Acara Halal Bihalal di Pesantren Al-Bayan

oleh -1142 Dilihat
banner 468x60

Sudah tak asing lagi, selalu saja para wanita mendambakan calon suami yang berkepribadian, yakni punya mobil pribadi, rumah pribadi, lahan tanah dan sertifikat pribadi dan seterusnya. Tak terkecuali Poppy Ratnasari. Dia hanya seorang wanita di antara ribuan wanita lainnya yang memiliki selera yang sama. Namun, apa boleh buat, sang takdir menentukan jalan hidup seperti apa adanya. Sekarang sudah tidak ada maskawin yang disimpan, tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan dan dibanggakan. Tak ada popularitas, cinta atau perhatian dari siapapun, termasuk dari suami sendiri.

Dia hanya bisa pasrah dinikahi oleh bujang lapuk yang biasa-biasa saja, juga penampilan dan kepribadiannya biasa-biasa saja. Suaminya itu hanya bekerja sebagai pegawai negeri tingkat rendah di kantor Departemen Agama cabang Tangerang Selatan.

Sebagai istri yang sederhana, dandanan wanita itu biasa saja. Kadang-kadang ia merasa sedih dengan kondisinya. Bukankah manusia dilahirkan untuk menikmati kehidupan dunia ini, juga sah-sah saja jika seseorang menikmati kemewahan seperti yang dialami orang-orang gedongan. Sementara, rumah dia sangat sederhana, dindingnya rapuh dan bulukan, kursi-kursinya usang, atap-atapnya bobrok, dan kalau turun hujan bocor. Banyak lagi hal lain yang selalu ia keluhkan.

Sesekali ia berkhayal membayangkan hidup dalam kemakmuran. Ruang tamu yang indah dan lantainya berkarpet tebal. Beberapa pelayan bertubuh kekar dan gempal, serta kursi-kursi bagus dan antik, dilengkapi dengan meja kaca yang mentereng dan terkesan oriental. Dia juga membayangkan adanya kamar dan meja rias yang semerbak dengan aroma wewangian yang menggoda untuk tempat bercengkerama bersama teman-teman dekat, atau dengan pria-pria terkenal yang digandrungi, di mana wanita-wanita lain akan merasa iri dan penasaran karena ingin mendapat perhatian dan pujian seperti dia juga.

Ketika suami sedang menikmati sayur asem dan semur jengkol seraya memuji masakannya, justru si istri tengah melamunkan banyak hal yang ingin dimilikinya. Di depan suaminya ia berkhayal membayangkan mereka menikmati makan malam yang lezat dan mewah, peralatan makan dari perak yang berkilau, permadani yang memenuhi dinding dengan gambar klasik dari tokoh-tokoh terkemuka, dekorasi dengan bingkai bergambar bunga dan burung-burung indah berkicau di tengah rimbunnya pepohonan bagaikan di negeri dongeng.

Tetapi, apalah daya tangan tak sampai. Wanita itu tidak memiliki baju-baju indah, perhiasan-perhiasan mewah dan antik. Ya, dia tidak punya apa-apa, dan hidup ala kadarnya saja. Padahal, dia adalah wanita normal yang begitu ingin dirinya bahagia, cemburui, menarik, bahkan bisa membuat orang lain tergila-gila.

Pada suatu sore, suaminya pulang ke rumah dengan perasaan penuh kemenangan sambil membawa sebuah amplop besar di tangannya. “Ini,” katanya, “ada hadiah untukmu.”

Poppy segera membukanya, lalu menarik lembaran kartu bertuliskan:

Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Banten

Kepada Yth.

Bapak Rauf Kuming, S.Ag dan Istri

Dengan ini kami mengundang kehadiran Bapak/Ibu pada acara Silaturahmi dan Halal Bihalal yang akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Bayan pada hari Jumat tanggal 18 April 2025, Pk. 09.00 WIB sampai selesai.

Tetapi, bukannya rasa gembira yang ditunjukkan sang istri, surat itu malah dilemparnya ke atas meja sambil mengeluh, “Sebetulnya apa yang kita harapkan dengan adanya undangan itu.”

