Bangsa yang Senewen

oleh -1202 Dilihat
Coronavirus background
banner 468x60

Lagi-lagi terjadi pertengkaran hebat di warung kopi Pak Salim. Masalahnya hanya sepele. Soal siapa-siapa yang berhak duluan menerima vaksin untuk pencegahan penyakit Covid 19.

Mereka seakan tidak menyadari bahwa yang berhak menentukan siapa pemula dan akhir adalah kebijakan presiden dan menterinya yang disiarkan melalui layar televisi, media massa hingga media daring.

Jadi, bertengkar atau tidak bertengkar, sebenarnya keputusan itulah yang berlaku di seluruh republik ini. Dan bagi pelanggarnya tentu akan menerima sangsi hukum.

Gara-gara soal itu, kepala satu-satunya milik Pak Majid nyaris terpenggal. Bang Jali, sang pengusaha lokal suka naik pitam, ada sebab atau tak ada sebab. Kadang-kadang ia lupa menyarungkan goloknya selepas kesibukannya mengupas buah kelapa yang akan dijualnya selama bulan Ramadlan.

Selama masa pendemi ini, orang-orang begitu gampang marah. Haji Mahmud juga suka lepas kendali, bertengkar membabi-buta. Istrinya yang gendut itu sering kena sasaran. Baginya, silakan saja orang-orang gendut duluan yang berhak menerima vaksin.

“Tapi vaksin itu tidak ada unsur perangsangnya, Pak Haji,” celetuk Tohir si marbot penjaga masjid.

“Diam kamu, gembel! Emangnya obat perangsang itu ada hubungannya dengan keluarga sakinah?”

Bi Marfuah, yang pipinya ditempeli koyo selebar saputangan, ikut mencak-mencak juga, kenapa para anggota DPR dan para ulama mendapat prioritas yang harus didahulukan. Padahal, dirinya juga merasa sebagai pelayan masyarakat, serta bermanfaat bagi kemaslahatan umat.

Pak Salim mengambil kemoceng untuk membersihkan kotoran bekas pelanggannya dari atas meja. Pak Majid yang sedang asyik minum kopi jadi marah-marah karena sebagian kotoran itu mengenai bajunya. “Dasar mata belalang! Ada orang segini gedenya nggak kelihatan!”

Bi Siti, si pemilik kemoceng, berusaha merebut kemoceng itu dari tangan Pak Salim sambil mengumpat kesal, “Beli sendiri dong… nanti kemoceng ini cepat rusak, tau?”

“Makan tuh kemoceng,” seloroh Pak Salim sambil melempar benda itu keluar dari warungnya.

Bi Siti semakin mengepul, kemudian mereka berdua bertengkar sengit. Volume suara mereka menukik, melengking, mendentum. Istri Pak Salim, yang sebenarnya bukan pemilik sah dari kemoceng, ikut campur dalam pertengkaran. Bokongnya yang sebesar nampan digoyang-goyangkan. Dan dia memiliki caranya sendiri sebagai perempuan sableng.

“Saya ini jualan, pontang-panting siang-malam hanya untuk mencari keuntungan sepuluh atau duapuluh ribu perak. Keuntungan segitu saya pakai buat beli kemoceng. Karena itu, saya tak mau lagi ada orang memakai tanpa izin, kecuali dia menginginkan tangannya buntung,” kata Bi Siti sambil mengacungkan pisau dapur.

Sekali lagi, keributan dengan tema kemoceng pecah. Pertengkaran seputar kemoceng meledak. Semua berkumpul di warung kopi Pak Salim. Saling melabrak, saling adu cocot. Nyi Hindun juga mendengar kegaduhan itu, seraya bertanya, “Ada keributan apa lagi ini?”

Segera setelah duduk perkara dijelaskan, Nyi Hindun ikut-ikutan berkomentar, “Kalau pinjam barang harus izin dulu. Kalau tidak, itu pencurian namanya.”

Istri Pak Salim membantah keras suaminya dibilang “pencuri”. Ia pun menyemprot Nyi Hindun, hingga terjadi lagi pertengkaran seru antara Nyi Hindun dan istri Pak Salim.

Padahal warung kopi itu sempit. Tak ada ruang untuk adu mulut sekitar tujuh atau delapan orang. Kalau misalnya Bi Siti memukul kepala Pak Salim dengan panci, boleh jadi yang kena adalah kepala Pak Majid atau Taufik yang saban hari berkunjung untuk mengutang kopi atau sebatang rokok.

Bi Marfuah kadang melerai juga perihal pertengkaran, tetapi soal kemoceng itu Bi Siti memaksanya agar tutup mulut, “He, Marfuah, kamu jangan ikut campur urusan kemoceng ya? Kalau tetap komentar juga, nanti saya tampar mukamu, sampai seluruh wajahmu penuh dengan koyo, mau nggak?”

Bi Marfuah undur diri karena rasa takut. Tak berapa lama, muncul Ustaz Muhaimin yang juga mendengar kegaduhan itu. Ia memesan segelas kopi susu, dan setelah menghirupnya ia bertanya, “Apakah masih ribut soal siapa yang berhak duluan menerima vaksin?”

“Bukan Ustaz, Hari ini temanya soal kemoceng.”

“Kenapa kemoceng harus diributkan?”

“Pokoknya ceritanya panjang, sebaiknya Ustaz tak usah ikut campur,” ujar Bi Siti lagi.

Tohir pun muncul dari balik pintu, lalu ketika ia turut-campur urusan kemoceng, istri Pak Salim naik pitam. Seketika ia mengambil panci dari dapur dan menghantamkan ke mukanya. Darah keluar dari hidungnya. Karena merasa panik ia menangis meraung-raung.

“Ada apa ini! Ada apa ribut-ribut di sini!” Dua orang polisi berteriak setelah memarkir motornya. “Sudah saya peringatkan, bahwa urusan vaksinasi Covid 19 itu…”

“Bukan soal vaksin, Pak,” potong Pak Majid.

“Lalu, soal apa lagi?”

“Soal kemoceng.”

“Kenapa soal kemoceng diributkan, bangsat?” katanya sambil membanting topi ke atas meja.

Rupanya pihak aparat juga punya caranya sendiri untuk bersikap sableng. “Pokoknya nanti kalau saya dengar keributan lagi di warung kopi ini, pelakunya akan saya tembak, atau kami gusur warung ini dengan beko, mengerti?”

Sidang kasus pemukulan Tohir oleh istri Pak Salim digelar tiga minggu kemudian di pengadilan negeri setempat. Ketika sang hakim mendengar pernyataan para saksi bahwa kasus pemukulan dengan panci itu disebabkan perdebatan soal kemoceng, ia pun marah-marah tak keruan sebelum menjatuhkan keputusan. Rupanya hakim pengadilan juga termasuk orang sableng juga…. (*)

Oleh: Alim Witjaksono, Prosaik milenial, juga peneliti sastra mutakhir Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.