Novi Pratiwi

oleh -868 Dilihat
banner 468x60

Setelah mengisi formulir kunjungan di Rumah Tahanan (Rutan) Tangerang, kami dipersilakan masuk oleh seorang petugas yang kemudian membukakan pintu kokoh yang terbuat dari baja. Kami mendapati koridor panjang dengan pintu-pintu besi berbaris di kedua sisi. Meskipun matahari sudah meninggi, tapi suasana di sekitar koridor begitu gelap. Beberapa lampu bohlam menyala, di antara sangkutan-sangkutan kabel listrik yang sudah keriput dan layu, dan dibiarkan menyimpan aliran listrik dengan arus-arus pendek. Kabel-kabel listrik itu sudah puluhan tahun tak pernah diganti, tanpa perawatan yang memadai, dan tetap dibiarkan menggelayut di sekitar plafon dan tembok-tembok kotor berjamur.

Seorang petugas Rutan bertubuh gempal, memandu kami ke salah satu ruangan di luar koridor. Ruangan itu diisi banyak loker, dan kami diperintahkan menaruh barang-barang di sekitar itu. Tas kami digeledah di ruang pemeriksaan, kemudian kami meninggalkannya bersama ponsel dan kunci mobil.

Sebagai pengacara, Ibu Novi Pratiwi tak merasa canggung, dan nampaknya ia terbiasa dengan hal-hal semacam ini. Ia pun tersenyum pada saya yang dimintakan untuk mendampinginya selaku penerjemah. Karena, ia sendiri berasal dari Jakarta dan tidak memahami ucapan si tersangka yang berasal dari Baduy, Banten Selatan, dan berbahasa Sunda.

Tetapi, yang membuatnya gundah justru beberapa berkas yang dipersiapkannya di dalam tas ransel, namun tak boleh dibawanya masuk. Mukanya memberengut seakan ia telah kehilangan harta kekayaan yang amat berharga. Di dalam tas itu tentu saja dilengkapi pula dengan beberapa alat kosmetik, minyak wangi, bahkan tisu yang selalu dipersiapkan untuk menyeka mulut dan hidungnya, karena belakangan ia sering terserang ispa dan batuk-batuk.

“Apakah mereka selalu menahan tas pengunjung?” tanya saya kemudian.

“Biasanya enggak,” jawab Ibu Novi, “mungkin karena akhir-akhir ini marak isu terorisme dan radikalisme, untuk penjengukan jadi diperketat.”

Ibu Novi berdebat sebentar dengan petugas, apakah ia boleh mengambil beberapa berkas yang diperlukan untuk bahan wawancara dengan si tersangka. Ia dipersilakan mengambil pensil berikut satu bundel berkas yang cukup tebal di tangannya. Petugas berbadan gempal itu kemudian membuka satu pintu lagi di depan kami, lalu berdiri menyamping supaya kami bisa masuk.

Ruangan itu cukup luas. Ada panel kaca membelah ruangan menjadi dua. Ada tiga kursi di depan panel kaca, dan Ibu Novi memilih kursi yang paling ujung. Saya disuruh duduk di sampingnya sambil menghadap panel. Tak berapa lama, pintu terbuka dan masuklah dua orang petugas penjara berseragam, kemudian berbalik dan mempersilakan seseorang untuk masuk. Maka, muncullah seorang laki-laki remaja berbadan ceking dengan kulit cokelat pucat. Bajunya sudah kumal, dekil dan lusuh. Ia mengenakan pakaian longgar berwarna hitam dengan rambutnya yang gondrong berwarna pirang kemerahan.

Setelah petugas menyuruh laki-laki itu duduk, ia melangkah dengan muka tertunduk menuju kursi. Ia duduk sambil memangku kedua tangannya, menatap kami sebentar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kami pun menatap dia dalam waktu yang cukup lama, tetapi dia tetap saja menunduk bungkam.

Ibu Novi berdehem beberapa kali, kemudian memanggilnya, “Daru… Daru Markana….”

Laki-laki itu tetap bungkam, hanya sekali mendelikkan matanya ke arah kami. Ibu Novi bertanya pada kami, apa bahasa Sundanya, “Sudah mandi belum?” Kemudian ia pun mengucapkannya pada Daru dalam bahasa Sunda.

Laki-laki itu tetap menatap ke bawah, tanpa bereaksi sama sekali. Ibu Novi memandang ke saya, seolah minta tolong agar kata-katanya diterjemahkan dengan cermat. “Nama saya Novi Pratiwi,” katanya pelan dan gugup. “Anda mungkin sudah diberitahu sebelumnya, bahwa mulai hari ini, saya akan menjadi pengacara dan pembela Anda. Jadi, mulai sekarang Anda tak usah khawatir dan marilah kita saling bekerja sama.”