“Ini suatu penghormatan, Sayang. Acaranya di Pesantren Al-Bayan, dan berisi kiai, pengusaha, anggota DPRD, sarjana, penulis dan lain-lain. Ini juga kesempatan emas yang jarang sekali. Bahkan tidak setiap tahun terjadi. Selama ini saya berjuang keras untuk mendapatkan surat undangan ini.”

“Lalu?” kata istrinya tak acuh.

“Lalu apanya? Ini prosesnya melalui seleksi ketat. Tapi akhirnya, saya berhasil lolos juga. Semua orang akan datang ke Al-Bayan, tak terkecuali para pejabat dan alumni pesantren Daar el-Qolam, yang dikenal sebagai pesantren literasi di Banten.”

Dia memandang suaminya dengan dongkol, dan berkata ketus, “Lalu, menurut kamu, saya harus memakai pakaian apa?”

Masalah itu belum dipikirkan oleh suami. Ia berkata dengan suara gagap, “Emang kenapa? Saya kira baju yang dipakai lebaran kemarin masih bagus.”

“Apa? Baju lebaran?” cetusnya kemudian.

Suaminya teringat, bingung, melihat istrinya mengeluh. Lalu, ia pun berkata dengan tenang, “Kenapa, Sayang… coba sampaikan saja terus terang?”

Dengan usaha yang keras Poppy dapat mengendalikan dirinya, kemudian menjawab dengan suara kalem sambil menyapu kedua belahan pipinya yang basah, “Nggak ada apa-apa, Mas. Saya cuma mau menyampaikan bahwa istrimu ini tidak punya baju yang pantas untuk acara-acara yang mencakup para intelek dan pejabat seperti itu. Jadi, lebih baik berikan saja undangan itu kepada salah seorang di antara teman-temanmu yang kerabatnya jauh lebih baik dandanannya daripada saya.”

Suaminya semakin bingung, dan berkata lagi, “Ayo kita berdiskusi bersama. Kira-kira berapa harga baju yang pantas dipakai, yang nantinya bisa juga dipakai pada kesempatan lainnya?”

Istrinya berpikir sejenak, lalu membuat kalkulasi harga sambil berpikir jumlah yang dapat dikeluarkannya. Akhirnya, dia berkata dengan ragu-ragu, “Saya tidak tahu pasti harganya, tapi saya bisa mengusahakan baju itu dengan harga dua juta limaratus ribu.”

Suaminya agak berdebar-debar mendengarnya. Karena ia sendiri telah menyisihkan sejumlah uang itu untuk mengganti plafon dan atap dapur yang semakin bocor. Tapi kemudian dia berkata, “Baiklah. Saya akan memberi satu juta setengah, tapi usahakan agar mendapatkan baju yang menarik.”

Hari penyelenggaraan acara sudah mendekat, namun Nyonya Rauf tampak masih murung dan gelisah. Padahal bajunya sudah beli. Suatu sore, suami berkata kepadanya, “Ada apa lagi, Sayang? Ayolah, kenapa kamu terlihat resah selama beberapa hari ini?”

“Saya bingung karena tidak punya perhiasan yang bisa dipakai, paling tidak kalung atau gelang emas. Saya khawatir nanti akan terlihat gerogi dan minder di depan umum, apalagi di depan ibu-ibu pejabat tinggi itu.”

Suaminya lalu menjawab, “Kamu bisa memakai perhiasan dengan bunga-bunga alami. Tahun ini hal itu sedang menjadi trendi. Dengan hanya limapuluh ribu kita bisa mendapatkan bunga-bunga sebagai perhiasan yang terlihat mewah dan glamor, bagaimana?”

Istrinya masih juga belum bisa diyakinkan, “Nggak mau ah, saya malu Mas, malu banget. Kadang-kadang saya ngeri membayangkan seorang ibu rumah tangga biasa seperti saya, lalu berbincang-bincang bersama wanita-wanita gedongan seperti itu.”

