Dengan kawalan ketat dari Badan Intelijen Nasional (BIN) Presiden Republik Indonesia masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang, diapit oleh dua orang agen intelijen. Tak seorang pun bicara. Mereka melaju kencang di atas aspal yang basah oleh hujan tadi malam.
Suasana hening dan senyap tak seperti biasanya. Presiden menengok kiri dan kanan, lalu katanya heran, “Sepertinya ini bukan menuju ke tempat acara? Mau ke mana kita?”
Semuanya diam tak menjawab. Mereka telah menjadwalkan hari libur untuk sang presiden. Tiga orang intelijen itu, termasuk Presiden, memakai kemeja batik dengan sepatu dan celana berwarna gelap.
“Pak Sopir,” kata Presiden, “sepertinya Bapak mengambil jalur yang salah?”
Sopir itu tak menjawab. Kedua intelijen lainnya tetap menatap lurus ke depan.
“Pak, tolong kasih tahu Sopir sepertinya kita bukan menuju ke tempat acara?”
“Kita tidak akan ke sana, sudah ada yang mewakili,” kata intelijen yang duduk di sebelah kiri Presiden.
“Sudah ada yang mewakili?” ulang Presiden.
“Ya, wakil presiden sudah menghadiri pertemuan itu sejak tadi.”
Para intelijen itu diam kembali. Mobil terus meluncur ke arah barat. Di luar hujan mulai turun. Sopir menyalakan penyeka kaca mobil.
“Nanti dulu, apa-apaan ini?” kata Presiden.
Mereka tetap diam, kemudian seorang intelijen yang duduk di samping Sopir angkat bicara, “Sudah berminggu-minggu hujan tak henti-henti. Bikin kepala pening saja. Saya kira hari ini cuaca akan panas, tapi ternyata masih hujan juga.”
“Mau dibawa ke mana saya ini,” kata Presiden, “Saya berhak untuk tahu.”
“Anda bukan dalam posisi untuk berhak memerintah,” kata intelijen di kanan Presiden.
“Ah, kalian ini bercanda atau apa?”
“Kita sedang serius. Sangat serius.”
“Apakah ini kudeta atau penculikan, atau apa?”
“Tentu saja bukan. Hal seperti itu sudah kuno.”
“Lalu apa?”
“Coba diam saja. Maaf. Kami mendapat perintah untuk tidak mengatakan apapun.”
Mobil itu terus melaju selama beberapa jam. Hujan semakin deras. Angin berhembus kencang.
“Sekarang,” kata intelijen di samping Sopir, “putar balik, lalu belok kanan. Mereka tidak akan melihat kita lagi. Hujan angin ini sangat membantu.”
Mobil memasuki area perkampungan, kemudian masuk ke jalan sempit yang ditumbuhi ilalang dan semak belukar. Jalan berlumpur yang membuat ban berputar tak bertenaga, selip, namun kemudian bisa lolos dan terus melaju. Kini mereka telah sampai. Seorang pria mengenakan jaket hujan dan payung menyalakan senter lalu mengarahkan mobil ke sebuah garasi terbuka. Sebuah rumah kecil dengan bangunan unik berdiri di sebelah kiri garasi. Pintu mobil dibuka, dan mereka memerintahkan Presiden untuk keluar.
Presiden menurutinya. Ketiga intelijen itu terus mengapit Presiden dengan hati-hati, meski tak ada seorang pun di sekitar itu dalam jarak berkilo-kilo meter.
“Saya pikir kita bisa melakukan semuanya di sini,” kata pria berjaket hujan itu, “kalau dilakukan di sana risikonya terlalu besar.”
“Tapi di sini dingin sekali. Apa masih ada waktu untuk minum kopi?”
“Kopi sudah disiapkan. Sebenarnya, kita limabelas menit lebih cepat dari jadwal. Itulah alasan kami menyiapkan kopi terlebih dahulu. Kita semua tahu, mereka itu sangat tegas dalam soal waktu.”
“Oke, mari kita masuk.”
