Acara HAUL Mendiang Jenderal Soewarto

oleh -576 Dilihat
banner 468x60

Setiap tanggal 22 Januari, terjadi keramaian luar biasa di kediaman Ibu Arini, janda mendiang Soewarto selaku jenderal polisi yang bertugas selama belasan tahun di ibukota Jakarta. Pada hari itu, seperti biasa diadakan acara haul memperingati hari wafatnya almarhum, yang biasanya dipimpin pembacaan doanya oleh ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) provinsi Banten. Seluruh aparat beserta eselon satu dan dua, termasuk para pejabat legislatif dan yudikatif ikut hadir memeriahkan acara tersebut.

Selain Kiai Salim sebagai ketua MUI dan alim ulama setempat, kita pun akan menyaksikan Bapak Kapolda dan wakilnya, Ketua DPRD, Kepala Kejaksaan, Bupati, Dandim, Camat dan Kepala Desa setempat, bahkan Ketua Kadin dan beberapa habaib turut pula memeriahkan jalannya acara. Kurang lebih sembilanpuluh orang berkumpul di rumah Ibu Arini. Berbeda dengan acara-acara haul pejabat di tempat lainnya yang kadang hanya dihadiri sekitar limapuluh atau enampuluh orang saja.

Tepat pukul setengah sembilan malam, para pengunjung dengan wajah muram beranjak dari ruang depan menuju ruang tengah yang telah disediakan meja prasmanan yang menghidangkan segala rupa masakan khas Nusantara hingga masakan daerah. Ruangan itu cukup luas dengan lantai berkarpet yang megah, hingga langkah-langkah mereka senyap, seakan berjalan berjinjit untuk menjaga kesopanan dan keramahan.

Ketua MUI, seorang lelaki tua berjenggot mengenakan peci haji yang agak pudar, dengan kain sarung kotak-kotak kesukaannya. Pak Kapolda dan wakilnya, mengenakan batik dan kopiah hitam, seakan ingin menyamakan kedudukan mereka dengan para alim ulama setempat. Demikian pula dengan Bupati, Ketua DPRD, Ketua Kadin, Kepala Kejaksaan, Camat hingga Kepala Desa setempat. Kecuali beberapa habib yang mengenakan jubah dan sorban putih bermotif lurik, dengan janggut menggelayut pada dagunya yang lancip.

Pada saat mereka menyantap hidangan, ada keheningan mendalam, yang sesekali terpecah oleh suara denting sendok dan piring, suara batuk dan bersin, atau Kepala Kejaksaan yang bolak-balik ke toilet, hingga terpaksa harus memperpanjang waktu makannya. Para tamu secara bertahap terbawa oleh suasana khidmat dan melankolis, seakan termenung mengingat perjalanan hidup almarhum semasa hidup.

Pikiran tentang singkatnya kehidupan manusia, tentang perubahan, ajal kematian, kesia-siaan duniawi sebagai permainan dan senda gurau, terlintas dalam benak-benak mereka. Di antara mereka ada yang berbisik mengenang almarhum Jenderal Suwarto sebagai perokok berat, yang kadang sebungkus rokok habis dihisapnya dalam sekali acara pertemuan elit politik atau hari-hari besar nasional.

Ketua DPRD membungkuk ke telinga Pak Kapolda, menceritakan almarhum yang pernah lupa menaruh puntung rokok, hingga membakar kursi seorang ketua partai berlambang burung kutilang. Sampai kemudian, para petinggi partai berunding berdasarkan musyawarah-mufakat, agar tidak memberinya amplop seusai acara berlangsung. Kemudian, sambil menggerutu sang jenderal memasuki warung di dekat rumahnya untuk membeli amplop kosong, serta memasukkan uang seratus ribu, khawatir Ibu Arini menagih serta merogoh kantongnya pas sampai ambang pintu saat mengucap salam.

Makan malam di meja prasmanan memang luar biasa. Semua yang dapat disediakan oleh flora dan fauna di negeri ini tersedia dan terhampar di atas meja. Segala jenis minuman dan berbagai rupa cemilan dan buah-buahan begitu menawan dan menggiurkan. Yang membuat sebagian pejabat merasa pusing justru tidak adanya rokok, bahkan tak boleh seorang pun merokok setelah acara santap malam usai.

Ada puluhan bungkus cemilan yang bentuknya kotak serupa bungkus rokok, tetapi ketika Pak Lurah dan Ketua Kadin segera membukanya, ternyata isinya hanya cokelat dan dodol Garut.

“Pak Mahmud ketua Kadin seperti kehilangan sesuatu,” bisik Ketua DPRD kepada Kepala Kejaksaan. Sementara itu, Pak Majid selaku Camat setempat sibuk meraba-raba sakunya dan mencari saputangan. Ia duduk menerawang seperti mengingat-ingat sesuatu, kemudian berkali-kali bersin, dan dari hidungnya keluar ingus mencair. Sebenarnya ia sedang sakit dan menderita flu, tetapi karena takut pada atasannya, mau tak mau ia memaksakan diri hadir meskipun istrinya berkali-kali sudah melarangnya.

