Bangku-bangku itu seolah telah memiliki nama. Orang tertentu memiliki bangku tertentu. Itu bukan ketentuan, tapi hasil memilih. Pemilih menentukan mungkin sesuai perasaan nyaman, pertimbangan strategis, atau lainnya. Siapa peduli? Mereka. Ya, mereka yang memilih bangku, peduli terhadap faktor-faktor itu.
Setiap hari Minggu, bangku-bangku itu seolah telah menanti si “pemilik” lama. Itu menjadi pemandangan biasa, lalu menjadi kebiasaan, lalu berlanjut menjadi semacam peraturan. Setiap warga gereja tahu, bangku-bangku itu milik orang tertentu. Oleh karena itu, tidak boleh diubah. Jika ada orang yang merampas posisi duduk di bangku-bangku itu, maka itu adalah pelanggaran.
Semisal, Ibu Martha, duduk paling kiri di bangku ketiga dari depan sebelah kanan. Biasa berbaju blus merah, motif bunga, menggenggam tas jinjing warna cokelat tua. Rambut disanggul rapi. Biasa duduk bersebelahan dengan menantunya yang berpakaian terusan warna hijau muda.
Sejak gereja itu didirikan, sejak bangku-bangku itu dibuat oleh tukang kayu, diangkut dan diletakkan di dalam gedung gereja—sejak itu, bangku-bangku mulai terpilih oleh tuannya masing-masing.
Hari Minggu itu, Ibu Martha tiba seperti biasa, lima belas menit sebelum ibadah dimulai. Langkahnya terhenti di pintu masuk. Bangku ketiga dari depan sebelah kanan—bangku miliknya—telah diduduki.
Seorang pemuda kurus berbaju kemeja lusuh duduk di sana. Kepalanya tertunduk. Di sampingnya tidak ada siapa pun.
Ibu Martha menelan ludah. Dina, menantunya, menarik lengannya pelan. “Bu, kita tunggu sebentar. Mungkin dia hanya salah duduk.” Tapi Ibu Martha tidak bisa menunggu. Bangku itu miliknya. Sudah tiga puluh tujuh tahun.
Sejak hari pertama gereja itu didirikan, ia memilih bangku itu bersama almarhum suaminya.
“Anak muda,” sapa Ibu Martha, suaranya bergetar. “Maaf, tapi itu bangku saya.” Pemuda itu menoleh perlahan. Matanya sayu, wajahnya pucat. “Bangku Ibu? Nama Ibu tertulis di mana?”
Ibu Martha tersengal. “Memang tidak tertulis. Tapi semua orang di sini tahu. Saya sudah duduk di sini sejak tiga puluh tujuh tahun lalu.” Pemuda itu tersenyum tipis. “Tiga puluh tujuh tahun. Dan selama itu, Ibu pernah menawarkan tempat Ibu kepada orang lain?”
Ibu Martha terdiam. “Tidak. Tapi ….” “Tapi bangku ini milik Ibu,” potong pemuda itu. “Begitu pikir Ibu?”
Dina melangkah maju. “Hei, siapa kau? Kau tidak punya hak bicara begitu pada Ibu Martha.”
Pemuda itu tidak terpengaruh. Matanya tetap pada Ibu Martha. “Saya datang dari luar kota dan hanya butuh tempat untuk berdoa. Tapi Ibu datang dan mengatakan bahwa saya tidak berhak berada di sini. Benarkah begitu?” Ibu Martha membeku.
Pak Benyamin dari bangku kedua kiri menghampiri. “Ada apa, Bu Martha?” “Pemuda ini duduk di bangku saya,” kata Ibu Martha.
Pak Benyamin melirik pemuda itu. “Nak, apa kau bisa mengalah untuk Ibu ini?” Pemuda itu menatap Pak Benyamin. “Mengapa harus mengalah? Apa salah saya? Apa ada aturan yang saya langgar?”
Pak Benyamin terperanjat. “Saya bertanya,” kata pemuda itu dengan tenang, “apakah di dalam Alkitab ada perintah untuk memiliki bangku tertentu? Di mana Yesus mengajarkan bahwa kita harus mempertahankan posisi duduk kita?” Suasana mulai hening. Ibu Menci dari bangku belakang mendekat, ingin tahu keributan.
