Filosofi Hidup dalam Sastra Persia

oleh -59 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Mu’min Roup

Pengaruh kosakata Arab dalam bahasa Persia, sangat kental pada karya-karya Reza Baraheni. Bangsa Persia merupakan mata-rantai tak terpisahkan dari para pendahulu mereka, sebagai pengagum-pengagum abadi dari perjalanan bintang dan benda-benda angkasa, yang telah melahirkan gudangnya ahli ilmu falak, matematika, kedokteran, filsafat dan bahasa. Mereka pun sanggup meneruskan tradisi literasi yang berjalan pasca eksekusi Socrates, terutama setelah runtuhnya mitologi Yunani (Athena), menyusul jatuhnya imperium Romawi disebabkan ulah kaum elit yang terperosok oleh degradasi moral dan korupsi internal kerajaan.

Kemahiran sastra Persia dikarenakan daya ungkapnya dalam mendobrak kultur peradaban yang kosmopolit, diskriminatif, serta paternalisme kerajaan masa lalu, melalui kekayaan bahasa kalbu dan relung-relung jiwa yang terdalam. Sebut saja karya Nizami Ghanzavi, Umar Khayyam, hingga generasi Jalaluddin Rumi. Demikian pula goresan puisi Fariduddin Attar, dengan daya imajinasi yang tidak kalah dahsyat dengan karya-karya sastra kontemporer.

Di tangan Fariduddin Attar, perbedaan bentuk prosa dan puisi hanya dalam soal teknis pengungkapan saja. Di era post-modern ini, justru semakin bertaburan karya-karya sastra yang tidak hanya membatasi diri pada penceritaan suatu riwayat yang dikarang, tetapi sekaligus mengartikan kejadian dan menilainya, serta membandingkan citra manusianya dalam bentuk cerita, dengan tetap memakai alegori dan simbol-simbol.

Ketika para sastrawan Timur Tengah sibuk dengan kreativitasnya, di sisi lain kalangan jurnalis Iran sangat peka dan jeli pada kepentingan publikasinya. Bahkan, koran-koran lokal turut aktif mempublikasikan novel-novel Najib Mahfudz (Mesir) dan Orhan Pamuk (Turki) sebelum sastrawan tersebut meraih nobel di bidang kesusastraan. Saat ini, agenda-agenda untuk festival literasi dan kesenian telah digelar di berbagai daerah, termasuk di pusat kota Kum, dekat ibukota Teheran.

Beberapa dekade lalu, di bawah rezim Shah Pahlevisastrawan Iran tetap bergerak secara independen serta mengambil jarak dengan sangat cermat dari kepentingan kaum elit penguasa. Tradisi semacam ini sudah diteladani dari para pendahulunya, semisal dalam karya “Manthiq at-Thayr” (Fariduddin Attar) yang bercerita tentang pertemuan burung-burung dari berbagai penjuru, yang merupakan simbol dari bersatunya peradaban dunia, yang kemudian terbang bersama-sama menuju kerajaan Sang Burung yang sejati (Allah). Terbebas dari raja-raja duniawi yang membatasi ruang gerak dan kemerdekaan jiwa.

Tokoh utamanya adalah seekor burung yang terbang bebas, merindukan dirinya bersatu dengan tubuh dan jiwa-jiwa para burung lainnya di seluruh dunia. Hingga kemudian, hasrat untuk berjumpa didapatnya ketika mereka bersama-sama terbang menuju Kebenaran Ilahiyah. 

Banyak kalangan menilai karya ini sangat baik bagi proses pembebasan masyarakat sipil yang merdeka dari belenggu penguasa dan raja-raja tiran. Bukan hanya di Persia tetapi di seluruh dunia. Sebagian kalangan sufi di Iran, memang percaya bahwa jiwa manusia memiliki dua sayap, dan ketika sang jiwa mendambakan Tuhan dan dirinya sendiri, maka pikiran dan cintanya secara tidak langsung membawanya ke dalam perjalanan menuju Tuhan.

Membaca “Manthiq at-Thayr” mengingatkan saya pada buku Following the Equator (Mark Twain), bahwa kisah fiksi yang ditulis sastrawan, meskipun bentuknya tidak sama persis dengan kenyataan hidup, ia dapat memantulkan lebih dari sekadar kenyataan hidup itu sendiri. Ia merupakan hasil seleksi dan pemadatan kenyataan yang disaksikan atau didengar oleh penulisnya. Untuk itu, segala hal yang bersifat remeh-temeh, bertele-tele, dan segala yang berceceran dalam realitas hidup, sanggup ditepiskan oleh penulisnya, lalu dikemas dan diramu sedemikian rupa hingga begitu menarik dan menawan di hati pembaca.