Mereka terus saja mengapit Presiden. “Anda duduk di kursi sebelah sana,” salah seorang intelijen mempersilakan Presiden.
Lelaki berjaket hujan itu muncul lagi bersama seorang pelayan yang membawa nampan berisi lima cangkir kopi dan satu toples gula.
“Ini kopi hasil racikan sendiri,” kata lelaki berjas hujan. “Dijamin rasanya enak.” Satu cangkir disodorkan kepada Presiden, yang lainnya mengambil satu persatu.
“Ah, segar sekali, hujan-hujan begini minum kopi.”
“Ya, nikmat sekali,” kata yang lainnya sambil menyalakan rokok di tangannya.
Kemudian yang satu lagi mengambil rokok sebatang, dan katanya, “Kita semua tahu benda kecil ini membahayakan dan merusak organ tubuh kita, tapi kenapa kita masih menghisapnya juga?”
“Sama saya juga, sulit sekali untuk berhenti merokok.”
Yang seorang lagi mengambil toples dari meja dan menawarkan kepada Presiden, “Kopinya mau ditambah gula?”
“Boleh,” kata Presiden.
***
Tak berapa lama, mereka mengapit Presiden menuju bangunan paviliun yang terletak di belakang rumah. Hujan masih belum reda. Pintu dibuka, dan mereka dengan cepat mendorong Presiden agar masuk. Pintu kemudian dikunci dan digembok. Ada tiga orang yang menunggu di dalam. Dua orang berusia sekitar 50-an tahun. Yang seorang lagi duduk dengan pakaian lusuh seperti kemeja buruh sambil mengenakan sepatu seharga 50 ribu perak. Dia duduk di kursi goyang di tengah ruangan. Sepertinya ia lelaki tua berusia 80 atau 90-an tahun.
“Selamat datang, Pak Presiden!” suaranya serak. Lelaki tua itu membalikkan badannya seraya bangkit dari tempat duduk.
Presiden mengamati wajah lelaki tua itu, tiba-tiba terperangah kaget, ”Ya ampun! Bapak masih hidup rupanya?”
“Selamat datang, saya sudah menunggu lama sekali, tapi sekarang waktunya sudah tiba, sesuai jadwal,” ia pun menjabat tangan Presiden.
“Benar, ini Bapak?”
“Ya.”
“Lalu, prosesi penguburan pada waktu itu?”
“Itu hanya sandiwara saja. Di dalam peti mati itu hanya boneka lilin, bukan saya.”
“Lho? Lalu berita-berita yang disiarkan ke seluruh dunia itu?”
“Biarkan saja, para wartawan itu tidak tahu apa-apa, termasuk juga anak-cucu saya. Dengan protokol yang ketat, mereka hanya diperbolehkan melihat boneka lilin itu dalam jarak tertentu, tidak boleh sampai menyentuh.”
“Berarti rumor yang dikatakan orang-orang selama ini…”
“Ya, rumor itu benar adanya. Pada tahun-tahun pertama saya menyendiri di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Tidak ada penduduk sama sekali di pulau itu, hanya ada saya dan beberapa pengawas dan pelayan. Barulah beberapa tahun setelah pergantian presiden dari Megawati, saya kembali ke Jakarta, dan mencari tempat dan posisi yang jauh dari jangkauan penduduk.”
“Berarti dulu itu Bung Karno…”
“Kami yang merancang semuanya, dibantu beberapa intelijen dari Amerika Serikat. Kami tempatkan Soekarno di Wisma Yaso, tak bersentuhan dengan siapapun, bahkan dengan dunia politik. Tentu kami sangat bodoh jika melakukan pembunuhan secara terang-terangan…”
“Berarti soal korban-korban di Lubang Buaya itu?”
“Ya, semua itu kami yang merancang agendanya. Supaya masyarakat percaya, kami dibantu oleh pihak Amerika dalam proses pemberitaannya. Kami juga yang menentukan waktunya, lokasinya, pemberian namanya…”
“Tetapi, apakah benar jenderal-jenderal itu mati terbunuh?”
