Saya berduka. Bukan duka yang sekadar diucapkan dalam satu kalimat belasungkawa, lalu ditutup dengan doa singkat dan kembali ke rutinitas. Duka saya lebih dalam dari itu. Duka yang menetap, yang menyesakkan, yang membuat saya sulit menerima kenyataan bahwa seorang anak Sekolah Dasar di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT) memilih mengakhiri hidupnya dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibunya.
Sebagai orang NTT, saya tidak hanya membaca berita itu tapi juga saya merasakannya. Saya melihat wajah-wajah anak di kampung, di sekolah-sekolah sederhana, di rumah-rumah beratap seng. Saya mendengar suara ibu-ibu yang bertahan dengan tenaga terakhirnya. Dan di sanalah duka itu berubah bentuk: dari kesedihan personal menjadi pertanyaan moral yang menghantui.
Saya berduka, tetapi saya juga gelisah. Karena saya tahu, di negeri ini, duka sering kali hanya menjadi ritual sementara. Seorang anak pergi. Kita menangis. Kita marah. Kita menyalahkan keadaan. Lalu hari berganti, isu berganti, dan luka dibiarkan mengering sendiri tanpa pernah benar-benar disembuhkan. Maka saya bertanya pada diri saya sendiri, dan pada kita semua: apakah duka ini selesai hanya dengan air mata?
Anak itu menulis surat. Bukan surat protes, bukan tuntutan, bukan makian. Ia menulis dengan bahasa sederhana, bahasa anak. Ia pamit. Ia meminta ibunya untuk tidak menangis. Kalimat itu menghantam saya lebih keras daripada teriakan mana pun. Karena kalimat itu menunjukkan satu hal yang mengerikan: seorang anak telah memikul beban emosional yang seharusnya tidak pernah ia pikul.
Saya membayangkan detik-detik sebelum surat itu ditulis. Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada pejabat. Tidak ada negara. Yang ada hanya seorang anak dengan pikirannya sendiri—pikiran yang terlalu cepat dewasa karena hidup memaksanya demikian. Ia menimbang hidup dan mati, lalu memilih pergi dengan keyakinan bahwa kepergiannya mungkin akan meringankan beban ibunya. Apa yang membuat seorang anak sampai pada kesimpulan sekejam itu terhadap dirinya sendiri?
Jawabannya tidak tunggal, tetapi satu hal jelas: ia tidak sendirian menciptakan kesimpulan itu. Lingkungan sosial, kemiskinan yang menekan, pendidikan yang dingin, dan negara yang absen dimana semuanya ikut menyusun logika tragis di kepala anak itu.
Saya orang NTT. Saya tahu bagaimana kemiskinan di sini bukan sekadar kurang uang, tetapi kekurangan ruang aman. Kekurangan tempat untuk mengeluh. Kekurangan sistem yang menangkap sinyal-sinyal kecil sebelum berubah menjadi keputusan besar. Di banyak rumah, anak-anak belajar sejak dini untuk “mengerti keadaan”. Dan sering kali, “mengerti” berarti menyimpan luka sendiri.
Saya berduka karena anak itu tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengatakan, “Saya lelah,” dan didengar secara serius. Ia hidup di tengah sistem yang terlalu sering memuji ketangguhan, tetapi lupa bahwa ketangguhan tanpa dukungan adalah kekerasan yang disamarkan.
Lalu negara datang (seperti biasa) setelah semuanya selesai. Ada belasungkawa. Ada pernyataan prihatin. Ada janji evaluasi. Semua terdengar baik, rapi, dan sopan. Tetapi justru di situlah kegelisahan saya tumbuh semakin besar. Karena saya tahu, jika duka ini tidak berubah menjadi keberanian untuk mengakui kegagalan, maka semua kata itu akan menjadi kosong.
Saya bertanya: apakah cukup negara berduka? Apakah cukup kita menundukkan kepala satu menit, lalu melanjutkan hidup seolah tragedi ini tidak meninggalkan lubang besar?
Duka yang tidak melahirkan perubahan hanya akan menjadi hiasan moral. Ia membuat kita merasa manusiawi, tetapi tidak membuat kita bertanggung jawab. Dan itu berbahaya. Karena dengan cara itulah tragedi diulang, bukan karena kita jahat, tetapi karena kita terbiasa.
Saya tidak ingin duka ini selesai dengan kalimat, “Semoga menjadi pelajaran.” Pelajaran bagi siapa? Jika tidak ada perubahan sistem, maka pelajaran itu tidak pernah benar-benar dipelajari. Ia hanya dihafal sebentar, lalu dilupakan.
Sebagai orang NTT, saya merasa duka ini seharusnya mengganggu tidur kita. Seharusnya membuat kita bertanya ulang tentang apa arti negara hadir. Tentang apa arti pendidikan. Tentang apa arti melindungi anak. Jika seorang anak bisa sampai pada titik di mana ia merasa hidupnya adalah beban, maka ada sesuatu yang sangat salah dalam cara kita mengatur kehidupan bersama.
Saya berduka, tetapi saya menolak duka yang pasif. Saya menolak duka yang hanya mengalir ke bawah tanpa pernah naik menjadi tuntutan. Karena anak itu tidak pergi hanya karena ia lemah malainkan ia pergi karena kita semua terlambat.
Maka saya bertanya sekali lagi, dengan suara yang tidak ingin dipelankan: apakah selesai sampai di sini? Atau justru di sinilah seharusnya kita mulai?
Mulai dengan kejujuran bahwa negara telah abai. Mulai dengan keberanian untuk mengatakan bahwa anak-anak tidak bisa terus disuruh “kuat”. Mulai dengan perubahan nyata, bukan sekadar empati sementara. Jika tidak, maka duka ini akan menjadi sia-sia. Dan suatu hari nanti, kita akan membaca surat lain, dari anak lain, di tempat lain. Saat itu, kita mungkin akan kembali berduka. Tetapi pertanyaannya tetap sama dan semakin memalukan jika tidak terjawab: apakah kita masih akan berkata, “saya berduka,” tanpa pernah bertanya, “apa yang harus saya ubah”?
Saya berduka lebih dalam. Namun saya menolak menganggap ini selesai.
Oleh: Ilhamsyah Muhammad Nurdin