Kebebasan para sastrawan dalam berkarya, memang sulit dibatasi oleh sekat-sekat kultur dan riwayat penceritaan pada periode tertentu, karena ia secara eksplisit bicara tentang jiwa-jiwa manusia secara universal. Ambil contoh pada novel Perasaan Orang Banten (Fikra Publishing, 2012), sejak bab-bab awal saja penulisnya tak mau terikat oleh kultur budaya Banten sebagai latar penceritaan pada periode tertentu (lihat: bab I hal. 1): “Tidak sedikit sejarawan yang menyatakan bahwa Banten memiliki sejarah keunggulan tersendiri di masa lalu. Tapi, Banten di zaman apa yang mereka maksud? Apakah ketika masih bersatu dengan wilayah Jakarta di bawah Kerajaan Pasundan? Atau di zaman sultan-sultan? Ataukah di zaman perlawanan atas pendudukan negeri Belanda?”

Untuk itu, kita pun mengenal karya cemerlang Reza Baraheni yang sempat dilarang sebelum era revolusi Islam di Iran, Ruzegar-e Duzakhi-ye Aqa-ye Ayaz. Novel ini ditulis dalam bahasa Persia yang dilarang oleh kekuasaan rezim Shah Iran karena dianggap melawan sistem kekuasaan dan mengobok-obok sejarah yang sudah mapan. Kiranya tepat apa yang disampaikan penulisnya, bahwa sastrawan yang baik mesti dia seorang filosof juga, karena untaian kata-kata indah (nilai estetika), bila tidak disertai kandungan filsafat, ibarat pohon-pohon rindang namun tidak ada buahnya.

Karya-karya Reza Baraheni berbanding lurus dengan karya Najib Mahfudz yang tercatat sebagai sarjana Filsafat lulusan Cairo University. Seringkali ia melontarkan gugatan yang sangat filosofis dan religius, yakni suatu realisme ringan namun mengandung permasalahan yang serius. Tragedi keluarga yang memilukan namun dikemas dengan humor-humor satir dan mengharukan. Tema-tema yang ditampilkan begitu sederhana, tetapi cara pengungkapan dan daya imajinasinya begitu mendalam. Ia tidak mudah dipahami dengan pendekatan Islam konservatif, sambil mengenakan sorban berjanggut dengan sajadah panjang membentang, akan tetapi perlu kesadaran yang progresif, setidaknya wawasan Islam yang sudah lintas buana (tasawuf).

Sepantasnya kita lalu bertanya-tanya, mengapa dalam keseharian kita yang penuh dramatis dan tragedi berseliweran dalam kehidupan berbangsa, sekaligus beragama formalistik, namun belum juga melahirkan pengarang besar yang diakui dunia, kecuali hanya Pramoedya Ananta Toer yang pernah enam kali meraih nominasi dalam ajang penganugerahan nobel di bidang kesusastraan?

Karenanya, untuk menjadi penulis dan sastrawan yang baik, sekaliber Rumi hingga Ferdowsi (Iran), hendaknya para penulis Indonesia memberanikan diri untuk keluar dari peradaban “kampung” yang membelenggu daya nalar dan kreativitas. Hal senada pernah pula dinyatakan oleh bapak bangsa Soekarno, bahwa seorang Jawa harus terus mengasah kemampuan berpikirnya hingga menjadi “pasca Jawa”, bahkan seorang Indonesia harus terus mengembangkan dirinya agar menjadi “pasca Indonesia” dan seterusnya.

Sebagaimana kisah pencarian kebenaran pada burung-burung dalam Manthiq at-Tayr (Fariduddin Attar), yang merupakan metafora sebagai jiwa-jiwa manusia yang terbang ke angkasa raya untuk mencapai alam yang hakiki. Lembah, bukit, dan puncak gunung adalah media interaksi antara manusia dengan Tuhan, di kedalaman lubuk hatinya, bahwa keberadaan Tuhan tak lain merupakan bagian dari identitas kemanusiaan yang hakiki.

Beragam tantangan dan pengalaman dihadapi jiwa-jiwa manusia dengan mengarungi tujuh tahapan lembah sebagai simbol, bahwa pada setiap jiwa akan menempuh ujian yang berbeda dalam setiap perjalanan hidup. Karena bagaimana pun, masing-masing individu punya potensi kelebihan yang dimilikinya, begitu pun dengan kekurangan yang berbeda pada setiap manusia. (*)

Penulis adalah Dosen dan peneliti di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, juga menulis puisi dan prosa di berbagai media cetak dan online

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.