Mewujudkan Energi Tanpa Konflik dan Luka

oleh -2044 Dilihat
banner 468x60

PERDEBATAN mengenai arah transisi energi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus menggema. Pemerintah pusat dan daerah mendorong penggunaan energi terbarukan sebagai jawaban atas krisis iklim dan kebutuhan listrik jangka panjang. Panas bumi atau geothermal kerap dijadikan primadona dalam agenda transisi ini. Namun, di balik slogan-slogan tentang energi hijau, kita tak boleh mengabaikan kenyataan di lapangan: suara-suara dari kampung yang merasa tak didengar, tak dihormati, bahkan dilukai.

Masyarakat adat di Poco Leok dan Mataloko telah menunjukkan penolakan yang tegas terhadap proyek geothermal yang mereka nilai datang dengan cara-cara yang merugikan. Mereka tidak menolak kemajuan, mereka menolak cara pembangunan yang menyingkirkan mereka dari ruang hidup, dari sumber air, dari tanah leluhur. Mereka tidak anti pembangunan, tetapi menolak menjadi korban dari proyek yang menjanjikan terang namun membawa gelapnya penggusuran, tekanan, dan ketidakjelasan hak.

Sementara itu, di belahan lain Indonesia, seperti di Riau, kita melihat contoh berbeda. Proyek energi surya dan sistem baterai skala besar yang dikembangkan oleh Royal Golden Eagle dan TotalEnergies tidak hanya ditujukan untuk konsumsi lokal, tetapi juga untuk diekspor ke Singapura. Menurut catatan (https://totalenergies.com/news/press-releases/indonesia-singapore-totalenergies-and-rge-reach-new-milestone-large-scale-solar?) Proyek ini dijalankan tanpa pengeboran, tanpa memindahkan kampung, tanpa bentrok dengan nilai-nilai budaya. Ini memberi harapan bahwa energi bersih dapat diwujudkan tanpa menyakiti siapa pun. Tanpa menggusur, tanpa menodai ruang sakral, tanpa merusak tatanan sosial.

NTT memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi matahari dan angin. Sinar matahari bersinar sepanjang tahun di banyak wilayah, dan kecepatan angin yang stabil menjanjikan peluang energi terbarukan yang lestari. Pengalaman di Sumba, Alor, dan Timor membuktikan bahwa sistem surya skala kecil dan menengah dapat berhasil jika dirancang dengan partisipasi warga dan berbasis kebutuhan lokal. Panel surya dapat dipasang di atap rumah, sekolah, gereja, dan lahan milik bersama. Turbin angin kecil bisa dibangun di padang-padang terbuka. Semuanya tanpa harus menyentuh kawasan adat atau mengebor perut bumi.

Geothermal memang memiliki keunggulan sebagai sumber daya baseload yang stabil, tetapi biaya sosial dan ekologisnya tinggi. Di Mataloko, semburan lumpur panas dan retakan tanah masih meninggalkan trauma. Di Poco Leok, proses eksplorasi dilakukan dengan minim keterbukaan, dan warga merasa dilibatkan hanya sebatas formalitas. Ini adalah pelanggaran terhadap prinsip dasar dalam pembangunan yang bermartabat: bahwa setiap warga berhak tahu, berhak menyatakan pendapat, dan berhak berkata tidak.

Transisi energi adalah keharusan, tetapi transisi itu harus adil. Tidak cukup hanya mengganti sumber energi dari fosil ke terbarukan. Yang lebih penting adalah bagaimana energi itu diproduksi, siapa yang mengontrolnya, siapa yang menikmati manfaatnya, dan siapa yang menanggung risikonya. Pendekatan yang seragam dan tergesa-gesa justru akan menambah luka. NTT bukan sekadar lokasi proyek, tetapi rumah dari nilai-nilai, dari komunitas yang hidup dengan relasi ekologis dan spiritual yang kuat terhadap tanah mereka.

Masa depan energi di NTT dapat dan harus dibangun dengan pendekatan yang manusiawi, partisipatif, dan sesuai dengan konteks budaya setempat. Model energi komunitas seperti di Sumba menunjukkan bahwa ketika warga diajak merancang, mereka menjadi pelaku, bukan korban pembangunan. Energi surya dan angin menawarkan fleksibilitas dan keadilan sosial yang lebih besar, serta potensi untuk membangun sistem desentralistik yang tahan terhadap krisis.

Kita percaya, masa depan energi dari timur Indonesia bisa menjadi teladan: bukan hanya bebas dari karbon, tetapi juga bebas dari ketidakadilan dan luka sosial. Energi sejati bukan hanya yang menyalakan lampu, tetapi yang menjaga martabat dan harapan manusia. Energi yang tak melukai.

Tim Redaksi

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.