Aku adalah pohon tua di pekarangan panti jompo,akar-akar ku bersilang seperti tangan para ibuyang menunggu pulang anak-anaknyadengan suara doa yang patah.Setiap 17

Aku adalah lonceng tua di menara balai kota,perutku retak, suara tak lagi melompat dari dada.Bulan ini, barisan langkah merayakan bebasnya tanah air,sementara

Sekurun saku dan dadaterasa hampa mengikat celakauntaian-untaian pada tanyaatas siapa dia bertunduk belikatdan dengung yang dihasilkan oleh lantunanterus berkelakar sepanjang lorong gelap

Aku adalah karbon dari mesin-mesin,yang menggantikan embusan napas kerbau tua. Ladang kini bergelora dengan dengung,namun bukan gemuruh doa-doa.Kupeluk batang-batang padi, tak ada

Pada suatu pagi yang biasadari musim yang sudah kulupaKutemukan namamu bersama cahayaDan sejak itulah aku ‘ngembaraMencari engkau tanpa alamatMula-mula aku bertanyaPada seorang

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.