Hari Guru selalu membawa kita pada satu pertanyaan yang tidak pernah kehilangan relevansi: bagaimana memuliakan profesi guru di tengah dunia yang terus berubah, dan sering kali bergerak lebih cepat daripada kemampuan sistem pendidikan untuk menyesuaikan diri? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa kita hidup di sebuah zaman yang gelisah—zaman yang ditandai oleh ketidakpastian, tekanan sosial, dan perubahan teknologi yang mengguncang cara kita belajar dan mengajar.
Dalam konteks seperti ini, guru bukan hanya pengajar, tetapi penjaga kewarasan ruang-ruang belajar. Mereka harus menyeimbangkan tuntutan akademis, kebutuhan emosional murid, serta beban administratif yang semakin menumpuk. Ironisnya, tuntutan terhadap guru terus bertambah sementara dukungan terhadap mereka tidak tumbuh sebanding. Banyak guru honorer masih menerima gaji di bawah standar yang layak, bekerja dalam fasilitas yang terbatas, bahkan mengajar di sekolah yang belum memenuhi standar minimum kenyamanan belajar. Di situ, guru menjalankan tugasnya bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga kesabaran yang panjang.
Krisis pembelajaran yang mencuat setelah pandemi memperjelas betapa rapuhnya sistem pendidikan kita. Penurunan kemampuan literasi dan numerasi di berbagai daerah menunjukkan bahwa pemulihan tidak bisa didelegasikan semata kepada guru. Mereka membutuhkan pendampingan yang konkret, bahan ajar yang relevan, dan kebijakan afirmatif yang bekerja dalam praktik, bukan hanya dalam dokumen kebijakan. Jika guru terus diminta bekerja keras tanpa pendukung yang memadai, maka yang kita lakukan hanyalah menuntut hasil dari fondasi yang rapuh.
Namun refleksi Hari Guru bukan hanya soal beban struktural. Ini juga tentang menjaga integritas profesi. Guru mengemban otoritas moral yang melekat pada perannya. Ia bukan hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi membentuk karakter anak-anak di tengah derasnya pengaruh digital, perubahan nilai sosial, dan meningkatnya tekanan psikologis pada generasi muda. Tuntutan ini sangat besar, tetapi harus tetap diiringi pembinaan profesional yang adil dan konsisten. Kita memerlukan sistem pendidikan yang tidak hanya menindak pelanggaran, tetapi mencegahnya melalui pembinaan yang sehat, kepemimpinan sekolah yang berintegritas, serta lingkungan yang aman bagi murid dan guru.
Pada saat yang sama, kita perlu meninjau kembali cara negara memperlakukan guru dalam proses pembuatan kebijakan. Terlalu banyak kebijakan lahir tanpa mendengar suara mereka yang berada di ruang kelas. Padahal guru sering memahami situasi murid lebih baik daripada pembuat kebijakan mana pun. Mengajar di zaman yang gelisah menuntut kebijakan yang memihak pada realitas, bukan imajinasi birokrasi. Ketika guru diberi ruang untuk terlibat, kebijakan pendidikan akan lebih membumi dan efektif.
Momentum Hari Guru mengingatkan kita bahwa masa depan pendidikan tidak bertumpu pada banyaknya program, seminar, atau jargon perubahan. Ia bertumpu pada seorang guru yang setiap hari membuka pintu kelas dengan keyakinan bahwa ilmu dapat mengubah hidup seseorang. Keyakinan sederhana itu tidak boleh ditinggalkan sendirian. Ia perlu ditemani oleh jaminan kesejahteraan, pelatihan yang bermakna, kepastian kerja, dan lingkungan sekolah yang mendukung kreativitas.
“Zaman yang gelisah” bukan alasan untuk menyerah pada keadaan, melainkan alasan untuk memperkuat martabat profesi guru. Dalam ketidakpastian sosial, ekonomi, dan politik; dalam derasnya perubahan teknologi; dalam rapuhnya kondisi pembelajaran pascapandemi—guru tetap menjadi jangkar yang menjaga generasi muda agar tidak terseret arus gelisah yang sama.
Hari Guru bukan hanya seremoni pengingat. Ia adalah undangan bagi kita semua—pemerintah, keluarga, masyarakat—untuk memastikan guru tidak berjuang sendirian. Ketika kita menjaga mereka dengan sungguh-sungguh, kita sebenarnya sedang menjaga masa depan bangsa. Karena pendidikan hanya bisa hidup dengan kuat ketika jantungnya—guru—dipelihara dengan hormat, keadilan, dan perhatian yang konsisten.
Tim Redaksi