“Waduh, sepertinya hampa sekali kalau habis makan tidak merokok,” kata Lurah Sodik kepada Kiai Salim ketua MUI. Pak Subowo selaku Kepala Dandim membisikkan sesuatu ke telinga Pak Lurah, agar ia mengambil rokok di mobilnya, tetapi usahakan jangan merokok di tempat acara, dan cukup di serambi rumah saja. Sejenak kemudian, Pak Lurah lirak-lirik ke sekeliling seraya menundukkan kepalanya sambil keluar ruangan.

Setelah mereka tahu alasan Pak Lurah keluar ruangan, akhirnya banyak yang berbondong-bondong ikut keluar dan nimbrung di serambi untuk merokok bersama Pak Lurah, di antaranya Pak Mahmud sang Ketua Kadin, Pak Salim wakil Kapolda (namanya sama dengan Ketua MUI), serta dua orang habib bernama Habib Yusuf dan Habib Eman Yahya (dipanggil Ustaz HEY).

Sementara, mereka sedang asyik merokok di serambi, Kepala Dandim dan tamu lainnya dihidangkan puluhan durian montong bersama buah rambutan, yang langsung dibuka satu persatu dan disantap dengan rakusnya di sebelah meja prasmanan.

“Ini benar-benar negeri yang gemah rupiah loh jumawi,” teriak Pak Dandim dengan bangga, meskipun salah dalam melafalkannya.

Pada malam itu, Dandim Subowo hampir tidak menyisakan ruang kosong untuk metabolisme udara di lambungnya, karena telah penuh oleh santapan makan malam berikut buah-buah durian. Ia menyeduh kopi sambil meraba-raba kantongnya setengah sadar. Ia mencari-cari bungkus rokok, sampai kemudian teringat dengan rokok di mobil yang tadi telah memberi komando kepada Pak Lurah agar mengambilnya.

Seketika itu, Pak Dandim bangkit dan berdiri sempoyongan karena kenyang oleh durian. Ia melangkah menuju serambi rumah Ibu Arini, dan dilihatnya orang-orang sedang asyik menghisap rokok di tempat itu.

Itulah awal mula Dandim Subowo menyiram kopi panas dan memukul dua orang habib, yang kemudian merembet menjadi demonstrasi besar-besaran setelah solat Jumat di sekitar alun-alun Kota Serang, Banten. Peristiwa demo itu digoreng habis-habisan oleh para Netizen di media sosial, seolah-olah militer Indonesia sudah menjadi atheis dan agnostik; seolah-olah Dandim Subowo mengidap islamophobia; bahkan ada juga yang menyebarkan desas-desus, seolah-olah rumah janda Ibu Arini telah menjadi markas para penganut Satanic, Freemason, dan seterusnya dan sebagainya.

Untuk lebih jelasnya, kita dengarkan saja kelengkapan ceritanya oleh Ibu Arini, selaku tuan rumah sekaligus janda almarhum Jenderal Suwarto, yang disampaikannya di muka mahkamah pengadilan.

“Malam itu, seperti tahun-tahun sebelumnya,” demikian kesaksian Ibu Arini di depan meja hijau, “saya mengadakan acara haul almarhum suami saya yang meninggal sejak Pandemi Covid pada 2020 lalu. Semua undangan hadir pada acara tersebut, termasuk para pejabat tinggi beserta aparatur daerah di Provinsi Banten. Saya memberi mereka makan malam dengan hidangan prasmanan yang cukup lengkap, ditambah berbagai rupa buah-buahan termasuk buah durian. Tetapi, seperti acara-acara haul pada tahun sebelumnya, saya melarang para tamu merokok di dalam ruangan. Karena saya menyadari, pengaruh rokok terhadap kesehatan suami saya hingga menjelang ajalnya.

Beberapa tamu merasa senang dengan keputusan saya itu, tetapi sebagian besar, apalagi yang perokok berat tentu akan mengambil caranya sendiri bagaimana agar dapat merokok setelah menyantap makan malam. Tetapi, Pak Bupati, Kepala Kejaksaan dan Ketua MUI merasa senang dengan keputusan saya itu, karena mereka mengaku sudah berhenti merokok. Tetapi, Pak Lurah, Ketua Kadin, wakil Kapolda dan beberapa orang habib tetap merokok di serambi rumah, dan entah dari mana mereka bisa mendapatkan rokok itu.

Sementara itu, Dandim Subowo dengan langkah sempoyongan karena mabuk durian, tiba-tiba melangkah cepat ke serambi rumah sambil menenteng segelas kopi panas. Di serambi rumah saya dia berteriak keras, ‘Mana rokok saya! Mana rokok saya!’ Seperti prajurit yang memberikan komando, dia menunjuk-nunjuk muka Pak Lurah, kemudian Pak Lurah gemetar sambil mengatakan bahwa rokok Pak Dandim sudah habis oleh dua orang habib yang ikut nimbrung merokok bersamanya. Seketika itu, dia menyiramkan kopi ke jubah putih para habib, serta memukul mereka seperti kapten tentara menempeleng bawahannya, karena tidak taat pada komando atasannya.“ ***

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.