Di bawah langit kelabu, darah mengalir memenuhi reruntuhan Menjadi bukti kekejaman dan penyiksaan Air mata, rasa sakit dan luka adalah teman

Mendung gelayuti pertiwiDan duka menghampiri nubariGembala nan agung berpulangSetelah jauh jalannyaSejauh ikrar batinya;Berkeliling sambil berbuat baikPertrasiit Benefaciendo. Teguh, tegar dan tegasCerdas tetapi

Ibu selalu bergegas pagi-pagi butaKami pun acapkali terburu-buruTersedak air pun tak sempat mengunyahLalu kami berangkat pagi-pagiDi sekolah hanya ada tukang kebunKami pulang

Aku adalah penjaga yang kelelahan.Di dadaku retak-retak mulai tumbuh,sarang rayap dari kebodohan manusia.Aku menahan gemuruh air yang murka,menjaga mereka yang lupa daratan,mereka

Aku pernah menjadi sungai besar,mengalir deras seperti urat nadi bumi,tapi aku tersesat,di lorong-lorong beton,di sempitnya belukar pemukiman,di dada yang sesak tanpa oksigen.Aku

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.