Calon Suami Berjenggot

oleh -962 Dilihat
banner 468x60

Mungkin perlu disampaikan terus terang kepada Anda, bahwa saya sama sekali tidak menyukai tunangan kakak perempuan saya yang dagunya lancip dan berjenggot itu. Tapi, dia malah berkomentar, bahwa saya adalah laki-laki yang berpikiran sempit dan dangkal.

“Kamu harus bisa menilai orang dari sudut pandang berbeda dong,” katanya ketus.

“Pokoknya, kata saya enggak suka, enggak suka, titik.”

Ketika itu, kami sedang ada di warung baso. Saya ditraktir oleh kakak saya, sebut saja namanya Maya. Dia bicara blak-blakan tentang kebaikan hati calon suaminya itu. Tapi saya bilang, percuma saja ngomongin orang yang bahkan batang hidungnya tidak ada di depan mata. Jelas dia enggak ngerti apa yang dipersoalkan, serta argumen apa yang perlu dibabat dan dibanting.

Awal mulanya saya gemas ingin membanting mangkuk baso, karena kuahnya enggak enak. Lalu, basonya juga keras yang mungkin dagingnya campuran daging sapi dan bedul yang disimpan di freezer sejak lebaran Idul Adha kemarin. Saya juga muak dengan mi-nya yang agak keras, bahkan tidak ada setengah mangkuk saya memakan baso itu, lalu saya biarkan setengahnya berceceran di atas meja.

Biarkan saja Maya menatap saya dengan kesal. Sejak dia bertunangan dengan si jenggot itu, saya malas memanggilnya dengan sebutan “Teteh”. Tapi anehnya, dia enak saja menyantap baso keparat itu sampai habis. Saya duduk-duduk sambil menenggak dua teh botol, lalu menyemprotkan ke jendela pada tegukan yang terakhir.

“Kamu boleh saja membiarkan baso itu, kalau memang enggak suka, tapi kelakuanmu jangan berlebihan gitu, dong,” kata Maya setelah pelayan mengelap meja.

“Inggih, Bu Nyai… inggih….”

“Sebetulnya baso itu lumayan enak, tapi perut kamu yang lagi bermasalah.”

“Sebodo amat, perut perut gue. Mau mulas kek mau mencret kek.”

“Warung baso ini baru buka beberapa hari lalu, mungkin tukang masaknya baru bereksperimen. Apa salahnya kita sukarela untuk menjadi kelinci percobaan.”

Saya diam dan enggak mau ketawa. Dia menyesap teh manisnya, lalu saya menyicip sedikit, dan segera memberi penilaian kalau gulanya cuma sedikit dan tehnya bau bacin seperti air kencing. Dia tersenyum lagi, tapi saya tak menanggapi dan terus saja menatap jendela sambil membayangkan kacanya yang pecah berkeping-keping.

“Jadi apa masalahmu, kenapa selalu saja uring-uringan dalam beberapa minggu ini?” tanya Maya kemudian.

“Ah, diamlah! Saya ini laki-laki, dan saya lebih tahu segalanya dari seorang perempuan…”

“Oke, baik Tuan Yang Maha Tahu.”

Saya diam dan cemberut. Dia berubah serius, lalu saya melengos ke arah tembok.

“Yang jadi masalah tuh karena kamu berpikiran sempit. Kamu enggak bisa melihat sesuatu dari sisi positifnya. Kalau kamu enggak suka pada sesuatu yang bukan standarmu, lantas kamu ogah menyentuhnya. Berarti itu pikiran dangkal.”

“Ya, mungkin saja, tapi ini hidup saya.”

“Bahkan kamu enggak peduli seberapa jauh orang lain merasa jengkel dan kerepotan setelah kamu kencing…”

“Ngomong apa sih, kamu? Kok bawa-bawa urusan kencing?”

“Berapa kali saya harus menyiram toilet dalam seminggu, karena kamu malas menyiram air kencing sendiri, iya kan?”

“Saya tuh enggak sempat nyiram air kencing bisa dihitung dengan jari tangan.”

