Orang Rote dan Bangun Pagi

oleh -520 Dilihat
banner 468x60

Waktu saya kecil, dan kerabat-kerabat saya dari Rote sering berkunjung ke Kupang, ada satu kebiasaan yang saya perhatikan pada mereka yang menurut saya common pada diri mereka yaitu kebiasaan bangun pagi. Pagi sekali. Bahkan kebiasaan ini kadang menjengkelkan karena mereka bangun terlalu pagi pada saat kami masih enak-enak tidur.

Setelah besar dan belajar lebih mendalam tentang orang Rote barulah saya sadari mengapa mereka mempunyai kebiasaan ini. Orang Rote menyebuh kata subuh dengan dua kata yaitu “Lole malua” yang artinya “indahnya pagi”. Sebenarnya bisa disebut hanya satu kata, tetapi entah mengapa selalu ditambahkan “lole” di depan yang artinya indah.

Jika kita melihat lifelyhood orang Rote, bisa dipahami bahwa kebiasaan bangun pagi ini bukan sesuatu yang given melainkan datang dari lifelyhood mereka sendiri yaitu budaya lontar.

Panen lontar adalah suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan orang Rote. Panen lontar ini sudah dimulai sejak kuartal pertama setiap tahun sampai sekitar bulan Oktober bahkan kadang awal Nopember. Di awal awal tahun panen lontar hanya dalam jumlah yang sangat terbatas dan hanya untuk konsumsi pribadi dalam setiap rumah. Saat itu banyak orang belum menyadap, hanya satu dua orang. Lontar punya keunikan yaitu semakin kering cuaca semakin baik dipanen. Lagipula di awal-awal tahun ini orang Rote biasanya masih disibukkan dengan pertanian sawah basah. Masih banyak yang menunggu panen dan menanam untuk kedua kalinya.

Jadi awal awal tahun biasanya belum banyak lontar yang bisa dipanen. Namun semakin ke pertengahan tahun sudah mulai ada pohon yang bisa disadap dan biasanya semakin banyak yang bisa disadap di pertengahan tahun. Pada bulan Mei dan Juni semakin banyak yang menyadap dan puncaknya pada bulan September dan Oktober. Pada bulan Novemver semakin berkurang karena hujan mungkin mulai turun. Jika hujan turun, lontar tidak semakin berkurang niranya.

Kebiasaan panen lontar inilah yang membawa kebiasaan bangun pagi orang Rote. Mengapa demikian?

Memanen lontar atau menyadap nira adalah kebiasaan yang unik. Biasanya dimulai sangat pagi. Sang penyadap lontar biasanya berlomba dengan burung pipit yang juga meminum nira. Jika penyadap tidak cepat, burung-burung telah mulai ikut meminum nira. Memang tak seberapa yang mereka minum tetapi ketika burung-burung mulai berkicau itu pertanda bagi sang penyadap untuk segera bangun dan menyadap.

Masalahnya burung-burung yang disebut “kokodidok” oleh orang Rote ini mulai berkicau sekitar jam dua atau tiga. Oleh karena itu ketika burung-burung mulai berkicau para penyadap mulai bangun untuk menyadap. Seorang istri atau perempuan Rote biasa membangunkan suami atau anak laki-lakinya yang sudah dewasa dan bisa menyadap untuk segera pergi menyadap. Biasanya mereka berkata: “Foa leo te kokodidok ara tao so” (bangunlah karena para kokodidok sudah mulai).

Seorang laki-laki Rote biasanya menyadap puluhan pohon. Sebanyak-banyaknya adalah sekitar 60-70an pohon bahkan ada yang sampai 80an pohon. Sebuah pohon disadap dua kali dalam sehari yaitu pagi dan sore. Jika hanya sekali disadap maka nira lontar akan menjadi masam dan tumpah melebihi wadah penadah (haik). Maka sebuah pohon sebaiknya disadap dua kali dalam sehari. Jadi jika seseorang menyadap rata-rata 40 pohon saja maka dalam sehari ia 80 kali memanjat lontar. Pagi 40 kali, dan sore 40 kali. Bisa dibayangkan itu bukan suatu pekerjaan yang gampang.

