsara dan wafat di salib, palang penghinaan.

Dialah Raja yang sesungguhnya sebagaimana diafirmasi oleh Yesus sendiri ketika Pilatus bertanya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” dan Yesus menjawab: “Engkau sendiri mengatakannya.” (Mat. 27:11). Para prajurit yang menganiaya Yesus juga menyebut Yesus adalah Raja. (Yoh. 19:3). Di atas kayu salib Yesus ditulis: “Yesus, Raja orang Yahudi (Mat. 27:37; Mrk. 15:26; Luk. 23:38; Yoh. 19:19). Pengakuan yang sama datang dari seorang penjahat yang turut disalibkan bersama Yesus di Kalvari. Di tengah penderitaan yang mengerikan dan dalam nada penuh harap dia berkata, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” (Luk. 23:42). Santa Faustina, rasul kerahiman, menyebut Yesus adalah Raja kerahiman. Paulus, sang rasul, dalam karya pastoralnya, justru mewartakan Kristus, Raja yang tersalib. (bdk. 1 Kor. 1:23; Kol. 1:13). Pemerintahan-Nya kekal, abadi.
Sedangkan raja-raja duniawi memerintah dengan kekuasaan, tangan besi. Padahal pemerintahannya hanya sementara.

Kekuasaan pada raja duniawi digunakannya untuk menguasai. Di sekitarnya ada pengawal yang setia dan militan melindungi dan merelakan nyawanya bagi sang raja. Komparasi yang tidak seimbang, ada kalangan yang berpendapat bahwa perbandingan ini sangat tidak proporsional. Mereka berargumen, Yesus adalah Allah, meskipun Dia lahir sebagai seorang manusia. Ke-Allah-an-Nya memungkinkan Dia memiliki kemampuan untuk melakukan hal yang tidak mungkin, bertahan dalam kesulitan yang paling ekstrim. Ke-manusiaan-an-Nya tidak mengurangi bahkan menghilangkan ke-Allahan-Nya. Justru ke-Allah-an Yesus “mengatasi” ke-manusiaan-Nya. Dengan lain perkataan, Yesus “mengalahkan” ke-Allahan-Nya adalah suatu usaha yang paling radikal dari seorang Allah”. Seturut perspektif manusiawi, itu adalah kebodohan.

Saya tidak hendak menjawab atau menuntaskan persoalan di atas. Lagipula ini bukan kompetensi saya. Di sini saya sebatas mengemukakan suatu refleksi atas perbandingan tersebut dengan mengajukan pertanyaan retoris berikut.

Pertama, kalau Yesus, yang adalah Allah, sudi turun ke dunia (bdk. Luk. 1:31) meninggalkan “kemapanan ke-Allah-an-Nya” dan tidak menganggapnya sebagai milik yang mesti dipertahankan, lalu turun ke dunia, menjadi serupa dengan manusia (bdk. Flp. 2:6-9), merasakan kelemahan-kelemahan manusia, dan mengalami pencobaan (Ibr. 4:15), adakah dasar yang kokoh yang patut dibanggakan dari kemewahan duniawi, popularitas diri, kelimpahan harta, padahal itu cuma sementara, dan pada akhirnya binasa, tidak dapat mempertahankan hidup? (bdk. Mat. 6:26)

Kedua, jika seorang Allah, Raja semesta alam, yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas dengan keagungan, kemuliaan, yang tiada taranya, merendahkan diri sehina-hinanya, adakah alasan yang adekuat untuk menyombongkan diri dengan kekuasaan yang sementara itu, dan lebih-lebih lagi mengorbankan orang lain hanya untuk mempertahankan kekuasaan?

Ketiga, bila Yesus adalah Allah, mengapa Dia mencari tempat yang sunyi untuk berdoa kepada Allah (Mrk. 1:35; Luk.4:42), bahkan semalam-malaman Dia berdoa? (Luk. 6:12). Bukankah tindakan itu hanya dilakukan oleh makhluk yang terbatas, yang disebut manusia, ditujukan kepada “Yang Tidak Terbatas”, yang dinamakan Allah?