“Ya, mereka yang jadi korban itu adalah pendukung-pendukung Presiden Soekarno. Termasuk puluhan ribu tahanan politik yang kami jebloskan ke panjara dan Pulau Buru itu.”
“Berarti, benar juga apa yang dikatakan buku Pikiran Orang Indonesia,” gumam Presiden.
“Tidak seluruhnya benar,” sahut lelaki tua itu. “Tapi bagaimanapun orang Banten itu menulis novel, berarti menulis karya sastra yang tidak bisa dipersalahkan.”
Keduanya saling diam, kemudian kata Presiden lagi, “Lalu, sekarang apa yang akan kalian lakukan terhadap saya? Sebelumnya saya sudah dikasih tahu bahwa saya pasti selamat, tidak akan dihabisi.”
Muncullah dua orang bule dari balik pintu, mengenakan seragam putih-putih lalu menyalami Presiden.
“Kenalkan ini Dokter John dan ini Dokter Allen, keduanya dari Amerika.” Kedua dokter itu menunduk dan tersenyum di hadapan Presiden.
“Apa yang akan kalian lakukan terhadap saya?” tanya Presiden.
Lelaki tua itu memberi isyarat kepada dua dokter itu, lalu ia memanggil beberapa kaki-tangannya, “Ayo, kita langsung saja… hari ini akan menjadi catatan penting dalam sejarah sains di Indonesia.”
Mereka menuntun Presiden menuju salah satu dari dua meja operasi. Mereka memintanya untuk menanggalkan pakaian. Lelaki tua itu berjalan ke meja di sebelahnya, menanggalkan pakaiannya, lalu membaringkan diri di atasnya. Dokter John dan Dokter Allen mengenakan baju medisnya, dan mereka telah siap melakukan suatu pekerjaan.
***
Beberapa jam kemudian, lelaki tua itu bangkit dari meja operasi. Ia melangkah menuju cermin pada dinding yang telah disediakan. Dia segera mengenakan pakaian Presiden dengan senyum gembira, “Ini benar-benar luar biasa, hebat sekali… bahkan nyaris tidak ada luka bekas operasi… bagaimana kalian bisa melakukan ini?”
“Begini, Pak,” sahut seorang dokter, “ini penemuan medis yang paling mutakhir yang sudah kami ujicobakan kepada ratusan orang secara cermat. Dan hasilnya, bisa mencapai 99 persen.” Ia menyebut nama lelaki tua itu, tapi segera diingatkan.
“Tolong, mulai sekarang tidak ada lagi sebutan nama itu, kecuali nanti kalau ada perintah untuk itu. Sekarang saya sudah menjadi Presiden Republik Indonesia.”
“Siap, Pak Presiden.”
Ia bercermin lagi dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, sambil menunjuk sosok pria yang tergolek di meja operasi, ia bertanya, “Bagaimana dengan orang itu?”
“Dia akan tetap tidur selama 24 jam ke depan. Sekarang ini semua mesin operasi sudah dimatikan dan dihancurkan. Kita harus segera meninggalkan tempat ini,” kata Dokter Allen.
Dia berjalan ke arah meja operasi dan menatap pria itu. Terlihat sosok wajah lelaki berusia sekitar 60-an tahun.
“Besok saya akan langsung menuju Istana Negara, tapi saya membayangkan bagaimana nanti saya ketemu Ibu Negara?”
Dan mereka pun tertawa terkekeh-kekeh.
“Ayo, kita segera tinggalkan tempat ini. Para dokter silakan jalan duluan, lalu yang lainnya akan menyusul. Segera masuk ke kendaraan masing-masing, lalu besok kita akan tidur nyenyak di Istana Negara.”
***
Ruangan itu kosong dan lengang. Tercium bau menyengat dari alat-alat operasi bagaikan aliran-aliran listrik yang mengalami korsleting. Lelaki itu mulai sadar dan terbangun. Tak ada seorang pun di sekitar itu. Ia melangkah menuju cermin.
