Jejak Langkah Sastrawan Muda

oleh -1198 Dilihat
banner 468x60

Plastik-plastik bekas berbelanja, berikut botol-botol air mineral, sengaja saya taruh di samping pagar rumah, hingga pagi keesokannya akan dipungut pemulung seperti biasa. Ketika melihat sampah-sampah itu kosong, hati saya merasa lega dan lapang. Entahlah, jenis perasaan macam apa yang perlu saya bahasakan untuk Anda. Yang jelas, hati ini serasa plong, itu saja.

Orang-orang bijak menyatakan bahwa untuk menjadi penulis yang baik, kita harus bersentuhan dengan masyarakat dan lingkungan, dan kita pun harus pintar menjaga amanat. Itulah yang membuat saya berupaya menjaga kepercayaan terhadap pihak redaksi, baik luring maupun daring. Bahkan, jikapun ada penerbit mendesak saya untuk menyelesaikan sekumpulan cerpen (kumcer) maupun novel terbaru, saya selalu menyelesaikannya tepat waktu, baik berkualitas maupun kepepet dikejar target sekalipun.

Malam itu, seperti biasa saya jalan-jalan di sekitar alun-alun kota. Suasana lengang, tapak kaki terdengar jelas hingga bergema di kejauhan. Beberapa blok ke kanan terdapat supermarket dan bangunan hotel megah. Walaupun saat itu sudah memasuki waktu pagi, dan jam menunjukkan Pk. 02.30, nampak masih ada cahaya pada beberapa jendela hotel berbintang itu. Tiapkali saya perhatikan, selalu saja begitu. Rasanya belum pernah saya melihat di tengah malam, semua kamar pada jendela hotel yang gelap. Di waktu-waktu seperti itu, seperti halnya saya, ada saja orang yang terbangun atau belum tidur semalaman, lalu memutuskan jalan-jalan di sepanjang trotoar di sekitar alun-alun kota.

Seketika saya dikejutkan oleh langkah kaki yang diam-diam sudah mendekati saya. Pejalan kaki itu melangkah pelan-pelan, kedua tangannya di balik punggung. Nampaknya dia sedang menikmati sinar bulan yang agak terang di antara semarak bintang gemintang di angkasa. Orang itu sama sekali tidak dalam keadaan mabuk. Sebab, seorang pemabuk biasanya agak sempoyongan jika berjalan di sekitar trotoar.

Ketika semakin mendekat, saya mengenal jelas orang itu. Dialah Eko Hermawan, seorang seniman yang sudah bertahun-tahun tidak berjumpa dengannya. Saya masih ingat saat dia datang bersama beberapa sastrawan dan jurnalis, menjenguk saya sepulang opname di rumah sakit untuk pengobatan radang paru-paru. Sekali waktu, dia pernah menyatakan dirinya penganut agnostik, bahkan atheisme-baru. Pernah pula Eko mengumandangkan konsep pemikirannya di suatu forum pertemuan para sastrawan muda, “Di antara pintu-pintu yang terbuka,” katanya lantang, “mesti ada pintu yang tertutup rapat. Bahkan, Tuhan pun tidak sanggup melihat apa-apa yang terjadi di balik pintu yang tertutup itu.”

Sebenarnya saya sudah lama mengenal Eko. Mungkin sekitar empat atau lima tahun lalu. Dia ikut bergabung dalam perkumpulan para penulis muda, yang waktu itu saya sudah berada di tubuh kepengurusan organisasi tersebut. Dia juga pernah beberapa kali datang ke kantor redaksi majalah, di mana saya bertugas selaku dewan redaksi. Eko datang sambil menunjukkan beberapa cerpen yang telah ditulisnya, dan saya membisiki beberapa kawan di kantor – yang belum mengenal karya-karyanya – bahwa cerpen-cerpennya cukup menarik. Memang, beberapa cerpennya juga pernah tampil di media-media terkemuka di negeri ini.