Bahasa Indonesianya kental sekali. Setelah Ibu Novi mengutarakan hal tersebut, ia pun menghela napas dan merasa lega. Ia menggeser posisi duduknya, kemudian memandang saya erat-erat. Tetapi, tatapan saya terpancang pada wajah laki-laki yang berasal dari Baduy itu. Matanya mendung tanpa jiwa, seakan cahayanya telah padam. Matanya sama sekali tidak nampak seperti mata makhluk yang hidup. Tidak ada pergerakan ataupun ekspresi. Saya tidak bisa menahan rasa penasaran apakah ia dapat melihat dengan mata yang senyap itu.

Ibu Novi mendekatkan wajahnya ke muka saya, “Apa bahasa Sundanya ‘kenapa kamu diam saja?’” Dan saya pun menerjemahkannya ke bahasa Sunda.

Tetap tak bereaksi. Padahal, semula saya mengira ia bakal senang mendengar bahasa Sunda, namun seakan tak mengenali bahasanya sendiri. Ibu Novi memandang saya sangsi, kemudian ucapnya lagi, “Supaya kita bisa bekerjasama dengan baik, Anda harus menjawab semua pertanyaan saya. Saya akan menanyakan beberapa hal demi kepentingan Anda sendiri, sehingga Anda wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.”

Laki-laki itu tetap tidak bergeming. Ibu Novi melirik ke wajah saya, agak tersenyum sinis. Kemudian untuk menengahi kecurigaan itu, saya menegaskan, “Saya sudah menerjemahkan persis seperti apa yang Ibu katakan tadi.”

Laki-laki itu meremas-remas jari-jemari di pangkuannya. Tangannya cokelat, agak hitam dan kasar. Kotoran yang menumpuk menghitamkan kukunya yang agak panjang. Tangannya menunjukkan orang yang tidak mengenal pembersih atau sabun mandi sama sekali. Sepertinya, ia tak mau mendengarkan suara Ibu Novi maupun suara saya. Ibu Novi mengeluarkan setumpuk dokumen dari map bermotif batik, lalu membaca-baca beberapa daftar pertanyaan:

“Siapa nama Anda?”

Saya pun menerjemahkan pertanyaan Ibu Novi. Setelah hening sejenak, laki-laki itu mengangkat kepalanya pelan, sambil mengeluarkan satu kata, “Daru.”

Ibu Novi menatap laki-laki itu sambil tersenyum. Dengan suara yang segar, seakan baterainya telah diisi ulang, ia beralih kepada daftar pertanyaan berikutnya, “Siapa nama bapak Anda?”

“Martawi,” jawabnya pelan.

“Tempat tanggal lahir Anda?”

Ia tidak menjawab, hanya terbengong-bengong. Kemudian Ibu Novi mengulangi pertanyaan, “Di mana Anda lahir?”

“Kampung Cikeusik.”

Setelah mencatat di kertas, ia mengajukan soal berikutnya, “Kapan Anda lahir?”

“Musim hujan,” jawabnya polos.

“Maksud saya, tanggal berapa, bulan apa dan tahun berapa?”

Ia terdiam lagi, kemudian mengangkat kepalanya, dan hanya menyebutkan angka tahun, “Selapan puluh lima.”

Ibu Novi menulis angka kelahirannya 1985, tetapi kemudian saya koreksi, karena pengertian “selapan” bukanlah “delapan” melainkan “sembilan”, berarti ia kelahiran 1995.

Kemudian, Ibu Novi menarik nafasnya dan bertanya lagi, “Lalu, tanggal berapa dan bulan apa?”

Ia menggelengkan kepalanya, dan katanya, “Ibu saya bilang, saya lahir pada musim hujan.”

Saya memandangi wajahnya lebih saksama. Kerutan di seputar mata dan mulutnya semakin jelas ketika ia bicara. Ia masih berusia remaja, tapi kulitnya tampak seperti pemuda 30-an tahun ke atas.

Ibu Novi merasa bingung, apa yang harus dicatatanya kemudian, lalu desaknya lagi, “Anda tahu tidak, berapa usia Anda sekarang?”

Laki-laki itu mengangkat alis matanya. “Saya kurang tahu, mungkin 16 atau 17 tahun.”

“Yang mana, 16 atau 17 tahun?”

Ibu Novi mulai terdengar frustrasi akan prospek tugasnya membela orang yang bahkan tidak tahu berapa usianya saat ini. Ia terus mencecar pertanyaan serupa dengan perasaan jengkel.

“Saya tidak tahu,” laki-laki itu tetap menggeleng, “nenek saya bilang 17, tetapi ibu saya bilang kurang dari 17 tahun.”

“Jadi, persisnya berapa?” tanya Ibu Novi makin gelisah.

Ia memandang petugas yang berdiri di samping pintu, seakan-akan meminta bantuan, tetapi petugas itu hanya berseloroh, “Banyak yang tidak tahu usianya berapa, bahkan di daerah Cibeo para orang tua jarang yang memiliki KTP.”

“Kalau begitu, lalu saya mesti bagaimana?” timpal Ibu Novi sambil garuk-garuk kepala.

Ia menggeser duduknya, menyenderkan badannya sambil terbatuk-batuk. Sesaat kemudian, ia mengamit tisu dari tangan saya sambil mengelap ingusnya yang mulai keluar, “Baik kalau begitu, 16 saja ya, sebab ibunya bilang kurang dari 17 tahun.”