“Ya ampun! Apa-apaan ini? Kenapa dengan muka saya?”
Ia mengangkat tangan. Lelaki di cermin itu juga mengangkat tangan. Ia bergerak maju, lelaki itu pun mendekat. Dia memeriksa tangannya, lalu melihat kakinya. Ah, ini bukan tangan dan kaki saya. Ampuun, ini sama sekali bukan tubuh saya! Ada apa ini?!
Kemudian dia mendengarkan suaranya. Juga bukan suara miliknya. Ah, mereka bahkan telah menukar kotak dan pita suaranya. Dia meraba tenggorokannya, kemudian kepalanya dan jari jemarinya. Tak ada bekas luka sama sekali! Dia mengenakan pakaian lelaki tua itu, kemudian berlari menuruni tangga. Di pintu pertama dia membuka pintu yang dihiasi ukiran kayu bergambar wayang-wayang berikut para dalangnya.
Ia menyusuri perkampungan, lalu berjalan menuju kantor kelurahan. Seorang nenek tua penjual gado-gado memergokinya di tengah jalan.
“Aiih, Pak Kandar? Bapak sudah bebas dari penjara toh?”
“Pak Kandar? Pak Kandar siapa, Bu? Saya ini Presiden Republik Indonesia!”
“Hihihi, lucu sekali Pak Kandar ini…”
“Bu, tolong kasih tahu saya, di mana ada telepon umum di sekitar sini?”
“Telepon seperti biasa di samping pintu masuk itu. Ah, Pak Kandar, pura-pura pikun saja.”
Dia menuju telepon. Di sakunya ada beberapa uang receh, lalu ia memasukkan satu koin untuk segera menelepon.
“Bu, tolong kasih tahu saya, apa nama kampung ini?”
“Ini Kampung Ciruas. Ah, Pak Kandar pura-pura nggak tahu saja? Kenapa sepulang dari penjara kelihatannya kayak orang linglung begitu?”
“Halo! Taksi! Saya pesan taksi ke kampung Ciruas, Serang. Ya, ya, di depan kantor kelurahan Ciruas, cepetan Pak!”
Tak lama kemudian Taksi pun datang. Tapi tidak ada gunanya pergi ke Istana Negara. Mereka pasti menjaga ketat di sekitar itu. Maka, lelaki itu pun mendatangi kantor redaksi harian Tempo, Republika, Media Indonesia, kemudian menuju studio MetroTV, TVOne, SCTV, RCTI dan lain-lain.
***
Para pasien di rumah sakit jiwa selalu menertawakan laki-laki itu. “Lihat orang itu! Lagaknya kayak pejabat tinggi saja. Waktu pertama kali datang ke sini tiga minggu lalu, dia mengaku-ngaku Presiden Republik Indonesia. Tetapi belakangan dia banyak diam, tidak lagi mengigau seperti hari-hari pertama. Setiap hari dia senang duduk-duduk di situ sambil membaca koran. Saya nggak pernah lihat pasien di sini yang begitu bersemangat membaca koran. Kalau kita ajak bicara, sepertinya dia mengerti tentang politik. Mungkin lantaran itu ia kelihatan sinting dan senewen… terlalu banyak membaca isu-isu politik.”
Waktu makan siang sudah datang. Bel berbunyi. Semua pasien beranjak menuju dapur umum. Kecuali laki-laki itu. Seorang perawat berjalan ke arahnya.
“Pak Kandar?”
Tak ada jawaban. Ia masih tekun membaca koran.
“Pak Kandar!”
“Oh, ya?”
“Sekarang waktunya makan siang, Pak Kandar!”
Dan ia pun melangkah menuju dapur umum. ***
Oleh: Muhamad Pauji
Penulis adalah Cerpenis dan kritikus sastra kontemporer Indonesia, aktivis organisasi pemuda OI (Orang Indonesia).
Artikel dan cerpen saya bisa dijumpai di berbagai media massa lokal, nasional dan media online.