“Ditambah jari kaki…”

“Eh, itu kan faktor ketidaksengajaan karena saya lupa. Tuhan juga Maha Pemaaf kalau hamba-Nya pelupa.”

“Kalau lupa itu sesekali, tapi kalau sengaja dilupakan akan jadi berkali-kali.”

Dia mulai membahas soal-soal yang agak sensitif. Saya menyatakan kejengkelan saya pada kakak satu-satunya yang cerewet ini. Lagi-lagi, dia menegur saya agar bisa menghargai orang lain, “Kamu harus lebih dewasa mulai sekarang ini. Tapi kedewasaan itu akan sulit kalau kamu tidak mengusahakannya semaksimal mungkin.”

“Saya sudah dewasa,” timpal saya, “saya juga bisa mengendalikan diri dan melihat sisi positif, tapi pandangan saya enggak sama dengan kamu.”

“Masalahnya kamu itu arogan. Itulah kenapa kamu belum mendapatkan pacar yang cocok. Maksud saya, kamu itu sudah umur 27 tahun?”

“Tentu saja saya punya pacar.”

“Maksud saya, pacar yang benar. Bisa jadi teman curhat, bisa dibawa-bawa ke acara-acara tertentu, dan diperkenalkan ke saudara dan teman-teman.”

“Saya juga pernah begitu.”

“Ya sudahlah, saya pengen istirahat dulu.”

“Sebodo amat.”

***

Agak aneh, memang. Dulu dia enggak begitu-begitu amat. Tapi semenjak mengenal tunangannya yang berjenggot itu, tiba-tiba kok perhatian banget sama saya. Harus ngomong sopan lah, jangan suka menggerutu dan ngedumel lah. Suruh menghargai orang lain lah, dan segala tetek-bengek peraturan dan disiplin hidup lainnya. Kalau seandainya nanti tunangannya mentraktir baso dan makan bertiga di warung, bisa-bisa saya disuruh gabung dengan regu Pramuka atau pasukan Paskibra supaya pintar latihan baris-berbaris.  

Di mana letak keadilannya, kalau Maya, kakak kandung saya itu tiba-tiba memihak laki-laki yang baru dikenal semenjak setahun lalu. Sedangkan saya yang sudah hidup bersamanya selama 27 tahun, lalu ngomong blak-blakan soal kencing sembarangan atau makan baso yang kayak daging babi, tahu-tahu bakal ditinggalkan begitu saja. Kira-kira dong. Apa memang begitu peraturan di alam semesta ini?

Dengan kepala yang masih kliyengan saya menenggak kopi sambil merokok, padahal sudah janji pada Ibu mau berhenti merokok. Saya menyalakan alat stereo dan memasukkan kaset DVD tentang film perang antara blok utara dan selatan di Amerika Serikat. Tapi sayang, suaranya enggak keluar. Kemudian, saya baru ingat bahwa alat setero bermasalah sejak dua hari lalu, meskipun strum listriknya baik-baik saja. Akhirnya, biarlah film perang itu saya tonton dengan bunyi dar-der-dor tanpa ada suaranya. Dengan rasa jengkel saya memelototi layar kaca yang bisu sambil mengepulkan asap rokok. Bedil-bedil dan meriam ditembakkan oleh pasukan utara tanpa ada suara, komandan tempur berteriak-teriak menonjolkan otot di leher, juga tanpa ada suara. Pasukan kavaleri dari selatan berjatuhan satu persatu, juga tanpa ada suara. Saya pun menghempaskan punggung ke sofa sambil menarik nafas panjang yang ketiga belas kalinya sore itu.

Awalnya setahun lalu, ketika libur panjang setelah Idul Fitri, Maya bersama teman-teman kerjanya memanfaatkan paket tur dari agen tempatnya bekerja. Salah satu anggota tur tersebut adalah seorang sarjana komputer, satu tahun lebih senior dari dia. Laki-laki itulah si jenggot brengsek itu, yang awalnya mengajak kenalan sewaktu acara rehat setelah salat zuhur, dalam perjalanan tur menuju Bali. Hal-hal seperti ini sering terjadi pada kebanyakan orang-orang sableng seperti dia, sebab saya sebel banget yang namanya paket tur. Apalagi sampai berkenalan dengan cewek berhijab, lalu ngomongin rencana pernikahan untuk membina rumah-tangga sakinah mawaddah warahmah, dan segala tetek bengek.