Dunia yang Terluka

Dokumen Kapitel General Serikat Sabda Allah (SVD) ke-19 mencantumkan 5 jenis luka baik secara pribadi, komunal, maupun global seperti dikutip Pater Anthony De Luc,SVD dalam makalahnya “Komunikasi Sosial Dalam Sebuah Dunia Yang Terluka”. Luka-luka tersebut adalah luka sosial dan budaya, luka ekonomi dan politik, luka fisik dan psikologis, luka lingkungan, dan luka-luka dalam Gereja.
Senada dengan itu, dalam kesempatan Konferensi Internasional di Auditorium Santu Thomas Aquinas Ledalero, 27-28 September 2024, Uskup Agung Ende, Paulus Budi Kleden merangkum kondisi sosial-politik kita saat ini sebagai berikut: “Hidup kita semakin didorong oleh pola menang-kalah baik dalam berpikir maupun dalam tindakan. Untuk menang, orang menggunakan apa pun yang tersedia, termasuk cara yang menimbulkan penderitaan pada orang lain. Ini terjadi tidak hanya di ranah politik dan ekonomi, tetapi juga dalam agama. Kita berpikir, memutuskan, dan bertindak mengikuti pola mayoritas-minoritas, atau kuat-lemah, yang pada akhirnya salalu mengarah pada pengorbanan orang lain.” (Paul Budi Kleden, “Keterlukaan dan Solodaritas: Menuju Politik Berbasis Belas Kasih”, 2024).

Persis inilah yang sedang dialami dunia dewasa ini. Isu lingkungan adalah persoalan paling serius saat ini yang mengancam planet bumi, pemanasan global dari hari ke hari semakin meningkat, kekacauan iklim yang tampak dalam perubahan cuaca yang ekstrim, di samping kemiskinan ekstrim, ketimpangan sosial yang tajam antara kaya dan miskin terlebih di negara-negara sedang berkembang dan terutama di negara-negara dunia ketiga, terorisme global, ketegangan dan konflik internasional, persaingan antarkekuatan politik yang seolah tak lagi peka terhadap nasib kaum lemah, rentan, terpinggirkan.

Sekilas info misalnya, di bidang politik dan pertahanan (militer) pada tataran global, terjadi persaingan antarnegara yang didominasi AS, Rusia dan China. Ketiganya bersaing berebutan pengaruh. Bahkan mereka saling unjuk kekuatan dengan mengerahkan kapal induk, uji coba senjata nuklir. Ada semacam “perang dingin” di antara ketiga negara tersebut yang sewaktu-waktu dapat meletus.

Di tingkat regional: gejolak (Perang) di Timur Tengah yang melibatkan Israel, Palestina, Suriah, Irak, Iran, Lebanon, serta beberapa negara Arab lainnya dan yang berada di balik itu (diduga kuat) adalah AS, Rusia, China. Sedangkan untuk konteks Indonesia, persaingan antarpartai politik terutama menjelang Pemilu dan Pilkada salah satunya terlihat dalam polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat, separatisme, korupsi, penegakan hukum hanya yang tajam ke bawah.

Politik di Indonesia dilukiskan lebih negatif oleh Ignas Kleden. Menurutnya, “Politik Indonesia disibukkan oleh perlombaan gila-gilaan untuk memperoleh kekuasaan dengan mengeluarkan biasa besar, tetapi taka da kompetisi untuk memperlihatkan kemampuan menggunakan kekuasaan atas cara yang menguntungkan rakyat. Kekuasaan yang sudah diperoleh kemudian digunakan sebagai alat mempertukarkan kekuasaan politik dengan keuntungan ekonomi bagi seorang pemegang jabatan publik.” (Kompas, 17/10/2015, “Alam Pikiran Kejahatan”). Semuanya ini berakar dalam egoisme, materialisme, kapitalisme, hedonisme, ekstrimisme, fasisme, terorisme, dan isme-isme lainnya yang berdaya destruktif. Di dalamnya manusia saling menyakiti, saling menghancurkan, saling membunuh, saling membinasakan, saling melenyapkan, saling meniadakan dan saling memusnahkan satu sama lain. Itulah neraka yang nyata di dunia, bukan lagi sekadar khayalan seperti dalam film-film hollywood dan bollywood.