“Kita tidak perlu Alkitab untuk tahu sopan santun,” sanggah Pak Benyamin. “Dan apakah karena semua orang tahu, itu benar?” Pemuda itu berdiri. “Saya baca dalam Injil Matius, ‘Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.’ Tapi di sini, saya tidak melihat kerendahan hati. Saya melihat perebutan kursi.”
Ibu Menci berseru. “Hei, jangan lancang kau! Kami ini orang tua di sini. Kami berhak!” Pemuda itu menoleh ke Ibu Menci. “Ibu Menci, Ibu marah karena bangku Ibu di belakang mungkin juga terancam akan diduduki orang. Ia kan?” Ibu Menci terdiam.
Pemuda itu berjalan ke tengah lorong. “Saya datang ke sini bukan untuk merebut bangku siapa pun. Saya datang untuk berdoa. Saya datang untuk mencari Tuhan. Tapi yang saya temukan adalah orang-orang yang lebih sibuk menjaga posisi duduknya daripada menjaga hati nurani yang bersih di hadapan Tuhan Semesta Alam.”
Pendeta Lukas yang baru masuk dari pintu samping menghentikan langkah. “Ada apa ini?” “Pak Pendeta,” kata Pak Benyamin, “pemuda ini duduk di bangku Ibu Martha dan menolak pindah.”
Pendeta Lukas mendekati pemuda itu. “Nak, kami memang memiliki kebiasaan di sini ….”
“Kebiasaan atau tradisi manusia?” potong pemuda itu. “Apakah kebiasaan ini mengajarkan kasih? Apakah kebiasaan ini membuat orang-orang di sini semakin dekat dengan Tuhan? Ataukah justru membuat mereka saling menjauh?”
Pendeta Lukas terdiam. Pemuda itu melanjutkan, “Saya tidak pernah datang ke gereja ini sebelumnya. Tapi saya tahu satu hal: Yesus mengatakan, ‘Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ Dia tidak pernah mengatakan, ‘di bangku ketiga dari depan atau posisi duduk lainnya.’”
Ibu Martha merasakan dadanya sesak. Kata-kata itu menusuk tepat di bagian yang selama ini ia tutup rapat.
Pemuda itu menatap Ibu Martha. “Ibu bernama Martha, bukan?” Ibu Martha mengangguk.
“Saya ingat kisah Marta di dalam Alkitab,” kata pemuda itu. “Marta sibuk melayani, sibuk mengatur. Tapi Yesus berkata kepadanya: ‘Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu yang perlu.’”
Ibu Martha terkesiap. Selama ini ia mengira ia lebih mirip Maria, yang duduk diam di kaki Yesus. Tapi ternyata… ia salah.
“Ibu sibuk mempertahankan bangku,” kata pemuda itu lembut. “Tapi apakah Ibu sudah sibuk mempertahankan hati?”
Air mata menggenang di sudut mata Ibu Martha. “Sudahlah,” ujar Ibu Martha. Sembari menoleh ke semua orang, “Biarkan dia duduk di sana.”
“Tapi Bu ….” Dina mencoba menahan. “Sudah,” potong Ibu Martha tegas. Ia menatap pemuda itu. “Kau benar. Aku tidak punya hak atas bangku ini. Aku hanya seorang janda tua yang terlalu lama mempertahankan sesuatu yang tidak pernah menjadi milikku.”
Ia berjalan meninggalkan bangku itu, melangkah ke bagian belakang. Di ujung deretan paling akhir, ada sebuah bangku yang nyaris kosong, hanya diduduki seorang perempuan tua di kursi roda.
“Permisi,” kata Ibu Martha, “boleh saya duduk di sini?” Perempuan itu terkejut. “Tentu saja, Bu.”
Ibu Martha duduk. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tujuh tahun, ia melihat gereja dari sudut yang berbeda. Ia melihat kepala-kepala yang selama ini hanya ia kenali dari depan.
Dan ia menangis. Diam-diam.
Ibadah dimulai. Pendeta Lukas naik ke mimbar. Tapi ia tidak langsung memulai doa. Ia berdiri diam beberapa saat. “Saudara-saudara, sebelum kita berdoa, saya ingin meminta maaf.”