Lalu suaminya menghardik, “Kenapa sih kamu ini? Masalah begituan kan gampang saja. Tinggal pergi ke rumah Nyi Aisah, Bunda Lelah Jamilah, atau Ibu Saiful, lalu minta tolong meminjamkan perhiasan untuk menghadiri acara di Al-Bayan ini. Tentu dia akan senang hati meminjamkan perhiasan, berapapun yang kamu butuhkan.”

Wanita itu kemudian tersenyum, lalu katanya dengan penuh kegembiraan, “Iya, benar juga, Mas, seharusnya hal itu bisa dipikirkan di kepala saya.”

***

Keesokan harinya Poppy berangkat ke kediaman Nyi Aisah sambil menceritakan kesulitannya. Saat itu Nyi Aisah berjalan ke sebuah lemari pakaian yang berlapis cermin. Ia mengambil sebuah kotak besar berisi perhiasan, membukanya, lalu berkata singkat kepada Nyonya Rauf Kuming, “Silakan pilih, Sayangku.”

Pertama kali dipandanginya sebuah gelang dan kalung mutiara, kemudian anting-anting unik berwarna emas dan manik-manik. Sebagian dari perhiasan itu adalah hasil karya para desainer dari seniman-seniman Yogyakarta, Palembang dan Bandung. Dia mencoba perhiasan-perhiasan itu di depan cermin sambil terkagum-kagum. Rasanya dia tak ingin melepasnya lagi, mengembalikannya lagi, dan kemudian dia berkata sambil tersenyum, “Apakah Nyi Aisah masih ada yang lain?”

“Ah, tentu saja ada,” ia mengambil lagi dari lemari. “Silakan pilih lagi, mana yang kamu suka?”

Lalu, dia menemukan di dalam sebuah kotak satin berwarna merah, seuntai kalung permata yang luar biasa indah. Jantungnya berdegup kencang. Kedua tangan gemetar saat mengambilnya. Dipasangnya kalung mutiara itu untuk diingat. Perasaannya seakan melambung tinggi ke angkasa, terombang-ambing di awang-awang, ketika mengungkap kecantikan dirinya di depan cermin.

“Contoh Nyi Aisah meminjamkan yang ini. Cukup yang ini saja.”

“Silakan, silakan… ambil saja….”

Dia pun melompat gembira, mencium pipi kiri dan kanan Nyi Aisah dengan mesra, lalu keluar rumah dengan melangkah cepat bersama perhiasan itu.

***

Penyelenggaraan acara Halal Bihalal telah tiba. Nyonya Rauf tampil sebagai wanita satu-satunya yang tercantik di antara mereka semua. Anggun, ramah, selalu tersenyum dan sangat menawan. Dia dapat melupakan segalanya, tenggelam dalam pemandangan dan keindahannya. Terlihat begitu glamor dan gemilang, serta wajah yang cerah karena gembira dan kagum atas pujian-pujian orang. Segala keinginan yang terpenuhi, dan perasaan kemenangan yang sempurna begitu manis dalam hati sanubari seorang wanita.

Acara berlangsung cukup meriah, diselang dengan jamaah Jumat di masjid Ali bin Abi Thalib, dan baru selesai hingga petang hari. Suasana tampak sejuk nan asri di bukit Patepaan Al-Bayan, dimeriahkan pula dengan pembagian doorprize dari para donatur yang baik hati dan sentosa. Sampai kemudian, setelah turun dari KRL, Rauf dan Poppy baru sampai Parung kampung halamannya, sekitar Pk. 08.30 malam.

Sekitar jam 06.00 pagi, ketika Nyonya Rauf terbangun dari tidurnya, kontan ia melangkah menuju cermin. Ingin rasanya bercermin sekali lagi, menyaksikan untuk terakhir kalinya kisah kejayaan Jumat kemarin. Tetapi, tiba-tiba ia terperanjat dan menjerit-jerit histeris, “Ha! Mana kalungnya? Di mana kalungnya?!”

Suaminya yang ingin menuju kamar mandi bertanya-tanya “Ada apa, Sayang?”