Setelah dia sering ketemu dengan sarjana komputer jenggotan itu, mukanya kelihatan sumringah dan sering tersenyum sendirian di depan cermin. Mirip perempuan sableng dalam cerpen “Wanita Misterius dari Jakarta”. Dia mulai lebih memperhatikan penampilan, baik penampilan kamarnya maupun penampilannya sendiri. Pada titik ini, dia mulai mengeksplorasi caranya berpakaian, mulai dari pakaian kerja, hijab berenda-renda, sampai mengganti penampilan telapak kakinya dengan sandal dan sepatu baru. Berkat ketertarikannya pada pakaian, lemari di ruang teve dipenuhi dengan sepatu dan sandal, sementara lemari lainnya dipenuhi gantungan kawat untuk menggantung baju-baju yang habis disetrika.

Belum lagi bupet yang biasanya Ibu menaruh barang-barang keramik dan piring-piring antik, kini diramaikan dengan macam-macam piagam dan piala ketika ia memenangkan lomba baca puisi, lomba cerpen dan pidato. Sementara, piala ketika saya memenangkan lomba balap karung dan makan kerupuk saat Agustusan, dibiarkan ditaruh di kotak bawah.

Dia terus mencuci dan menyetrika pakaian seperti orang senewen, lalu menggosok-gosok kamar mandi sambil berceloteh soal kencing harus disiram bau jengkol segala-macam. Kemudian, dia menghampiri saya yang lagi asyik main game, lalu menunjukkan foto si jenggot waktu berpose di Pantai Anyer saat acara libur karyawan. Satu foto lagi sedang berduaan setelah mengikuti acara Tabligh Akbar, dengan Maya mengenakan hijab merah, sementara si jenggot mengenakan kopiah hitam mirip ikan betok.

“Jangan bercanda, ini serius. Bagaimana pendapat kamu?” tanya Maya.

“Kan saya udah bilang berkali-kali, kayak ikan betok.”

Saya mengambil foto yang kedua, lalu mengamati wajah si jenggot. Hal itu mengingatkan saya pada kakak kelas di masa SMU dulu, seseorang yang pernah menunjuk-nunjuk muka saya waktu acara perkenalan siswa, karena saya malas membawa barang-barang sepele yang dia perintahkan.

“Jadi, udah berapa kali kamu melakukan itu?” tanya saya sambil membanting fotonya di atas meja.

“Melakukan apa? Ah, jangan ngaco kamu,” ia pun memukul bahu saya.

“Lalu, selanjutnya apa? Dia udah melamar, kan?”

“Tapi saya belum memberi jawaban.”

“Tentu saja.”

“Sebenarnya, saya takut untuk menikah, pengennya sih fokus kerja dulu.”

“Mungkin itu lebih bagus,” sahu saya cepat.

“Tapi, saya kan udah 29, sebentar lagi 30, bisa-bisa jadi perawan tua kalau enggak buru-buru menikah.”

“Kalau dia berapa?”

“Cuma beda satu tahun di atas saya.”

Dia menatap foto sekali lagi. “Tapi orangnya baik sekali. Bersahabat, dan solidaritasnya tinggi.”

Suatu pagi setelah beres-beres rumah, Ibu mengajak bincang-bincang dengan saya di serambi. Ia bertanya apakah saya kenal lebih jauh laki-laki yang sedang menjalin hubungan dengan Maya.

“Sepertinya dia mau menikahi Maya,” jawab saya singkat.

“Itulah, makanya Ibu pengen tahu banyak dari kamu sebagai laki-laki. Kabarnya nanti dia mau datang ke sini. Ibu pengen tahu infonya dari kamu sebelum pihak orang tua ngobrol lebih jauh.”

“Sepertinya dia kerja di perusahaan komputer.”

“Oya? Lulusan mana? Apa dia punya rumah?”

“Mana saya tahu.”

