Aku adalah jendela di rumah veteran buta,kaca berembun oleh ingatan yang terlalu tajam.Di luar sana, anak-anak mengecat wajahnya dengan dwi warnasementara ia
Hening, Bahasa Tanah Leluhur
Aku adalah tanah di bawah kaki anak-anak yang melompat riang,tanah tempat nenek moyang dibaringkan tanpa batu nisan.Di hutan yang dicabut dari akarnya
Yang Tak Pernah Diundang
Aku adalah pohon tua di pekarangan panti jompo,akar-akar ku bersilang seperti tangan para ibuyang menunggu pulang anak-anaknyadengan suara doa yang patah.Setiap 17
Waktu yang Terlupakan
Aku adalah lonceng tua di menara balai kota,perutku retak, suara tak lagi melompat dari dada.Bulan ini, barisan langkah merayakan bebasnya tanah air,sementara
Perjamuan Cengkar
Sekurun saku dan dadaterasa hampa mengikat celakauntaian-untaian pada tanyaatas siapa dia bertunduk belikatdan dengung yang dihasilkan oleh lantunanterus berkelakar sepanjang lorong gelap
Ingin Aku Menulismu sebagai Puisi
Jenuh sekali suara di kota-kota, yang lapang hanya pikiran terbuka. Bahkan laut tak pernah bicara ia luas. Dirimu adalah laut, dan puisi-puisiku
Elegi Karbon dan Jerami
Aku adalah karbon dari mesin-mesin,yang menggantikan embusan napas kerbau tua. Ladang kini bergelora dengan dengung,namun bukan gemuruh doa-doa.Kupeluk batang-batang padi, tak ada
Surat untuk Tuhan
Pada suatu pagi yang biasadari musim yang sudah kulupaKutemukan namamu bersama cahayaDan sejak itulah aku ‘ngembaraMencari engkau tanpa alamatMula-mula aku bertanyaPada seorang
Surat Laut kepada Konsesi Tambang
Ayah,laut tempat kau ajari aku berenangtelah menjadi telaga lumpur.Ikan-ikan yang dulu kau juluki “kawan kecilmu”,kini tinggal gambar di buku paket sekolah.Kau bilang
Terumbu Karang dalam Tidur Panjang
Aku dulu adalah kota di bawah air,batu warna-warni yang mencintai ombak,rumah bagi yang bernapas dengan insang,sekarang aku hanyalah fosil,terkubur dalam video promosi
Negara adalah Sebuah Puisi yang Belum Selesai
Negara adalah puisi yang belum rampung,ditulis ulang setiap kali rakyat berteriak:“Di mana keadilan?”atau“Makna kemerdekaan dengan kelaparan?”1 Juni bukan angka—ia adalah diksi,Soekarno menyisipkan
- Sebelumnya
- 1
- …
- 7
- 8
- 9
- 10
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