Dengan perasaan panik dia berbalik ke arah suaminya, “Kalungnya, Mas…kalungnya hilang…!”

“Hilang di mana?” teriak suaminya kaget.

Ia mencari-cari di antara lipatan-lipatan bajunya, kemudian mengambil tasnya dan mencari-cari di dalamnya. Tetap juga tidak ditemukan.

Suaminya bertanya dengan waswas, “Kamu yakin kemarin sore masih memakainya waktu pulang acara Halal Bihalal?”

“Iya, masih.Waktu naik KRL juga masih ada di leher?”

“Lalu, kapan waktunya naik Grab?”

“Oo iya!” teriaknya kaget. “Saya sempat melepasnya, lalu tiba-tiba ketiduran di mobil…”

“Oo kalau kamu sempat melepasnya, berarti dia ketinggalan di mobil Grab?”

“Iya, pasti di dalam mobil!”

“Kalau begitu, kita lacak saja nomor mobilnya.”

Siang hari Rauf segera keluar rumah, sedangkan sang istri menunggu di kursi dengan baju yang masih menempel di tubuhnya. Ia melangkah lesu menuju kamar mandi seakan tanpa tenaga, tak berdaya, tanpa semangat, bahkan tanpa ada pikiran.

Suaminya kembali sekitar jam enam Sabtu petang, tetapi ia tidak menghasilkan apa-apa. Besok paginya, ia pergi ke kantor polisi, kemudian kantor-kantor surat kabar, untuk memasang iklan dan menawarkan ketidakseimbangan bagi siapa yang diizinkan. Ia pergi ke kantor pusat Grab, kantor cabang di Rangkasbitung, lalu ia pun pergi ke mana saja, di tempat-tempat yang membuatnya didorong oleh suatu harapan positif.

Istrinya tetap menunggu sepanjang hari dengan penuh kecemasan dan ketegangan tiada tara. Malam harinya sang suami pulang ke rumah sambil berjalan sempoyongan dan muka pucat. Sehari, dua hari, tiga hari, tetap tak mendapatkan hasil. Apalagi konon dia sudah meminum air putih dari Danau Padarincang dari seorang guru spiritual, namun hasilnya tetap nihil.

***

“Kamu datang saja ke Nyi Aisah, lalu bilang baik-baik bahwa jepitan kalung itu patah dan kita sedang membetulkannya ke toko emas, dengan begitu kita masih ada kesempatan untuk mengembalikannya nanti.”

“Jadi, Mas masih mau mencari kalung itu?”

“Ya, saya akan berusaha.”

Selama seminggu mereka telah kehilangan semua harapan. Dan Rauf yang tampaknya bertambah tua selama tujuh tahun, akhirnya memutuskan, “Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengganti perhiasan itu.”

Hari berikutnya mereka membawa kotak kalung menuju toko perhiasan yang tercantum di kotak itu. Pemilik toko tadi kemudian memeriksa catatannya.

“Mohon maaf, bukan saya yang menjual kalung itu, Tuan dan Nyonya.”

Kemudian, mereka pergi menuju satu toko ke toko perhiasan lainnya, dari satu kota ke kota lainnya juga. Ia kebetulan bentuk kalung, lalu mencari-cari kalung yang sama dengan yang dipakai sang istri. Mereka berdua saling bertemu ingatan masing-masing satu sama lain. Keduanya merasa tersiksa dan menderita.

Suatu sore, di sebuah toko emas di Pasar Parung, akhirnya mereka menemukan seuntai kalung permata yang benar-benar mirip dengan yang mereka cari. Kalung itu berharga tigapuluh lima juta rupiah, suatu harga yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

“Sekarang kita berpikir bagaimana harus mencari uang sebanyak tigapuluh lima juta itu,” kata sang suami.

Mereka meminta kepada penjual kalung itu agar tidak menjualnya kepada pihak manapun selama tiga hari ini.