Kebetulan besok pagi Maya mau melakukan kunjungan ke rumah keluarga si jenggot, dan dia pengen saya yang mengantarkan ke rumahnya pakai mobil ayah. Pagi itu (tak biasanya) saya memakai batik yang dibelikan Maya, celana panjang hitam, sandal kulit yang sudah disemir (dia juga yang nyemirin).

Rupanya si jenggot tinggal di sebuah rumah yang besar dan cukup megah. Sebuah mobil warna putih di garasi sebelah kiri, pot-pot bunga yang tersusun rapi. Pada atap yang menjorok ke arah jalan terdapat tirai-tirai memanjang untuk menutupi halaman rumah dari teriknya matahari pagi.

“Ayo, masuk,” ajak Maya setelah mengucap salam. Dia mendekat pada saya sambil berbisik, “Awas, jangan suka ngomong ngaco di rumah orang.”

“Siap, Bos,” kata saya.

Orang tua si jenggot tampak baik, bahkan terlalu sopan. Ayahnya bekerja di perusahaan BUMN. Ia menyodorkan kartu namanya untuk saya. Kemudian, saya berusaha dengan semaksimal mungkin menggali dan menelisik hal-hal yang agak tendensius, sehingga Maya sesekali mengerutkan keningnya.  Sebenarnya, kurang pantas sebagai adik (meskipun laki-laki), seakan-akan saya mewakili peran orang tua yang terpaksa bersikap santun di hadapan keluarga calon suami kakak saya.

“Jadi, anu, emm, anggaplah saya datang untuk mewakili orang tua kami yang sayang sekali sedang tidak bisa turut berkunjung untuk melanjutkan pembicaraan mengenai pertunangan. Lalu, emm anu, kami berharap bahwa di kesempatan berikutnya kedua keluarga dapat bertemu sehingga keluarga kami dapat memberikan penghormatan secara kekeluargaan, sukarela dan ehm… saling pengertian.”

Haddeh! Agak susah saya bicara yang begitu formal, bahkan sekalipun sudah mengadakan pelatihan di depan cermin sambil dituntun Maya tadi malam. Setelah itu, ayahnya menjawab bahwa anaknya telah banyak bercerita tentang Maya dan bahwa dengan melihat calon istrinya itu, dia menyadari bahwa Maya kelihatan lebih cantik dari yang anaknya pantas dapatkan. Dia tahu bahwa kami datang dari keluarga baik-baik dan terhormat.

Si jenggot tampaknya kalem-kalem saja, sambil senyam-senyum duduk di samping ibunya dengan ekspresi tegang. Kemeja yang dikenakannya memiliki pola yang agak aneh, saya belum pernah melihat yang semacam itu, dan warnanya kurang cocok dengan warna celananya. Masih mending dia mengenakan sarung cap belalai gajah, ketimbang celana warna biru tua yang kayaknya norak banget. Dasar anak mamih!

***

Keesokan harinya, ketika Maya sedang latihan bulutangkis di lapangan tetangga sebelah, Ibu mengajak bincang-bincang di kamar tentang si jenggot, yang nama panjangnya Muhammad Ismail (sebut saja: Mail).

“Sepertinya dari keluarga baik-baik,” kata saya sambil menggaruk tengkuk.

“Maksudnya?”

“Dia orang yang sopan, serius, paling enggak lebih serius dari saya.”

“Kalau kamu banyak ngaconya, daripada seriusnya.”

“Ya, sudahlah kalau begitu…”

“Entar dulu, jadi dia lulusan mana?”

“Kan Maya udah bilang, dia itu sarjana komputer.”

“Tapi perguruan tinggi mana, UI, UIN, UII, atau mana?”

“UIN, kali.”

“Orangnya rajin solat, kan?”

“Mungkin, setidaknya lebih rajin daripada saya.”

“Wah, kalau kamu dari dulu emang males…”

“Ya, sudahlah, nanti tanya sendiri aja deh ke Maya.”

