Sufisme dan Moralitas Kebangsaan

oleh -222 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Dr. Mu’min Roup, MA

Banyak orang di era milenial ini yang tergopoh-gopoh mengejar kekayaan, sebelum sempat memantaskan diri menjadi orang yang bermental kaya. Padahal sejatinya, uang adalah energi kosmik yang akan mendatangi orang-orang yang sudah layak menerimanya. Sekeras apapun manusia berusaha mengejarnya, sifat energi tak ubahnya kupu-kupu yang jika dikejar mati-matian, justru ia akan terbang berputar-putar, hingga mencari tempat yang nyaman untuk disinggahi.

Pada prinsipnya, setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi magnet rizki dan menerima kelimpahan. Rizki bagaikan sang tamu yang hadir manakala kediaman kita cukup nyaman untuk dihampiri. Ia akan menolak tangan yang menggenggam kuat, tetapi justru tangan terbukalah yang akan didatanginya. Karena itu, sang tuan rumah harus duduk dengan tenang dan nyaman, hingga kupu-kupu berwarna-warni itu akan datang menjumpainya.

Sifat uang bukanlah seperti pasir laut, yang semakin digenggam justru semakin lepas dari tangan kita. Karena itu, manusia harus pintar mengubah energi yang ada dalam dirinya, menghilangkan prasangka negatif tentang dunia, serta mengikhlaskan uang agar keluar dan masuk dari genggamannya. Jangan biarkan alam bawah sadar bicara tentang ketakutan dan kepanikan, yang membuat manusia bisa diperbudak oleh kekayaan yang dimilikinya.

Namun, jika manusia membiarkan dirinya takut miskin atau sebaliknya (takut kaya), justru hal tersebut menunjukkan kurang bersahabat dengan dunia. Kita harus mampu membebaskan diri dari karma atau “kutukan” leluhur, bukan dengan memusuhinya. Akan tetapi, memaafkan dan memaklumi ketidaktahuan mereka, lalu mendoakan mereka agar selamat dan sejahtera (di alam akhirat). Dengan demikian, kita telah ikhlas dan membersihkan diri kita, dari energi-energi yang tak perlu, lalu memulai dengan memperbaharui niat, usaha dan bertawakkal pada Allah.

Percayalah, dalam waktu yang tak begitu lama, semesta akan memihak dan memenuhi harapan kita. Karena, ia bekerja dan memberi kelimpahan tanpa memandang umur kita, bahkan juga tak terikat oleh kalender masehi maupun hijriyah. Semesta tak mengikatkan diri dalam ruang dan waktu tertentu, karena kita sudah berusaha mengubah vibrasi mengemis dengan vibrasi menarik dan menghadirkan kelimpahan.

Penting juga bagi kita untuk menghindari pergaulan yang tidak selaras, perkumpulan yang banyak bergosip, mengeluh dan menggerutu, sebagai manifestasi energi yang cenderung negatif dan kufur nikmat. Di dalam Al-Quran, Tuhan berjanji, apabila manusia bersyukur, kelak nikmat anugerah-Nya akan ditambah dan ditambah terus. Ini jangan diartikan bahwa nikmat anugerah itu selalu dimaknai dengan uang dan duit melulu, tetapi hidup tenang, bahagia, anak-anak sehat, juga merupakan bagian dari rizki dan kelimpahan. Untuk itu, jangan pelit dan ragu-ragu untuk selalu bilang “alhamdulillah” sebagai manifestasi rasa syukur yang mendalam.

Kadang kita memaknai, bahwa rizki itu identik dengan pemberian dan kasih sayang Allah. Tetapi, kebanyakan manusia modern tidak menyadari, bahwa harapan yang belum tercapai, bahkan doa yang belum (tak) terkabul pun adalah bagian dari rizki Allah juga. Lho, kok keinginan yang tak tercapai adalah rizki juga?

Masalahnya, mindset kita terbiasa berpikir, bahwa kebaikan menurut kita identik dengan kebaikan menurut Allah. Padahal, banyak sesuatu yang menurut kita baik, tampaknya dipandang tak baik dalam penilaian Allah. Misalnya, berapa banyak pengusaha memaksakan diri mendukung kandidat penguasa tertentu, namun ternyata, dalam hitungan bulan harta milyaran habis ludes, lantaran yang didukungnya kalah telak. Itu masih belum seberapa, ketimbang seseorang (Fulan) mengumpulkan uang bertahun-tahun untuk membeli mobil mewah, namun dalam beberapa minggu dikendarai, tiba-tiba mobil itu tertabrak tronton atau jatuh ke jurang, yang membuat mobilnya hancur, termasuk Fulannya sendiri terkapar di rumah sakit selama berminggu-minggu.