Pada waktu itu, saya belum mengenal jauh secara pribadi. Usianya mungkin selisih dua atau tiga tahun di bawah saya. Pendidikannya cukup tinggi, sebagai sarjana sastra perguruan tinggi di ibukota Jakarta. Konon, ia juga senang mengadakan riset dan penelitian sejarah, di samping menulis cerpen dan kritik sastra. Bagi saya, dia adalah tipikal pemuda yang berpikir kritis, bebas dan terbuka. Seringkali, ia melawan arus pemikiran kawan-kawannya yang juga mengikuti jenjang pendidikan formal. Dia juga tergolong pemuda baik, tidak urakan dan jarang mabuk-mabukan, penampilannya selalu rapi dan bersih.

Saya sudah membaca prospeknya, bahwa kelak pemuda ini akan menjadi salah seorang penulis novel yang baik, serta sanggup menciptakan masterpiece (maha karya) yang diakui dunia. Itulah yang membuat saya selalu mengusahakan karya-karyanya agar selalu lolos di majalah nasional yang kami pimpin.
***

Tentang dunia kepenulisan dan para penulis muda yang cerdas dan jenius, kadang saya berpikir mengapa banyak di antara mereka yang kurang konsisten dan tekun menggeluti suatu ide dan gagasan yang kokoh. Hal ini nampaknya tidak bagi seorang Eko. Ia sendiri merasa bangga dengan idealisme dan kegigihannya. Seiring berjalannya waktu, Eko senang bergaul dengan beberapa kawan yang sepaham dan sepemikiran dengannya. Dalam komunitas itu, ia terbilang cekatan dan fasih mengungkapkan ide dan gagasannya. Ia pun kerap melontarkan gugatan dan kritik sastra yang tajam dan akurat. Bahkan, di depan publik dan handai-taulannya, ia pernah menyebut salah satu cerpen saya sebagai “karya sampah”. Dan ia cukup serius, tidak main-main dengan pernyataannya itu.

Suatu sore, saya melihatnya sedang duduk-duduk termenung di teras kantor redaksi kami. Mengenakan kaos kumal dan celana jeans, dengan rambut gondrong tak terurus. Saya membaca ada sesuatu yang tengah dipikirkan pemuda ini. Saya menyapanya sekadar basa-basi, lalu duduk di sebelahnya sebagai pancingan agar dia mau mengutarakan isi hatinya terlebih dahulu. Setelah beberapa lama kami berbincang, akhirnya ia menyatakan secara jujur bahwa istrinya sedang menjalani persalinan untuk kelahiran anaknya yang pertama.

Seketika saya dapat memahami apa yang ada di balik pengakuan itu. Pertemuan itu pun saya akhiri dengan menyuruhnya menulis cerpen yang agak panjang, agar dapat ditampilkan pada majalah mingguan secara berkala, lalu saya pun membayarnya di muka dengan honor rangkap untuk dua cerpen sekaligus. Ia nampak merasa senang dan mengucapkan terimakasih pada saya, hingga kemudian saya menghubungi seorang pemimpin redaksi majalah sastra, yang sangat mengagumi karyanya, serta menampilkannya dalam edisi khusus.

Beberapa minggu kemudian, ketika saya menyodorkan majalah tersebut, ia tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Wajahnya berseri-seri. Secara pribadi, saya memandang Eko sebagai penulis dan seniman jenius. Tetapi, sebagai pemuda yang sudah memiliki momongan, mestinya ia berpikir serius untuk menata masadepan, berikut masadepan rumah-tangganya. Banyak orang menganggap seorang jenius itu identik dengan orang gila dan sableng. Dalam pandangan mereka, menjadi gila dan edan sama saja dengan menjadi seniman. Di sisi lain, orang boleh saja melukis atau menulis sebanyak-banyaknya, tetapi siapa yang akan menganggap karyanya bagus jika tidak ditampilkan dalam kolom atau forum yang bisa dinikmati publik?

Setelah saya pulang dari rumah sakit dan kembali bertugas di kantor redaksi, cukup lama saya tidak berjumpa lagi dengan Eko. Dan saya pun telah kehilangan nomor ponselnya. Ia telah pergi selama berbulan-bulan. Konon, ia berangkat ke Yogyakarta dan bergabung dengan para seniman jalanan di sekitar Malioboro dan Borobudur. Ia menyelinap masuk dari satu kampus ke kampus lain, mengikuti perkuliahan lagi, dan bergabung dengan berbagai forum diskusi. Ia pun mendaftar sebagai member beberapa perpustakaan, melahap buku-buku sastra, filsafat, sejarah dan agama-agama besar dunia.

