Ketika Perempuan NTT Terus Bekerja, Tapi Jarang Didengar

oleh -1217 Dilihat
Potret Perempuan NTT di masa lampau (Foto: VN)
banner 468x60


Oleh: Fladimir Sie

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), bekerja keras bukanlah sekadar pilihan hidup, melainkan tuntutan yang melekat sejak dini. Banyak perempuan NTT menjalani hari dengan ritme yang nyaris tanpa jeda: bangun sebelum matahari terbit, mengurus rumah, menyiapkan anak, mengolah kebun atau ladang, mencari air, hingga tetap hadir menopang ekonomi keluarga. Kerja-kerja ini sering dianggap wajar, bahkan kodrati, sehingga jarang dipertanyakan. Namun di balik ketangguhan itu, tersimpan kelelahan yang sering tidak diberi ruang untuk diungkapkan.

Realitas tersebut menemukan cermin reflektifnya dalam kisah Marta dan Maria dalam Injil Lukas (10:38-42). Marta tampil sebagai sosok yang sibuk melayani, memastikan kebutuhan Yesus dan para murid terpenuhi. Maria memilih jalan yang berbeda: duduk di kaki Yesus dan mendengarkan. Ketika Marta mengeluh karena merasa bekerja sendiri, Yesus tidak memuji kesibukannya, melainkan mengingatkan bahwa kegelisahan dapat membuat seseorang kehilangan yang paling esensial. Maria, kata Yesus, telah memilih bagian yang terbaik.

Kisah ini sering dibaca sebagai perbandingan antara kerja dan doa, antara aktivitas dan kontemplasi. Namun dalam konteks NTT hari ini, kisah tersebut bisa dibaca lebih dalam sebagai kisah tentang perempuan yang terus diminta memberi, tetapi jarang diberi ruang untuk didengar. Banyak perempuan NTT hidup dalam posisi seperti Marta: bekerja keras demi keluarga, Gereja, dan masyarakat, namun suara mereka tidak selalu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut hidup mereka sendiri.

Budaya patriarkal yang masih kuat di berbagai wilayah NTT kerap menempatkan perempuan sebagai tulang punggung kehidupan domestik, tetapi membatasi peran mereka di ruang publik. Perempuan diharapkan setia, sabar, dan tahan banting, bahkan ketika mereka menghadapi kemiskinan struktural, kekerasan dalam rumah tangga, atau beban psikologis akibat tuntutan sosial yang berlapis. Dalam situasi seperti ini, kesibukan sering menjadi jebakan yang membungkam: perempuan terus bekerja, tetapi tidak sempat-atau tidak diizinkan-berbicara.

Yesus dalam kisah Marta dan Maria menghadirkan perspektif yang membebaskan. Ia tidak meniadakan kerja, tetapi menolak kerja yang mengabaikan relasi dan makna. Teguran Yesus kepada Marta adalah kritik terhadap kehidupan yang terlalu sibuk hingga kehilangan pusatnya. Dalam terang ini, Injil tidak mengukuhkan budaya yang hanya menghargai perempuan karena kerja kerasnya, tetapi justru mengangkat martabat perempuan sebagai subjek yang layak didengar dan dihargai.

Bagi perempuan NTT, sikap Maria memiliki makna simbolik yang kuat. Duduk dan mendengarkan bukanlah tanda kemalasan, melainkan tindakan keberanian untuk mengambil ruang. Dalam masyarakat yang terus menuntut perempuan untuk melayani tanpa henti, pilihan untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara batin adalah bentuk perlawanan halus terhadap sistem yang melelahkan. Kontemplasi menjadi cara untuk merawat diri, iman, dan martabat.

Keseimbangan antara aksi dan kontemplasi menjadi sangat penting. Perempuan NTT tidak kekurangan etos kerja; yang sering kurang adalah ruang untuk hening dan refleksi. Tanpa ruang ini, kerja keras berisiko berubah menjadi kelelahan eksistensial, di mana hidup dijalani sekadar untuk bertahan, bukan untuk bertumbuh. Di sinilah pesan Injil menjadi relevan: kerja yang bermakna lahir dari kedalaman, bukan dari keterpaksaan.

Tulisan ini merupakan ajakan bagi Gereja dan masyarakat di NTT untuk membangun budaya mendengarkan. Mendengarkan perempuan berarti membuka ruang dialog yang setara, menghargai pengalaman hidup mereka, dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan. Gereja yang setia pada Injil bukan hanya Gereja yang memuji pelayanan tanpa pamrih, tetapi juga Gereja yang melindungi ruang keheningan dan suara kaum kecil, termasuk perempuan.

Lebih jauh, mendengarkan perempuan NTT berarti mengakui bahwa mereka bukan sekadar penyangga kehidupan, melainkan sumber kebijaksanaan dan daya tahan sosial. Dari tangan dan hati merekalah keluarga bertahan, komunitas dirawat, dan iman diwariskan. Mengabaikan suara perempuan berarti kehilangan sebagian besar kebijaksanaan lokal yang sesungguhnya sangat dibutuhkan NTT hari ini.

Pada akhirnya, kisah Marta dan Maria menantang kita untuk bertanya: apakah kita menghargai perempuan hanya ketika mereka bekerja tanpa henti, atau juga ketika mereka berani berhenti dan bersuara? Selama perempuan NTT terus bekerja tetapi jarang didengar, keadilan sosial masih setengah jalan. Mungkin, seperti Marta, kita semua perlu berhenti sejenak-bukan untuk bekerja lebih keras, melainkan untuk belajar mendengarkan.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.