Oleh karena itu, seorang penyadap akan bangun pagi-pagi sekali untuk sesi penyadapan pagi. Biasanya dijalani sampai jam 9-10 pagi tetapi jika jumlah pohon yang disadap banyak maka bisa sampai jam 11 atau 12. Setelah ia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan sesi kedua. Sesi kedua dimulai sekitar jam 1-2 dan diselesaikan jam 8-9 malam.

Musim menyadap adalah musim kerja yang berat bagi laki-laki dan perempuan Rote. Ketika laki-laki bangun pada pagi hari biasanya perempuan telah lebih dahulu bangun. Ia membangunkan suaminya dan menyiapkan tungku (ra’o) untuk memasak nira menjadi gula. Ia yang selanjutnya memikul nira yang telah disadap dari pohon lontar ke tempat pemasakkan nira. Jarak antara pohon-pohon lontar dan tempat memasak tidak selalu dekat. Karena lontar tumbuh dengan sendirinya biasanya orang Rote menyadap lontar di berbagai tempat yang berbeda-beda lalu nira lontar akan dikumpulkan di satu tempat untuk dimasak bersama-sama. Tugas perempuanlah memikul berhaik-haik nira ke tempat memasak untuk dimasak. Ketika laki-laki naik turun pohon, perempuan juga tak kalah melakukan tugas memikul nira-nira itu ke tempat memasak yang kadang cukup jauh jaraknya dari bawah lontar.

Biasanya, di bawah setiap kelompok lontar ada sebuah titik kumpul yang disebut ‘la‘. Nira yang sudah disadap oleh laki-laki akan digantungkan dihaik-haik di situ. Lalu perempuan memikulnya ke tempat memasak. Tempat memasak biasanya dibangun di sekitar rumah sang penyadap. Di tempat ini telah dikumpulkan kayu bakar dalam jumlah yang sangat besar untuk memasak gula. Kayu kayu ini biasanya disiapkan oleh laki-laki dan perempuan serta anak-anak sebelum musim menyadap. Kayu yang umumnya digunakan adalah kayu kusambi, namun cara memotongnya juga tidak sembarangan. Ada semacam pantangan untuk tidak menebang pohon melainkan hanya memangkas dahan. Ini menarik jika dihubungkan dengan pelestarian lingkungan. Ini akan saya bahas dalam tulisan lain.

Jika perempuan bertanggungjawab memikul nira dari titik kumpul ke tempat memasak dan bertanggungjawab memasak nira, maka laki-laki bertugas naik turun pohon untuk menyadap. Beruntunglah lontar biasanya tumbuh dalam satu rimbunan kelompok sehingga orang Rote biasanya memanen satu kelompok kemudian pindah ke kelompok lontar yang lain. Jika jarak antara pohon dalam satu rimbunan cukup berdekatan maka pelepah-pelepah antar lontar akan digabungkan dengan cara diikat sehingga sang penyadap tidak perlu naik turun pohon lagi. Ia hanya berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Tetapi ini bukan hal yang sangat umum. Tidak semua lontar tumbuh sangat berdekatan untuk dapat dihubungkan.

Aktivitas ini dijalani oleh orang-orang Rote selama musim panen lontar. Berawal dengan sedikit pohon di bulan Mei dan berpuncak pada puluhan pohon di bulan Oktober dan mulai berkurang di awal November. Sejak pagi-pagi buta orang Rote bangun bersama burung kokodidok, bekerja sampai malam, tidur sebentar lalu bangun lagi memdahului hari untuk memanen lontar.

Itulah yang menyebabkan orang-orang Rote selalu bangun pagi. Bukan hanya karena panen lontar tapi juga seluruh aktivitas pertanian mereka sepanjang tahun seperti berkebun (mereka menyebutnya “basiram“), berkebun dan melaut. Ayah saya pernah berkata: “jika engkau tak bangun pagi maka burung-burung akan mematok rejekimu”. Orang Rote dibentuk oleh penghidupannya (lifelyhood) untuk bangun di pagi hari. Dan itulah yang mereka sebut “lole malua” atau indahnya pagi.

Oleh: Matheos Viktor Messakh

Penulis adalah Peneliti dan Sejarawan tinggal di Kupang Nusa Tenggara Timur

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.