Ia berusaha keras ingin menemukan sintesis dari semua yang dipelajarinya, tetapi di sisi lain ia mudah tergoda untuk melakukan lompatan yang menggiurkan. Ia percaya bahwa setiap tesis akan berjumpa dengan antitesis, yang kemudian menemukan sintesisnya. Lewat perjalanan ruang dan waktu, ia kadang melupakan bahwa sintesis yang telah diyakininya akan mejelma suatu tesis baru yang terus membutuhkan dialog yang dinamis dan bersinambungan.

Ia pun akhirnya mengembara dan berpindah-pindah tempat lagi. Ketika ia merasa tidak nyaman dengan suatu komunitas masyarakat, ia pun bergegas untuk berpaling serta bergabung dengan komunitas lainnya. Ia selalu membenarkan segala tindakannya, dengan alasan membutuhkan keterangan yang sesungguhnya tentang hakikat keberadaan manusia di muka bumi ini.

Singkatnya, Eko pernah menjual dan menjajakan buku-buku karyanya dari kampus ke kampus, dari satu lembaga ke lembaga kebudayaan lainnya. Konon, ia pun pernah memasarkan beberapa novel, termasuk novel Pikiran Orang Indonesia, entah dari penerbit mana di daerah Yogyakarta. Ia juga pernah menggelar loper koran, majalah dan peralatan ATK di pasar Malioboro. Sewaktu di Jakarta, ia pernah menjaga toko buku milik penyair terkenal Rizal Bahri di Taman Ismail Marzuki. Ia juga pernah membuka café sambil menyusupkan gagasan-gagasan mutakhirnya kepada para pelanggan. Konon, ia juga pernah berbagi tikar untuk tidur bersama pelaku bom di Surabaya, yang kini masih menjadi DPO sebagai buronan yang dicari-cari aparat.

Dia mengklaim dirinya telah banyak menyaksikan dan mengetahui keadaan manusia hingga sampai pada kesimpulan sesuai persepsinya sendiri, bahwa semua manusia sama saja. Mereka telah terperangkap dalam labirin takdir yang serba nisbi dan tidak pasti, dan akan terus melangkah ke masadepan di tengah lorong ketidakpastian yang abadi.

Eko menanggalkan semua buku, termasuk buku-buku sastra, filsafat dan agama. Selama berhari-hari ia melanglang buana dalam khayalan dan renungannya, hingga kemudian sampailah pada penelusurannya tentang misteri kematian. Beberapa kawan seniman bertanya-tanya tentang apa yang sedang dia geluti saat ini. Ketika mereka mempersoalkan hakikat kematian, apakah jiwa manusia bisa mati, dan bagaimana kita berupaya menghindari kematian. Eko hanya senyum-senyum dikulum, lalu memastikan bahwa sebentar lagi ia akan menemukan jawabannya.

Para seniman lain saling berbisik-bisik, bagaimana dia bisa menemukan rahasia tentang kematian. Apakah dia mau membedah tubuh mayat yang sudah mati? Apakah dia mau mengadakan dialog dengan arwah-arwah? Ataukah ia mau berbaring bersama orang yang baru dikubur barang sehari atau dua hari, lalu mengintip Malaikat Munkar-Nakir agar dapat menemukan bocoran soalnya, hingga kemudian berhasil menemukan kunci jawabannya. Seperti yang terungkap dalam cerpen seorang kawan dekatnya, “Bangsal Isolasi”, yang sangat fasih menggambarkan pelayanan rumah sakit Indonesia dalam menangani para penderita Covid-19 itu?
***

Pagi dini hari, saya sedang berhadapan dengan Eko Hermawan di trotoar sekitar alun-alun kota. Waktu menunjukkan Pk. 02.30. Saya agak terkejut ketika melihat seorang pejalan kaki yang diam-diam sudah mendekati saya. Dia melangkah pelan-pelan, kedua tangannya di balik punggung. Nampaknya dia sedang menikmati sinar bulan di antara semarak bintang gemintang di angkasa.