Keesokan paginya, masih gelap benar Maya sudah bangun. Dia menyibukkan diri untuk beres-beres rumah. Dia mengelap kaca jendela, mencopot hordeng dan memasukkannya ke bak cucian. Sore harinya, dia mengajak saya menonton film garapan Steven Spielberg bersama Muhammad Ismail ke Twenty One. Seusai nonton film, kami menyantap mi ayam di warung samping jalan yang suasananya cukup asri dan luas.

“Jadi, sekarang kerja di mana,” tanya Mail pada saya, sambil menunggu pelayan menyediakan mie ayam.

Saya hanya tersenyum, Maya menjawab mewakili saya, “Adik saya ini sudah berkali-kali pindah kerja. Dia enggak tertarik pada bidang apa pun. Dia bisa bekerja di mana saja. Kebetulan tiga bulan ini dia sedang menganggur.”

“Itu benar sekali,” kata saya mengamini.

“Yang dia suka hanya main game, kelayapan, gonta-ganti pacar, dan dia enggak punya agenda apapun kapan mau kawin.”

“Kali ini dia salah,” saya menyela. “Apa yang saya lakukan enggak ada hubungannya dengan urusan orang lain. Saya enggak memusingkan apa yang dilakukan orang, mereka juga gak perlu memusingkan apa yang saya lakukan. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Walaupun kelihatannya kurang berguna, tapi setidaknya saya enggak pernah turut-campur urusan siapapun, dan enggak merugikan hidup orang lain…”

“Itu enggak benar,” seru Mail dengan spontan, “Maksud saya, kamu pasti memiliki potensi tertentu, yang bisa bermanfaat untuk orang lain.”

Saya terdiam membisu. Dalam pikiran saya, ini pasti manusia soleh dari keluarga super soleh yang memiliki garis keturunan dan nasab para wali kekasih Allah.

“Terima kasih,” kata saya agak lesu, “karena itu, saya ucapkan selamat untuk pertunangan kalian.”

“Insya Allah, kami berencana mengadakan acara pernikahan di bulan Maret, pertengahan bulan Ramadhan tahun depan…”

“Kalau bulan puasa, apa nafsu syahwatnya…”

Saya tidak melanjutkan setelah Maya menendang kaki saya dari bawah meja.

“Maksud saya, lalu kapan kalian mau berbulan madu, rencananya ke mana?”

“Saya kira cukup menginap di pantai-pantai sekitar Anyer atau Carita saja, dan itu pun sebaiknya setelah Idul Fitri nanti.”

“Oo, begitu.”

Kami menyinggung sebentar tentang pantai dan kemungkinan datangnya tsunami, bahkan beberapa tahun lalu banyak orang mati bergelimpangan di Pantai Anyer setelah Gunung Anak Krakatau meletus.

Mata Maya menyorot tajam. “Ngapain kamu ngomongin gunung meletus, tsunami segala macam, yang kejadiannya sudah lewat bertahun-tahun lalu? Apa topik macam itu yang kamu obrolkan sama pacar-pacar kamu?”

Seperti seorang tamu yang sedang makan malam bersama sepasang suami-istri yang tidak akur, Mail mencoba menengahi kami dengan bertanya, “Apa kamu enggak kepikiran sama sekali tentang pernikahan?”

“Belum sempat berpikir ke situ,” jawab saya sambil menyesap kopi, “saya harus legowo dulu membiarkan kakak satu-satunya agar bisa melewati masa-masa perang berkepanjangan…”

“Perang? Perang apaan?” tanya Mail bingung.

“Udah, jangan dengarin omongan dia, itu cuma bercanda.”

“Ya, cuma bercanda,” sahut saya lagi, “jadi, memang belum kepikiran buat saya, karena pikiran saya sempit, seorang lelaki yang suka lupa menyiram kencing di toilet, dan kayaknya enggak ada wanita yang mau menghabiskan sisa umurnya dengan laki-laki seperti saya…”

“Kencing di toilet apaan? Apa air kerannya enggak keluar?”

“Itu juga bercanda, jangan dengerin,” kata Maya sambil menendang kaki saya.

Mail mengangguk dan tertawa. “Tapi dia sudah menghabiskan waktunya hidup bersamamu, kan?” katanya, menunjuk ke arah Maya.

“Ya, mau tidak mau, karena saya adiknya,” kata saya sambil melengos.