Kemudian sang pemilik toko meminta uang muka sebanyak lima juta rupiah, dan mereka pun bersedia mengabulkan permintaan itu. Lalu, mereka mengambil kesepakatan yang ditandatangani di atas kwitansi, bahwa jika di akhir Agustus (terhitung tanggal 31 Agustus 2021, Pk, 24.00 WIB) berhasil menemukan kalung yang hilang itu, maka mereka berhak menjual kalung itu kembali dengan harga tiga puluh juta rupiah.

Rauf pun mencari pinjaman ke sana kemari. Meminta tujuh juta dari saudara-saudaranya, pinjam lima juta dari beberapa sahabatnya, empat juta dari teman-teman di kantornya, lima juta lagi dari pinjaman dengan menggadaikan BPKB motor satu-satunya. Ia menerima surat-surat berbunga tinggi, serta membuat persetujuan dengan rentenir dan pihak-pihak yang biasa meminjamkan uang. Ia sepanjang hidupnya, tanpa mengetahui apakah ia mampu membayarnya, apa tidak. Tanpa menyadari halangan dan rintangan yang akan menimpanya, serta kemungkinan tekanan-tekanan yang harus ditanggung oleh batinnya. Ia pergi untuk mendapatkan kalung baru, serta membayar kontan dengan harga tigapuluh lima juta rupiah.

Ketika sang istri mengembalikan kalung itu kepada Nyi Aisah, si pemilik kalung berkata agak dingin, “Baru dikembalikan ya? Mestinya beberapa hari setelah acara, kalung ini sudah ada di tangan saya.”

Nyi Aisah tidak membuka kotaknya, dan langsung menaruh kalung itu di lemarinya. Tapi nanti, seandainya dia tahu adanya penempatan itu, apa yang ada di pikirannya? Apa yang akan dikatakannya? Apakah dia akan menuduh istri Rauf dan melaporkannya ke polisi?

Kini, dia semakin mengerti betapa mengerikannya kemiskinan itu. Utang-utang yang menumpuk itu harus dibayar. Dan dia berjanji akan membayarnya. Rauf memulangkan pembantunya, mengubah tata ruang tempat tinggal dan merehab satu kamar untuk dikontrak. Sang istri merasakan betapa beratnya pekerjaan rumah tangga dan merawat dapur yang kotor. Dia mencuci peralatan makan, dengan kuku-kukunya yang kemerahan pada panci dan piring yang pedas. Dia mencuci kain-kain kotor, baju-baju dan lap-lap, yang kemudian dijemur pada seutas tali. Dia membuang limbah dan sampah setiap hari ke tempat sampah.

Dia pergi belanja sayur, bumbu dapur dan lauk-pauk, menenteng kantong kresek berwarna hitam, tawar-menawar harga dengan para penjual, menahan hinaan, mempertahankan uangnya yang tinggal sedikit, rupiah demi rupiah. Setiap bulan mereka harus melunasi beberapa utang dan mencari pinjaman yang lain. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ia menunggak lagi, dari warung ke warung, tambal sulam mengulur-ulur waktu.

Suaminya mencoba mencari-cari kerja sampingan. Sesekali mengisi ceramah agama di wilayah selatan yang minim privasi keagamaannya. Lalu, pulang membawa amplop dengan bayaran hanya seratus ribu perak. Dan kehidupan yang melelahkan ini berakhir selama enam tahun. Dan memasuki tahun ketujuh, mereka telah membayar lunas semua hutangnya, ditambah dengan segala bunga-bunganya.

Sang istri tampak semakin tua saat ini. Dia telah menjadi seorang ibu rumah tangga dari kalangan biasa. Kuat, tegar, dan kadang-kadang kasar. Dengan rambut yang tidak teratur, baju daster yang subur dan kotor, dia berbicara lantang ketika sedang membersihkan lantai di antara gemericiknya udara dari atap yang bocor. Namun terkadang, ketika suaminya berada di kantor, dia duduk di samping jendela, dan mengenang masa-masa silam, terutama di hari Jumat indah, saat penyelenggaraan acara Silaturahmi dan Halal Bihalal di pesantren Al-Bayan, di saat dirinya begitu cantik dan anggun mempesona, duduk di samping Ibu Sadiyah dan Elun, istri para kiai milenial.