Makna dan Relevansinya

Kristus, Raja yang tersalib menemukan makna dan relevansinya dalam kondisi dunia yang sedang terluka saat ini. Pertama. Sebab Kristus datang dengan pendekatan kasih yang menawarkan pemaafan dan pengampunan. Dia tidak memberi ruang pada egoisme, kebencian, dendam dan permusuhan. Dia hadir sebagai Raja yang membawa damai. Justru inilah yang dibutuhkan dunia saat ini.

Kedua. Kristus bukan seorang pemimpin yang retoris, yang piawai dalam kata-kata. Dia menghidupi apa yang dikatakan-Nya. Pewartaan-Nya berdaya, berwibawa karena ada kesesuaian antara ucapan dan tindakan, kata dan perbuatan. Itulah kebenaran yang diwartakan-Nya dan kebenaran itu jualah yang menjadi alasan sekaligus tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini (Bdk. 18:37). Dengan formula yang refleksif-injili, seluruh hidup-Nya adalah kebenaran (bdk. Yoh. 14:6). Sebab kebenaran itu yang memerdekaan orang-orang yang percaya pada-Nya (bdk. Yoh. 8:32).

Ketiga. Kristus, Raja yang tersalib menujukkan Dia yang solider, yang turut merasakan penderitaan manusia terutama kaum lemah, yang tidak berdaya dan diperdaya, yang tidak mampu bersuara dan dibungkam; kaum papa, yang miskin dan dimiskinkan. Dia bukan sekadar bersikap simpati dan empati. Dia melampauinya dengan ikut mengalami penderitaan. Dalam bahasa Agus Salim, memimpin adalah menderita (leiden is lijden). Dirumuskan dalam formula Konsili Vatikan II, Dia ikut serta merasakan dan mengalami kecemasan dan kegelisahan kaum tertindas. Lebih dari itu, Dia mengantar mereka kepada kehidupan kekal. Sebab Dia adalah kebangkitan dan kehidupan itu sendiri (Yoh. 11:25.).

Keempat. Kristus, Raja yang tersalib tampil sebagai pemimpin yang melayani, bukan dilayani (Mat. 20:28) sebagaimana kebiasaan pemimpin duniawi pada umumnya. Dia membalikkan kebiasaan yang umumnya terjadi di tengah masyarakat. Dia hadir dengan sikap melayani seperti seorang hamba, karena di situlah letak keagungan-Nya (bdk. Mat. 20:26; 23:11).

Penutup

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa Kristus, Raja yang tersalib tampil dengan spirit pembaharuan yang radikal yakni kasih dan pengorbanan, penderitaan, yang berlawanan dengan semangat duniawi yaitu persaingan dan konflik, yang pada akhirnya saling meniadakan.

Di kala pemimpin-pemimpin duniawi mengagungkan kekuasaan, popularitas, jabatan dan pangkat, Kristus, Raja yang tersalib muncul sebagai seorang hamba yang melayani dengan penuh kasih tanpa pamrih. Pada saat orang-orang melihat kekuasaan sebagai tujuan, lalu berebutan untuk mendapatkannya, dan seterusnya dipakai untuk menindas, yang melahirkan kebencian, dendam dan permusuhan, Kristus, Raja yang tersalib datang membawa damai, pengampunan, menumbuhkan pengharapan lewat penebusan serta mengobarkan cinta di dalam hati manusia.

Dengan kata lain, Kristus, Raja yang tersalib menampilkan diri sebagai pemimpin yang berkuasa dengan kasih yang lembut. Pemimpin yang membebaskan kaum tertawan dan tertindas. Pemimpin yang mewujudkan kerajaan-Nya lewat pengorbanan, sengsara, dan wafat-Nya di kayu salib. Kristus, Raja yang tersalib itulah yang menjadi pewartaan Gereja. Setiap kaum beriman dipanggil dan bersama rasul Paulus mewartakan Kristus yang tersalib.

Selamat merayakan Kristus, Raja semesta alam.

Minggu, 23 November 2023

Penulis adalah Alumnus STFK Ledalero, tinggal di Labuan Bajo

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.