Jemaat gempar.
“Selama bertahun-tahun, saya membiarkan kebiasaan kita mengalahkan kebenaran Firman. Saya tahu tentang bangku-bangku ini. Tapi saya diam. Dan itu salah.”
Ia membuka Alkitabnya. “Amsal 21:2: ‘Segala jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhan yang menguji hati.’ Kita pikir kita benar mempertahankan posisi kita. Tapi Tuhan melihat hati. Dan hati kita, mungkin, sudah terlalu jauh dari kasih-Nya.”
Ia menatap sang pemuda. “Terima kasih untuk anak muda yang hari ini mengajarkan kita semua bahwa posisi duduk di bangku tertentu bukanlah hak paten.”
Setelah ibadah, Ibu Martha mencari pemuda itu. Tapi bangku ketiga dari depan sudah kosong. Di halaman gereja, sang pemuda menghampiri dan menyalami Ibu sembari memberikan sehelai kertas kecil. Pemuda itu berlalu. Di kertas kecil tertulis:
“Terima kasih, Ibu Martha. Hari ini Ibu mengerti apa yang Yesus katakan: ‘Jikalau engkau memberikan sedekah, janganlah engkau meniupkan sangkakala di depan orang.’ Kita sering membuat kehadiran kita di gereja menjadi pertunjukan, kita ingin pengakuan dari orang lain. Tapi sejatinya, gereja adalah tempat kita diingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa, dan Tuhan adalah segalanya.”
“Kisah Marta mengajarkan bahwa melayani itu baik, tetapi mendengar dan melakukan Firman Tuhan adalah yang terutama. Ibu melayani dengan mempertahankan bangku. Tapi hari ini Ibu melayani dengan memberi. Memberi tempat. Memberi hati. Itu lebih berharga.”
Ibu Martha memegang kertas itu erat-erat.
Perubahan tidak datang sekaligus. Tapi perlahan, orang-orang mulai bergeser. Pak Benyamin suatu hari duduk di bangku yang biasa dipakai Ibu Menci. Mereka tertawa mengingat pertengkaran-pertengkaran lama. Ibu Martha tidak pernah kembali ke bangku ketiga dari depan. Ia duduk berpindah-pindah. Kadang di depan, kadang di belakang, kadang di samping orang yang baru pertama kali ia sapa.
Suatu hari, seorang pemuda lain datang. Wajahnya mirip dengan pemuda yang dulu. Ibu Martha mendekatinya. “Nak, kau baru di sini?”
Pemuda itu mengangguk. “Tiga minggu lalu, kakak saya datang ke sini. Saya dengar dia membuat keributan.”
Ibu Martha duduk di sampingnya. “Kakakmu tidak membuat keributan. Dia mengingatkan kami pada Firman yang sudah lama kami lupakan.”
Pemuda itu mengangguk. “Kakak saya memang seperti itu. Dia bilang, ‘Banyak gereja yang sibuk dengan bangku dan posisi, tapi lupa dengan salib.’”
Ibu Martha menatap salib di atas altar. “Kakakmu benar.”
Pemuda itu terdiam. “Kakak saya meninggal dua pekan lalu. Kecelakaan. Tapi sebelum meninggal, dia bilang, ‘Aku menemukan satu gereja yang mulai mengerti. Gereja dengan bangku-bangku yang tidak lagi bernama.’”
Ibu Martha tercekat.
”Dia bilang, dia melihat seorang ibu tua bernama Martha duduk di bangku belakang. Dia bilang, Ibu Martha tidak lagi melihat posisi duduk di bangku tertentu sebagai sesuatu yang perlu untuk dipertahankan. Dan dia mengutip Lukas 10:42: ‘Hanya satu yang perlu.’”
Ibu Martha menangis.
Tiga bulan kemudian, gereja itu berubah. Bukan gedungnya, tapi orang-orangnya. Bangku-bangku tidak lagi memiliki pemilik tetap. Orang-orang saling menyapa, menawarkan tempat, bahkan pindah jika ada yang butuh duduk bersama keluarga.
Sekian
Oleh: Krismanto Atamou