Lalu, apa yang terjadi seandainya kalung itu tidak hilang? Bagaimana nasib hidupnya jika saat kalung itu bisa ditemukan? Tak ada yang bisa menebak. Betapa takdir kehidupan ini begitu aneh dan tiba-tiba berubah seketika. Sangat mudah sesuatu melayang dari diri kita, dan sangat mudah tiba-tiba kita mendapatkan kenikmatan kembali.

***

Pada hari Minggu, ketika sedang berbelanja di pasar baru, Serpong, tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang sedang membimbing anak kecil yang mungkin bungsunya. Wanita itu adalah Nyi Aisah. Dia terlihat masih muda, segar, cantik dan tetap memikat.

Ia merasa kaget dan terenyuh di dalam hatinya. Inginkah dia menegur dan mengajaknya bicara? Ya, tentu saja. Apalagi sekarang, ketika dia sudah melunasi semua utangnya, dia merasa leluasa akan menceritakan kepada wanita itu tentang semua yang telah terjadi selama ini.

“Apa kabar, Nyi Aisah?”

Wanita yang hilang terperanjat atas kehidupan seorang ibu rumah tangga yang sederhana itu, bahkan sama sekali tak dapat mengenalinya. Ia berkata gagap, “Siapa ya? Sepertinya saya pernah kenal familier?”

“Ini saya, Nyonya Poppy Ratnasari, suami Pak Rauf yang dulu pernah pinjam kalung sama Nyi Aisah.”

“Ya, ampuuun!”

Mereka berpelukan dan saling mencium pipi kiri dan kanan.

“Masya Allah… kenapa kamu terlihat berubah begini?”

“Ya, memang benar, Nyi Aisah. Selama ini saya sudah melewati saat-saat yang menjadi beban berat dalam hidup saya. Semuanya ini bermula dari pertemuan saya dengan Nyi Aisah…”

“Saya? Ada apa? Coba ceritakan beban apa itu, Sayang?”

“Apakah Nyi Aisah masih ingat tentang kalung permata yang pernah saya pinjam untuk mengikuti acara Halal Bihalal di pesantren Al-Bayan itu?”

“Ya, aku ingat sekali, lalu?”

Sambil mendesah dan menarik napas, ia melanjutkan, “Saya menghilangkan kalung itu.”

“Lho? Bukannya sudah dikembalikan? Kalung itu masih ada di lemari saya, kok?”

“Yang saya kembalikan itu adalah sebaliknya. Saya membelinya dari toko emas di Pasar Parung setelah berhari-hari mencari bentuk yang sama dengan kalung yang dipinjamkan ke saya. Kalung itu saya beli dengan harga tigapuluh lima juta rupiah. Nyi Aisah tentu paham untuk orang seperti saya ini, memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat melunasi hutang sebanyak itu. Tapi syukurlah, sekarang ini sudah terlunasi semuanya.”

Nyi Aisah berdiri terkejut, ia menatap teman bicaranya dengan penuh iba, “Jadi kalung yang ada di lemari saya itu adalah pengganti dari kalung saya yang hilang?”

“Benar sekali, Nyi Aisah.”

Nyi Aisah menyeka keringat di keningnya, “Aduuuh, aku nggak pernah memperhatikan kalung itu selama ini.”

“Mohon maaf, Nyi Aisah…”

“Justru saya yang harus minta maaf!”

Sambil memegang kedua lengan dan memeluk teman bicaranya, Nyi Aisah berbisik ke telinga, “Kalung saya itu hanya imitasi, bukan kalung asli, dan harganya cuma seratus ribu perak!”

***

(Cerpen ini hasil adaptasi dari majalah El-Bayan, pemred Hafis Azhari)

Oleh: Alim Witjaksono adalah Peneliti sastra milenial Indonesia, menulis esai dan prosa di berbagai media memikat dan berani, di antaranya Ruangsastra.com, alif.id , Bangka Pos, Radar Madura, Radar Mojokerto, Tangsel Pos, Republika dan lain-lain..

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.