Berbagai masalah akibat konsumsi minuman keras (miras) belakangan ini sering terjadi di Kecamatan Alor Timur Laut (ATL). Anak-anak sekolah dan generasi muda yang seharusnya produktif untuk belajar dan bekerja, lebih suka menghabiskan waktu untuk berkumpul di tempat publik seperti pasar dan jalanan. Uang yang dicari dengan susah paya akhirnya terkuras untuk membeli minuman beralkohol. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini tidak jarang menimbulkan kegaduhan, pencurian, tawuran dan perkelahian antar kampung hingga pembakaran rumah, serta tindakan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Keadaan yang memilukan ini, mengetuk hati seorang tokoh pemuda bernama Alfonsius Asamau yang akrab disapa ”Sikon”.
Ia yang telah lama merantau ke Bali merasa prihatin akan keadaan tersebut. ”Saya bisa buat baik di kampung orang, mengapa tidak untuk kampung halaman saya. Saya rela meninggalkan kemapanan di tanah rantau untuk masa depan generasi kampung halaman (ATL) yang lebih baik. Saya tidak mau masa remaja dan masa muda generasi ATL direbut miras. Mereka harus tumbuh untuk mencapai cita-cita yang lebih baik, lebih baik dari kami yang mulai menua ini” tandasnya melalui telepon WhatsApp (WA) pada Sabtu, 27 September 2025.
Panggilan nurani untuk kembali ke kampung halaman yang telah ia rencanakan sejak lama akhirnya dimulai pada bulan Juli 2025. Rencana tersebut berbuah dalam sebuah gebrakan nyata, yaitu gerakan STOP MIRAS yang ditandai dengan deklarasi dan penandatanganan komitmen bersama oleh Camat ATL, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek ) ATL, para Kepala Desa, Badan Pengurus Desa (BPD), dan tokoh pemuda pada upacara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia hari Minggu, 17 Agustus 2025 di Lapangan Sineibuk, Desa Kamot, Kecamatan ATL.
Ia yang kembali ke kampung halaman bermodalkan biaya pribadi seadanya, tidak serta merta menggerebek tempat-tempat penjualan miras. Ia percaya bahwa pendekatan kekerasan hanya akan menambah masalah baru dan memperkeruh keadaan. Sebaliknya, ia mendahulukan pendekatan dari hati ke hati. Ia mulai membangun komunikasi dan kerja sama dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pihak-pihak sekolah yang berada di wilayah Kecamatan ATL.
Strategi pendekatan yang ia lakukan mendapat respon positif. Setiap pihak yang ia temui sangat mendukung gebrakan ini.
”Saya sangat bersyukur karena mendapat tanggapan positif dan dukungan dari orang tua dan mereka semua yang saya temui untuk ajak kerja sama. Saat saya mulai pendekatan, mereka yang dulunya suka konsumsi miras, kini sangat mendukung gebrakan ini bahkan ada beberapa kepala desa dan penjual miras yang menangis ketika saya menyampaikan ke mereka,” pungkasnya.
Pendekatan tidak hanya dilakukan dengan para penjual miras, namun ia juga melakukan pendekatan personal dan empati. Ia mendatangi para remaja, anak muda, hingga orang dewasa yang selama ini terkenal suka mengkonsumsi miras atau terkena dampak miras, bukan untuk menghakimi mereka. Namun untuk merangkul mereka, mendengar mereka, dan memahami pemicu mereka mengkonsumsi miras, seperti pengaruh lingkungan, minimnya kontrol sosial di masyarakat, dan penjualan bebas miars di wilayah Kecamatan ATL.
Gebrakan yang dilakukan Sikon tidak mudah, ia berjuang menggunakan biaya pribadi. Berkunjung dari kampung ke kampung, sekolah ke sekolah, hingga menemui semua tokoh di wilayah Kecamatan ATL. Meski sudah berjuang dengan mengorbankan biaya, waktu, dan tenaga, tidak jarang ada pihak yang tidak sejalan dengannya. Masih ada yang memandang sinis gebrakan ini. Ia mengatakan bahwa ”memang tidak mudah untuk menyadarkan masayarkat dari kebiasaan yang sudah lama mereka lakukan, lebih lagi gebrakan ini bisa dibilang gebrakan ’tabrak baru’, oleh karena itu, saya harus rendah hati untuk menerima setiap kritikan dan masukan dari semua pihak sambil terus berusaha untuk merangkul mereka yang berniat menggagalkan gebrakan ini.”
Ia yang telah mapan dengan usahanya di Pulau Dewata, kini telah berada di kampung halamannya selama tiga bulan demi suatu tujuan mulia, yaitu mewujudkan masa depan generasi muda ATL yang bebas dari miras dan bebas bermimpi untuk mencapai cita-cita.
Ia juga percaya bahwa perjuangan melawan peredaran dan konsumsi miras bukan hanya tentang pelarangan untuk berhenti, tetapi lebih dari itu. Ini tentang pendidikan, pemberdayaan ekonomi, penyembuhan sosial, dan menjaga keluhuran budaya yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Anak-anak usia sekolah yang seharusnya berlomba-lomba dalam prestasi, jangan sampai terkubur cita-cita mereka hanya karena miras.
Di penghujung percakapan melalui telepon WA, ia menyampaikan bahwa perjuangan ini memang tidak mudah dan butuh perjuangan ekstra ibarat perjuangan melawan diri sendiri.
“Jadi harapan saya ada kerja sama dari generasi muda, orang tua, pemerintah, tokoh agama, tokoh masayarakat untuk meneruskan gebrakan ini karena saya juga telah bekerja sama atau mempersiapkan teman-teman untuk tetap mengawal gebrakan ini. Mari kita bahu membahu untuk selamatkan generasi ATL dari miras menuju masa depan yang lebih baik. Tanpa miras pun kita bisa hidup. Perjuangan ini butuh waktu, tenaga, dan materi. Tetapi demi kampung halaman, kita lakukan yang terbaik. Dukungan moral dan doa dari semua pihak sangat saya butuhkan untuk kelancaran gebrakan ini. Kul ina narang talinte, kul sil narang maurante (kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi),” tutupnya.
Ada pihak yang merespons gerakan ini dengan celetuk, tidak hanya stop miras tapi juga stop rokok karena nikotin dalam rokok juga menjadi penyebab kerusakan organ dalam tubuh manusia baik sebagai perokok aktif maupun pasif terutama ibu hamil, bayi balita dan anak-anak jika terpapar asap rokok.
Malang, 27 September 2025
Oleh: Nius Manimau