Di bawah sinar lampu jalan yang terang, saya pun menyapanya sambil tersenyum, “Eko… kamu Eko, kan?”

Saya melihat jelas bekas luka di pelipis kirinya, setelah ia terserempet mobil sedan beberapa tahun lalu. Saat itu, saya memerintahkan dua orang wartawan di kantor redaksi, agar segera membawanya ke klinik dengan biaya pengobatan yang ditanggung kantor redaksi.

“Ini siapa, ya?” ia balik bertanya terbengong-bengong.

“Saya Aris, masak sih lupa…,” kata saya sambil menyodorkan tangan.

Dahinya mengkerut dengan tatapan berkaca-kaca. Dia tidak membalas untuk menyalami saya. Di bawah sinar lampu, saya melihat kaosnya yang kumal dan lusuh, menutupi badannya yang hitam dan dekil. Saya mafhum jika ia telah melupakan saya, dan ujarnya hampa, “Kamu Aris… tapi, Aris yang mana, ya?” seketika wajahnya menampakkan tawa terkekeh-kekeh.

Ia pun ngeloyor pergi, berlawanan arah dengan saya. Kemudian, terbersit dalam pikiran saya untuk berputar haluan dan membuntutinya dari belakang. Dari kejauhan, saya memperhatikan dia berhenti di depan pintu pagar rumah saya, memunguti sampah dan botol-botol air mineral, lalu memasukkannya dalam kantong plastik besar yang telah dipersiapkan dari kantong celananya.

Saya mendekat dan berpura-pura tidak melihatnya. Sepintas mendengar ia bergumam pada dirinya sendiri, “Kalau nggak saya ambil sekarang, nanti pagi keduluan diambil pemulung-pemulung itu.”

Saya terperangah dan terkesima. Tetapi, saya berharap bahwa ini bukanlah akhir dari kisah kehidupan Eko. Usianya masih cukup muda saat itu, bahkan di bawah saya. Ia terbilang generesi muda Indonesia yang cerdas dan jenius. Ia pernah melahirkan karya-karya sastra cemerlang yang diakui oleh beberapa redaksi majalah dan koran nasional.

Memang ia pernah menyebutkan salah satu cerpen saya sebagai karya sampah, tetapi itu pun bukan akhir dari segala-galanya. Saya mengakui, beberapa karya saya ditulis karena kebutuhan pihak redaksi, atau faktor kepepet yang mendesak saya agar segera menyelesaikannya. Ya, apa yang tidak mungkin dalam jagat kepenulisan yang serba tergopoh-gopoh di era milenial ini

Ada satu hal yang terasa menyentak di jiwa saya, hingga menimbulkan suatu getaran kudus saat menyaksikan Eko memunguti sampah-sampah itu. Teringat oleh saya, ketika saya pernah mengharapkannya menjadi salah seorang penulis novel yang baik, serta sanggup menciptakan masterpiece (maha karya) yang diakui dunia. Saya juga pernah mengusahakan agar karya-karyanya selalu lolos di majalah yang kami pimpin.

Tetapi kini, ia sedang memunguti sampah di depan halaman rumah saya. Ya, biarlah jika itu menjadi bagian dari fase pengalaman hidup yang ia jalani. Meski bagaimanapun, perjalanan hidup saat ini bukanlah hari esok, juga bukan bulan depan atau tahun depan. Saya tetap masih menaruh kepercayaan bahwa kelak Eko, sahabat saya itu, akan berhasil melahirkan suatu maha karya. Ya, saya percaya itu.

Semoga Eko sudah mengubah sedikit pendirian dan prinsip hidupnya, bahwa di antara pintu-pintu terbuka maupun tertutup, niscaya Tuhan selalu hadir di dalamnya. Bahkan, Tuhan senantiasa memperhatikan satu helai daun kering yang jatuh di kegelapan malam. (*)

Oleh: Hafis Azhari, Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten


banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.