“Ya, dan kita mampu bertahan hidup karena kamu melakukan sesuka hatimu dan saya diam saja. Tapi itu bukan kehidupan sesungguhnya. Kalau kamu mau bersikap dewasa, pertentangan kakak dan adik dilakukan secara fair. Ya, saya memang menikmati kebebasan saya, dengan candaan-candaan norakmu, tapi lama kelamaan, saya juga harus berpikir bagaimana rasanya menjalani kehidupan sesungguhnya. Sementara, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, dan kalau saya bicara serius, kamu selalu saja menertawakannya.”

Dalam suasana sendu saya membalas, “Sebenarnya saya ini imut dan pemalu.”

“Imut apanya? Kamu itu egois, tahu?”

“Boleh dibilang imut dan egois.”

“Baik, saya paham maksudnya,” kata Mail menengahi lagi, “tapi yang saya baca, setelah kami menikah nanti, lalu kamu hidup sendiri, pada waktunya kamu juga mulai berpikir untuk menikah, kan?”

“Insya Allah,” jawab saya dengan khusyuk, “mungkin ada benarnya.”

“Benar, serius?” sambar Maya, “Oke, sekarang saya punya teman cantik, usianya dua tahun di bawah saya, nanti mau saya kenalkan, ya?”

“Boleh juga, tapi nanti… kalau saat-saat ini cukup membahayakan….”

***

Makan malam sudah siap. Di meja makan, kami duduk berempat. Ibu menghidangkan lauk telor dadar dan ikan cumi, dengan sayur sop dan lalap emping dan kerupuk. Pembicaraan dibuka dengan pendapat Ayah mengenai calon suami Maya.

“Kalau Ayah sih, yang penting orangnya soleh, rajin solat. Kalaupun dari keluarga yang sederhana, enggak apa-apa.”

“Tuh, denger enggak,” cetus Maya.

Sejenak, kami tidak saling bicara, hanya duduk, sesekali menyesap teh manis sambil menunggu Ibu membereskan hidangan.

“Kalau soal soleh kan relatif,” balas saya, “sebab perkara kesolehan itu bukan hanya soal ibadah dan ritual formal, tapi yang utama adalah karakternya.”

“Justru karena ibadahnya bagus, yang berimplikasi pada kualitas karakternya,” kata Maya.

“Berarti ibadah solat itu mencerminkan karakter yang bagus,” sahut Ibu.

“Bisa juga disebabkan karakter yang bagus, solatnya jadi khusyuk,” timpal saya.

“Tapi masalahnya, ibadah yang khusyuk itu harus kita usahakan, atau anugerah dari Tuhan?” tanya Ibu yang sudah berpuluh-puluh tahun rajin beribadah, tapi topik seperti itu baru kepikiran.

“Harus kita usahakan dong,” cetus Maya.

“Menurut saya, itu anugerah Tuhan.”

“Tumben, kamu punya pandangan yang religius.”

“Dari kecil saya ini terdidik sebagai seorang religius, dan untuk menjadi seorang religius tidak mesti memelihara jenggot, iya kan, Yah?” canda saya.

“Menurut Ayah berjenggot atau tidak, itu soal prinsip dan selera saja. Dan soal selera itu, sewaktu-waktu bisa berubah.”

“Asal jangan fanatik saja.”

“Tapi, jenggot sama sekali enggak mencerminkan seseorang itu fanatik,” bela Maya lagi.

“Tapi ngomong-ngomong soal jodoh Maya, Ayah selalu yakin kalau kita berusaha dan berdoa seoptimal mungkin, Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik.”

 “Ibu juga selalu berdoa agar Maya menjadi jodoh yang cocok bagi Muhammad Ismail,” tambah Ibu lagi.

“Ya, mudah-mudahan,” kata saya menambahkan. “Tidak ada salahnya nambah satu orang lagi yang religius di keluarga ini.”

Kami pun tertawa, sambil memulai berdoa dan menyantap makan malam bersama. ***

Oleh: I Gusti Purwo Mawasdi

Penulis adalah Peneliti dan pemerhati sastra mutakhir Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media-media cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.