Laki-laki itu berjeda sejenak, kemudian mengangguk pelan, tanpa mengucap sepatah kata pun.

“Baiklah …,” Ibu Novi bergumam sendiri, “Di mana orang tua Anda sekarang?”

Ia terkejut, lalu jawabnya sambil menunduk, “Bapak saya sudah mati.”

Ibu Novi menatapnya tajam. Ia membaca reaksi atas jawabannya. Ia menggumam sendiri, yang tak perlu saya terjemahkan untuk laki-laki itu. Sesaat kemudian, lelaki itu mengangkat pandangannya. Ia menatap saya dengan matanya yang hampa, namun mengandung tatapan yang misterius. Badan saya seketika merinding. Baru kali itu, saya melihat matanya yang senyap namun menyorot tajam. Seakan bukan lagi berwarna kecokelatan melainkan kelabu gelap. Ibu Novi menangkap adanya kegelisahan, lalu seketika menambahkan, “Seperti yang saya katakan tadi bahwa kita ini teman. Kami datang ke sini untuk membantu kasus Anda. Karena itu jangan ragu-ragu untuk menceritakan semuanya.”

Laki-laki itu menunduk lagi. Beberapa menit terlewat tanpa ada kata-kata. Tetapi, ketika dipancing pertanyaan mengenai kematian ayahnya, ia tak mau mengeluarkan sepatah kata pun.

“Saya tidak bisa berbuat apa-apa sampai Anda menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Laki-laki itu terdiam lagi. Ia bersikeras untuk tidak membeberkan keterangan apa pun tentang kematian ayahnya. Sudah menyerah akan persoalan ayahnya, Ibu Novi mengubah haluan, “Anda punya kakak atau adik?”

“Saya punya dua kakak perempuan.”

“Di mana mereka sekarang?”

“Yang satu sudah kawin, satunya lagi bersama Ibu.”

Beberapa menit lagi terlewat, tanpa ada kata-kata. Ibu Novi melihat jam tangannya. “Waktunya sudah hampir habis,” ia melengos ke arah saya.

Saya pun ikut melongok melihat jam tangannya. Tanpa terasa, di ruangan itu kami sudah menghabiskan waktu hampir dua jam. Suatu wawancara yang lain sama sekali dari agenda yang kami rencanakan. Meskipun saya sudah mempersiapkan diri dengan kekuatan mental, karena seorang kawan jurnalis dari Radar NTT pernah memperingatkan, bahwa wawancara pertama dengan seorang tersangka seringkali melelahkan. Sebab, kata beliau, “Tujuannya bukan untuk mendapatkan banyak keterangan, melainkan untuk membangun kepercayaan.”

Banyak orang yang tak suka menjawab pertanyaan yang diajukan jurnalis atau pengacara. Dilihat dari sudut manapun, suatu pertanyaan mesti diajukan secara tulus, sampai pada titik di mana kata “privasi” tidak diperlukan lagi. Klien menjawab berbagai pertanyaan sebab ada pengacara yang hendak membela mereka, namun mereka hanya mau bicara jika seseorang mampu menyentuh hatinya, sebagaimana ibu yang mengelus-elus rambut anaknya.

Kini, Ibu Novi Pratiwi mesti mempertimbangkan baik-baik segala yang diucapkan lelaki itu. Hingga ke depannya ia bisa maju pelan-pelan agar klien tidak lagi bungkam.

Setelah kami menulis nama berikut slot waktu untuk pertemuan berikutnya di meja penjaga, kami pun pergi meninggalkan Rutan, pelan-pelan mengendarai mobil di sepanjang jalan protokol kota Tangerang, Banten. Nampak di sisi kiri dan kanan jalan, plang-plang raksasa menampilkan iklan-iklan dari berbagai jenis ponsel, laptop, kosmetik, minyak wangi dan sabun mandi, yakni benda dan alat-alat yang tak pernah disentuh oleh Daru Markana bersama keluarga dan handai taulannya di Baduy Dalem sana.

Ketika menyaksikan plang membentang bergambar ketua DPR, disertai beberapa plang yang mengiklankan bimbingan belajar dan kursus bahasa Inggris, saya nyaris tak percaya bahwa dalam jarak beberapa puluh kilometer ke arah selatan, ternyata masih ada perkampungan yang dihuni puluhan ribu penduduk, namun belum bisa membaca dan menulis dengan bahasa Indonesia, bahkan dengan bahasa daerahnya sendiri. (*)

Oleh: Irawaty Nusa

Penulis adalah Cerpenis dan peneliti historical memory Indonesia, menulis esai dan cerpen di berbagai media massa daring dan luring, di antaranya harian Singgalang, Kabar Madura, Radar Mojokerto, Kabar Banten, Tangsel Pos, www.nusantaranews.co, ruangsastra.comalif.id, Jurnal Toddoppuli, Ahmad Tohari’s Web dan lain-lain.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.