Begitu pun ketika kita harus membiayai anak yang sakit, berapa pun anggaran dibutuhkan, kita akan berusaha menanggungnya. Sementara, pengetahuan empirik kita sibuk membicarakan bakteri, kuman, virus, hingga imunitas dan kekebalan tubuh si anak. Padahal, semahal apapun obat, seprofesional apapun dokter, bahkan sehebat apapun pelayanan rumah sakit, sang anak hanya akan sembuh berkat izin Allah semata. Jika Allah tak mengizinkan ia pulih dari penyakitnya, sampai berapa lama pun terbaring, kita akan sibuk menanggung biaya penyembuhannya.

Selain itu, pengetahuan empirik kita juga membicarakan soal kualitas nutrisi atau makanan bergizi sebagai asupan yang baik (thayyib). Padahal, berapa banyak pejabat korup di negeri ini yang menafkahi dan memberi asupan istri dan anaknya dari rizki yang tak halal. Keselarasan antara makanan yang halal dan bergizi (halalan thayyiban) inilah yang harus diutamakan bagi asupan anak-anak bangsa tercinta.

Ketahuilah, bahwa vibrasi syukur dapat mengubah algoritma semesta. Ia menciptakan reprograming batin dan jiwa kita. Untuk itu, kaum sufi justru merasa bersyukur ketika doanya tak terkabulkan, karena bagi mereka, itulah yang terbaik menurut Allah. Sebab, terkabulnya doa manusia tidak menjamin adanya keselarasan antara rizki yang dilimpahkan, dengan kedamaian hati dan keberkahan hidup. Boleh jadi, semakin banyak kekayaan diperoleh, justru semakin otaknya terprogram untuk selalu mengejar lebih dan lebih, hingga tak punya kesempatan untuk menikmati dan mesyukurinya. Padahal, segala sesuatu hanya akan terasa nikmat, bila kita dapat mensyukurinya.

Orang yang tak bermental syukur, meskipun gajinya sepuluh kali dinaikkan, ia akan sulit melepaskan diri dari virus iri, dengki, tamak, yang telanjur melekat dalam sanubarinya. Ia akan terus merasa kekurangan karena gaya hidupnya, serta jiwanya yang jauh dari sifat qana’ah (tak sanggup mensyukuri apa adanya). Sebab, bagaimana pun perkara rizki adalah soal mental. Kalau mentalnya sudah cacat (tak waras), ia takkan bisa hidup tenang dengan memiliki banyak uang. Padahal, seringkali kita mendengar fatwa ulama yang menyatakan, bahwa manusia paling kaya adalah orang yang paling sedikit kebutuhannya.

Terkait dengan ini, banyak pengusaha dan milyarder sekelas Warren Buffet yang bicara sama: “Kalau orang tak bisa bahagia dengan yang sedikit, dipastikan ia takkan bisa bahagia saat mendapat banyak.”

Bandingkan dengan keberkahan tukang kopi dalam novel Perasaan Orang Banten, yang banyak tersenyum melayani pelanggan tiap hari. Ia tidak merasa panik dengan gonjang ganjingnya kondisi ekonomi negeri ini. Ketika hari ini sepi pelanggan, ia masih punya sedikit simpanan dari ramainya hari kemarin. Kalau kemarin sepi, dia berharap dari ramainya pelanggan hari ini.

Kalau dipancing lagi, bagaimana kalau hari ini dan besok juga sepi? Dia masih tenang berharap agar lusa bisa ramai lagi. Ia mensyukuri realitas dengan caranya sendiri, seakan menyadari jika manusia pelit untuk bersyukur, CCTV spiritual akan mencatat jejak vibrasinya, hingga dipastikan membawa dampak di masa depan.

Untuk itu, bangsa ini harus menjadikan rasa syukur sebagai habit dan kebiasaan yang melekat dalam jiwa anak-didik. Uang adalah energi sakral yang harus terus-menerus disyukuri. Sebab, kita harus menyelaraskan pemberian (anugerah) sebagai izin Allah, sekaligus sebagai ridho dari-Nya. Kita tidak diperintahkan untuk tergopoh-gopoh mengejar pencapaian dan kesenangan yang menipu. Tetapi, yang harus diutamakan adalah kualitas hidup yang mendatangkan keberkahan, serta terkoneksi secara batin dengan sumber ketenangan dan kebahagiaan yang sejati. (*)

Penulis adalah Peneliti dan Staff UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga penulis opini dan prosa untuk media cetak dan online, seperti UINjkt.ac.id, Republika, NU Online, Bangka Pos, radarntt.net, tangselpos.id dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.